<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259</id><updated>2011-10-10T22:12:17.540-07:00</updated><category term='Manajemen'/><category term='Cerita Cinta : Ketika Cinta Bercerita'/><category term='Begitu Saja Bandelku...'/><category term='Motivasi Diri'/><category term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</title><subtitle type='html'>Blog ini dibentuk hanya untuk sekedar tulisan, tentang masa lalu, masa kini, dan cita-cita. Tak ada partisan, tak ada memihak, hanya ada suara hati.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-416540527394758345</id><published>2009-12-30T16:17:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T21:55:38.440-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Jadi Salesman? Ga Mau!</title><content type='html'>”Mas, cariin saya kerjaan, dong!” seorang adik sepupu yang baru saja lulus S1 dari sebuah universitas di Bandung suatu saat menelepon saya.&lt;br /&gt;”Boleh! Kamu kirim CV kamu aja!” jawab saya, ”ada banyak lowongan di perusahaan saya, divisi sales lagi banyak butuh karyawan, tuh!” lanjut saya lagi.&lt;br /&gt;”Hah! Sales! Jadi Salesman, dong! Ga mau, ah!” ujarnya lagi di ujung telepon sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pembicaraan, saya termenung. Membayangkan mengapa begitu terperanjatnya sepupu saya itu ketika ditawari untuk bekerja jadi salesman. Seakan salesman itu pekerjaan kelas rendah, pekerjaan bagi orang yang ga ada kerjaan, bahkan dihindari karena dianggap mengganggu ketenangan orang. Memang diakui, profesi salesman bukan menjadi profesi yang dicita-citakan oleh seseorang. Belum pernah saya menemukan seorang anak yang menjawab “Mau Jadi Salesman” ketika ditanya cita-citanya. Kebanyakan anak-anak, menjawab jadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang jauh mentereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mencoba introspeksi diri. Lamunan saya terlempar ke tahun 2000 dimana karena kesulitan memperoleh pekerjaan, saya akhirnya menerima pekerjaan sebagai salesman. Ada keterpaksaan dalam keputusan itu. Ada sesuatu keengganan menjalankannya. Bahkan dari awal sudah ada niat untuk pindah kerja dan mencari profesi yang lebih mentereng. Namun seiring berjalannya waktu, saya seakan terbius, jatuh cinta, dan enggan berpisah dari profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan saya menekuni profesi salesman? Ada beberapa faktor yang saya yakini merubah pola pikir saya. Pertama, profesi salesman merupakan ujung tombak perusahaan, divisi sales lah satu-satunya divisi yang menghasilkan uang bagi perusahaan. Sebagus apapun produk, sehebat apapun strategi marketing, seunik apapun iklan, akan sia-sia jika tidak ada divisi sales yang mendistribusikan produk tersebut ke berbagai saluran distribusi. Bisa dibayangkan betapa vitalnya divisi sales dan tim yang terlibat didalamnya, tanpa adanya mereka, bisa dikatakan perusahaan itu lumpuh. Divisi ini ibarat kaki-kaki perusahaan yang bisa membuat perusahaan berlari. Kedua, profesi salesman ternyata mempunyai masa depan yang cerah bagi yang tekun menjalaninya. Banyak contoh para pimpinan perusahaan, presdir, CEO mengawali karirnya dari salesman, banyak contoh pengusaha papan atas juga berawal dari seorang salesman. Hal ini bisa dimengerti karena profesi salesman memungkinkan seseorang menguasai lapangan, mengerti permintaan pasar, dan terlatih oleh tempaan mental yang kuat di pasar. Ketiga, profesi salesman ternyata menjanjikan income yang lebih besar dibandingkan divisi lain dengan level yang sama. Income salesman berasal dari tidak hanya gaji pokok bulanan, namun juga dari insentif yang didapat dari hasil penjualan. Keempat, tidak hanya income bisa didapat lebih banyak, namun juga pengalaman, pengetahuan, relasi dan jaringan sosial, dan info lain yang akan bermanfaat bagi pengembangan diri kita. Semua itu akan sangat bermanfaat kelak dalam penentuan karir, baik karir profesional di sebuah perusahaan maupun karir jika kita ingin berwirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sedikit alasan yang membuat saya bertahan di profesi ini hingga saat ini. Saya meyakini bahwa keputusan saya untuk tetap terjun di dunia sales tidak salah, saya meyakini bahwa apa yang terjadi selama saya di divisi sales akan sangat bermanfaat bagi saya kelak. Buat saya, profesi salesman bukan lagi profesi kepepet, bukan lagi profesi obralan karena mudah diterima di perusahaan, bukan lagi profesi yang tidak membanggakan, tapi justru bisa menjadi salah satu anak tangga menuju kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang pasti, justru akan muncul kalimat,  "Jadi salesman? Mau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, 30 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-416540527394758345?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/416540527394758345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/12/profesi-salesman-bukan-sebuah-cita-cita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/416540527394758345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/416540527394758345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/12/profesi-salesman-bukan-sebuah-cita-cita.html' title='Jadi Salesman? Ga Mau!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-63133328401689217</id><published>2009-12-09T22:14:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T16:03:30.165-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Bernyanyi Cicak di Kandang Buaya</title><content type='html'>Tulisan ini tidak bermaksud terlibat dalam polemik tingkat tinggi antara Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Tulisan ini jauh dari keinginan untuk berpihak dalam polemik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu hari Minggu, saya mengantar Idan –putra pertama saya- ke sebuah acara ulang tahun teman sekelasnya di SD. Hanya saya yang mengantar, karena pada saat yang bersamaan, istri saya harus menjaga putri kedua saya yang sedang sakit. Sejak awal saya diberi tahu bahwa yang berulang tahun adalah putri seorang pejabat tinggi kepolisian di kota Bogor. Tidak terbayang di benak saya, bagaimana jika seorang putri pejabat tinggi polisi merayakan ulang tahunnya. Tidak ada persiapan pakaian rapi yang saya kenakan, hanya kaos, celana jeans dengan sendal selop berbahan karet saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di acara ulang tahun, nuansa kemeriahan ulang tahun memang sudah tampak. Di depan rumah menjelang pintu masuk, sudah berjaga-jaga belasan polisi berseragam lengkap dengan motor patrolinya yang berjejer rapi. Parkir mobil pun diarahkan ke tempat tertentu oleh seorang polisi khusus yang –mungkin- ditugasi mengelola ketertiban parkir. Memasuki halaman rumah, telah siap sederet polisi wanita (polwan) berseragam batik dan safari menjaga buku tamu, sembari mempersilakan para tamu ke tempat yang telah ditentukan. Anak-anak memasuki wilayah arena bermain, sementara para orang tua pengantar duduk di deretan kursi menghadap panggung acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah dinas yang berhalaman cukup luas telah disulap menjadi arena bermain lengkap, mulai dari kolam bola besar berbahan balon tiup, mini golf, wahana ketangkasan menembak, dan kolam pancing. Hidangan yang tersaji pun cukup lengkap, ada hidangan prasmanan khusus para tamu dewasa, juga nasi ayam goreng tepung dalam kotak bermerk ternama, serta minuman berbahan susu fermentasi bermerk terkenal. Selain itu, sepertinya orang tua si anak yang berulang tahun ini ingin pula mengajarkan putrinya untuk berbagi, karena di bagian belakang tampak puluhan anak berpakaian muslim dan muslimah dari sebuah –sepertinya- panti asuhan muslim tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk mengawasi Idan bermain, tampak gembira karena bertemu dengan banyak teman sekolahnya. Sesekali saya ngobrol dengan orang di sisi kiri dan kanan saya yang juga orang tua yang mengantar. Sesekali para polwan muda tersenyum pada saya sembari mempersilakan saya untuk mencicipi hidangan pembuka yang telah disediakan. Saya melihat sebagian besar tamu adalah juga para pejabat kepolisian di kota Bogor. Itu terlihat dengan sikap hormat khas kepolisian dari para polisi dan polwan tadi ketika para tamu tersebut memasuki halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo, adik-adik, kita mulai acaranya, kita kumpul, yuk, disini!” teriak sang MC memanggil anak-anak yang masih sibuk bermain. MC itu memang pintar menarik perhatian anak-anak, selain karena memang lucu, juga ngocol, atraktif dan tentunya interaktif. MC itu mampu membius penonton untuk sama-sama tertawa, bernyanyi dan terlibat dalam acara itu. Tak terkecuali para orang tua yang menyaksikan dari belakang.&lt;br /&gt;“Hayo, siapa yang mau nyanyi…?” tanyanya dengan hebohnya&lt;br /&gt;“Saya…!!!” berlomba-lomba anak-anak itu menunjukkan tangan mereka. Apalagi dengan iming-iming hadiah bagi siapa yang berani maju untuk bernyanyi. Satu per satu anak bernyanyi ke depan, setiap anak yang maju pasti di”goda” oleh sang MC, mengomentari setiap lagu yang mereka bawakan. Komentar-komentar yang lucu itulah yang mengundang gelak tawa penonton termasuk para orang tua. Saya akui, MC ini pintar membawakan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo..siapa lagi, nih, yang mau nyanyi….?” untuk ketiga kalinya sang MC menantang keberanian bernyanyi.&lt;br /&gt;“Saya..!”lagi-lagi puluhan tangan mengacung tinggi minta ditunjuk bernyanyi. Dan terpilihlah Idan untuk maju bernyanyi.&lt;br /&gt;“Ya, kamu maju!” ujar sang MC&lt;br /&gt;“Nama kamu siapa?” tanyanya lagi&lt;br /&gt;“Idan!”&lt;br /&gt;Berbagai komentar dilontarkan sang MC pada Idan, apalagi badan Idan yang relatif besar dibanding yang lain dikomentari lucu oleh sang MC&lt;br /&gt;“Ok, Idan, kamu mau nyanyi apa?”&lt;br /&gt;“Mau nyanyi Cicak Di Dinding!” lantang Idan menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jawaban Idan itu memang mengagetkan, seketika penonton dewasa terdiam mendengarnya, hanya bisik-bisik kasak kusuk sambil tersenyum simpul. Sang MC pun seolah kaget dan tak mampu mencairkan suasana akibat jawaban Idan. Sang MC seperti gelagapan tak tahu harus mengomentari apa agar suasana lucu tetap terjalin.&lt;br /&gt;“Oh...OK..ya udah..kamu mulai nyanyi...!” ujarnya datar&lt;br /&gt;Bernyanyilah Idan dengan lantang, menggunakan mikrofon sehingga suaranya terdengar di seantero ruangan acara ulang tahun. Anak-anak lain seakan tidak peduli –karena memang tidak mengerti- malah ikut bernyanyi, tetap ceria, tetap tertawa. Lain halnya dengan para orang tua, para tamu undangan –yang notabene adalah para pejabat polisi- yang terlihat terdiam, tak bisa berkomentar selain kasak kusuk bisik-bisik antar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri terdiam di deretan penonton dewasa. Saya mencoba melihat raut muka para tamu, celingukan melirik sana sini. Dan memang tetap nuansanya berbeda ketika Idan bernyanyi dibanding anak-anak yang lain. Sang MC pun yang sebelumnya ikut bertepuk tangan, ikut bernyanyi, dan mengajak anak-anak lain bernyanyi, tampak terdiam. Sementara tuan rumah, sang bapak pejabat polisi beserta istri, tampak tersenyum tipis melihat Idan bernyanyi.&lt;br /&gt;“Hap…lalu ditangkap!” berakhirlah Idan bernyanyi. Sang MC pun tidak berani berkomentar, segera mengambil kado kecil, menyerahkan pada Idan, dan berkata,&lt;br /&gt;“Ya, terimakasih, ya, sekarang kamu boleh duduk!” tak ada komentar lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara demi acara berlanjut, kembali heboh, kembali ceria. Hingga saatnya kami pulang, saya gandeng tangan Idan keluar menuju tempat parkir. Terlihat bapak tuan rumah pejabat polisi ramah menyalami para tamu yang pamit. Saya dan Idan pun menghampiri beliau, bersalaman dan berpamitan.&lt;br /&gt;“Pak, terima kasih, kami pulang dulu.” ujar saya ramah&lt;br /&gt;“Oh iya, terima kasih ya.” balas bapak pejabat polisi itu tak kalah ramah&lt;br /&gt;Idan pun spontan mengulurkan tangan bersalaman&lt;br /&gt;“Oh...ini yang tadi nyanyi Cicak, ya...wah..suaranya bagus, ya...hebat!” puji bapak pejabat polisi itu. Namun pujian itu di telinga saya terdengar getir.Di satu sisi memang memuji suara bernyanyi Idan, di sisi lain memuji keberanian Idan bernyanyi “Cicak”. Insyaallah bapak pejabat polisi itu memang memuji tulus pada Idan. Toh namanya juga anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Minggu siang itu memang membuat senyum siapapun yang mendengar kisahnya. Idan –dan puluhan anak lain- pastinya tidak mengerti makna cicak yang dinyanyikan Idan. Namun memang istilah “cicak” bisa membuat gatal di telinga ketika kita dihadapkan pada peristiwa perseteruan antara KPK vs Polri yang diibaratkan Cicak vs Buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Idan, bernyanyi cicak di kandang buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas langit Sumatera – 5 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-63133328401689217?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/63133328401689217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/12/bernyanyi-cicak-di-kandang-buaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/63133328401689217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/63133328401689217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/12/bernyanyi-cicak-di-kandang-buaya.html' title='Bernyanyi Cicak di Kandang Buaya'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8469079589260924054</id><published>2009-10-26T17:30:00.000-07:00</published><updated>2009-12-30T16:07:44.921-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Janji Firdaus Oil dan Kebodohan Dua Sahabat</title><content type='html'>Pengalaman ini terjadi di Bandung ketika kami sama-sama kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung. Saat itu masih semester 1, masih mahasiswa baru, masih dalam suasana Ospek..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berdua iseng membicarakan seorang kakak kelas pria yang terlihat macho dalam kesehariannya. Sang kakak kelas, sebut saja Kang Asep, berperawakan sedang, dengan tubuh tinggi, berambut lurus, dan selalu berkacamata hitam. Yang menjadi pusat perhatian kami adalah kumis dan janggut yang menghiasi wajahnya, berjajar rapi di atas bibir dan dagu, dan disambungkan oleh jajaran rambut halus di sekitar kiri dan kanan bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Kang Asep melintas di koridor kampus, kami serempak diam dan memperhatikan wajah terutama bagian janggut dan kumis yang tersambung itu. He he he, mirip seorang gadis yang sedang mengagumi seorang laki-laki idaman. Tapi sumpah, kami hanya mengagumi kumis dan janggut tersambung itu saja, tiada yang lain. Kami masih laki-laki biasa yang tetap mengagumi perempuan, dan saat itu pun pacar-pacar kami masih perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa gak ya kayak gitu?” Sogun mulai berbisik sambil menerawang menghayal.&lt;br /&gt;“Bisa kali!” jawab saya singkat, sambil juga tetap menerawang, ikut mengkhayal.&lt;br /&gt;“Ke Bandung, yuk!” ajak Sogun tiba-tiba&lt;br /&gt;“Ngapain?” ragu-ragu saya terima ajakan itu&lt;br /&gt;“Udah, ikut aja, jalan-jalan aja!”&lt;br /&gt;“Ok, deh! Berangkat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua berangkat menuju Bandung. Kampus kami yang berlokasi di Jatinangor memang jauh dari jangkauan hiburan. Saat itu, tahun 1993, hanya ada sawah sebagai hiburan pemandangan bagi kami. Jika ingin hiburan lebih modern, pergilah ke Bandung, sekitar 2 jam jika kami menggunakan Bis Damri Jatinangor – Dipati Ukur, plus macet tentunya. Entah apa yang direncanakan Sogun, saya ikut saja kemana dia pergi. Rute jalan-jalannya adalah BIP di Jl. Merdeka, terus memutar ke Jalan Sunda, hingga ke sekitar Asia Afrika. Kami berhenti di sekitar alun alun dekat Mesjid Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghampiri semua pedagang kaki lima di sekitar alun alun. Tak ada yang kami beli, hanya melihat-lihat. Hingga suatu titik, kami melihat kerumunan yang tidak terlalu banyak. Kami hampiri kerumunan itu. Ternyata titik kerumunan itu adalah tempat penjual Firdaus Oil. Sejenis minyak yang diduga punya khasiat menumbuhkan rambut di bagian tubuh yang kita inginkan. Dari jauh terlihat berbagai poster laki-laki yang ditumbuhi kumis dan janggut yang tersambung. Saya dan Sogun langsung spontan saling pandang. Saling tersenyum penuh bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini, yang kita cari!” ujar Sogun&lt;br /&gt;“Yup, bener!”&lt;br /&gt;“Kita beli satu aja, nanti di rumah kita bagi dua.”&lt;br /&gt;“Oke..oke!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata kami patungan membeli satu botol Firdaus Oil berukuran sekitar 30ml, dalam botol bening kecil. Warna minyaknya kehijauan pekat. Cara pemakaian minyak itu adalah oleskan ke bagian tubuh yang ingin ditumbuhi rambut, oleskan sebelum tidur, selama 2 minggu berturut-turut. Dan upayakan jangan dioleskan ke bagian tubuh lain yang tidak diinginkan. Nah lho! Bagaimana jika kami tak sengaja mengoleskannya ke bagian tubuh lain seperti hidung? Bagaimana jika tiba-tiba hidung kami ketika pagi ditumbuhi rambut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di kos di malam hari, kami langsung menuju kamar Sogun. Sogun punya botol kecil bekas minyak tawon yang telah dicuci bersih. Kami membagi dua sama rata Firdaus Oil itu. Kami saling pandang, saling cekikikan. Dalam bayangan kami saat itu, dalam waktu 1 atau 2 minggu, jika rutin memakai Firdaus Oil ini maka kami akan menjadi laki-laki macho dengan kumis dan janggut tersambung. Benar-benar impian yang bisa menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai shalat Isya, dimulailah aksi itu. Sambil berkaca, saya pandangi Firdaus Oil itu. Saya ambil beberapa tetes di ujung jemari telunjuk. dioleskan perlahan di sekitar bibir kiri dan kanan. Menyambungkan kumis dan janggut. Dioleskan berkali-kali berharap akan segera tumbuh rambut disitu. Setelah itu, saya bersegera ke kamar mandi, mencuci jari telunjuk karena takut jika di jari itu juga akan tumbuh bulu. Tidur pun saya berusaha telentang, karena takut jika berubah posisi, maka cairan Firdaus Oil itu akan membasahi bagian wajah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu, dua minggu, tiga minggu, satu bulan berlalu, tak ada perubahan di wajah kami. Padahal setiap malam, tidak lupa mengolesi pinggir bibir kami dengan Firdaus Oil. Kumis dan janggut kami memang tumbuh, tumbuh tidak beraturan. Namun tidak sehelai pun tumbuh rambut di tempat diolesinya Firdaus Oil itu. Duh, kami mulai ragu! Mulai sangsi dengan khasiat minyak itu. Benarkah seperti yang diiklankan di poster? Hmm..rasanya tidak, karena sampai saat ini tidak ada sehelai pun rambut tumbuh di tempat kami mengoleskan minyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu siang sepulang kuliah, kami duduk berdua. Terdiam. Namun tak lama secara serempak, kami berteriak dan tertawa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha ha…bodo banget sih lu!” teriak Sogun&lt;br /&gt;“Ha ha ha ha..lu tuh yang bodo!” balasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa. Mentertawakan kebodohan kami. Kami terjebak oleh iklan tidak jelas itu. Dan tepatnya, kami terjebak oleh kebodohan kami sendiri. Dan kami tertawa karenanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parepare, 11 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8469079589260924054?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8469079589260924054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/10/janji-firdaus-oil-dan-kebodohan-dua.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8469079589260924054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8469079589260924054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/10/janji-firdaus-oil-dan-kebodohan-dua.html' title='Janji Firdaus Oil dan Kebodohan Dua Sahabat'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-7678450016372873757</id><published>2009-06-01T17:05:00.000-07:00</published><updated>2009-12-30T16:32:10.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi Diri'/><title type='text'>Nasionalisme Sederhana Seorang Anak Bangsa</title><content type='html'>“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait pertama lagu Indonesia Pusaka itu begitu sarat makna. Ismail Marzuki merangkai lirik dan nadanya dengan penuh penghayatan.. Sejak SD aku kenal lagu itu, namun baru kali ini lagu itu berkesan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Agnes Monica yang menyanyikan lagu itu dengan indah dalam sebuah acara di bertajuk Festival of Life di Garuda Wisnu Kencana di Bali. Acara itu merupakan acara memperingati tahun pertama di 50 tahun kedua persahabatan Indonesia – Jepang. Acara disusun dengan sangat megah dengan mengedepankan seni kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indonesia sejak dulu kala, slalu dipuja-puja bangsa..” lantang Agnes Monica melanjutkan suaranya. Disini aku mulai merasakan getaran aneh. Mendengar bait demi bait yang Agnes Monica nyanyikan membuatku merinding. Rasa merinding itu semakin kentara ketika bait reffrein dinyanyikan. “Di sana, tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurnalah rasa merinding itu. Sebenarnya lagu ini sudah sering aku dengar, sejak SD ratusan kali lagu ini diperdengarkan. Namun kenapa kali ini berbeda? Kenapa kali ini menimbulkan rasa merinding luar biasa? Kenapa kali ini seolah nasionalismeku bangkit? Pikiranku menerawang ke beberapa jam sebelumnya, tatkala aku dan tim berlari pontang panting mempertahankan kejayaan produk yang kami usung. Sore itu memang luar biasa bagi aku dan tim. Luar biasa lelah baik fisik maupun mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari sebuah kesalahan yang –kami akui- kami lakukan. Aku sebagai salah satu pimpinan tim memang yang paling bertanggung jawab untuk kesalahan itu. Sebenarnya ada contingency plan yang kami lakukan, namun memang tidak banyak menolong. Gawatnya lagi pimpinan tertinggi perusahaan –berkewarganegaraan Jepang- ikut hadir di sana dan memeriksa kerja kami. Mengetahui adanya kesalahan, spontan sang pimpinan marah, sifatnya yang relative temperamen memang sudah biasa aku hadapi. Termasuk murkanya yang dilampiaskan di hadapan ratusan orang di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang aku tulis di atas, kelelahan kami adalah kelelahan ganda. Kelelahan fisik, yaitu kami bersembilan (aku, Suhendar, Budi, Sigit, M. Noor, Asari, Andin, Merry dan Dikky) dibantu oleh tim lokal Bali berjumlah sekitar 14 orang harus mengangkut 230 karton Pocari Sweat (berat per karton nya sekitar 9kg) dengan menaiki 75 anak tangga, dilanjutkan dengan berjalan mengangkutnya sekitar 100 meter menuju venue dan membagikannya ke 3000 kursi yang mirip kursi stadion sepakbola, berundak tinggi ke atas. Semua itu harus dikerjakan dalam waktu 45 menit, karena sebanyak itulah waktu disediakan oleh panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kelelahan mental karena kami melakukan itu semua dibawah tekanan dan murka sang pimpinan. Jika kita mengenang masa awal kita kuliah, dimana kakak kelas kita meng-ospek kita dengan teriakan-teriakan, maka itulah yang kami alami sore itu. Bedanya adalah, kami diperlakukan seperti itu dibawah pandangan miris ratusan orang di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benak kami memang jadi bertanya-tanya, kenapa seperti ini perlakuan pada kami. Kami mengerti bahwa kami melakukan kesalahan fatal, kami menyadari itu sesadar-sadarnya. Namun, apakah ini solusi instant saat itu? Akibatnya memang semua konsep yang kami rencanakan buyar, semua rencana dan ide mandek. Semua bermuara pada ketakutan akan murka lebih lanjut jika kami menjalankan ide kami dan dianggap salah oleh pimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun –seperti orang bijak berkata- segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Hikmah yang kami dapat adalah&lt;br /&gt;1. Kontrol berganda harus terus dilakukan&lt;br /&gt;Ketika sebuah konsep dan rencana kerja tiba pada sebuah implementasi lapangan, maka tidak ada pilihan bagi sebuah tim agar mengecek berulang-ulang kinerja lapangan sehingga semua berjalan sesuai rencana&lt;br /&gt;2. Berpikir tenang dan jernih bukan berarti bertindak santai&lt;br /&gt;Ketika menemukan adanya suatu masalah mendesak, memang diperlukan pemikiran jernih. Namun bukan berarti pemikiran jernih dilakukan dengan santai, sikap panik tetap diperlukan, sikap panik membuat kita bertindak cepat, bertindak sigap untuk menyelesaikan masalah, tapi tetap berpikir jernih.&lt;br /&gt;3. Pentingnya mengalami kerja di bawah tekanan&lt;br /&gt;Seringkali kita dihadapkan pada persyaratan ketika melamar kerja, yaitu :mampu bekerja di bawah tekanan. Mungkin inilah makna sebenarnya persyaratan itu. Kami sudah melewati fase bekerja di bawah tekanan tersebut. Luluskah kami? Belum tentu, karena mungkin kami akan tetap menghadapi hal yang sama di kemudian hari.&lt;br /&gt;4. Pentingnya kejernihan hati dan pikiran di bawah tekanan&lt;br /&gt;Dengan tekanan yang begitu keras, kami harus bisa berpikir jernih, harus bisa bertindak menggunakan hati. Hal ini diperlukan tatkala kita harus berargumen menjelaskan logika berpikir kita dibawah tekanan. Meski akhirnya konsep yang ditawarkan ditolak karena murkanya, namun setidaknya tawaran konsep kita tidak buyar begitu saja hanya karena rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira itulah hikmah yang bisa aku renungkan. Aku tetap berkomitmen untuk memajukan perusahaan, karena walau bagaimanapun juga di perusahaan inilah aku bernaung dan mencari nafkah. Segala yang aku alami tidak akan menumbuhkan sikap negative, namun justru memunculkan selaksa hikmah di dada, setidaknya untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tidak saja hikmah yang aku rasakan. Ada yang lain yang tiba-tiba muncul seketika. Apa itu? Entah kenapa, di malam ketika Agnes Monica melantunkan lagu “Indonesia Pusaka” seolah muncul nasionalismeku, muncul rasa merinding, bahkan salah seorang rekan mengaku matanya berkaca-kaca tatkala mendengarkan lagu itu. Apakah karena aku dan tim mengalami tekanan luar biasa dari pimpinan yang notabene adalah orang asing? Ataukah karena lirik dan lagu luar biasa karya Ismail Marzuki dan dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Agnes Monica. Entahlah. Mungkin ini hanya sebuah nasionalisme sederhana yang muncul di hati seorang anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, 24 Mei 09 – demi sebuah nasionalisme sederhana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-7678450016372873757?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/7678450016372873757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/06/nasionalisme-sederhana-seorang-anak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7678450016372873757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7678450016372873757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/06/nasionalisme-sederhana-seorang-anak.html' title='Nasionalisme Sederhana Seorang Anak Bangsa'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-5291018723892056426</id><published>2009-05-20T02:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:45:04.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Wajah Lempeng Penyelamat Nasib Kami</title><content type='html'>Contek mencontek menjadi kebiasaan yang dianggap wajar bagi para siswa. Salah memang, namun bagaimana lagi, dikala godaan nilai bagus, kesempatan yang ada, dan tentunya kelengahan guru, menjadikan mencontek menjadi kebiasaan dan “keharusan” di kala ulangan. Modus operandi? Tak perlulah aku ceritakan, karena semua pasti sudah tahu akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dikala ulangan matematika di kelas 2 Physic 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu begitu panas. Waktu menunjukkan jam 1 siang. Sudah terbayang, betapa menyiksanya pelajaran yang diadakan di siang hari, panas, haus dan tentunya mengantuk. Jam pertama, ulangan matematika. Pelajaran matematika saat itu dibimbing oleh Ibu Yuli –rasa hormat kami yang paling tinggi bagi Ibu Yuli. Lain dari ulangan biasa, ulangan matematika ini terdapat dua jenis soal, soal A dan soal B. Soal A khusus untuk murid yang sebelah kanan, soal B khusus untuk murid sebelah kiri di bangku yang sama. Strategi ini bagus untuk menghindari saling contek antar murid di bangku yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku duduk dengan AS, pemuda berbadan tinggi langsing, berambut modis gaya jamur alias gondrong di atas. Sejak awal, AS sudah merencanakan akan menukar soal B yang dia pegang, dengan soal A dari teman di seberang bangkunya, sehingga, aku dan dia akan sama-sama memegang soal A. Maksudnya tentu saja supaya kami bisa bekerjasama mengerjakan soal A itu. Nanti jika akan dikumpulkan, tinggal ditukar dengan teman dari bangku sebelah itu. Teman di bangku sebelah yang menjadi sasaran penukaran yaitu Riri alias Joely Gloriana, Riri pun sepakat untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, soal pun dibagikan.&lt;br /&gt;“Soal A untuk murid di sisi kanan, soal B untuk murid di sisi kiri! Jangan ada yang berani menukar!” lantang Bu Yuli sambil membagi soal. Soal dibagikan dalam kondisi tertutup, satu per satu Bu Yuli membagikan ke setiap anak. Benar-benar guru yang telaten untuk mencegah kecurangan di pihak murid. Semua soal terbagi dalam waktu yang cukup lama. Namun tetap saja ada kelengahan Bu Yuli, yaitu AS ternyata berhasil menukar soal B dengan soal A dari Riri, sehingga aku dan AS di bangku yang sama, memegang soal yang sama, dan akan mempermudah bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengerjaan soal berjalan lancar. Belum ada saling contek antara aku dan AS. Soal-soal awal relative bisa diselesaikan. Sebenarnya jikapun sendiri, seluruh soal pasti akan bisa dikerjakan. Namun tetap saja godaan saling lirik tetap ada di akhir ulangan. Bu Yuli berkeliling kelas mengawasi satu per satu para siswa. Semua tertib, hening, dan khusyuk dengan soal masing-masing. Hingga suatu saat, Bu Yuli menghampiri meja kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tegang melihat Bu Yuli menghampiri kami. Bagaimana jika soal ulangan AS terlihat? Bagaimana jika kami ketahuan? Bagaimana jika…? Entahlah, konsentrasiku langsung buyar, keringat dingin mulai muncul, remang bulu kuduk mulai timbul. Jantungku berdetak keras, sangat keras hingga aku khawatir terdengar oleh Bu Yuli. Kulirik Riri, wajahnya pun terlihat tegang. Kulirik AS. Aku berpikir, apakah AS merasakan yang sama? Namun aku melihat raut muka AS tak berubah sedikitpun, tetap tenang, seolah semuanya biasa. Posisi tangan AS memang tidak lazim, tangannya seolah menyembunyikan sesuatu, bukan contekan, namun menyembunyikan kode soal yang ditukar tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Yuli semakin mendekat, perasaanku semakin tak karuan. Benar saja, Bu Yuli memperhatikan pekerjaan AS. Meski kode soal ditutupi tangan, aku yakin Bu Yuli tahu mengenai soal yang tertukar –atau tepatnya ditukar- itu. Pastinya Bu Yuli hafal dengan seluruh soal yang dia buat.&lt;br /&gt;“Lho, kamu tukar soalnya, ya!”&lt;br /&gt;Akhirnya gelegar bentakan itu muncul dari mulut Bu Yuli. Seluruh siswa spontan bereaksi atas suara gelegar itu dan memandang ke arah kami.&lt;br /&gt;“Engga Bu! Ini soal yang saya dapat.” AS berusaha membela diri&lt;br /&gt;“Ga mungkin, saya sudah bagi soal sesuai meja!”&lt;br /&gt;“Engga Bu, saya dapatnya soal ini.” AS masih keukeuh meyakinkan Bu Yuli.&lt;br /&gt;“Ga mungkin!” bentak Bu Yuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kelas diam. Aku mulai panik. Aku lirik Riri, wajahnya pun terlihat panik. Tak berani kutatap wajah Bu Yuli, aku khawatir wajah panikku akan membongkar penyamaran AS. Aku tertunduk memandangi soal, padahal sama sekali soal itu tidak kubaca, malah semakin lama semakin terlihat buram di mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga mungkin, saya salah meletakkan soal ini!” tetap lantang Bu Yuli membentak AS, atau mungkin tepatnya membentak aku, AS dan Riri.&lt;br /&gt;“Engga Bu, suer…!” AS tetap berkelit.&lt;br /&gt;“Ga mungkin!”&lt;br /&gt;Dan dengan spontan AS mengacungkan dua jarinya tangan kanannya sehingga membentuk huruf V pertanda bahwa “sumpah” dia tidak menukar soal. Yang membuat aku berdecak adalah wajah AS ketika mengacungkan tanda V itu sangat dingin, tanpa ekspresi panik, tenang, penuh keyakinan. Seandainya saat itu AS dites menggunakan lie detector aku yakin dia akan lolos dari intrograsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kulihat mulai ada keraguan di wajah Bu Yuli tatkala melihat ekspresi lempeng AS.&lt;br /&gt;“Kamu pindah duduknya, tuker dengan dia!” Bu Yuli memerintahkan AS bertukar duduk dengan Riri.&lt;br /&gt;“Saya ga mau toleransi lagi kalau ada yang berani berbuat curang!” lantang Bu Yuli berbicara ditujukan ke seluruh kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS bertukar duduk dengan Riri, sehingga aku sekarang duduk bersebelahan dengan Riri dengan soal yang berbeda. Bu Yuli berlalu kembali ke mejanya dengan wajah kesal. Kesal karena tidak berhasil membongkar penyamaran AS juga kesal karena ada siswa yang mencoba berbuat curang meski beliau tak bisa membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku lirik AS, AS pun demikian. Melirikku dengan tatapan plong. Fiuh…lega. Wajah lempeng itu memang menyelamatkan nasib kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin, 15 Mei 09 – jika ingin nyontek, latihlah wajah lempeng Anda…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-5291018723892056426?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/5291018723892056426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/wajah-lempeng-penyelamat-nasib-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5291018723892056426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5291018723892056426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/wajah-lempeng-penyelamat-nasib-kami.html' title='Wajah Lempeng Penyelamat Nasib Kami'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-4035811414990157709</id><published>2009-05-16T09:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:48:55.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Nuansa Gang Selot di Resepsi Pernikahan Yolla dan Hans.</title><content type='html'>“Din, datang ya ke resepsi pernikahanku, tgl 16 Mei 09 nanti!” sebuah offline message Yahoo! Messenger masuk sekitar akhir April 2009.&lt;br /&gt;“Tuh, aku tag juga undangannya di facebook!” lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Yolla Chintya, teman lama, di SMPN 1 dan SMAN 1 Bogor, mengundangku di acara pernikahannya. Lama aku tidak berjumpa Yolla sejak kami lulus 1993. Yolla melanjutkan karir menjadi pramugari dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan penerbangan di Dubai. Alhamdulillah, ternyata jodohnya pun –meski berasal dari Indonesia- juga bekerja di perusahaan yang sama. Aku menduga, pernikahan itu akan dilaksanakan di Dubai, tempat dimana dia bekerja sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengundang ke Dubai? Tidak mungkin lah aku bisa hadir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku lihat undangan yang di-tag itu. Ternyata resepsi diadakan di Bogor, tepatnya di Sport Club Taman Padjadjaran. Segera aku tandai tanggal itu. Alhamdulillah, tanggal tersebut aku belum ada acara, meski sebelumnya ada jadwal pelatihan supervisor namun acara itu batal, sehingga insyaallah aku hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada 2 undangan untukku hari itu. Yang pertama, undangan informal jam 10.00 pagi di Gang Selot, acara ngumpul-ngumpul yang diprakarsai oleh Colino dan Erlan. Ingin rasanya aku datang ke acara itu. Maklum acara ngumpul-ngumpul seperti itu pasti akan selalu menyenangkan. Namun karena pagi itu aku ada sesuatu yang harus dilakukan bersama keluarga, maka aku batal hadir. Yang kedua, tentunya undangan formal resepsi pernikahan Yolla dan Hans. Untuk acara undangan resepsi ini aku sudah berjanji untuk hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku dan keluarga bersiap-siap. Standar pakaian kondangan, batik dan celana warna gelap. Tak lupa aku menghubungi Ntik (Paramashanti) yang kebetulan sedang berada di Indonesia. Jauh-jauh hari memang kami sudah janjian akan datang bersamaan ke resepsi pernikahan Yolla. Jam 19.30 aku dan keluarga menjemput Ntik. Karena jarak yang sangat dekat, tidak sampai 5 menit, kami sudah tiba di tempat resepsi pernikahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengira, resepsi ini akan diadakan di sebuah gedung pertemuan. Namun dugaanku meleset. Ternyata wahana Sport Club disulap menjadi sebuah konsep resepsi pernikahan. Kolam renang menjadi pusat area resepsi, dihiasi bunga yang mengambang di atasnya, sementara lilin-lilin kecil berjejer melingkari pinggir kolam renang. Singgasana mempelai terdapat di ujung kanan, hiburan musik organ dan gitar terdapat di pojok dekat pintu masuk resepsi. Para tamu dipersilakan mengitari kolam sambil menikmati hidangan dan musik yang ditayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan keluarga, juga Ntik dan putrinya (Aya) segera menghampiri mempelai untuk memberikan selamat. Kedua mempelai tampak bahagia, senyum terus, dan tak berhenti mematut gaya untuk berfoto. Kamipun berfoto sebentar, kemudian –tentunya- makan.&lt;br /&gt;“Ayo, ke sebelah sana makannya!” ujar Yolla. “Ada makanan Gang Selot, lho!”&lt;br /&gt;Makanan Gang Selot? Oh, mungkin makanan sejenis yang ada di Gang Selot, bukan pedagang Gang Selot yang dibawa kesini, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dugaanku meleset. Aku kaget ketika pertama kulihat Mamang Doclang yang biasa mangkal di Gang Selot.&lt;br /&gt;“Lho, Mang, kok disini?” tanyaku dalam bahasa Sunda.&lt;br /&gt;“Iya, Neng, banyak kok yang lain, tuh ada siomay, toge goreng, es doger, es kelapa jeruk juga.” Jawab si Mamang Doclang.&lt;br /&gt;Benar saja, aku melihat Abang Siomay, Mamang Toge Goreng, Bapak Tua Es Kelapa Jeruk, Mamang Es Doger, dan beberapa pedagang informal lain yang mangkal di Gang Selot. Yang tidak ada di resepsi itu adalah Warung si Joni! He..he..tentu saja tidak ada. Ngapain di resepsi pernikahan ada warung kelontong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu aku nikmati hidangan Gang Selot itu. Tak biasanya aku makan sebanyak itu di malam hari. Namun ini hidangan Gang Selot, tak mungkin aku lewatkan. Seolah balas dendam karena siang harinya aku batal menghadiri undangan ngumpul dari Erlan dan Colino di Gang Selot. Kucicipi doclang, siomay, toge goreng, es jeruk kelapa dan es doger. Tak peduli lagi aku dengan janji diet di malam hari. Hidangan Gang Selot membuatku luluh. Terima kasih Yolla dan Hans karena menghadirkan konsep unik di resepsi pernikahannya berupa hidangan Gang Selot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman pada saat itu aku temui, selain Ntik, ada Assa Juliati Fumike, Linda, dan Tia. Sebelumnya beberapa teman juga hadir, namun segera undur diri karena ada keperluan lain. Sekilas reuni kami lakukan di sana, berfoto, ngobrol, dan tentu saja reuni dengan hidangan Gang Selot. Aku bersyukur, meski batal menghadiri acara ngumpul di Gang Selot, namun malam ini hidangan Gang Selot aku nikmati juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Yolla dan Hans, selain ucapan terima kasih atas konsep Gang Selotnya, aku dan keluarga mengucapkan selamat menempuh hidup baru, insyaallah sakinah, mawaddah, warahmah, dan “cetaklah” putra putri saleh dan salehah penerus agama dan bangsa. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 16 Mei 2009 – sakinah, mawaddah, warahmah untuk Yolla dan Hans.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-4035811414990157709?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/4035811414990157709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/nuansa-gang-selot-di-resepsi-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4035811414990157709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4035811414990157709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/nuansa-gang-selot-di-resepsi-pernikahan.html' title='Nuansa Gang Selot di Resepsi Pernikahan Yolla dan Hans.'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8273760309569167672</id><published>2009-05-10T17:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:52:38.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Ikatan Erat Itu Bernama Phy3 1993</title><content type='html'>Pertengahan tahun 1991, kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Ada yang masuk kelas Fisika, Biologi, dan Sosial. Semua tergantung minat dan tentunya kecocokan nilai di rapot. Setelah melalui pemikiran panjang, batinku mengatakan Sosial, tapi akhirnya karena satu dan lain hal, aku memilih Fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama sekolah, langsung diumumkan nama-nama di setiap kelas. Aku terdaftar di Physic3. Banyak nama yang aku sudah kenal namun juga tidak sedikit yang belum. Sempat beredar kabar, kalau beberapa teman dari berbagai kelas hendak mengajukan proposal ke dewan guru untuk pindah kelas. Motivasi mereka pindah kelas disebabkan kesamaan hobi yang mereka miliki. Misal beberapa teman yang jago basket, ingin berada dalam satu kelas, sehingga akan terbentuk tim basket yang kuat dan akan menjadi jawara di class meeting. Aku heran dengan ide itu, kalau para jagoan basket bergabung di satu kelas, dimana semangat kompetisinya, karena pastinya nanti akan terus menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya memang tidak ada yang pindah kelas dan inilah, Physic3 dengan keberagaman siswa siswi dari berbagai latar belakang. Awal-awal di kelas memang menjadi serba canggung, komunikasi hanya terjadi antara yang sudah kenal. Aku lupa awalnya, namun tiba-tiba aku sebangku dengan seorang siswa berkacamata, selalu terlihat serius, dan dia seperti siswa pintar yang kutu buku dan hobinya belajar. Dia adalah Dwi Trisno Susanto. Aku tidak kenal sebelumnya, namun dengan duduk sebangku malah persahabatan kami berdua berlanjut hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aku di kelas Fisika, namun aku gagap Fisika, juga Biologi apalagi Kimia. Agak lumayan di Matematika, namun istimewa di Sejarah. Terbayang, kan, betapa salah jurusannya aku saat itu. Tapi, Dwi lah penolongku, bukan…bukan…, aku bukan diajari Fisika oleh Dwi, tapi saat ulangan Dwi rela memberikan contekannya padaku, sehingga aku bisa lolos di berbagai ujian. Thanks, Dwi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, kelas memang mengalami berbagai dinamika. Ketua kelas pertama adalah Didit Heryadi, anak band, gondrong tanggung, meski berusaha berwibawa, tapi tetap “ga ja’im”. Ketua kelas kedua (di kelas 3) adalah Ahmad Yunianto, pemuda berkacamata, pendiam, tidak terlihat adanya wibawa, malah mungkin dia merasa terjebak untuk jadi ketua kelas. Sebagai suatu dinamika, kelas terbagi menjadi tiga bagian, sayap kiri, dimotori oleh beberapa siswa seperti Colino, Parto, Donny, Ferry, juga sang ketua kelas Ahmad. Ada sayap tengah, seperti Azwar, Anang, Didit, Wowo, Yadi, I’I dan beberapa anak lain. Juga pastinya ada sayap kanan, dengan salah satu anggotanya adalah Andi, Ican, Sidik, Dwi, dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswi perempuan? Rata-rata mereka duduk di depan sampai tengah, kecuali satu perempuan yang selalu di belakang, berpindah-pindah tiap sayap, kadang di kiri, tengah, bisa juga di kanan, yaitu Memes. Sebenarnya ada juga kelompok-kelompok kecil terbentuk, seperti kelompok Keluarga Van Danoe yang terdiri dari Ican, Dwi, aku, Fitri, Wieta, dan Kenny. Namun pengelompokan itu tidak serta merta menjadikan kelas terbagi menjadi beberapa strata, semua sama, semua bercanda, semua saling melindungi, tidak hanya sekedar sahabat, tapi layak disebut saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas Physic3 ini juga dihuni oleh banyak pengurus OSIS, dan beberapa pengurus organisasi intra sekolah lain. Sehingga pernah suatu waktu, ketika ada suatu kegiatan yang melibatkan banyak organisasi intra sekolah, kelas Physic3 benar-benar sepi dan hanya dihuni kurang dari sepuluh siswa. Kebandelan masing-masing anak di Physic3 ini pun memiliki kesan tersendiri, ada Ferry Cugito, anak sok iye (lihat catatan di Facebook, Murid Sok Iye vs Guru Sok Galak), ada tukang menyembunyikan tas (lihat catatan Serius Amat Becandanya bagian 1), ada juga peristiwa menyembunyikan motor (lihat catatan Serius Amat Becandanya bagian 2) dan juga kisah sekelompok anak band (lihat catatan Jadi Anak Band di Tahun 90an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal prestasi akademis? Ada beberapa orang peserta olimpiade Fisika dan Matematika yang dimotori oleh si jenius Lukman Azis sampai kepada peserta olimpiade bahasa Inggris (bo’ongan) yang dimotori oleh Sidiq Rizaldi (lihat catatan Olimpiade Bahasa Inggris, Emang Ada?). Memang siswa terbaik di akhir masa sekolah tidak direbut oleh anggota kelas ini, namun nama-nama jenius kelas cukup menggetarkan dunia pendidikan di SMAN 1 saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku? Alhamdulillah, aku yang benci Fisika, Kimia, dan Biologi, cukup bisa bertahan di kelas itu, tentunya dengan bala bantuan contekan jika ulangan. Puncak prestasiku di kelas adalah menduduki ranking 47 dari 48 siswa! Luar biasa! Yang aku tak tahu sampai saat ini adalah siapa yang menduduki rangking 48, karena aku akan menyalaminya dan mengajaknya foto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir kelas tiga, kami harus mulai menentukan arah hidup kami, kemana kami akan melanjutkan kuliah. Setiap orang punya pilihan dan itu berarti saatnya berpisah. Hari-hari terakhir menjadi hari yang mengesankan bagi kami. Pasca Ebtanas, meski tak ada pelajaran apapun, kami tetap berkumpul, tertawa, bercanda. Seolah enggan kami melepaskan waktu sedetik saja untuk jauh satu sama lain, enggan beranjak sekejap saja dari ruang kelas, dan enggan memalingkan muka dari bangunan kuno yang ikut mendidik kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti lazimnya sebuah komunitas yang akan berpisah, kami sepakat untuk mengadakan perpisahan kelas. Bertempat di salah satu villa di Puncak, kami berkumpul di sana. Tidak semua 48 siswa hadir, namun tidak mengurangi kebersamaan kami. Acara puncaknya adalah ketika kami menyalakan api unggun, berdiri melingkar, dan saling mengungkapkan rasa haru akan kehilangan. Hati kami seolah sepakat bahwa meski kami berpisah, namun tidak akan pernah benar-benar berpisah. Karena persahabatan itu ada di hati yang tak mungkin sirna hanya karena jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara api unggun diawali dengan pidato dari Didit Heryadi selaku ketua kelas pertama, sepertinya agak enggan Didit bicara. Tak biasanya memang. Biasanya Didit akan sigap jika diminta bicara, namun saat itu Didit terlihat gagap, tercekat, kelu, dan hanya mengucapkan beberapa patah kata tersendat,&lt;br /&gt;“Wa..walau..pun kita ber…jauhan…, tapi kita sepakat…untuk tidak saling melupakan…!”terlihat jelas air mata mengalir di pipinya, seiring itu, air mata kelas pun menggenang dan mengalir membasahi pipi. Tak ada yang mampu menahan genangan air mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Ahmad Yunianto selaku ketua kelas terakhir, didaulat untuk bicara. Dalam senggukannya, sebenarnya Ahmad menolak, namun tuntutan jabatan memaksa dia bicara. Setali tiga uang dengan Didit, lidahnya pun kelu, tak mampu bicara selain,&lt;br /&gt;“Se..moga sukses…buat teman-teman semua…, insyaallah kita tetap dipertemukan!” begitu kira-kira ucapan Ahmad. Ucapan itu semakin menenggelamkan suasana malam itu, angin Puncak yang dingin menambah kebekuan hati dan tak mampu dihangatkan oleh genangan air mata yang membasahi pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara api unggun ditutup dengan saling bersalaman, saling berkeliling menyalami satu per satu di antara kami. Pelukan erat saling ditautkan, sangat erat, menyesakkan dada, seolah enggan terlepas. Aku benar-benar tak mampu menguasai hati, air mata seolah tak habis mengalir saat kupeluk teman-teman laki-laki dan kusalami erat teman-teman perempuan. Saking terharunya aku, aku salah ucap ketika menyalami seseorang. Diawali dengan keliling bersalaman, aku tiba di barisan perempuan, di mataku kulihat Rina menjulurkan tangan menerima jabatku. Dalam senggukan, aku berkata,&lt;br /&gt;“Rina, maafin gua ya, kita akan ketemu lagi, kan?” ujarku lirih&lt;br /&gt;Namun apa yang aku dengar benar-benar di luar dugaan,&lt;br /&gt;“Heh, ini bukan Rina, ini Kenny, gimana sih, lu!” ujar Kenny sedikit membentak.&lt;br /&gt;Ternyata aku salah orang, namun kejadiannya menjadi lucu karena aku dan Kenny tertawa sambil tetap menangis mengalirkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, kami sepakat untuk tetap menjaga silaturahmi, tetap akan terus menjaga ikatan ini. Di tahun-tahun selanjutnya kami tetap sepakat bertemu, berkumpul. Ajang buka puasa bersama menjadi momen tahunan yang wajib kami hadiri. Selanjutnya karena sebagian besar diantara kami sudah memiliki keluarga, maka ajang buka puasa bersama diganti menjadi halal bil halal, namun dengan tetap dalam koridor reuni. Istimewanya, sejak kami lulus tahun 1993 sampai saat kami masih bernafas saat ini, kami tetap saling berkumpul dalam ajang satu tahun sekali tersebut., Tidak pernah satu kalipun acara itu absen dari jadwal kami. Memang tidak semua 48 siswa bisa berkumpul, namun tetap tidak mengurangi kebersamaan kami. Jika dihitung-hitung berarti kami telah bereuni sebanyak 16 kali sejak 16 tahun lalu kami berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insyaallah, kami tak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 4 Mei 09 : demi sebuah ikatan bernama Phy3 1993&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8273760309569167672?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8273760309569167672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/ikatan-erat-itu-bernama-phy3-1993.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8273760309569167672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8273760309569167672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/ikatan-erat-itu-bernama-phy3-1993.html' title='Ikatan Erat Itu Bernama Phy3 1993'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-3499123225609616207</id><published>2009-05-09T03:30:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:25:22.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Ada Senyum Di Tengah Rasa Sakit</title><content type='html'>Seperti diceritakan oleh Paramashanti Oktarianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama : Ntik, Papa sakit, diabetesnya kambuh lagi, mesti masuk rumah sakit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat di offline message Yahoo Messenger itu mengagetkanku. Duh, Papa masuk rumah sakit. Ingin rasanya aku terbang ke Bogor saat itu juga, menemui Papa dan ikut merawat. Tapi aku di Nagoya, ribuan kilometer jauhnya dari Bogor. Seandainya ini Jakarta, cukup dengan taksi, dalam 1 jam aku sudah sampai di Bogor. Seandainya ini Bandung, cukup dengan travel, dalam 3 jam aku sudah sampai di Bogor. Offline Message itu terkirim 5 menit yang lalu, berarti belum lama, segera aku meraih telepon untuk melakukan sambungan internasional ke Mama. Belum sempat aku memencet nomor, telepon itu sudah berbunyi. Mama! Tertulis di layer telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Mama, Assalamualaikum! Papa gimana? Sekarang udah masuk rumah sakit? Kadar gulanya berapa? Rumah sakit mana?” setengah panik aku bertanya semua hal pada Mama, seolah aku ingin mendapatkan semua jawaban pertanyaan itu dalam satu kalimat dari Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaikumsalam, hei..hei… kamu nanya kok ga berhenti-berhenti! Papa udah masuk PMI Bogor, udah di VVIP, udah dirawat sama dokter ahlinya. Kamu ga usah panik, insyaallah Papa ga apa-apa.” tenang Mama menjelaskan semua.&lt;br /&gt;“Ntik, mau pulang Ma!” setengah menangis aku merajuk pada Mama&lt;br /&gt;“Engga…engga, ga usah. Ga apa-apa kok, kamu di sana aja.” ujar Mama&lt;br /&gt;“Sekarang gimana keadaan Papa?” lanjut ku&lt;br /&gt;“Udah dikontrol sama dokter, luka gangren nya agak parah, udah pendarahan dan ada nanah, jadi mesti di operasi.” Mama menjelaskan detil di telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang, ya Ma!” tetap saja aku merajuk. Aku tak lagi mampu berpikir, yang ada di pikiranku hanya pulang.Tak peduli dengan kerjaan di lab, tak peduli dengan janji bimbingan dengan sensei, tak peduli! Aku ingin pulang! Titik!&lt;br /&gt;“Engga usah, Sayang! Papa ga apa-apa, udah kamu ga usah khawatir, berdoa aja, nanti Mama kabarin setiap dua kali sehari, lewat chatt aja ya!” lagi-lagi Mama mencoba menghibur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan berakhir, aku sedikit tenang setelah Mama telepon, namun tetap tidak bisa lagi konsentrasi dengan pekerjaanku. Untungnya bagian penting telah aku selesaikan kemarin, untungnya tadi malam aku begadang sampai subuh untuk menyelesaikannya. Hari itu aku tak tahu mesti mengerjakan apa, laptop aku nyalakan terus, YM aku aktifkan terus, sesekali ada sapaan dari beberapa teman, sedikit aku chatt dengan mereka sekedar untuk melupakan kekhawatiran. Tiba-tiba masuk chatt dari Mama, segera ku buka dan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chatt ku dengan Mama lebih banyak diisi mengenai kondisi Papa. Secara umum kondisinya stabil, diabetes memang sulit diobati, semua akan tergantung pengawasan terhadap makanan dan kondisi psikologis. Alhamdulillah, Papa seorang dokter sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Namun ada cerita unik yang diceritakan Mama mengenai sakitnya Papa. Kira-kira begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk rumah sakit PMI, ternyata kamarnya penuh, terutama kamar VVIP yang memang diinginkan oleh keluarga. Namun tidak bisa ditawar lagi, Papa harus masuk rumah sakit. Rumah sakit lain? Tidak! Karena dokter yang menangani Papa berpraktek di PMI. Untuk sementara –sambil menunggu kamar kosong- Papa ditempatkan di ICU selama kurang lebih 2 jam. Beruntung karena 2 jam kemudian, ada kamar VVIP kosong, ditinggalkan oleh pasien sebelumnya yang telah sembuh. Setelah menunggu proses sterilisasi ruangan, Papa masuk dan istirahat sambil menunggu pemeriksaan lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat di ruangan, ditunggui oleh Mama dan Kakak-kakak, tiba-tiba datang seseorang ke ruangan itu, mengetuk pintu,&lt;br /&gt;“Assalamualaikum.” ujarnya&lt;br /&gt;“Waalaikumsalam” serempak keluarga menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada seseorang yang didampingi ajudannya, menjenguk Papa. Mama mengenal orang itu yang tak lain adalah Bapak Diani Budiarto, Walikota Bogor. Mama heran,&lt;br /&gt;“Lho, kok Pa Walikota datang menjenguk?” batinnya.&lt;br /&gt;“Eh, maaf, kok yang sakit bukan Bapak A, ya?” bertanya Pak Walikota.&lt;br /&gt;“Oh mungkin sudah pulang, Pa, tadi sebelum kami masuk.” Mama mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;“Wah iya ya, terlambat saya, tapi tidak apa-apa, saya jenguk Bapak aja, Bapak sakit apa?” lanjut Pa Walikota. Dan akhirnya pembicaraan berlanjut, agak lama Pa Walikota “menjenguk” dan ngobrol dengan Papa. Alhamdulillah, di hari pertama Papa masuk rumah sakit sudah dijenguk oleh orang nomor satu di Kota Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakhir “kunjungan” Pa Walikota,&lt;br /&gt;“Baik, saya pamit dulu Pa Bambang, insyaallah Bapak cepat sembuh, jangan lama-lama di sini.” ujarnya&lt;br /&gt;“Terima kasih, Pa” jawab Papa&lt;br /&gt;“Ini ada sekedarnya dari saya” Pa Walikota menyelipkan amplop saat bersalaman dengan Papa.&lt;br /&gt;“Eh ga usah, Pa, kok jadi ngerepotin!” ujar Papa&lt;br /&gt;“Ga apa-apa Pa, insyaallah berkah!” ujar Pa Walikota sambil meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Pa” serempak keluarga menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekeluarga tersenyum mengingat peristiwa tadi. Diawali ketidaksengajaan, Pa Walikota “menjenguk” Papa, mengobrol cukup lama, dan terakhir menyelipkan amplop. Luar biasa hari ini, Allah SWT mengirimkan hiburan bermakna sehingga ada senyum di tengah rasa sakit Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 26 April 09 – Papa harus sembuh…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-3499123225609616207?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/3499123225609616207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/ada-senyum-di-tengah-rasa-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3499123225609616207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3499123225609616207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/ada-senyum-di-tengah-rasa-sakit.html' title='Ada Senyum Di Tengah Rasa Sakit'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-257324569124253779</id><published>2009-05-02T09:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:23:34.601-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit!</title><content type='html'>Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Mungkin jika kita mendengar ungkapan itu pada saat ini, komentar yang muncul adalah, “Kayak guru SD aja, nih!” atau “Kayak Ibu atau Bapak gua aja!” atau banyak komentar lain sejenis yang bernada sama. Tapi jika kita renungkan, sebenarnya makna ungkapan tadi teramat dalam. Ada juga yang menyebut cita-cita itu suatu mimpi. Banyak penulis membuat buku mengenai mimpi. Tak perlu disebutkan siapa, pastinya pembaca tahu siapa saja penulis ternama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa tulisan ringan mengenai cita-cita atau –sebut saja- mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan 1&lt;br /&gt;Suatu hari seorang kerabat keluargaku membutuhkan seorang supir untuk keluarga mereka. Keluarga ini baru saja membeli mobil –bekas memang- untuk kepentingan antar jemput putra putri mereka sekolah, kursus, dan keperluan lain. Kebetulan suami istri dari keluarga ini sama-sama bekerja, sehingga kedua putra putri mereka diasuh oleh babysitter dan membutuhkan supir untuk mengantar mereka beraktivitas. Kebetulan aku punya kenalan seorang supir, aku coba tawarkan kenalanku tersebut ke keluarga kerabatku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelumnya, aku tidak mau gegabah, tidak mau sembarangan menawarkan orang. Aku perlu menginterview calon supir ini. Aku merasa bertanggung jawab akan apa yang dilakukan orang ini jika diterima menjadi supir pribadi di sana. Syukur-syukur jika kinerjanya bagus, jika tidak, tentunya aku yang menanggung malu. Singkat kata, aku panggil calon supir pribadi tadi, sebut saja namanya S. Pertanyaan standar interview kerja aku berikan padanya, mulai dari profil pribadi, kelengkapan SIM dan KTP, hingga pengalaman kerja. Ternyata selama ini, dia berpengalaman cukup lama jadi supir angkot dan supir toko bangunan. Mobil yang selama ini dibawa tentunya tidak se”mewah” mobil pribadi yang akan dibawanya nanti, demikian pula dengan cara mengendarainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai ragu, cukup telatenkah dia membawa mobil pribadi? Ya sudahlah, dicoba saja. Semoga cocok. Namun bukan itu yang membuatku tersenyum, justru pernyataan terakhirnya padaku sebelum dia pergi, yaitu,&lt;br /&gt;“Semoga saya diberi kesempatan, Pa, karena cita-cita saya dari dulu adalah menjadi supir pribadi!” ujarnya mantap penuh harap.&lt;br /&gt;Aku tersenyum mendengarnya. ”Segitu sajakah cita-citanya?” batinku. Memang benar, pendidikannya tidak cukup memadai untuk menjadi seorang yang memiliki profesi mapan lainnya. Namun tentunya ada cita-cita lain yang jauh lebih tinggi, lebih memotivasi, dan lebih ambisius dibanding supir pribadi. Ataukah itu cita-cita ambisius yang boleh diimpikan oleh seseorang berpendidikan SMP seperti dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan 2&lt;br /&gt;Aku punya adik sepupu, perempuan, usianya saat itu 15 tahun, kelas 3 SMP. Dia –bersama seluruh kerabat keluargaku yang lain- tinggal di salah satu desa di daerah Katulampa Bogor. Suatu hari, disela-sela kesibukanku bekerja, aku mendatangi desaku itu. Sekedar untuk bersilaturahmi sambil menikmati kembali masa kecilku di desa. Secara kebetulan adik sepupuku ada disana, kami saling bicara, menanyakan kabar masing-masing. Nama adik sepupuku itu Y.&lt;br /&gt;“Aa sehat?” ujar Y&lt;br /&gt;“Alhamdulillah!” ujarku singkat&lt;br /&gt;Beberapa dialog basa-basi terjadi antara kami. Hingga sampailah pada suatu pembicaraan mengenai pendidikan terakhir Y.&lt;br /&gt;“Kelas berapa sekarang” tanyaku&lt;br /&gt;“Kelas 3 SMP”jawabnya&lt;br /&gt;“Wah, sebentar lagi SMA, dong!”&lt;br /&gt;“Engga ah, ga mau nerusin ke SMA!”&lt;br /&gt;“Lho, kenapa?” kaget aku mendengar keengganannya masuk SMA.&lt;br /&gt;Di desa itu memang warganya tidak terlalu mementingkan pendidikan, apalagi perempuan. Jika diukur demografi, sedikit sekali warga desa itu berpendidikan SMA, selebihnya SMP, bahkan SD pun tak lulus.&lt;br /&gt;“Soalnya, Y pengen jadi penjaga toko di Pasar Bogor, katanya cukup sampai SMP aja!” polos Y menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, penjaga toko? Pola pikir “penjaga toko cukup sampai SMP” itu menyebabkan Y hanya mau bersekolah sampai SMP? Berkali-kali aku coba meyakinkan agar dia melanjutkan ke SMA, toh soal biaya, bisa ada banyak yang akan membantu. Namun “mimpi” menjadi penjaga toko itulah menghancurkan segalanya, menghancurkan kelanjutan sekolahnya, bahkan mengubur kesempatan dirinya untuk menikmati jenjang pendidikan lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan 3&lt;br /&gt;Anaku –Aidan- punya banyak cita-cita. Cita-cita yang dia punya pun berganti-ganti. Tergantung dari mainan apa yang saat itu dia sukai. Namun semua cita-cita yang diungkapkan membuatku berdoa, “Duh, semoga cita-cita itu hanya sekedar omongan anak balita!” Cita-cita yang dia ungkapkan memang “aneh-aneh” setidaknya menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aidan sangat menyukai kereta api, sudah “belasan gerbong” kereta api mainan dibeli, dirangkai satu per satu sehingga berjalan memanjang di atas rel. Seringkali aku mengajaknya naik KRL Bogor – Jakarta –tentunya di hari Sabtu- sekedar untuk memberikan pengalaman padanya naik kereta. Sepanjang jalan, matanya tidak terpejam sedikitpun karena begitu menikmati naik kereta api. Suatu hari, di tangah perjalanan KRL, Aidan berdialog denganku.&lt;br /&gt;“Pap, kereta paling depan itu apa namanya?” tanyanya&lt;br /&gt;“Itu namanya lokomotif, yang menarik kereta, disitu ada masinisnya.” jawabku lengkap, dengan maksud agar Aidan tidak lagi bertanya, karena saat itu aku mengantuk dan ingin tidur.&lt;br /&gt;“Masinis itu apa?” tanyanya lagi, memang anak kecil selalu ingin bertanya.&lt;br /&gt;“Masinis itu supir kereta api!”jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;Beberapa saat Aidan terdiam, sambil terus matanya memperhatikan jalan, sampai tiba-tiba dia berkata,&lt;br /&gt;“Pap, nanti kalau aku sudah besar, aku mau jadi masinis kereta api, ya!” lugas Aidan berkata.&lt;br /&gt;Hah! Masinis kereta api? Duh, dengan segala hormat pada profesi masinis, aku berharap Aidan jangan jadi masinis kereta api. “Pilihlah cita-cita yang lain, Idan!” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga anak kecil, aku anggap cita-cita itu sekedar khayalan dia akan mainan yang dimilikinya. Terbukti beberapa waktu kemudian, cita-cita itu berubah. Saat itu, mainan kesukaannya memang berganti, dari kereta api ke truk container. Sehingga dengan lugas pula Aidan berkata,&lt;br /&gt;“Pap, kalau aku besar, aku mau jadi supir truk container, ya!” ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Duh…Idan..Idan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 2 Mei 2009 – sebuah mimpi di Hari Pendidikan Nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-257324569124253779?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/257324569124253779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/gantungkan-cita-citamu-setinggi-langit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/257324569124253779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/257324569124253779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/05/gantungkan-cita-citamu-setinggi-langit.html' title='Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-5714478686158493275</id><published>2009-04-28T21:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:58:00.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Ajaibnya Persahabatan : Antara Garut - Jogja Dan Air Mata Berpisah</title><content type='html'>Awal pertemuan kami -tim KKN Desa Ciburial Kecamatan Leles Kabupaten Garut, 10 orang mahasiswa berbagai jurusan di Universitas Padjadjaran- terjadi saat kami dikumpulkan di Lapangan Kecamatan Leles. Sebenarnya pada saat pembekalan beberapa hari sebelumnya, kami diwajibkan berkumpul, namun sepertinya tidak seluruh anggota tim hadir disana. Sehingga, 10 orang hadir lengkap justru pada saat hari pertama kami di desa. Terus terang awalnya aku pesimis bisa akrab dengan rekan-rekan baru di tim KKN. Perkenalan pun hanya dingin-dingin saja, dan tidak ada satupun diantara mereka yang aku kenal dengan baik. Anggota tim kami adalah&lt;br /&gt;1. Yana Haryana alias Ohim, mahasiswa Jurusan Ilmu Penerangan FIKOM, bergaya preman –mungkin memang preman, karena akrab dengan daerah Cicadas dan geng Brigez di Bandung- orang yang super cuek, easy going, dan bersikap dingin. Gawatnya lagi, orang super cuek inilah yang menjadi Ketua Kelompok KKN ini. Aku sempat ragu. Namun keraguan itu terjawab selama dua bulan KKN, karena justru Ohim menjadi Ketua Kelompok yang paling bertanggung jawab bagi tim.&lt;br /&gt;2. Lenny Setyawati, dari Jurusan Antropologi FISIP, perempuan berjilbab yang keras, bergaya militer, berani melawan sesuatu yang tidak sesuai prinsipnya, namun selama 2 bulan KKN, Lenny bisa berperan menjadi ibu bagi semua anggota tim.&lt;br /&gt;3. Eni atau Enyim, mahasiswi Hukum, perempuan berjilbab, pendiam, dingin, bermata tajam, dan selalu berpakaian hitam. Selama dua bulan itu, sikap misterius nya sirna dan justru muncul kecerewetannya, dari dialah muncul istilah “cuni” yang merupakan kependekan dari cunihin (bahasa Sunda kira-kira artinya :genit).&lt;br /&gt;4. Yuyus, perempuan berjilbab, dari Jurusan Biologi FMIPA, dari cara bicaranya yang lamban ala putri Solo (tapi tetep Sunda), dan mendayu-dayu, Yuyus sering menjadi bahan tertawaan, namun ide briliannya seringkali menjadi inspirasi bagi tim.&lt;br /&gt;5. Eva, perempuan berjilbab, mahasiswi Peternakan, sering memberi masukan pada teman, sikapnya yang berprinsip memberikan warna tersendiri bagi tim.&lt;br /&gt;6. Profiawati, anak Sekda Sumedang, dari Jurusan Farmasi, cenderung pendiam, namun tetap baik hati. Bantuan logistik dari orang tuanya sangat membantu tim dalam menjalankan operasional. Thanks, Profi.&lt;br /&gt;7. Sonja Hakim atau Nyonyo, mahasiswi Sastra Jerman, gadis pendiam tapi gaul, selalu tertempel earphone dari walkmannya sambil menggeleng-gelengkan kepala mengikuti musik, agak kesulitan menyesuaikan diri di desa itu terutama karena tidak ada TV. Namun lama-lama suasana heboh dari personil tim mampu membuatnya lupa akan TV.&lt;br /&gt;8. Hadian Gumilang atau Dian, mahasiswa Pertanian, bergaya pria metropolis berkultur Sunda, modis, dan penuh celetukan canda tak terduga, dan bilamana mendengar celetukan itu, maka tak habis tawa berderai. Di tasnya selalu tersimpan berbagai perlengkapan kosmetik ala pria metropolis. Jika akan tidur dan bangun pagi, walkman selalu tertempel di telinganya.&lt;br /&gt;9. M. Ridwan alias Iwan, mahasiswa Ekonomi Studi Pembangunan, tipikal pria perkotaan, seringkali terlambat nyambung jika kita mentertawakan suatu hal, namun luar biasa baik hati terutama pada perempuan yang ingin didekatinya.&lt;br /&gt;10. Terakhir, aku, Dindin Suzaridian, mahasiswa Hubungan Internasional, jadi tangan kanan Ohim selaku Wakil Ketua Tim, jadi sansak omelan Lenny jika dia marah, paling banyak dibilang cuni alias cunihin oleh Enyim, paling banyak dibilang “Iiihhhh, Dindin maaahhhh….!” oleh Yuyus dengan gaya putri Solo ala Sunda, paling banyak dikritik oleh Eva dan dibilang, “Dindin, norak ah, kalau gitu caranya!”, paling sering didiamkan oleh Profi, paling sering diajak konsultasi oleh Nyonyo mengenai cowok yang sedang mengejar-ngejar dia saat itu, paling sering meminta lotion nya Hadian dan mencoba-coba gaya pria metropolisnya, dan paling susah nyambung kalau ngomong dengan Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah anggota tim KKN saat itu. Dihadapkan pada kesederhanaan desa, minimnya fasilitas informasi, dan karakter yang belum pernah berpadu sebelumnya, menambah pesimismeku akan kompaknya tim ini. Tak ada TV, tak ada kasur empuk, atau kamar mandi permanen. Bagi kami –terutama tim laki-laki- hanya ada tikar di lantai dalam ruangan 1,8 x 3 meter untuk berempat plus tembok yang penuh lumut, kamar mandi yang harus nimba jika ingin mandi, dan jika kami tidur, ujung kepala dengan ujung kaki kami akan saling menempel di tembok berlumut itu. Bagi sebagian orang itu mungkin penderitaan, tapi bagi kami, itu jadi pengalaman meski aawalnya terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diduga sebelumnya, di tengah kondisi seperti itu, justru kami menjadi tim yang luar biasa padu, tak pernah berhenti tawa, dan kompak melakukan bedol desa diam-diam untuk pergi ke Jogja! Ya, Jogja, ratusan kilometer dari Garut, tanpa ada warga desa yang tahu, kami menghilang sekitar 5 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dari pembicaraan mengenai rumah dinas orang tua Nyonyo di Banjarnegara. Banjarnegara tidak terlalu jauh ke Jogja, mungkin sekitar 4 jam perjalanan darat. Nyonyo menjanjikan kita bisa menggunakan kendaraan orangtuanya menuju Jogja. Kami nekat pergi meninggalkan desa di tengah malam. Ibu kost keheranan, mengapa pergi semalam ini? Kami katakan bahwa, kami harus mengerjakan tugas besok pagi di Bandung dan membutuhkan waktu 1 minggu untuk menyelesaikannya. Duh! Maafkan kami Ibu, kami telah berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total kami menghabiskan 5 hari, termasuk didalamnya perjalanan 8 jam dari Bandung ke Purwokerto. Melelahkan! 8 jam duduk berdesakan di kereta kelas ekonomi, namun menyenangkan. Pagi sekitar jam 9, setiba di Purwokerto, kami melanjutkan perjalanan ke Banjarnegara menggunakan angkutan umum. Banjarnegara merupakan salah satu area pembangkit listrik tenaga air terbesar di Jawa Tengah, yang memasok listrik di sekitar Jawa Tengah. Ayah dari Nyonyo merupakan petinggi di PLTA tersebut. Jam 12 siang kami tiba di kediaman orang tua Nyonyo, langsung makan, istirahat untuk bersiap menuju petualangan esok hari. Siang hingga malam hari, tak ada yang kami lakukan kecuali bersantai, makan, menonton TV, dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, dengan menggunakan kendaraan keluarga Nyonyo, kami menuju Jogja, berkeliling, menginap di hotel dalam gang seharga 25 ribu per malam. Kami menyewa 2 kamar, untuk laki-laki dan untuk perempuan, berdesakan dalam 1 kamar. Tidak penting hotel mewah, yang penting cukup untuk tidur beberapa jam. Di Jogja kami menikmati hari, seolah turis, kami berkeliling ke pelosok Jogja, dan lupa bahwa kami ini adalah pelarian mahasiswa KKN dari Garut.&lt;br /&gt;Dua hari satu malam kami habiskan di Jogja, tak banyak kami belanja, lagian uang kami pun terbatas, cukup untuk makan dan sedikit oleh-oleh. Namun yang penting kebersamaan luar biasa yang kami dapatkan di sepanjang perjalanan. Kepulangan kami ke tanah Jawa Barat, relative sama, menggunakan kendaraan yang sama, kereta api yang sama, dan kembali ke Garut dengan bis yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Garut kami kembali ke rutinitas biasa, mengikuti ritme kehidupan Desa Ciburial, tanpa ada warga yang tahu jika kami baru saja selesai bertualang ratusan kilometer dari Garut. Petualangan di Jogja itulah menjadi puncak keakraban kami. Momen penting persahabatan seumur jagung 10 orang dari latar belakang berbeda dan belum pernah kenal satu sama lain sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa KKN berakhir, ada rasa bahagia karena tugas kami selesai, ada rasa haru tatkala meninggalkan desa terutama ibu kost, ada rasa “hilang” saat kami bersepuluh harus berpisah. Ternyata 60 hari cukup bagi kami untuk saling dekat, cukup bagi kami untuk merasa sama, sama-sama menderita, sama-sama bahagia, dan sama-sama haru. Tak terasa pula air mata menggenang, bahkan jatuh menetes, mengalir hangat memanjakan pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 25 April 09 – untuk 10 orang itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-5714478686158493275?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/5714478686158493275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/ajaibnya-persahabatan-antara-garut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5714478686158493275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5714478686158493275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/ajaibnya-persahabatan-antara-garut.html' title='Ajaibnya Persahabatan : Antara Garut - Jogja Dan Air Mata Berpisah'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8932675035311886503</id><published>2009-04-27T17:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:19:02.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Pengamen Cantik Idola Para Penumpang</title><content type='html'>Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta – Bogor banyak menyimpan cerita. Berbagai kisah kehidupan terjadi di sana. Selain warna warni penumpang, KRL juga dipenuhi serba serbi pencari nafkah, mulai dari pedagang asongan, pengemis, dan –tentu saja- pengamen. Khusus pengamen, memang dimaksudkan menjual jasa menghibur penumpang demi beberapa gelintir uang logam yang dimasukan ke dalam kantong permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen juga sangat beragam, mulai dari anak kecil bermodalkan kecrekan tutup botol yang dirangkai di kayu kecil, atau pemuda bermodalkan gitar lusuh penuh stiker Iwan Fals, atau seorang ibu yang bermodalkan sound system gendong dan bernyanyi seolah-olah berada di karaoke, atau juga sekelompok pemuda yang membawa peralatan band lengkap meski tetap sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, pengamen yang lumayan menghibur adalah sekelompok anak muda dengan peralatan band lengkap, karena selain cara bermusik yang relatif serius, mereka juga memainkan lagu-lagu terupdate yang dikenal luas saat itu. Pengamen kecrekan? Mohon maaf, seringkali malah mereka bernyanyi tidak karuan. Pengamen gitar tunggal? Maaf juga, main gitarnya seringkali asal-asalan dan fals, mungkin disesuaikan dengan stiker Iwan FALS yang tertempel di gitar mereka. Pengamen karaoke? Selain terkadang fals, juga suara sound system nya yang tidak bisa balance dan berisik luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di semester akhir aku kuliah, aku tidak lagi kost di Cikini. Aku lebih memilih pergi pulang, Bogor –Jakarta menggunakan –tentunya- KRL Kelas Ekonomi. Pada saat itu, sudah tidak ada lagi kuliah kelas dari jam 8.00 pagi hingga 17.00 sore. Ke kampus bisa lebih santai, setiap hari berangkat jam 9.00 pulang jam 15.00, sehingga terhindar dari berjubelnya penumpang KRL yang mewarnai setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi di KRL, tak sadar aku selalu menunggu-nunggu hadirnya sekelompok pengamen dengan alat musik lengkap di KRL. Sekelompok pengamen itu terdiri dari dua orang pemain gitar, satu orang pemain bas betot, dan satu orang pemain drum kecil yang hanya terdiri dari dua buah sner dan satu simbal. Vokalisnya biasanya merangkap bermain gitar. Mereka bermain dengan apik, sound yang rapi, dan lagu-lagu hits saat itu. Satu hal yang menjadi istimewa adalah salah satu pemain gitarnya adalah seorang perempuan cantik, berkulit putih, berperawakan relatif tinggi, dengan lesung pipit yang muncul tatkala perempuan itu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka selalu muncul di sekitar Stasiun Citayam, mereka muncul saat penumpang tidak terlalu sesak, sehingga peralatan band mereka bisa masuk dengan leluasa. Ketika mereka masuk gerbong, aku melihat penumpang lain pun seolah menyambut gembira kedatangan mereka, tak jarang ada penumpang –biasanya laki-laki- yang bertepuk tangan dan bersiul menggoda atas kehadiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bernyanyi, penumpang pun terdiam menikmati penampilan mereka. Yang tadinya ngobrol, rela menghentikan obrolannya untuk sejenak melihat mereka bernyanyi. Khusus para penumpang laki-laki, tentunya mereka menikmati kecantikan sang perempuan pemain gitar. Lagu demi lagu hits mereka bawakan seolah tak terasa. Tak jarang penumpang meminta tambahan lagu di luar lagu yang mereka bawakan. Meski tidak setiap hari aku melihat mereka bermain, namun setidaknya 3 kali dalam seminggu aku bisa melihat mereka bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang cukup cerdas mereka lakukan adalah dengan mengutus si perempuan cantik pemain gitar untuk mengedarkan kantong permen ke penumpang. Dan akibatnya memang bertumpuklah uang seribuan –bahkan limaribuan- di kantong permen yang diedarkan. Godaan dan colekan menjadi hal biasa baginya. Namun aku melihat perempuan itu tetap bisa menjaga dirinya dengan tidak menanggapi godaan-godaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, namanya siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, rumahnya dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, ntar Abang anter pulang ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sapaan-sapaan nakal dari para penumpang pria mencoba menggoda. Tak jarang juga aku melihat tangan jahil penumpang yang mencoba memegang tangan si perempuan cantik pemain gitar itu ketika mengedarkan kantong perman. Namun teman-teman band nya yang lain pun terlihat melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Bang, kita cuma mau nyari nafkah halal. Maaf, ya Bang.” dengan sopan teman-teman pemain band lain melindunginya. Penumpang pun segan dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun spontan menyediakan uang seribu rupiah –kalau limaribu, duh waktu itu masih terlalu besar bagiku untuk diberikan kepada pengamen- untuk ikut berpartisipasi menghargai jerih payah mereka. Selain karena penghargaan atas keindahan musik mereka, juga karena aku menghargai upaya mereka untuk tidak hanya berdiam diri dan menganggur di rumah. Dan tentunya juga karena perempuan cantik pemain gitar itu. He..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga melihat keseriusan mereka dalam mencari nafkah, mereka bernyanyi sungguh-sungguh, tidak asal bunyi, tidak sekedar bernyanyi asal-asalan untuk kemudian minta uang. Rasanya itu perlu penghargaan lebih layak dibanding pengamen lain yang terlihat beda tipis antara benar-benar mengamen, mengemis, atau bahkan memalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja hasil jerih payah mereka bisa bermanfaat dan tentunya digunakan untuk kebaikan. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 19April 2009 – untuk para seniman di KRL Jakarta – Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8932675035311886503?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8932675035311886503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/pengamen-cantik-idola-para-penumpang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8932675035311886503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8932675035311886503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/pengamen-cantik-idola-para-penumpang.html' title='Pengamen Cantik Idola Para Penumpang'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-4844370183176540222</id><published>2009-04-26T23:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:16:50.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Bapak Tua Itu Tiada Henti Mencari Nafkah</title><content type='html'>Suatu hari, 10 tahun yang lalu di Kereta Api Kelas Ekonomi Bogor – Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku berangkat kuliah agak siang. Di akhir masa kuliah ini, ke kampus hanya untuk bimbingan atau mencari bahan untuk thesis. Jadi tidak terikat waktu dan hanya tergantung dari jadwal dosen pembimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik kereta yang jam 9an –waktu tepatnya aku lupa-, beli karcis dan ambil gerbong paling belakang. Aku ambil tempat duduk yang dekat pintu dengan maksud, jika penumpang penuh, maka aku akan dengan mudah keluar jika telah sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, datang seorang bapak tua, usia sekitar 70an (bapak tua itu sendiri lupa akan usianya), membawa karung besar yang digendong di punggungnya. Tertatih bapak tua itu menaiki kereta, yang tangga masuknya cukup tinggi, dengan reflek aku mengulurkan tangan untuk menarik bapak tua itu masuk ke kereta. Bapak tua itu tersenyum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Dik” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : semua dialog dengan bapak tua itu dilakukan dalam bahasa Sunda, untuk kepentingan umum, aku terjemahkan ke bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua itu mengambil tempat di sebelahku. Penumpang saat itu masih sepi, hanya beberapa gelintir saja di gerbong itu, sehingga penumpang masih bebas memilih duduk, selain itu juga jam itu bukanlah jam sibuk untuk jalur Bogor – Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karung yang digotong tadi dimasukannya ke kolong kursi kereta. Saking besarnya karung itu, kolong kursi kereta tidak mampu menutupinya, sehingga karung tersebut agak menonjol keluar kursi dan menyebabkan kaki kami –aku dan bapak tua itu- agak diselonjorkan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana, Dik?” bapak tua itu memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;“Mau ke Gondangdia, Pa?” ujarku pendek. Sebenarnya aku tipe orang yang enggan berbicara dengan orang yang belum aku kenal, jadi ketika bapak tua itu mengajak bicara, aku sekenanya saja menanggapi.&lt;br /&gt;“Kerja atau kuliah?” tanyanya lagi&lt;br /&gt;“Kuliah, Pa” jawabku.&lt;br /&gt;“Oh begitu” pendek bapak tua itu menanggapi.&lt;br /&gt;Untungnya, bapak tua itu tidak lagi melanjutkan pertanyaan “kuliah dimana?”, “jurusan apa?”, aku akan sangat kerepotan menjelaskannya, karena tempat kuliah ku memang relatif jarang diketahui orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta berjalan, sesuai jadwal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, aku merasakan ada yang aneh di bawah kakiku. Aku lihat ke kolong kursi, dan ternyata keanehan berasal dari karung yang dibawa si bapak tua. Karung itu bergerak-gerak. Seperti ada sesuatu yang meloncat-loncat di dalamnya. Ular, kah itu? Entah kenapa pikiran ku langsung mengarah ke adanya ular. Ku beranikan diri bertanya ke bapak tua itu, padahal sejak dari awal kereta berjalan aku tidak berbicara apapun dengannya selain dialog awal tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini, Pa?” tanyaku sambil menunjuk karung yang “meloncat-loncat” tadi.&lt;br /&gt;“Oh, ini isinya kodok! Masih hidup, kok, makanya mereka meloncat-loncat” ringan saja si bapak tua itu menjawab.&lt;br /&gt;“Kodok? Buat apa, Pa?” tanyaku heran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercerita lah si bapak tua. Ternyata di dalam karung itu, setidaknya ada 20 ekor kodok seukuran telapak tangan orang dewasa. Kodok-kodok itu akan dijual ke rumah makan khusus masakan China yang menjual menu swikee. Kodok-kodok itu ditangkap 2 atau 3 hari sebelumnya, oleh si bapak tua itu sendiri di area persawahan di sekitar kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua itu seminggu sekali ke Jakarta, tepatnya daerah Kota, untuk menjual kodok-kodok itu. Rata-rata dia membawa 15-25 kodok di karungnya. Dijual seharga –harga dulu- Rp. 3000,- per ekor. Aku tidak tahu pasti kebenaran harga ini, si bapak tua itu menjawabnya pun juga tidak dengan jelas dan meyakinkan. Jika pun benar, maka seminggu rata-rata bapak tua itu mendapatkan antara 45 – 75 ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua itu juga bercerita, kalau sehari-hari bekerja serabutan, selain mencari kodok, bapak tua itu berkeliling bermodalkan arit, menawarkan diri untuk memotong rumput di halaman rumah tetangga sekitar. Apa saja dia lakukan untuk mencari uang. Anak dan istri? Anaknya yang laki-laki juga bekerja, menjadi kuli bangunan, yang mesti menunggu adanya proyek pembangunan, baru bisa mendapat uang. Anak yang perempuan, menjadi ibu rumah tangga, sesekali menjadi buruh cuci, sementara suaminya juga menjadi kuli bangunan. Sang istri, tetap menjadi ibu rumah tangga. Mereka semua tinggal dalam satu rumah petak di salah satu daerah di pinggiran Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak, kok, masih saja bekerja seperti ini?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bapak tua itu kembali mengalir. Bapak tua itu tidak mau menyusahkan anak-anaknya yang kondisi ekonominya pun belum mapan. Dia harus bekerja jika ingin uang. Apapun dia lakukan untuk menghidupi –setidaknya- dia dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, mendengar cerita si bapak tua, aku terlewat turun di Stasiun Gondangdia. Karena kepalang tanggung, aku putuskan untuk mengikuti si bapak tua ke Stasiun Kota. Beruntung saat itu tidak ada pemeriksaan karcis, karena karcisku hanya sampai Gondangdia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Stasiun Kota, aku berpamitan dengan si bapak tua. Beliau melanjutkan menggendong karung berisi kodok ke sebuah restoran di daerah Kota. Tetap dengan tertatih-tatih, si bapak tua menggendong karung itu, terus berjalan di tengah terik matahari. Aku hanya memperhatikan dari jauh. Pikiran ku melayang, sekelebatan muncul berbagai sosok bapak tua lain, yang hanya menadahkan tangan di lampu merah untuk mengemis atau yang hanya meminta-minta dari pintu ke pintu rumah. Bukankah lebih baik tangan di atas daripada di bawah? Bukankah ikhtiar sesungguhnya akan lebih mulia jika dilakukan dengan bekerja? Entahlah, aku tidak ahli dalam hal ini. Yang jelas, rasa hormatku setinggi-tingginya bagi bapak tua penjual kodok itu. Bukan menjual kodok yang aku bahas, tapi perjuangan bapak tua itu yang mampu menggetarkan hatiku, dimana meski usia renta sekalipun, bapak tua itu tidak mau tinggal diam dan menyerah pada nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 April 2009 – untuk sebuah perjuangan tiada akhir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-4844370183176540222?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/4844370183176540222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/bapak-tua-itu-tiada-henti-mencari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4844370183176540222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4844370183176540222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/bapak-tua-itu-tiada-henti-mencari.html' title='Bapak Tua Itu Tiada Henti Mencari Nafkah'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-24264942346699039</id><published>2009-04-25T23:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:10:05.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Emansipasi Di Gerbong KRL</title><content type='html'>Hari Jumat itu betul-betul sengsara bagiku. Kuliah dari jam 8.00 sampai jam 17.00 dibarengi dengan flu berat yang aku alami, ditambah dengan sedikit demam, hidung mampet, kepala pusing, dan yang pasti ngantuk berat karena obat flu yang aku telan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 17.00 kuliah berakhir. Tanpa basa basi aku langsung kabur. Aku ingin pulang. Sebenarnya bisa saja aku kembali ke tempat kost dan beristirahat di sana, tidur sepuasnya. Namun entah kenapa, aku ingin pulang, ingin tidur di kasur empuk rumah, ingin makan masakan Ibu, dan –untuk menghilangkan flu- minta dikeroki Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya jika dalam keadaan sehat, aku ke Stasiun Gondangdia untuk menumpang KRL kelas ekonomi. Namun saat itu aku ingin tidur, ingin istirahat sejenak, suatu hal yang tak mungkin aku lakukan di KRL kelas ekonomi pada jam sibuk itu. Maka dari itu aku bersegera ke Stasiun Gambir untuk menumpang Kereta Pakuan, kelas bisnis, agak mahal memang, tapi tak mengapa, yang penting bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gambir, ngantri tiket, menunggu Kereta Pakuan. Tidak lama Kereta Pakuan datang. Untuk masuk gerbong ternyata agak berdesakan. Harapan untuk bisa duduk dan tidur sepertinya mulai menipis. Namun perjuangan ku yang ngotot dan merangsek masuk gerbong, ternyata berbuah hasil. Aku langsung menemukan kursi kosong. Kursi satu-satunya yang kosong di gerbong itu. Aku langsung duduk dan mengambil posisi tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang Kereta Pakuan itu menjadi penuh. Selain karena penumpang dari Stasiun Kota, juga karena membludaknya penumpang dari Stasiun Gambir. Banyak penumpang terpaksa berdiri, sebagian menggelar koran sebagai alas duduk di lantai gerbong. Posisi kursi di Kereta Pakuan Kelas Bisnis berbeda dengan KRL Kelas Ekonomi. JIka posisi kursi KRL Kelas Ekonomi, memanjang dari ujung gerbong satu ke ujung gerbong lainnya, sehingga posisi duduk penumpang berada pada masing-masing sisi gerbong, sementara itu Kereta Pakuan posisi kursinya menghadap ke depan, dengan jok empuk dan setiap kursi dihuni oleh 2 orang penumpang, mirip kursi di kereta mewah Argo jurusan Bandung, Jogja, atau Surabaya. Posisi duduk ku berada di sisi lorong, sehingga para penumpang yang berdiri akan bersender di kursiku dengan memandang iri kepada para penumpang yang duduk termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan, para penumpang yang bersandar dan berdiri dekat kursi dudukku adalah para pekerja perempuan muda. Mereka saling berbicara dan becanda dengan keras di sisiku. Aku berusaha tidak peduli dan melanjutkan tidur. Namun suara canda mereka semakin keras, semakin mengganggu. Yang membuat aku sangat terganggu adalah ketika mereka berbicara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih cowok egois banget sih, malah tidur, bukannya ngasih tempat buat cewek!” ketus mereka berbicara antar sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka mata, aku yakin yang dimaksud mereka adalah aku. Aku lihat mereka satu persatu. Mereka balas menatap, mungkin mereka menyangka aku akan bereaksi dengan memberikan tempat bagi mereka. Tapi, maaf ya, tidak ada tempat untuk kalian. Aku lelah, aku flu, aku ingin tidur! Aku lanjutkan tidurku, semakin lelap semakin tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, aku tak bisa memberikan tempat ku untuk kalian!” demikian batinku sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian adalah perempuan-perempuan muda yang sehat tak kurang suatu apa. Kalian yang berteriak emansipasi demi kesetaraan derajat dengan laki-laki, namun mengapa kalian ingin diistimewakan ketika kalian tidak memperoleh duduk di kereta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu yang berkecamuk di pikiran ku saat itu. Mohon maaf bagi para kaum feminis, bagi para kaum perempuan, mohon maaf sekali atas sikap ku itu. Mungkin lain soal jika aku sedang dalam kondisi sehat, lain soal jika yang berdiri itu adalah perempuan hamil, lain soal jika yang berdiri itu laki-laki atau perempuan jompo, atau lain soal jika yang berdiri itu seseorang dengan kondisi khusus yang butuh kursi untuk duduk. Tapi aku melihat dengan jelas bahwa para perempuan itu dalam keadaan tidak kurang suatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan 45 menit Stasiun Gambir ke Bogor memang cukup lumayan untuk menikmati tidur di saat flu seperti itu. Setiba di Bogor, aku tidak langsung turun. Aku biarkan seluruh penumpang di gerbong untuk turun lebih dulu. Para perempuan yang bersender di kursi ku pun turun terlebih dulu. Sebelum turun kami saling menatap. Tatapan mereka sepertinya penuh kebencian. Seolah-olah ingin berkata keras padaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh! Dasar cowok egois!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 19 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-24264942346699039?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/24264942346699039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/emansipasi-di-gerbong-krl.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/24264942346699039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/24264942346699039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/emansipasi-di-gerbong-krl.html' title='Emansipasi Di Gerbong KRL'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-1306336470311905627</id><published>2009-04-25T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T20:05:27.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Happening Art Di Gerbong Kereta : Sebuah Karya Seni Unik, Sebuah Kritik Sosial, Atau Sekedar Mencari Nafkah?</title><content type='html'>Tahun 1998, menjadi tonggak bersejarah bagi bangsa ini, gelombang reformasi, kerusuhan Mei, hingga peralihan kekuasaan mewarnai perjalanan bangsa. Namun bukan itu yang aku ceritakan, ini hanya sebuah kisah sederhana di atas gerbong kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pertengahan Juli 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu awal aku kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen PPM di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sebenarnya aku mengambil kost di daerah Cikini, namun seminggu sekali aku pulang ke Bogor. Biasanya aku pulang Jumat malam atau Sabtu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi, jam 8an, seperti biasa, pulang ke Bogor menggunakan kereta api Jakarta – Bogor kelas ekonomi, naik dari Stasiun Gondangdia. Suasana di stasiun relatif sepi, kereta api yang aku tumpangi pun juga sepi. Selain karena arus balik Jakarta-Bogor, juga karena hari Sabtu memang bukan jam sibuk. Kereta berjalan normal, terkadang sangat cepat, namun otomatis melambat saat berhenti di sebuah stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di Stasiun Depok, seluruh kursi terisi penuh, segelintir penumpang hanya berdiri, namun tidak sesak seperti ketika jam sibuk. Masih ada ruang berjalan di tengah gerbong, baik bagi para penjual, pengemis, maupun pengamen. Seiring dengan masuknya beberapa penumpang di gerbong yang kutumpangi, masuklah seorang pemuda berperawakan tinggi, kurus, berambut gondrong, dan bersorot mata tajam. Sorot mata tajam itu didukung pula oleh celak mata yang menghias mata bagian bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta kembali berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pemuda tadi berdiri di tengah-tengah gerbong,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reformasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimik mukanya terlihat serius, dibarengi kepalan kedua tangan, tangan kanan terkepal keatas, tangan kiri mengepal erat dibawah. Ternyata pemuda itu sedang membaca puisi atau mungkin maksudnya melakukan happening art di atas kereta. Teriakan demi teriakan dilakukan pemuda itu. Dengan gaya mirip pembacaan puisi atau deklamasi di acara 17an. Aku tidak ingat, apa saja kata-kata yang diteriakkan dalam puisi itu. Yang jelas temanya mengenai perjuangan mahasiswa, kesengsaraan rakyat, dan cercaan terhadap koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali tangannya bergerak-gerak mirip sang maestro Rendra membaca puisi, mata tajam melotot menatap para penumpang, rambut panjangnya dibiarkan berantakan menutupi wajahnya tatkala kepalanya bergerak kencang menoleh dari satu mata penumpang ke mata penumpang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu saat, pemuda itu berlutut. Berteriak setengah merintih, seolah merasakan penderitaan rakyat. Berlutut itu sepertinya menjadi akhir dari pembacaan puisi pemuda itu, karena nada pembacaan puisi semakin lama semakin rendah seiring tertunduknya kepala pemuda itu saat berlutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertunjukan tidak hanya sampai disitu. Saat berlutut dan menunduk, ternyata pemuda itu melanjutkan pertunjukannya dengan bersujud. Apa yang dilakukannya? Diluar dugaan, diluar logika berpikir orang, dan diluar segala kewajaran pertunjukan di kereta api, ternyata pemuda tadi tidak sekedar bersujud. Pemuda itu sedang menjilati lantai kereta api!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai kereta api yang penuh debu, bekas injakan orang, bahkan mungkin juga najis senajis-najisnya itu dijilatinya. Sepertinya jilatan lidah di lantai gerbong itu membentuk sebuah lukisan. Ya benar, beberapa saat kemudian, pemuda itu bangkit, kembali berdiri tegak mengepal, sambil berteriak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Reformasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan betapa kotornya lidah si pemuda itu. Aku lihat hasil lukisannya. Ternyata semacam lukisan wajah seorang pria berpeci. Entah wajah siapa yang dimaksud, namun aku berasumsi, wajah itu adalah wajah mantan Presiden Suharto (alm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pemuda itu berbuat nekat seperti ini, yang pertama, dia melakukannya benar-benar mengatasnamakan seni yang unik, kedua, dia melakukannya karena ingin mengungkapkan kritik sosial atas kesengsaraan rakyat, ketiga, dia melakukannya karena memang ingin mencari uang alias mengamen dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku –lagi-lagi- berasumsi bahwa pemuda itu melakukan aksinya karena gabungan ketiga hal tadi, yaitu menyampaikan kritik sosial dengan menunjukkan seni yang unik demi mencari uang. Mengapa begitu? Karena setelah pertunjukan, pemuda itu mengeluarkan sekantong plastik bekas bungkus permen dan mengedarkannya ke penumpang untuk diisi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua penumpang diedari kantong plastik, pemuda itu berpindah gerbong dan sayup-sayup aku mendengar suara teriakan dari gerbong sebelah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Reformasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya bisa tersenyum membayangkan pemuda itu harus menjilati seluruh 8 gerbong demi sebuah kritik sosial melalui seni yang unik demi mencari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 18 April 09 – untuk para pejuang nafkah di gerbong kereta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-1306336470311905627?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/1306336470311905627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/happening-art-di-gerbong-kereta-sebuah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1306336470311905627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1306336470311905627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/happening-art-di-gerbong-kereta-sebuah.html' title='Happening Art Di Gerbong Kereta : Sebuah Karya Seni Unik, Sebuah Kritik Sosial, Atau Sekedar Mencari Nafkah?'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-974536135239553540</id><published>2009-04-24T10:34:00.000-07:00</published><updated>2009-12-30T16:37:19.697-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Keramahan Datang Dari Ketulusan Hati</title><content type='html'>Pekerjaanku yang menuntut untuk selalu keluar kota, membuat frekuensi naik pesawat menjadi relatif tinggi. Hampir semua maskapai skala nasional pernah aku tumpangi, membuat aku bisa membandingkan pelayanan setiap maskapai. Selain faktor keselamatan, masalah keramahan para kru pesawat menjadi daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, saat menaiki pesawat dari Maskapai A dari Jakarta menuju Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menaiki pesawat dari Maskapai A, aku selalu mendapati keramahan dari para pramugari, pramugara, serta para kru dari maskapai ini. Aku perhatikan mereka adalah para kru senior baik dari sisi pengalaman maupun dari sisi usia. Jika melihat para pramugarinya, mereka terlihat sangat menarik dengan senyum mengembang tatkala menyambut penumpang. Mereka tidak lagi muda, namun tetap terlihat menarik dengan pakaian seragam yang cukup elegan yang mereka kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memasuki pesawat, selalu ada sapaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi, Pa, selamat datang.” ramah menyapa seluruh penumpang satu per satu tentunya tidak lepas dengan senyum mengembang yang tulus dari hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menuju kursi duduk pun, sudah siap para pramugari lain yang menyambut dengan perkataan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nomor berapa kursinya, Pa?” tetap dengan keramahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh nomor itu masih di belakang, Pa, silakan, nanti dibantu oleh rekan saya di sana.” Keramahan berlanjut hingga kita duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kesigapan para pramugari itu membantu penumpang menempatkan barang bawaannya di luggage bin di atas kursi penumpang. Jika luggage bin di atasnya sudah penuh, mereka pun sigap mencarikan tempat lain sebagai alternatif menyimpan barang. Kenyamanan pun menjadi nilai tambah bagi maskapai ini bagi para penumpang. Memang agak mahal dibanding maskapai lain, namun faktor keselamatan dan kenyamanan, ternyata tetap menjadi pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari yang lain, saat menaiki pesawat dari Maskapai B dari suatu tempat ke tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali –jam 5 subuh- aku sudah berada di bandara untuk menuju suatu kota. Kali ini aku menaiki pesawat Maskapai B untuk menuju kota tersebut. Tak ada pilihan lain, hanya maskapai itu yang melayani jalur tersebut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 5.45 pagi, penumpang sudah dipanggil untuk boarding, alhamdulillah tepat waktu. Namun ternyata ketepatan waktu boarding itu bukan awal yang baik. Saat memasuki pesawat, aku mendapati 2 orang pramugari berdiri di dalam pesawat dekat pintu masuk. Pramugari satu sedang sibuk membenahi rambutnya sambil matanya melihat sebuah catatan –mungkin manifest penumpang- di meja kecil di depannya, pramugari satu lagi berdiri mematung di dekat pintu, dengan maksud menyambut penumpang, namun dengan wajah kaku, cemberut, dan tanpa senyum. Alih-alih mengucapkan selamat pagi, para pramugari itu malah sibuk sendiri atau berdiri mematung tanpa ekspresi. Di dalam pesawat setidaknya ada 2 lagi pramugari, namun setali tiga uang, mereka pun nyaris tanpa senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa berikutnya makin mengenaskan, aku melihat seorang bapak yang kerepotan membawa 2 tas, yang satu koper yang satu kresek besar, kesulitan mencari luggage bin yang kosong. Dan yang membuat kaget adalah ketika salah satu pramugari menyuruh bapak itu untuk ke belakang untuk mencari luggage bin kosong, dengan cara yang ketus dan setengah membentak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak bawa aja barang-barangnya ke belakang sana, masih ada yang kosong!” ketus dia berkata, tanpa ada upaya mengantar si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya secara fisik, tidak ada yang salah dengan para pramugari itu. Mereka cantik, muda, dan berpenampilan menarik. Setiap laki-laki pasti tidak akan bosan melihat penampilan mereka. Hanya saja, kecantikan, usia muda, dan penampilan menarik itu menjadi tidak ada artinya ketika mereka tidak bisa menunjukan keramahan setidaknya melalui senyum yang tulus dan sikap yang hangat bagi penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan, Maskapai A dengan Maskapai B, memang orang lebih akan memilih Maskapai A. Kecuali masalah harga tiket yang mahal –harga tiket Maskapai A bisa 2 atau 3 kali lipat Maskapai B- maka penumpang lebih baik memilih Maskapai A. Sebenarnya bagi Maskapai B, tidak akan sulit menjaring penumpang. Justru seharusnya para kru udara bisa menjadi nilai tambah bagi mereka, asalkan mereka menambahkan satu hal yaitu keramahan yang datang dari ketulusan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, keramahan dari ketulusan hati, tidak memerlukan biaya besar bagi perusahaan. Dengan harga lebih murah yang ditetapkan Maskapai B saja sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan keramahan. Tidak perlu biaya khusus. Tidak perlu menaikkan harga. Karena senyum keramahan yang tulus dari hati merupakan investasi sangat murah bagi Maskapai B sebagai cara untuk menjaring penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 19 April 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-974536135239553540?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/974536135239553540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/keramahan-datang-dari-ketulusan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/974536135239553540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/974536135239553540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/keramahan-datang-dari-ketulusan-hati.html' title='Keramahan Datang Dari Ketulusan Hati'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8827354492494718403</id><published>2009-04-22T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:00:35.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Sekejap Bendera Itu Terbalik, Berbulan Rasa Malu Tak Hilang</title><content type='html'>Saat itu baru saja terjadi euphoria kemenangan SMAN 1 Bogor khususnya Pandawa 16 sebagai juara 2 di Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (lihat tulisan “Kami Bangga Meski Hanya Juara Dua”). Meski tidak terlalu menjadi pembicaraan di sekolah, namun kemenangan itu membentuk kebanggaan bagi kami sebagai anggota Pandawa 16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya rutinitas sebagai Pandawa 16, tetap dijalankan, latihan rutin sebagai persiapan bagi seleksi Paskibraka Kodya Bogor dan –tentunya- bertugas sebagai penyelenggara upacara bendera tiap Senin di sekolah. Sebenarnya petugas dalam upacara bendera itu dilakukan bergiliran tiap kelas, biasanya tugas itu dibebankan ke kelas 1, misal minggu ini kelas 1-1, minggu depannya 1-2, begitu seterusnya hingga 1-8, kemudian diputar lagi ke 1-1. Namun ada juga satu waktu, tugas itu diberikan kepada Pandawa 16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi ini, giliran Pandawa 16 bertugas, inilah saatnya kami berperan. Kemenangan juara 2 itu masih membayangi kami, di satu sisi, kami sudah saling memahami setiap pergerakan upacara, di sisi lain, ada beban tersendiri jika upacara tidak berjalan lancar. Seperti biasa masing-masing pos petugas telah ditentukan, Ario sebagai komandan, aku, Dika, dan Eri pengibar bendera, Wita dirigen, Trisnawita pembaca protokoler, Ratri pembaca UUD 45, Indri pembaca doa dan Dony menjadi ajudan pembina upacara. Sebenarnya nama petugas secara pasti, aku tidak terlalu ingat, namun yang pasti aku berperan sebagai pengibar bendera khusus yang membentangkan bendera untuk dikibarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari berturut-turut kami melakukan latihan, kesulitan klasik muncul, karena kami berselisih waktu masuk sekolah, sebagian masuk pagi sebagian masuk siang. Akhirnya waktu latihan antara jam 12.00 – 13.00 siang. Jam 12.00, anak pagi pulang, sementara jam 13.00 anak siang masuk kelas. Satu jam selama tiga hari kami latihan, rasanya cukup. Karena secara teknis, tidak masalah, hanya tinggal melatih kekompakan. Latihan pun relatif ringan, meski tetap diawasi oleh Agung, Kardinal, Margareth, Ike dan Tuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Senin pagi itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali kami sudah berkumpul di markas Pandawa 16 di sebuah ruang di belakang sekolah. Sesekali aku dan Dika ke lapangan, memastikan tali bendera tidak kusut dan terikat dengan baik. Setelah semua beres, kami melengkapi seragam kami dengan rapi. Celana tetap abu-abu, baju OSIS putih harus lengan panjang, dasi dan topi yang wajib melekat. Jam 7 kurang 15, seluruh siswa dipanggil ke lapangan, Pa Bahrum dan Pa Memen sibuk mengejar-ngejar siswa yang kabur ke Gang Selot menuju warung Pa Ujang dekat SD Polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 7 tepat, upacara dimulai. Kami para petugas siap di pos masing-masing. Ario selaku komandan upacara, sigap berjalan langkah tegap ke tengah-tengah peserta upacara.&lt;br /&gt;“Siaaaapppp…Grakkk…” lantang Ario memberi komando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara demi acara protokoler dilakukan. Hingga sampailah pada pengibaran bendera merah putih. Aku, Dika dan Eri sigap melangkah dibawah komando ku. Dika, pengerek bendera berada di sisi paling kiri, Eri, pembawa bendera berada di tengah, sementara aku, pembentang bendera berada paling kanan sekaligus pemberi komando. Komando kuucapkan pelan, cukup didengar oleh 2 orang rekan pengibar yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah kami di depan tiang bendera, aku dan Dika, saling membantu melepas ikatan tali bendera di tiang. Dika sesekali mendongak melihat kerapian tali di tiang. Setelah dirasa rapi, Dika menyerahkan tali itu kepadaku dengan sigap. Tali kuambil, dan kurangkaikan satu per satu dengan ikatan di bendera yang dibawa Eri. Aku sempat ragu-ragu dengan tali yang diikatkan ke bendera,&lt;br /&gt;“Benarkah tali ini sesuai dengan ujung bendera yang seharusnya?” batinku ragu.&lt;br /&gt;Aku heran sendiri, kenapa aku ragu? Inikan sudah biasa, sudah beberapa kali aku lakukan, baik di upacara sesungguhnya maupun di latihan. Entahlah, pagi itu konsentrasi ku buyar, aku jadi ragu-ragu akan ikatan itu. Sepertinya Eri menyadari ini, dengan berbisik Eri berkata,&lt;br /&gt;“Din, ga salah tuh!” bisik Eri&lt;br /&gt;“Bener, ah!” jawabku, juga dengan berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dika terdiam memperhatikan perdebatan kecil kami, Dika memang berada di sisi yang lain, yang tak bisa secara langsung melihat ikatan tali itu.&lt;br /&gt;“Din, salah! Copot lagi, ulangi!” Eri makin keras berbisik, terlihat dia agak kesal karena aku tidak menuruti perkataannya.&lt;br /&gt;Aku benar-benar ragu-ragu. Namun saat terakhir, aku meyakinkan diri. Aku tidak pedulikan bisikan Eri, aku mengikuti perkataan para instruktur,&lt;br /&gt;“Pokoknya kamu harus yakin!” begitu biasanya para instruktur mengajari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eri tampak kesal, sepertinya dia yakin aku salah.&lt;br /&gt;“Udah, kita tarik aja, udah kelamaan nih!” mataku kuarahkan ke Eri dan Dika. Dika mengangguk, Eri juga, namun dengan anggukan yang ragu-ragu.&lt;br /&gt;Kutarik bendera seiring langkah mundur sekitar tiga langkah ke belakang. Ada teknik khusus dalam membentangkan bendera, seperti jepitan jari yang khas, langkah mundur yang terukur, dan jarak bentangan yang pas agar bendera tidak lepas. Bersamaan dengan langkah mundur itu kubentangkan tangan untuk menarik bendera, dan ternyata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendera tidak terbentang! Malah jadi terbelit dan membentuk huruf X. Terdengar beberapa jeritan kecil dari arah peserta upacara. Mungkin mereka pun kaget dengan terbelitnya bendera. Melihat itu, sigap Ario memberi komando,&lt;br /&gt;“Balik kanaaaannnnn…grakkk…”teriak Ario, komando itu merupakan perintah standar jika terjadi sesuatu pada saat pengibaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peserta upacara balik kanan, aku sibuk membetulkan bendera, namun sepertinya agak rumit, karena belitan itu sangat parah akibat salah ikat ujung tali dengan ujung bendera yang aku lakukan. Betul bisikan Eri tadi, tapi memang aku tidak mau mendengarkan, sehingga fatal akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah peserta balik kanan, sekonyong-konyong muncul dari barisan dengan berlari kencang ke arah kami, seorang perempuan, kakak kelas dari angkatan 91, bermaksud memperbaiki belitan bendera. Si kakak sigap memperbaiki, aku hanya bengong menyaksikan si kakak sedang merapikan bendera.&lt;br /&gt;“Masih salah aja, malu-maluin!” begitu bisiknya kepadaku. Aku terhenyak sesaat.&lt;br /&gt;“Udah, nih, ayo kibarkan!” sambil kembali ke barisan, si kakak kelas sempat berbisik keras ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bantuan si kakak, aku telah membentangkan bendera dengan benar. Aku berteriak,&lt;br /&gt;“Bendera siap!” teriak ku ke arah Ario.&lt;br /&gt;“Balik kanaaaannnn…grakkk…”Ario memberi komando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pengibaran berjalan lancar. Bendera tepat sampai di ujung tiang pada saat lagu Indonesia Raya berakhir. Dika memang piawai memadukan gerakan pengibaran dengan lagu Indonesia Raya. Upacara selesai sekitar 40 menit kemudian. Namun bagi ku tidak sampai disitu. Aku malu. Aku penyebab terbelitnya bendera. Pandangan orang seolah mencibir,&lt;br /&gt;“Katanya jagoan baris berbaris, ngibarin bendera aja kebelit!” sepertinya itu yang berkecamuk di kepalaku. Berhari-hari rasa malu itu tak kunjung sirna. Bahkan berminggu dan bulan berikutnya, peristiwa itu terbayang terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itulah dinamika, tidak selamanya kemenangan akan diraih. Mungkin aku saat itu sombong, takabur, merasa bahwa segalanya akan mudah dan tidak perlu konsentrasi. Dan ternyata akibatnya sangat fatal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 21 April 09 – untuk sahabatku para petugas upacara bendera…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8827354492494718403?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8827354492494718403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/sekejap-bendera-itu-terbalik-berbulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8827354492494718403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8827354492494718403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/sekejap-bendera-itu-terbalik-berbulan.html' title='Sekejap Bendera Itu Terbalik, Berbulan Rasa Malu Tak Hilang'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-663065310612532449</id><published>2009-04-19T06:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:03:35.593-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Gadis Desa Itu Memang Pintar Menyanyi</title><content type='html'>Tahun 1996, masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dosen, KKN sebenarnya bertujuan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk masyarakat dan juga mendekatkan mahasiswa kepada masyarakat. Jika diterapkan secara murni dan konsekuen memang tujuan itu akan sangat mulia. Apapun jurusan si mahasiswa, penerapan ilmu kepada masyarakat, memang bisa dilakukan melalui KKN ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri pada awalnya bingung bidang ilmu apa yang akan aku terapkan di tempat KKN, tidak mungkin rasanya memberikan materi ilmu Hubungan Internasional kepada para penduduk desa. Namun akhirnya aku putuskan untuk mengajar Bahasa Inggris ke anak-anak SD di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa tempat KKN ku bernama Desa Ciburial, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.sekitar 90 menit perjalanan dari Bandung jika menggunakan bis umum. Aku beruntung karena desa itu tidak terlalu jauh ke pedalaman. Desa itu benar-benar di pinggir jalan raya Bandung – Garut. Cukup berjalan kaki sekitar 150 meter, sudah sampailah kita di tugu pusat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sekelompok KKN berjumlah 10 orang, yaitu aku, Nana (alias Ohim), Iwan, Hadian, Lenny, Yuyus, Enyim, Sonya, dan Profi, dan Eva. Kami semua berasal dari latar belakang jurusan berbeda. Selama 2 bulan aku di Desa Ciburial, pekerjaan ku jadi guru Bahasa Inggris. Jam 7 pagi aku berangkat mengajar, pulang jam 10, selanjutnya luntang lantung teu puguh (luntang lantung ga jelas). Terkadang aku ikut ke ladang tembakau, ke sawah, main bola, main voli, sampai ikut latihan menyanyi dangdut. Kesibukan bertambah menjelang tujuh belasan dan Maulid Nabi Muhammad SAW, karena pada dua acara itu, dirayakan lebih besar dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di perayaan Maulid Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Maulid Nabi dilaksanakan berbagai acara, berbagai perlombaan, baik yang melibatkan anak-anak sampai orang dewasa. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah lomba menyanyi untuk kategori dewasa, baik pria maupun wanita. Pemuda dan pemudi desa berbondong-bondong mengikuti lomba ini, dari yang memang berbakat menyanyi maupun yang berada pada level asal bunyi. Tugasku saat itu adalah –bersama 2 rekan KKN yang lain- menjadi juri lomba menyanyi kategori dewasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Eneng –sebut saja begitu, karena memang begitu dia dipanggil dan aku sama sekali lupa nama aslinya- biduan desa itu. Usianya masih 15 tahun, cantik, dengan jilbab dan busana muslim yang selalu melekat di tubuhnya. Eneng adalah putri pertama Pak Adad Musyadad, seorang petinggi desa dan orang yang dianggap paling berpengaruh se-Ciburial. Eneng dikenal sebagai biduan desa bersuara emas. Eneng lah langganan juara setiap acara Maulid Nabi ataupun tujuhbelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, tibalah saat Eneng tampil. Suara sorak menyambut Eneng. Dengan percaya diri Eneng menyanyikan bait demi bait lagu, lancar, tanpa cela. Suara lengking tinggi begitu jernih terdengar. Sound system desa yang kurang optimal, tidak mengurangi kejernihan suara Eneng. Berturut-turut dua lagu dibawakan, sorak penonton tak henti bergemuruh, juri pun –termasuk aku- terpesona karenanya. Aku memberikan nilai nyaris sempurna untuk Eneng. Aku lihat dua juri yang lain pun demikian. Hasil penilaian kami diserahkan kepada panitia untuk dilakukan rekapitulasi penghitungan. Aku yakin dari sudut manapun, Eneng akan menjadi juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua peserta tampil, tibalah saat pengumuman, saat yang ditunggu-tunggu para peserta. Aku sendiri mendengarkan pengumuman dari warung minum beberapa puluh meter dari panggung. Aku pikir, untuk apa aku dengarkan pengumuman, toh yang akan menang pastinya Eneng. Dan lagi, pengumuman pemenang itu akan pasti terdengar dari warung tempat ku minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan juara 1 untuk kategori wanita dewasa adalah….Ucu….!” begitu teriak MC mengumumkan pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, Ucu! Kok bukan Eneng…?” batinku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas aku meninggalkan warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teh, nanti saya bayar, ya, ada yang penting nih!” ucapku ke si Teteh penjual minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di dekat panggung, aku melihat Eneng sedang menangis sesenggukan di salah satu rumah di sekitar situ. Aku menemui dua rekan juriku. Kelihatannya mereka kebingungan juga, karena mereka pun memberikan nilai nyaris sempurna. Kedua juri rekanku mengira aku memberikan nilai buruk untuk Eneng, sehingga secara rata-rata nilai Eneng berada di luar 10 besar sekalipun. Aku mencoba konsolidasi dengan para juri. Aku panggil panitia penghitung nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, ada kesalahan penghitungan oleh panitia. Nilai Eneng yang dijumlah hanya dari dua juri, sementara secara rata-rata dibagi tiga. Jelaslah nilai Eneng menjadi sangat kecil. Pontang panting aku merekap ulang nilai, aku panggil seluruh panitia, aku minta mereka merekap ulang, dan membatalkan kemenangan Ucu dan menggantinya dengan kemenangan Eneng. Dari sudut mata kulihat Eneng memperhatikan “perjuangan” ku. Eneng ikut berharap cemas akan apa yang aku sedang usahakan. Walau bagaimana pun, pastinya malu jika mengetahui bahwa dirinya kalah setelah sekian lama terus juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah adanya, nilai Eneng –setelah dihitung ulang- menempati posisi teratas. Bahkan jarak nilainya sangat jauh dibandingkan juara 2 –yaitu Ucu. Pengumuman ulang dilakukan, dan pemenangnya memang Eneng. Alhamdulillah, memang keadilan itu tetap ada, kesalahan diperbaiki, dan yang berhaklah yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, 13 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku melintas Desa Ciburial, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, saat aku bertugas ke wilayah Garut dan Tasikmalaya. Namun tak ada keberanian aku mendatangi desa itu. Entahlah, hanya tak ada keberanian. Rasanya tak enak, ketika mendapati kita datang ke sana setelah 13 tahun melupakannya. Tentunya Eneng, dan banyak gadis muda lainnya, saat ini sudah mendapati kebahagiaan bersama keluarga mereka, atau para pemuda desa itu sudah berkiprah dan berperan banyak bagi keluarga. Insyaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 23 Maret 09 – untuk para pejuang desa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-663065310612532449?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/663065310612532449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/gadis-desa-itu-memang-pintar-menyanyi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/663065310612532449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/663065310612532449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/gadis-desa-itu-memang-pintar-menyanyi.html' title='Gadis Desa Itu Memang Pintar Menyanyi'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-1229193035022918985</id><published>2009-04-12T18:59:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:09:33.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Gang Selot : dari Warung Joni, Tahu Slawi, Es Kelapa Jeruk, Es Doger, Doclang, Hingga Bakso Si Black</title><content type='html'>Sebuah Sabtu pagi di penghujung Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, rutinitas hari Sabtu, aku mengantarkan kedua anakku ke sekolah, satu di TK, satu di playgroup. Aku dan istriku, kami berdua secara rutin setiap Sabtu menjalani ritual antar mengantar ini. Dua jam kemudian mereka kembali kami jemput. Sambil menunggu dua jam itu berakhir, biasanya kami berdua mencari tempat-tempat makan pinggir jalan untuk memenuhi sarapan pagi. Bisa ke Taman Kencana, Lapangan Parkir Bogor Permai, atau di mana saja tempat yang biasa menjual makanan di sector informal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana kita?” ujarku pagi itu. Memang agak membingungkan tatkala harus menentukan pilihan tak terencana.&lt;br /&gt;“Gang Selot, yuk!” tiba-tiba istriku melontarkan ide yang tak biasa. Memang sejak ritual antar mengantar terjadi, kami tidak pernah makan di Gang Selot. Tak pernah terpikir ide itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluncurlah kami ke Gang Selot. Sedikit kesulitan mencari parkir, karena ternyata sekarang mobil dilarang parkir di depan SMPN dan SMAN 1 Bogor. Akhirnya kami parkir di kompleks perbankan di sebelah Balaikota Bogor. Cukup berjalan sekitar 100m maka sampailah kami di Gang Selot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm, Gang Selot!” batinku. Aku berada di sini antara 1987-1993, dari SMPN 1 sampai SMAN 1. Gang Selot menjadi saksi mata bagi berbagai peristiwa di kedua sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan perlahan, melihat di barisan depan ada Warung Joni. Warung segala ada, dari mulai alat tulis, alat jahit, sampai ke peniti. Aku ingat ketika SMP, bajuku robek tepat di bagian ketiak, sementara saat itu aku bertugas menjadi pengerek bendera. Mana mungkin aku mengerek bendera jika ketiak ku terlihat kemana-mana. Akhirnya aku menghampiri Warung Joni dan ternyata ada peniti, sehingga untuk sementara ketiak ku aman dari penglihatan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya ada Bapak Penjual Gorengan. Yang menjadi ciri khas dari gorengan ini adalah Tahu Slawi. Gorengan yang hanya terdiri dari setengah potong tahu kuning yang diisi gumpalan sagu. Makan Tahu Slawi ini akan lebih enak jika dicocol dengan saus sambal. Tahu Slawi ini sebenarnya relatif alot dan kenyal jika dikunyah. Butuh kunyahan hingga 32 kali jika ingin menelannya dengan sempurna. Jadi manfaat Tahu Slawi ini –selain rasanya enak- juga bisa digunakan untuk senam muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya lagi ada Bapak dan Ibu (atau tepatnya Kakek dan Nenek) penjual es campur. Ciri khasnya adalah Es Kelapa Jeruk (atau Es Jeruk Kelapa?), berupa Es Jeruk yang ditambahi kelapa muda atau Es Kelapa Muda yang dicampur jeruk? Entahlah. Sama saja, kan rasanya? Ada juga penjual Es Doger. Es krim ala Sunda, berisi kelapa parut, alpukat diiris, dengan es yang sudah bergula kemudian diguyur saus warna merah manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada penjual Doclang, sejenis makanan yang terdiri dari ketupat, tahu, kentang rebus, diguyur bumbu kacang dan ditaburi kerupuk. Diantara semua, Doclang ini adalah favoritku. Sayang sekali, pagi itu Doclang belum buka. Katanya agak siang. Namun sampai saat ini Bapak Penjual Doclang masih sama dengan Bapak Penjual Doclang 16 tahun yang lalu. Ada juga Bakso Si Black. Aku tak tahu kenapa dipanggil si Black. Apakah yang menjual berkulit hitam? Pagi itu istriku membeli bakso ini. Dan rasanya masih sama dengan rasa bakso 16 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergerak kemudian ada penjual mie ayam, somay, dan es campur yang dijual si Ibu. Semua yang aku sebut diatas, masih dihuni oleh para penjual yang sama. Mereka masih bertahan. Mereka menyaksikan para siswa datang dan pergi. Meski tak hafal nama, namun mereka mengenal wajah para siswa sejak belasan –bahkan puluhan- tahun lalu sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Gang Selot secara fisik tampak berbeda. Terlihat lebih permanen dengan bangunan sederhana beratap seng. Namun terlihat lebih gelap karena dibangun juga tembok tinggi untuk memisahkan antara SMPN 1 dengan Gang Selot. Selain itu ada beberapa tambahan penjual seperti menjual Soto Mie, Ice Blender, Bubur Ayam, dan Penjual Majalah &amp;amp; Koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu aku datangi para penjual makanan yang kukenal tadi. Kusapa mereka. Alhamdulillah mereka masih kenal aku. Meski tak hafal nama, namun mereka sepertinya cukup familiar dengan wajahku. Setiap ketemu mereka selalu berkata,&lt;br /&gt;“Eh, Neng, kumaha? Damang? Tos gaduh putra sabaraha?”&lt;br /&gt;Yang artinya kira-kira,&lt;br /&gt;“Eh, Dik, gimana? Sehat? Sudah punya anak berapa?”&lt;br /&gt;Sebutan “Neng” memang menjadi ciri khas Sunda Bogor yaitu penyebutan orang yang lebih tua kepada anak muda baik laki-laki maupun perempuan. Sebutan itu hanya ada di Bogor. Di daerah Sunda yang lain, “Neng” hanya untuk perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang Selot memang menjadi saksi bisu kelakuan para siswa siswi SMPN dan SMAN 1 Bogor. Saksi bisu itu dilengkapi saksi hidup para penjual makanan minuman yang sekarang masih ada. Gang Selot bisa tahu si A jadian dengan si B, atau si C lagi marahan dengan si D, atau si E yang sudah putus dengan si F. Gang Selot juga tahu siapa yang sedang ulang tahun, karena rata-rata acara traktir mentraktir kala ulang tahun dilakukan di Gang Selot. Selain itu acara guyur mengguyur saat ultah juga melibatkan Gang Selot, karena air untuk mengguyur biasanya diambil dari air bekas cucian piring dari Gang Selot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang Selot juga menjadi pelindung bagi siswa yang kabur dari kelas atau siswa yang kabur saat upacara bendera. Meski Pak Bahrum dan tim guru SMAN 1 atau Pak Bejo (Alm) dan tim guru SMPN 1 seringkali mengejar para siswa yang kabur itu, namun Gang Selot hingga terus jalan ke SD Polisi, menjadi jalur aman untuk kabur. Gang Selot pula menjadi tempat nongkrong para siswa hingga berlama-lama. Sejak pulang sekolah hingga sore menjelang. Atau sejak pagi hingga masuk sekolah di siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang Selot seperti menjadi ruang kelas kedua bagi para siswa. Sebuah ruang kelas yang justru sangat lengkap, karena selain tersedianya makanan dan minuman, Gang Selot menyediakan para “guru” yang bisa menjadi teman sangat akrab, para “guru” yang sampai saat ini aku lihat masih berjuang menyediakan makanan dan minuman bagi para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit aku berbicara dengan mereka. Ternyata didapat info bahwa, anak-anak zaman sekarang berbeda dengan zaman dulu. Dulu, sangat banyak siswa yang nongkrong di Gang Selot, sehingga mereka mengenal satu persatu para siswa. Namun saat ini, berlama-lama nongkrong jarang dilakukan. Mereka hanya makan dan minum, kemudian sudah. Tak ada dialog, tak ada kedekatan, tak ada kesaksian kisah cinta dan tak ada “chemistry” yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini aku bisa pahami, mungkin memang karena kesibukan belajar para siswa saat ini yang berbeda dengan masa lalu, atau mungkin para siswa itu lebih suka nongkrong di mal yang bertebaran luas di Bogor. Entahlah, benar atau tidak, aku hanya menduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang Selot riwayat mu kini. Entah sampai kapan akan bertahan. Pengelolaan tempatnya memang lebih professional. Ada manajemen dari pihak kelurahan yang mengatur. Ada upaya untuk melanjutkan usaha sector informal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Gang Selot tetap memberi penghidupan layak bagi para penjualnya dan tetap menjadi saksi bisu berbagai kisah di lingkungan para siswanya. Warung Joni, Tahu Slawi, Es Kelapa Jeruk, Es Doger, Doclang, Mie Ayam, Bakso si Black dan Somay, siapapun yang pernah menjadi siswa siswi SMPN 1 dan SMAN 1 Bogor, akan selalu mengenang dan membayangkan rasa makanan dan minuman itu di lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 28 Maret 09 – untuk para alumnus SMPN dan SMAN 1 Bogor&lt;br /&gt;Bisa juga dilihat di suzaridian.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-1229193035022918985?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/1229193035022918985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/gang-selot-dari-warung-joni-tahu-slawi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1229193035022918985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1229193035022918985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/04/gang-selot-dari-warung-joni-tahu-slawi.html' title='Gang Selot : dari Warung Joni, Tahu Slawi, Es Kelapa Jeruk, Es Doger, Doclang, Hingga Bakso Si Black'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-4273504597963015973</id><published>2009-03-31T21:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T17:51:07.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>"fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan…"</title><content type='html'>Suatu hari Jumat, istriku mengirim sebuah email, pengantarnya,&lt;br /&gt;“Pap, baca nih buku ini!” sambil mengattach sebuah e-book dalam bentuk PDF. Namun sayang sekali, setelah 4 kali dikirim, file itu tidak bisa dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, aku dan istriku beberapa waktu kemudian ke toko buku Gramedia untuk mencari buku itu. Ternyata ada dan tanpa pikir panjang aku beli. Istriku berkomentar pendek saja,&lt;br /&gt;“Langsung baca halaman 47!” ujar istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung aku baca halaman 47. Ternyata berisi tulisan sang penulis mengenai seorang suami yang rajin shalat, rajin puasa, rajin baca quran, ga pernah keluyuran, pulang kantor tepat waktu, jauh dari alcohol dan jauh dari “main perempuan”, namun ternyata sang istri suatu saat menemukan sms di hp sang suami yang ditujukan kepada seorang perempuan lain yang isinya, “Sayang, kamu lagi ngapain…?”&lt;br /&gt;“Duh, kenapa istriku menyuruh aku membaca halaman ini?” batinku&lt;br /&gt;Seolah menjawab keherananku, istriku segera menukas,&lt;br /&gt;“Cerita itu Pipap banget!” ujarnya dengan senyum yang penuh misteri.&lt;br /&gt;Notes : Pipap = panggilan istriku untukku, sama dengan Papa, Papi, Bapak atau Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit perdebatan kecil, tentunya aku menyangkal kalau aku seperti yang ditulis itu, akhirnya istriku tetap pada suatu kesimpulan bahwa,&lt;br /&gt;“Dimana-mana, laki-laki ga ada yang bisa dipercaya! Titik!” tegas, lugas, dan tanpa ragu istriku berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku membaca tulisan-tulisan lain sang penulis itu. Sangat bagus, sangat inspiratif dan menggugah. Penulisnya –seorang muslimah taat- benar-benar bisa membawa pembacanya ikut terlarut dalam kisah-kisah perempuan yang disakiti baik secara fisik maupun secara psikis. Namun malam itu, aku tidak selesai membacanya, dan aku putuskan untuk membaca keesokan harinya saat berada di dalam pesawat menuju ke Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, di dalam pesawat menuju Pekanbaru, aku bersiap meneruskan membaca. Halaman demi halaman ku baca, hingga sampailah pada satu tulisan, berisikan mengenai kehilangan seorang istri akan suaminya yang mendadak meninggal karena kecelakaan. Namun bukan tema tulisannya yang membuat aku bergetar. Terlepas dari simpati ku terhadap sang istri, aku melihat temanya memang banyak terjadi di keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang membuat aku tergetar adalah suatu kalimat yang diucapkan sang istri tatkala kehilangan suaminya, yaitu,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“fabi ayyi alaa I rabbikumaa tukadzdzibaan…” &lt;/em&gt;maka nikmat Allah manakah yang kamu ingkari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik aku membaca kalimat itu, tercekat langsung hatiku. Merinding, tercenung dan kosong pikiranku. Tak sadar pula, seolah ada kabut menyelimuti mata, ada genangan memenuhinya. Kantung mataku tak mampu menahan genangan itu, dan terbentuklah aliran air mata di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Aku menangis. Terus menerus, hingga akhirnya pesawat mendarat dan penumpang turun. Aku membiarkannya mengalir, tak coba kuhapus atau setidaknya kubendung aliran bertambah. Kubiarkan hatiku sesak, kubiarkan tercekat. Kumanjakan pipiku dengan aliran air mata itu, tak berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat Al Qur’an surat Ar Rahman itu benar-benar membuatku terhenyak.&lt;br /&gt;“fabi ayyi alaa I rabbikumaa tukadzdzibaan…”sering aku mendengar ayat itu, ketika kecil aku mengaji, ketika mendengar ceramah Maulid Nabi, ketika ceramah Jum’at, dan banyak lagi. Rasanya sering aku mendengar ayat itu. Namun kali ini…&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi dengan ku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sepertinya semua mudah aku dapat. Nikmat Allah benar-benar melimpah ruah. Harta, karier, keluarga, semua aku miliki. Dengan level usiaku saat ini, nikmat itu begitu melimpah ruah. Namun, kapan terakhir aku shalat fardhu di mesjid, kapan terakhir aku bersujud di sepertiga malam, kapan terakhir aku melantunkan ayat-ayat Alquran, kapan terakhir aku mengikuti tauziyah seorang kyai di mesjid, kapan terakhir aku mengajak keluarga untuk shalat berjamaah, kapan…? Sudah lama sekali tidak aku lakukan. Sudah lama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkedok dibalik pernyataan “bekerja juga adalah ibadah”, aku lalai menjalankannya. Ibadah vertikal itu hanya standar aku lakukan, cukup shalat –dan sering terlambat-, membayar zakat, infak, shadaqah! Sudah! Ke mesjid? Cukup setiap shalat Jumat! Benar-benar lalai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku heran, ketika tangis itu jatuh, pikiran ku kosong, sama sekali tidak ada penyebab tangis, sama sekali tidak ada pikiran bahwa aku menangis karena aku menyesal tidak menjalankan ibadah vertikal itu dengan baik. Hanya menangis saja, tepat sesaat setelah membaca &lt;em&gt;“fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan…”&lt;/em&gt; Kesadaran akan kelalaian justru baru datang ketika sudah ada di darat dan perjalanan mobil menuju kantor di Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya betul! Aku lalai! Aku menjalankan shalat, tapi lalai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Allah memperingatkanku melalui cara “tangis” itu. Tangis yang tiba-tiba jatuh tanpa tahu sebabnya, tangis yang tiba-tiba mengalir sesaat setelah kalimat itu dibaca. Apakah setelah ini aku akan rajin shalat fardhu di mesjid, rajin bersujud di sepertiga malam, rajin melantunkan ayat-ayat Alqur’an, rajin mengikuti tauziyah, rajin mengajak keluarga shalat berjamaah? Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus memulainya sebelum terlambat. Motivasiku hanya satu, yaitu&lt;br /&gt;“fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan…” maka nikmat Allah manakah yang kamu ingkari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 1 April 09 - &lt;em&gt;“fabi ayyi alaa I rabbikumaa tukadzdzibaan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-4273504597963015973?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/4273504597963015973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/fabi-ayyi-alaa-i-rabbikumaa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4273504597963015973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4273504597963015973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/fabi-ayyi-alaa-i-rabbikumaa.html' title='&quot;fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan…&quot;'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8913325712629379509</id><published>2009-03-29T23:29:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:15:03.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Jadi Anak Band di Tahun 90-an</title><content type='html'>Semua bermula dari iseng. Ketika kelas 1 SMA, mengikuti ospek di camping ground Gunung Bunder Kabupaten Bogor. Iseng-iseng main-main musik, ada Rona dan Pram main gitar, Indra ketuk-ketuk ember, sementara aku dan teman-teman lain teriak-teriak mengikuti nada gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas camping, berawal dari obrolan iseng, terbentuklah sebuah band yang beranggotakan Rona (gitar), Pram (bas), Indra (drum) dan belakangan Didit (gitar) dan Rully (keyboard) ikut bergabung. Aku? Karena aku sama sekali tidak bisa memainkan instrument musik maka didaulatlah aku menjadi vokalis. Suatu jabatan mentereng di sebuah band, namun sebenarnya karena tidak bisa memainkan instrumen musik. Latihan pertama, terus terang kacau balau. Gitar kemana, bas kemana, drum kemana, apalagi vocal, lebih kemana-mana lagi. Kacau. Tapi kami nekat, tetap main band.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari aku iseng berbincang-bincang dengan seorang tetangga rumahku. Ternyata dia adalah salah satu gitaris band lumayan ternama di underground Bogor. Spesialisasi mereka adalah lagu-lagu Rolling Stones. Di dunia underground, mereka selalu menjadi band tampilan pamungkas yang artinya, mereka lah yang ditunggu-tunggu penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang dengan sang gitaris, kami memanggilnya Mas Agus, menjadikan wawasan ku tentang nge-band menjadi terbuka. Banyak cerita Mas Agus mengenai dinamika nge-band. Mas Agus sendiri telah 8 tahunan malang melintang di underground Bogor, hanya kesempatan saja yang belum menghampirinya untuk maju ke jenjang rekaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, aku dan rekan-rekan, belajar nge-band ke Mas Agus, dan memanfaatkan studio semi permanen di rumah Mas Agus. Banyak sekali kami belajar. Rona dan Didit benar-benar menyerap banyak ilmu bermain gitar, Indra berlatih teknik bermain drum, Rully berlatih mengharmonisasi keyboard dengan instrumen lain dan Pram berjuang membetot bas dengan benar. Aku? Cukup menghafal banyak lagu tanpa banyak latihan vocal, cukup berteriak dan tidak fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berani manggung, ga?” tawar Mas Agus di suatu siang.&lt;br /&gt;“Manggung? Dimana?” aku bertanya&lt;br /&gt;“Taman Topi. Kita rutin manggung disana, setiap minggu pasti ada acara musik” tambah Mas Agus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, Taman Topi! Taman Topi sebeneranya adalah semacam taman bermain bagi anak-anak, menyediakan berbagai wahana bermain dan kios makanan. Namun di bagian belakang, terdapat panggung dengan lapangan terbuka yang diperuntukkan bagi para pemain band berunjuk gigi. Kami sendiri waktu itu tidak tahu bagaimana caranya kami bisa manggung di Taman Topi. Namun ternyata kesempatan itu datang. Ternyata Mas Agus dan band nya secara rutin manggung di Taman Topi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau!” serempak kami menerima tawaran itu. Bergegas kami berlatih, memilih lagu yang pas, dan deg-degan menanti saatnya manggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam kami manggung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu band sudah tampil. Semua bagus-bagus, bermain sangat rapi, nyaris tanpa cela. Penonton pun menyambut dengan antusias. Sepertinya setiap band sudah memiliki pendukungnya sendiri. Sehingga setiap band yang manggung, pasti dibarengi dengan goyangan antusias penonton. Malam itu rata-rata setiap band membawakan lagu rock bertempo cepat, keras, dan memancing penonton untuk histeris dan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikutnya, akan tampil YXZ Band!” berteriak MC memanggil kami untuk manggung. Bergegas kami naik panggung, semua menempati posisi alat musik masing-masing. Pemain gitar, keyboard dan bas, menyamakan nada instrument sementara drum memperbaiki posisi dudukan drum nya. Sementara aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku hampiri mikrofon.&lt;br /&gt;“Tes..tes..” tercekat aku mencoba mikrofon. Gugup aku melihat ratusan orang memandangiku di atas panggung. Mas Agus memberikan isyarat dari bawah panggung agar aku bicara.&lt;br /&gt;“Ngomong…ngomong….!” begitu kira-kira bahasa tubuh Mas Agus dari bawah panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus aku bicarakan? Sama sekali aku tidak ada ide.Aku lihat teman-teman yang lain masih saja berkutat nyetem alat musik mereka.&lt;br /&gt;“Duhh, ayo dong cepetan!” bisikku&lt;br /&gt;“Bentar, masih fals nih! Lu ngomong apa, kek” balas Rona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jalan lain, aku harus ngomong.&lt;br /&gt;“Mmm..Aaa…Assalamualaikum Wwaa..Warahmatullahi Ww..Wabarakatuh….!” entah kenapa kalimat pertama yang muncul di benakku adalah itu. Mamang ada jawaban “Waalaikum salam” namun sangat sedikit, sangat minoritas, sebagian besar malah cekikikan. Mungkin yang ada di benak mereka adalah&lt;br /&gt;“Emangnya ini majelis ta’lim”.&lt;br /&gt;Tapi aku berpikir apa salahnya salam itu aku ucapkan? Selanjutnya aku berbicara mengenai nama band kami, latar belakang nama itu, dan nama personil. Sumpah! Aku lihat tak ada satupun yang peduli dengan pembicaraan ku. Mungkin aku harusnya berteriak&lt;br /&gt;“Apa kabaaaaaarrrrr……!” dengan suara melengking tinggi.&lt;br /&gt;Mungkin saja, tapi aku tidak ada keberanian untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya nyetem berakhir, alat musik sudah sinkron, dan saatnya bernyanyi. Lagu pertama My Michelle dari Guns N Roses. Tidak ada sambutan, tidak ada yang goyang, tidak ada tepuk tangan. Semua biasa saja.&lt;br /&gt;“Duh…kok sepi?” batinku&lt;br /&gt;Lagu kedua, Sweet Child O’Mine juga dari Guns N Roses. Sama dengan lagu pertama, semua sepi. Hingga tibalah lagu ketiga. Lagu ketiga ini adalah Every Rose Has Its Thorne dari Poison. Lagu ini sejenis lagu rock melankolis. Tidak mungkin orang akan jingkrak-jingkrak mendengar lagu ini, kecuali orang gila tentunya. Aku sudah putus asa. Lagu terakhir benar-benar hanya sebuah syarat membawakan tiga lagu saja. Tidak ada semangat yang terpancar dari wajah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intro dimulai dari Didit, dilanjutkan dengan suara vokal ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We’ve both lied silent streaming in the dead of the night, although we’ve both lied close together, we’ve been miles apart on side…” mulai aku bernyanyi dengan gaya melankolis. Berbarengan dengan masuknya vokal ku, sontak muncul pula suara histeris, riuh dari arah penonton, serempak penonton mengangkat tangan, sebagian lagi menyalakan korek gas nya, sambil menggoyangkan tangan kiri ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat! Ternyata penonton malah antusias dengan lagu melankolis kami. Ternyata mereka bosan karena dari sore tadi disuguhi lagu keras yang membisingkan telinga. Mereka sepertinya butuh istirahat. Butuh sesuatu yang menyejukkan telinga. Kami menganggap pengalaman pertama manggung kami sukses besar. Setidaknya menurut kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kami memutuskan untuk melanjutkan nge-band. Beberapa kali kami manggung di berbagai event, selain di Taman Topi, kami manggung di berbagai kampus, dan sekolah. Puncaknya adalah ketika kami berhasil meraih Juara 2 dan Juara Favorit Festival Band Antar Sekolah Se-Bogor yang diselenggarakan oleh SMAN 1 Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang SMA kami terus bersatu –kecuali keluarnya Indra digantikan Yose dan agak jarangnya Rully ikut bergabung- terus ngeband sampai kelulusan kami. Disinilah dilema. Ingin terus ngeband atau kuliah. Mas Agus waktu itu bersedia memanajeri kami untuk terus berlanjut ngeband. Bahkan beberapa lagu berupa demotape sudah kami buat. Namun waktu itu kami tidak berani mengambil resiko. Tuntutan orang tua agar kami melanjutkan kuliah, membuyarkan mimpi kami untuk terus ngeband. Kami bubar, dan meneruskan langkah kami masing-masing meraih cita-cita pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rona, mengambil kuliah di STPDN, kini menjadi salah satu pejabat teras di Pemda Subang, Didit, mengambil kuliah arsitektur di Itenas Bandung, kini menjadi salah seorang arsitek handal di Bandung, Pram mengambil kuliah di Universitas Borobudur Jakarta, kini menjadi eksekutif muda di sebuah perusahaan di Jakarta, Rully aku agak lost contact, namun bertemu di facebook dan bekerja di perusahaan otomotif Daimler Chrysler. Indra dan Yose, aku tidak tahu mereka dimana, tidak ada kabar berita, sementara aku mengambil kuliah di Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, bercita-cita sebagai diplomat tapi gagal, akhirnya terdampar di bidang sales suatu produk minuman isotonik bermerk Pocari Sweat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kami sudah menjalani hidup ini dengan cita-cita kami sendiri. Meski saat ini jauh, namun kami tetap saling berkomunikasi. Entah apakah YXZ Band akan kembali bersatu, kami tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 21 Maret 09 – Dipersembahkan untuk anak-anak band tahun 90-an di Bogor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8913325712629379509?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8913325712629379509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/jadi-anak-band-di-tahun-90.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8913325712629379509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8913325712629379509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/jadi-anak-band-di-tahun-90.html' title='Jadi Anak Band di Tahun 90-an'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-3223195296416725646</id><published>2009-03-26T17:22:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:18:19.254-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Kami Bangga Meski Hanya Juara Dua</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, seorang sahabat bernama Ario, memposting foto-foto ketika kami mengikuti kegiatan Lomba Ketangkasan Baris Berbaris tahun 1990 di Balaikota Bogor. Melihat foto itu, ingatan ku menerawang ke 19 tahun yang lalu, dimana aku begitu aktif dalam kegiatan itu. Bahkan sempat menjadi ketua organisasi baris berbaris tersebut yang bernama PANDAWA 16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDAWA 16 adalah sebuah organisasi yang berkegiatan dalam bidang kewiraan dan baris berbaris. Tujuannya selain melatih disiplin tentunya juga meraih prestasi. Biasanya ukuran prestasi ditentukan oleh keberhasilan di Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (selanjutnya disingkat LKBB) dan seberapa banyak personilnya yang maju ke level kotamadya, provinsi, bahkan nasional sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal aku masuk PANDAWA 16, langsung disibukkan dengan latihan untuk LKBB tersebut. Beberapa rekan tergabung dalam pasukan LKBB ini yaitu Ario selaku komandan, aku, Dony, Dika, Radit, Zaki, Yosi, Era, Wieta, Wita, Fitri, Susi, Ratri, Nora (Ochang), Indri, Eri dan dibantu oleh beberapa kakak kelas yaitu Ican dan Susi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan intensif dilakukan terus menerus. Para instruktur seperti Kardinal, Agung, Ike, Tuti, juga terkadang hadir para senior seperti Kang Andy Julius. Latihan benar-benar berat dan menyita waktu. Selama sekitar 2 bulan latihan dilakukan. Kesulitan muncul ketika jadwal sekolah anggota pasukan berbeda, ada sebagian masuk pagi sebagian lagi masuk siang. Akhirnya disiasati dengan mengambil 2 jam terakhir kelas pagi dan 2 jam awal kelas siang. Namun seminggu terakhir, latihan semakin intensif menjadi dari pagi sampai sore dengan sama sekali meninggalkan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari H pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh SMA se-Bogor berkumpul di Balaikota. Semua sekolah telah siap dengan ketegapan, kedisiplinan dan formasi masing-masing. SMAN 3 dan SMAN 4 menjadi tim yang sangat diunggulkan dalam LKBB tahun ini. Sementara SMAN 1 sama sekali tidak diunggulkan karena memang organisasinya saja baru terbentuk 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingat, kami mendapat giliran nomor berapa. Yang jelas kami baru tampil setelah makan siang. Sebenarnya tidak masalah bagi kami, namun yang menjadi sedikit runyam adalah kondisi hujan yang mengguyur kota Bogor membuat lapangan beralas keramik tempat pertandingan menjadi licin. Hujan baru mengguyur di siang hari, sehingga beruntunglah para peserta yang tampil pagi karena lapangan masih belum licin terguyur hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo, siap…siap, habis ini giliran kita!” berteriak Kardinal menginstruksikan agar kami bersiap. Kami akan tampil setelah peserta yang sekarang sedang tampil ini. Bersiap kami membentuk barisan, semua pakaian dirapikan, dari ujung kaki ke ujung rambut, semua seragam, termasuk sepatu dan kaus kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peserta berikutnya, SMA Negeri 1 Bogor!” MC mengumumkan akan tampilnya kami. Langsung disambut sorak sorai penonton yang adalah para pendukung kami. Kami terharu karena puluhan siswa SMAN 1 telah hadir mendukung kami.&lt;br /&gt;“Siaaaaappppp…Graakkkk!” berteriak Ario mengomandani pasukan&lt;br /&gt;“Langkah tegap, majuuuu..jalan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami maju dengan tegap ke tengah lapangan. Tampang kami terlihat tegang, tanpa senyum, dan pandangan tajam. Bukan karena kami gugup, namun memang diharuskan seperti itu. Rasanya tidak mungkin baris berbaris dilakukan dengan cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formasi demi formasi berjalan lancar, ditimpali dengan tepuk riuh penonton ketika gerakan indah kami pertunjukkan. Hingga satu waktu tibalah pada formasi terakhir. Formasi ini mengharuskan pasukan bubar terlebih dahulu, menyebar ke seluruh penjuru lapangan. Bubar ke seluruh penjuru ini dilakukan sambil berlari, untuk kemudian dipanggil kembali untuk membentuk formasi terakhir. Bisa dibayangkan betapa was-was nya kami karena harus berlari dengan menggunakan sepatu relative licin di atas lapangan keramik yang baru saja diguyur hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, ketika kami bubar sambil berlari, di ujung sebelah kanan, terdengar bunyi orang terjatuh. Tidak terlalu keras. Namun cukup mengagetkan karena dibarengi dengan jerit penonton yang melihat jatuhnya salah satu anggota pasukan karena terpeleset. Ternyata salah satu anggota pasukan yang jatuh itu adalah Wita. Sejenak aku melirikkan mata ke sudut kanan, aku melihat Wita sedang berusaha berdiri dan kembali ke formasi semula.&lt;br /&gt;“Hmm, syukurlah tidak terjadi apa-apa!” batinku.&lt;br /&gt;Namun tak urung teriakan penonton membuat kami grogi, membuat sedikit goyah mental kami.&lt;br /&gt;“Sudah…sudah... kembali fokus…ga ada apa-apa..ga ada apa-apa…!” dari pinggir area Kang Andy Julius membisikkan kata-kata kepada beberapa orang diantara kami. Selanjutnya kami tampil seperti biasa, memang jadi agak canggung karena khawatir kami kembali terjatuh seperti halnya Wita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit kami tampil, serasa sangat singkat. Akhirnya penampilan kami berakhir. Memang bukan penampilan kami terbaik, namun menjadi tonggak sejarah keikutsertaan kami di LKBB. Kami tidak yakin dengan prestasi yang akan kami ukir. Untuk sekedar tampil bagus saja kami sudah cukup bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saat pengumuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemenang ketiga….SMAN 2 Bogor!” MC berteriak ditimpali jerit histeris penonton.&lt;br /&gt;Wah, SMAN 2 juara 3, berarti semakin tipis peluang kami. Karena waktu itu kami hanya berharap berada di juara 3. Apalagi dengan beberapa formasi yang kami sendiri tidak yakin akan keindahannya dan ditambah dengan terjatuhnya Wita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemenang kedua…SMAN 1 Bogor!” gemuruh penonton menyambut kemenangan kami sebagai juara 2. Aku melongo,&lt;br /&gt;“Juara 2? Kok bisa?” batinku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman juara 1 tidak lagi kami hiraukan, karena kami yakin pastinya SMAN 4 yang saat itu sedang merajai dunia baris berbaris se-Bogor. Kami berpelukan, bersalaman, saling mengucap selamat. Kami bangga meski hanya juara 2. Prestasi itu merupakan prestasi pertama PANDAWA16. Kami sebagai angkatan 2 sejak terbentuknya PANDAWA 16, berbangga hati, karena meski baru 2 tahun berdiri, namun kami mampu memberikan sesuatu untuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu menjadi catatan disini adalah Ario, sang komandan, sempat berkaul, apabila SMAN 1 mampu meraih 3 besar, maka dia akan mengepel lantai halaman balaikota. Nah, kaul itu sampai sekarang belum terlaksana. Kita tunggu saja, kapan Ario akan mengepel lantai halaman balaikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku dengar PANDAWA 16 banyak juga memberikan prestasi membanggakan, pernah juga juara 1 LKBB, mengirimkan siswa sebagai Paskibraka ke tingkat Jawa Barat, bahkan pernah mengirimkan siswa ke tingkat nasional selaku pembawa bendera pusaka saat pengibaran bendera di istana negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku yakin PANDAWA 16 masih ada. Masih dilanjutkan oleh adik-adik kelas yang peduli akan kelangsungan organisasi ini. Terakhir aku mengunjungi acara yang diadakan PANDAWA 16 sekitar 14 tahun yang lalu saat aku masih kuliah. Itupun dibarengi misi pribadi untuk pendekatan ke salah satu adik kelas yang saat ini menjadi istriku. Kebetulan istriku ini pernah mewakili SMAN 1 Bogor sebagai Paskibraka ke tingkat Jawa Barat. Ternyata jodohku pun berasal dari PANDAWA 16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor – 21 Maret 09 – Kupersembahkan untuk para sahabat seperjuangan di PANDAWA 16 seluruh angkatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-3223195296416725646?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/3223195296416725646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/kami-bangga-meski-hanya-juara-dua.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3223195296416725646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3223195296416725646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/kami-bangga-meski-hanya-juara-dua.html' title='Kami Bangga Meski Hanya Juara Dua'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-6548864417548606043</id><published>2009-03-22T22:52:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T17:21:28.129-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Di Mesjid Itu Aku Bersujud</title><content type='html'>Pantai Uleulhue. Pantai yang indah, dengan biru laut yang memanjakan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun tidak menyangka bahwa laut seindah ini mampu menunjukkan amuk luar biasa, menyapu semua yang dilewatinya, dan merenggut ratusan ribu nyawa rakyat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka tsunami memang masih kental bersemayam di hati rakyat Aceh. Pantai Uleulheu ini membuktikan hal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puing-puing rumah di pinggir pantai yang berjarak sekitar 200meter dari pantai, masih terlihat berserakan. Rumah-rumah yang hanya kerangka beton masih jelas terlihat.dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya bukan dibiarkan begitu saja, tapi memang sudah tidak ada yang mengakui sebagai pemilik, mengingat seluruh keluarga pemilik rumah itu mungkin saja sudah hapus tersapu gelombang tsunami. Yang konon katanya berkecapatan setara pesawat Boeing 737 saat terbang di ketinggian 30ribu kaki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan rakyat di tepi pantai Uleulheu memang tidak pernah sama lagi. Tidak pernah bisa lagi mengembalikan kehidupan sebelum tsunami ke masa kini. Semua pasti berubah. Hanya tinggal kita tunggu saja bagaimana sikap rakyat Aceh -dan kita- menghadapi perubahan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah satu mesjid bernama Baiturrahim –bukan Baiturrahman yang menjadi mesjid besar kebanggaan rakyat Aceh- terletak tepat di bibir pantai Uleulhue. Jarak dari garis pantai hanya sekitar 10 sampai 20 meter. Mesjid inilah yang menjadi bangunan pertama yang menghadap pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mesjid ini menjadi istimewa tatkala menjadi satu-satunya bangunan yang selamat dari sapuan tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat posisi mesjid ini yang tepat di pinggir pantai, dan melihat seluruh rumah di belakang dan sisi kiri kanan mesjid porak poranda rata dengan tanah, rasanya mustahil mendapati mesjid ini masih utuh kokoh berdiri tidak kurang suatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mitos atau setidaknya omongan dari mulut ke mulut yang beredar mengenai peristiwa tsunami yang menghantam mesjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membayangkan air laut terbelah dan menyelamatkan Nabi Musa dan umatnya dari kejaran Firaun, maka itulah yang terjadi dengan mesjid itu. Gelombang tsunami tiba-tiba terbelah ketika melewati mesjid itu. Air seolah-olah hanya merembes di halaman mesjid tanpa sedikit pun menghancurkan bangunan mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos, kabar burung, atau apapun itu, beredar luas di kalangan rakyat Aceh. Namun apapun yang sebenarnya terjadi, adalah suatu kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak hancur diterjang tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku shalat di mesjid itu. Aku bayangkan berada di mesjid itu ketika tsunami, aku bayangkan betapa takutnya aku, betapa kecil aku di hadapan amukan alam, panik dan tak mampu berkata bahkan untuk sebait zikir. Aku perhatikan setiap sudut mesjid, semua utuh, meski memang ada bekas renovasi, sebuah renovasi kecil yang sama sekali tidak mengganggu keaslian bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut luar mesjid, ada sumur berukuran diameter sekitar 2 meter, yang mengalirkan air tawar dengan kedalaman kurang lebih 2-3 meter (aku perlu konfirmasi lagi mengenai kebenaran data ini). Namun yang mengagumkan adalah bagaimana mungkin ada air tawar di lahan pasir yang hanya berjarak 5 meter dari garis pantai? Dari mana air itu berasal? Lagi-lagi aku harus menggali lebih dalam mengenai kelanjutan informasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas berbagai keajaiban sudah terjadi di mesjid ini. Keajaiban yang hanya bisa terjawab oleh kesadaran akan adanya Dzat yang lebih tinggi, Maha Sempurna, Maha&lt;br /&gt;Penjaga Alam, Maha Penggenggam Segala Sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari itu, tunduk segenap hatiku, luruh segenap kalbuku, dan mengalir telaga air mata ku. Tak sanggup aku menghadapiMu kelak, tak mampu aku mempertanggunjawabkan perbuatanku saat nanti, gentar aku membayangkan jika saat itu tiba untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampuni aku, ya Allah, aku hanyalah selemah-lemahnya iman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-6548864417548606043?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/6548864417548606043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/di-mesjid-itu-aku-bersujud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6548864417548606043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6548864417548606043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/di-mesjid-itu-aku-bersujud.html' title='Di Mesjid Itu Aku Bersujud'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-4832503548652972762</id><published>2009-03-17T17:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:26:51.603-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Persahabatan Erat Bagai Kembar Siam Dempet Kepala</title><content type='html'>Pertemuan aku dan Harry (atas izin yang bersangkutan, nama asli dicantumkan) berawal ketika masa perkenalan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen PPM di kawasan Menteng. Kami duduk berdekatan, tanpa disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry” ujarnya&lt;br /&gt;“Dindin” ucapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabat tangan erat, dan itulah awal persahabatan. Sebenarnya, hampir seluruh kelas merupakan teman dekat. Namun jika diperhatikan, memang terbentuk kelompok-kelompok kecil yang memang sengaja dibentuk sebagai bagian dari tugas kuliah. Aku dan Harry memang selalu berada dalam satu kelompok bersama-sama dengan Fajar, Andi, Didi, Mas Don, dan terkadang Moses ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang ada keistimewaan jika melihat aku dan Harry. Orang bilang kami berdua mirip baik secara fisik maupun secara kelakuan. Ada perbedaan mendasar, yaitu ada tahi lalat cukup menyolok di pipi kanan Harry, mirip tahi lalat Rano Karno, hanya saja Rano Karno di dagu. Kabarnya tahi lalat itu bisa berpindah-pindah sesuai keinginan Harry. Sementara itu soal kegantengan memang harus diakui bahwa lebih ganteng…Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang sama-sama berasal dari Sunda, cara bicara kami yang “nyunda” pun dikatakan mirip. Secara kebetulan memang kemana-mana kami selalu bersama. Satu kelompok belajar, ke kantin, ke perpustakaan, duduk bersebelahan, shalat bersama, yang tidak hanya ke toilet bersama dan pulang ke rumah yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali sampai larut malam bahkan dinihari, ketika kami mengerjakan tugas kelompok, kami pun selalu bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, pasca seharian kuliah, pasca pengetatan dasi yang mencekik dan pasca kerapian pura-pura di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa kami –sebagian anggota kelas- nongkrong di ujung lapangan parkir kampus. Di situ berjajar penjual ketoprak, mie ayam, somay, gorengan dan berbagai makanan sektor informal lainnya. Di tempat itu menjadi ajang ngobrol, curhat, tertawa bebas, dan tentunya isi perut setelah seharian kuliah. Dasi dilonggarkan, bahkan dicopot, baju dilepas keluar, tanpa beban. Soal tugas besok? Pikirkan nanti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih memesan ketoprak, makanan khas Betawi, campuran toge, bihun, tahu, lontong yang diguyur bumbu kacang. Tanpa bermaksud untuk sama, ternyata Harry pun memesan ketoprak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, ketoprak nya satu!” pesanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua, Bang!” tambah Harry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ga pake bawang goreng!” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu kami di bangku panjang khas penjual ketoprak, di bangku itu kami hanya berdua, teman-teman yang lain bertebaran di sekitar. Ngobrol ngalor ngidul menghilangkan kepenatan kuliah seharian penuh dan menikmati udara pengap sore hari d Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ketopraknya” ujar si Abang Penjual Ketoprak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya!” serempak kami menerima ketoprak itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok, gua pake bawang goreng!”protes Harry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, maaf, maaf, saya lupa, saya ganti, ya!” ramah si Abang Penjual Ketoprak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah..udah , bawangnya buat gua!” ujar ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok deh, ga apa-apa, Bang, Makasih, ya” ujar Harry ke si Abang Penjual Ketoprak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulailah transfer bawang goreng dari piring ketoprak Harry ke piring ku. Cara transfer nya adalah meletakkan dua piring kami di bangku panjang saling bersebelahan, aku ambil satu per satu bawang goreng di piring ketoprak Harry, dan kepala kami saling menunduk memperhatikan proses transfer bawang goreng tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampuuunnnn, kalian ini benar-benar seperti anak kembar! Makan aja sepiring berdua!” salah satu teman ternyata memperhatikan tingkah laku kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dari jauh keliatan bener-bener anak kembar. Kembar siam dempet kepala!” teman kami yang lain ikut berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tanpa sadar tingkah laku kami memang diperhatikan. Kami memang menjadi tertawa sendiri, proses transfer bawang goreng itu memang menjadi unik, menjadi tonggak bersejarah kami dimana kami disebut kembar siam dempet kepala. Karena dari jauh kami terlihat seperti sedang makan sepiring berdua, yang saling menunduk dan menempel kepalanya, benar-benar mirip sepasang anak kembar siam dempet kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kami berdua memang jarang bertemu, namun komunikasi via telepon, email atau facebook tetap intens dilakukan. Biasanya kami memang bertemu, setidaknya setahun sekali. Pertemuan kami, tidak hanya sebagai seorang sahabat, tapi juga pertemuan dua keluarga besar dari kami masing-masing. Alhamdulillah, meski kembar siam dempet kepala itu sudah dipisahkan, namun kekeluargaan tetap berlanjut hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 7 Maret 09 – Untuk Seorang Sahabat, Harry Septarama&lt;br /&gt;suzaridian.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-4832503548652972762?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/4832503548652972762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/persahabatan-erat-bagai-kembar-siam.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4832503548652972762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/4832503548652972762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/persahabatan-erat-bagai-kembar-siam.html' title='Persahabatan Erat Bagai Kembar Siam Dempet Kepala'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-2608314934537399515</id><published>2009-03-10T17:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:34:20.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Hukuman Bagi Atlet Pingpong Dadakan di Kelas</title><content type='html'>Kelas 2 Phy3 SMAN1 Bogor, sedang marak-maraknya permainan pingpong. Permainan pingpong itu dilakukan di dalam kelas, tidak menggunakan meja, net, atau bet pingpong biasa, tapi permainan pingpong dadakan yang dirancang khusus di kelas. Meja pingpong dirancang dari dua buah meja kelas yang dibariskan merata, net nya diambil dari penggaris kayu di kelas yang diletakkan melintang di tengah meja, sementara bet nya adalah bet alami yang melekat di tubuh yaitu telapak tangan. Satu-satunya unsur pingpong asli hanyalah bola pingpong yang telah disiapkan oleh beberapa teman maniak olahraga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ican (atas izin orang yang bersangkutan, nama jelas dituliskan disini) yang menjadi maniak olahraga ini. Di setiap kesempatan, Ican selalu memainkannya. Saat istirahat, saat pelajaran kosong, bahkan jika perlu saat pelajaran berlangsung bola pingpong pun dimainkannya. Jika tidak ada teman yang diajak bermain pingpong, Ican pun menyusun meja menghadap dan merapat tembok, dan tetap bermain pingpong melawan tembok, istilah yang digunakannya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua lagi maen shadow pingpong!” ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saat pelajaran Kimia di laboratorium Mantarena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya pelajaran di laboratorium baik Kimia maupun Biologi, kami menggunakan ruang laboratorium di Mantarena, tempat SMAN 2 belajar. Tempat itu cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 2 km. Jika pun naik angkot, sangat tidak layak, karena akan ditempuh dengan jalan yang macet dan lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa berjalan berbondong-bondong menuju lab, bersama, tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di lab, ruangan masih sangat kosong, tidak ada siapapun di sana, hanya ada kami sekitar 6 orang yang lebih dulu tiba. Segera kami ambil tempat, tentunya paling belakang, dan langsung mengenakan jas lab. Jas lab tentunya anda tahu, sejenis jas panjang terusan sampai ke betis, berwarna putih, dengan dua kantung di kiri dan kanan jas. Meski jas itu berkancing, tapi tidak pernah kami mengancingkan jas tersebut, kami biarkan saja jas itu terbuka melambai ditiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama kami menunggu, bosan. Pak Y, guru kimia, pun belum tiba. Bukan karena terlambat, tapi memang karena kami datang terlalu pagi. Demi membunuh kebosanan, Ican mulai beraksi. Bermodal bola pingpong dikantungnya, dia segera menarik satu meja lab paling depan ke tengah kelas. Meja lab itu memang berbeda dengan meja biasa di kelas, meja lab itu memanjang 2 kali lipat meja kelas biasa, sehingga setiap meja bisa dihuni oleh 4 siswa sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ican menarik meja itu ke tengah. Tanpa aba-aba dan perintah, beberapa rekan ikut membantu menggeser. Semua paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s pingpong time!” tersenyum semua yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting meja pingpong telah siap, penggaris panjang telah berubah fungsi menjadi net. Ican mencari lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mau lawan gua!” tantang Ican.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, sini lawan gua!” salah seorang teman menerima tantangan Ican.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermainlah mereka berdua. Seru. Diselingi teriakan jika salah satu berhasil mematikan langkah lawannya. Kami menyaksikan pertandingan itu dari tempat kami duduk. Beberapa siswa mulai berdatangan, mengambil tempat duduk masing-masing. Teman-teman putri yang biasa duduk paling depan terpaksa menunda duduknya, karena meja terdepan telah disulap menjadi arena pingpong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar, waktu belajar semakin dekat, pertandingan pingpong semakin seru, kelas semakin ramai. Hingga tanpa disadari Ican –yang memang membelakangi pintu kelas- Pak Y masuk. Sontak semua siswa kembali duduk, demikian juga lawan pingpong Ican.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kok udahan! Ayo main lagi!” alih-alih berhenti bermain dan duduk, Ican malah berteriak menantang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ini!” menggelegar suara Pak Y, marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak Ican kaget dan sepintas terlihat wajahnya memucat. Kelas terdiam. Perlahan Ican mundur dan menggeser meja lab dan mengembalikannya ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini laboratorium, bukan arena pingpong!” bentak Pak Y.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Y adalah guru yang ramah dan baik hati, sangat jarang kami melihatnya marah. Malah mungkin baru kali ini kami melihat beliau marah. Ican tertunduk lesu, bulir keringat menetes di dahinya. Sekilas Ican melirik ke arah kami, minta bantuan mungkin. Kami terdiam, tak bisa membantu, dalam hati kami berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sori Can, lu tanggung sendiri aja, ya, jangan bawa-bawa kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kami adalah, ketika teman senang kami ikut senang, namun ketika teman sedih, kami pun ikut…senang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maju sini!” bentak Pak Y&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Ican maju ke tengah kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu scout jump 20 kali, menghadap tembok! Cepat!” perintah Pak Y.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scout jump adalah semacam bentuk olahraga dengan cara dua tangan dikaitkan di belakang kepala, kemudian meloncat jongkok berdiri. Scout jump sebenarnya dilakukan dalam konteks olahraga, namun ini pastinya konteks dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulailah hukuman scout jump itu. Meloncat-loncat dengan tangan dikaitkan di belakang kepala dan menghadap tembok. Kami cekikikan di belakang. Bukan karena hukuman bagi Ican, tapi karena Ican mengenakan jas lab ketika scout jump. Meloncat naik turun, melambai-lambaikan jas labnya. Dari belakang, jika melihat Ican scout jump, mirip sekali jika kita melihat Batman sedang dihukum scout jump. Melambai-lambai sayapnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balikpapan 5 Maret 09 – dipersembahkan untuk seorang sahabat, Ican.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-2608314934537399515?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/2608314934537399515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/hukuman-bagi-atlet-pingpong-dadakan-di.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2608314934537399515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2608314934537399515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/hukuman-bagi-atlet-pingpong-dadakan-di.html' title='Hukuman Bagi Atlet Pingpong Dadakan di Kelas'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-6628500095289565209</id><published>2009-03-04T15:45:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:33:18.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Lagu Sendu Dikala Bahagia</title><content type='html'>bebeSemasa SMP, aku cukup aktif di organisasi. Salah satu organisasi yang aku ikuti adalah Vocal Group atau Paduan Suara atau apa pun namanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan rutin kami lakukan, baik ada event maupun tidak. Target utama adalah masuk TVRI –saat itu merupakan TV Station satu-satunya di Indonesia- di acara khusus vocal group sekolah. Target itu memang tidak pernah tercapai, meski sudah mendaftar berulangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai lagu kami coba, lagu Chrisye, Vina Panduwinata, atau lagu-lagu wajib perjuangan. Lagu yang tidak pernah kami coba hanya lagu-lagu Betharia Sonata, Ratih Purwasih, atau Endang S Taurina. Kata guru vocal kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penghayatan lagu jenis itu sangat sulit untuk dilakukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua lagu yang kami latih, ada satu lagu yang sangat kami kuasai. Jika kami membawakan lagu itu, maka anggukan puas terpancar dari guru vocal kami. Lagu itu adalah salah satu lagu Chrisye berjudul “Kisah Cintaku” yang saat ini dinyanyikan kembali dengan gaya pop oleh Peterpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu melankolis itu justru menjadi penyemangat kami berlatih. Ketika mulai latihan, lagu itulah yang pertama kami nyanyikan, untuk sekedar menyemangati latihan kami, dan meyakinkan kami bahwa kami bisa bernyanyi bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan, latihan, dan latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tanda-tanda akan ada panggilan dari TVRI, atau suatu festival, atau sekedar event yang bisa kami jadikan ajang untuk menjajal panggung. Meski seragam vocal group sudah kami siapkan, namun belum sekali pun seragam itu digunakan, kecuali hanya untuk dicoba, untuk mengukur sempit atau tidaknya baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, salah satu guru kita, akan menikahkan putrinya minggu depan. Gimana kalau kita mengisi acara pernikahan itu?” Bersemangat guru vocal kami mengajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita minta waktunya untuk satu lagu saja! Gimana?” Guru vocal kami makin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, kami serempak menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada latihan terus, ga ada pengalaman manggung, maka dengan semangat kami menerima tawaran itu. Tidak ada bayaran –sama sekali tidak terpikir bayaran oleh kami- yang penting bisa manggung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagu kesempatan yang diberikan kepada kami. Tidak mungkin rasanya kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Tidak mungkin kami membawakan lagu Maju Tak Gentar di pesta pernikahan, kan? Nanti dikira menyindir sang pengantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas lagu apa? Tidak lain tidak bukan, lagu yang paling kami kuasai, lagu yang paling PD jika kami bawakan, yaitu : Kisah Cintaku dari Chrisye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala hari H acara pernikahan. Kami siap pagi-pagi sekali. Undangan jam 11 siang, pengantin datang jam 11.10, namun kami sudah hadir di gedung jam 8 pagi. Lengkap dengan seragam dan sisiran rambut rapi bagi para anggota vocal group putra dan make up sederhana bagi para anggota vocal group putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik demi detik, menunggu. Jadwal kami tampil sebenarnya jam 12.00 siang, namun 4 jam menunggu dari jam 8 serasa 4 hari bagi kami. Tak sabar! Tapi apalah artinya 4 jam jika dibandingkan dengan penantian manggung kami selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 12.10, MC mengumumkan penampilan kami. Ya! Ini saatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbaris rapi menuju panggung di sisi kiri gedung bersebelahan dengan panggung sang mempelai. Hormat serempak kami lakukan, disusul dengan tepuk tangan dari para tamu undangan. Kedua mempelai pun ikut memperhatikan penampilan kami, karena pada saat yang bersamaan belum lagi ada tamu yang menyelamati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyboard dibunyikan, intro dimulai, masuklah kalimat-kalimat lagu dari kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di malam yang sesunyi ini&lt;br /&gt;Aku sendiri, tiada yang menemani&lt;br /&gt;Akhirnya kini kusadari&lt;br /&gt;Dia telah pergi&lt;br /&gt;Tinggalkan diriku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait ini, perasaanku mulai tak enak. Mengapa para tamu undangan banyak yang cekikikan, tersenyum simpul, dan berbicara satu sama lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait reffrein,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa terjadi, kepada diriku&lt;br /&gt;Aku tak percaya, kau telah tiada&lt;br /&gt;Haruskah ku pergi, tinggalkan dunia&lt;br /&gt;Agar aku dapat berjumpa dengan mu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah reffrein ini selesai, dan masuk interlude lagu dari keyboard, aku baru menyadari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, ini kan lagu kematian! Ini kan lagu tentang seseorang yang ditinggal mati kekasihnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat! Salah lagu, nih! Mendingan Maju Tak Gentar, mungkin ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi ku buyar. Bait berikutnya ku lakukan hampir tanpa suara, meski teman-teman yang lain tetap bersemangat. Aku memperhatikan sekitar, masih banyak yang cekikikan, saling bisik, dan mengulum senyum. Sang mempelai pun begitu, mereka terlihat tersenyum melihat kami, sambil melayani tamu undangan yang memberi selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru vocal kami acuh saja, tetap memberi aba-aba dengan semangat, seolah tidak menyadari sikap para tamu undangan. Atau mungkin memang tidak tahu, karena dia membelakangi tamu undangan saat memimpin kami bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai manggung, kami turun kembali ke belakang. Semua lega, semua gembira karena akhirnya berhasil memberikan penampilan terbaik. Aku juga lega, bukan karena berhasil memberikan penampilan terbaik, tapi karena berakhir juga lagu itu kami nyanyikan Aku ingin cepat-cepat mengakhiri lagu ini, karena buatku, lagu ini benar-benar tidak cocok untuk sebuah acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar sebuah lagu sendu dikala bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan sang mempelai mengira kita mendoakan mereka untuk berpisah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 6 Januari 09.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-6628500095289565209?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/6628500095289565209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/lagu-sendu-dikala-bahagia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6628500095289565209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6628500095289565209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/lagu-sendu-dikala-bahagia.html' title='Lagu Sendu Dikala Bahagia'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-5908149024382147663</id><published>2009-03-03T14:29:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:37:53.473-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Serius Amat Bercandanya (Bagian 2 dari 2 tulisan)</title><content type='html'>, Kejahilan berupa “penghilangan” barang memang mewabah di setiap kelas. Semua kelas mengalami peristiwa ini. Bahkan “penghilangan” barang terjadi antar kelas, barang di kelas yang satu bisa disembunyikan di kelas yang lain. Bahkan “penghilangan” bisa lebih kreatif karena menyangkut barang-barang lintas kelas yang ditempatkan di tempat parkir seperti motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini merupakan cerita C, pelaku dan saksi mata langsung kejadian ini, disampaikan secara lisan, dan aku mencoba menuliskannya. Begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah E, teman kelas sebelah, kelas Phy 4. Jam 12 siang, E tiba di sekolah mengendarai motor barunya. Ya motor baru jenis bebek –lupa aku tipenya- masih kinclong dan berplat nomor masih gress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woi baru nih!” hampir serempak segelintir anak-anak Phy3 yang sedang nongkrong di koridor kelas menyambut kedatangan E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, punya bokap gua!” senyum simpul penuh kebanggaan terpancar dari wajah E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa semua orang, namun tak disangka oleh siapa pun bahwa akan ada ide gila yang menyebabkan peristiwa terheboh di sore harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 15.00, kelas Phy3 tak ada guru pengajar, sehingga spontan –meski ketua kelas memutuskan dengan takut-takut- kelas dibubarkan. Kondisi hujan lebat di luar, membuat semua orang mati gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percuma nih, hujan, ga bisa ngapa-ngapain!” begitu kira-kira di pikiran kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kondisi itu menjadi satu ide brilian yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kita umpetin motor si E yuk!” C yang pencetus ide brilian sekaligus jahat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua saling pandang. Ide “penghilangan” motor bukan ide sembarangan, agak sulit direalisasikan sekaligus menantang. Namun semua sepakat untuk merealisasikannya. Dimulailah aksi itu, motor E digeser perlahan-lahan. Namun benar-benar tak mudah. Tidak mudah menggeser motor yang diparkir dalam keadaan terkunci, salut untuk para pencuri motor yang dengan mudah menghilangkan motor orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita gotong aja ini motor!” C memberi ide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yuk!” semua sepakat akan ide itu, sehingga terlihatlah 5 pemuda putih abu-abu menggotong motor E secara perlahan dan memasukkannya ke kelas Phy3 yang sudah kosong. Kelas ditutup dengan sempurna, sehingga selain ke 5 orang ini, tak ada yang tahu motor itu dibawa kemana. Suasana di sekolah pun sepi, karena kelas-kelas belum bubar, hanya 5 gelintir pemuda itu saja. Anak-anak Phy3 yang lain sudah bubar entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teeeetttttt….!” Bunyi bel sekolah membahana tepat jam 5 sore. Bunyi yang sangat tidak nyaman untuk didengar sekaligus membahagiakan. Kelima pemuda tadi masih setia menunggu di koridor kelas, tidak lain hanya untuk menyaksikan reaksi E ketika menyadari hilangnya motor baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E keluar kelas Phy4, tanpa ada rasa curiga, tetap tertawa dan dengan gagah menuju tempat parker motor, dan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho motor gua mana!” kaget terpancar dari wajah E&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget para siswa yang sedang lewat, panik, heboh, kasak-kusuk. Kelima pemuda ini masih nongkrong dan melihat dari jauh, pura-pura bersikap biasa. Beberapa saat kehebohan berlangsung, kelima pemuda ini menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, E!” C mulai bersandiwara dengan wajah lempengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba cari ke depan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi dikunci ga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pertanyaan “ga penting” dilontarkan kelima pemuda ini. Tak lama muncul Pa Bahrum, yang menerima laporan dari salah satu siswa mengenai hilangnya motor E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Berdegup jantung C melihat kedatangan Pa Bahrum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok jadi ada Pa Bahrum?” begitu kira-kira kekhawatiran hati C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat, nih!” keempat pemuda lain pun ikut tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak murid dikerahkan Pa Bahrum mencari motor E, dicari ke depan Musholla, ke koridor pinggir, ke Gang Selot, ke parkiran mobil. Tak satupun berhasil menemukan. Jelas tidak akan ketemu, karena tidak ada satupun menyangka motor itu ada di dalam kelas! E sudah tidak karuan, mukanya merah padam, dan dilanjutkan dengan tangis yang pecah dan meledak. Jelas E khawatir, karena motor baru bapak nya “dihilangkan” olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kekhawatiran kelima pemuda ini, memang ada 1 orang yang mencoba menetralisir dengan memberikan petunjuk keberadaan motor. Mungkin keberadaan Pa Bahrum membuat orang ini cukup gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua rasa ada yang jail, E, coba lu cari di kelas, siapa tahu diumpetin di sana.” sok bijak pemuda ini bertutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E pun tersadar. Dia benar-benar baru “ngeh” jika diantara seluruh kelas, ada satu ruang kelas yang tertutup rapat yaitu Phy3. Berlari E menghampiri kelas Phy3, dibuka pintunya dan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, ini motor gua! Siapa yang taruh sini!”teriak E memecah kekhawatiran orang. Semua lega, semua cekikikan. Tawa muncul membahana, bukan hanya karena motor itu ditemukan, tapi tawa karena kelucuan-kelucuan dalam proses “penghilangan” itu. Banyak yang kagum karena kenekatan itu, banyak yang marah karena bikin susah, banyak dan banyak juga yang maklum karena merasa itu hal biasa, toh sering juga “penghilangan” terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang taruh motor ini disini!” galak Pa Bahrum bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan takut, C menjawab ragu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, Pa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ikut saya ke kantor, siapa lagi!” Pa Bahrum tahu persis tidak mungkin motor sebesar itu digeser sendirian masuk kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, Pa” serempak keempat pemuda lain tunjuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digiringlah kelima pemuda itu ke kantor guru, diceramahi, dinasihati, dan tentunya dibentak. Kelima pemuda itu memang minta maaf pada E, namun sampai beberapa hari berikutnya E memang mengalami trauma. Agak waspada jika membawa motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kelima pemuda ini, tetap jahil, tetap konyol, dan tetap mencari mangsa “penghilangan” lain yang tentunya bobotnya lebih ringan. Bisa dikatakan proses “penghilangan” motor sampai sekarang menjadi semacam masterpiece mereka, layaknya David Copperfield yang berhasil menghilangkan Tugu Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 1 Maret 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-5908149024382147663?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/5908149024382147663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/serius-amat-bercandanya-bagian-2-dari-2.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5908149024382147663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5908149024382147663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/serius-amat-bercandanya-bagian-2-dari-2.html' title='Serius Amat Bercandanya (Bagian 2 dari 2 tulisan)'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-5015282093590811487</id><published>2009-03-01T05:45:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:41:09.818-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Serius Amat Bercandanya (bagian 1 dari 2 tulisan)</title><content type='html'>Bercanda masa SMA sudah biasa. Disinilah gudang konyol, gudang canda, dan gudang iseng tempat tawa meledak, gelak tercipta, tangis terharu, juga marah membuncah. Semua sudah biasa dilakukan. Berbagai ide jahil berkecamuk di otak para pemuda berseragam putih abu-abu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kebiasaan jahil di kelas saat itu adalah beberapa orang sepakat menyembunyikan barang milik teman yang lain. Bisa tas, sepatu, buku, apapun. Tempat disembunyikan pun tidak hanya di lingkungan kelas, bisa saja dsembunyikan ke kelas sebelah, ke kantin, ke semak-semak di lorong pinggir kelas, kemana saja, selama itu tersembunyi dan tak mudah ditemukan. Cara menyembunyikan sangat sederhana, biasanya ada satu orang pemicu, dia yang memiliki ide menyembunyikan, akan mengambil secara diam-diam barang salah satu teman, kemudian menggesernya perlahan ke teman sebelah, teman sebelah pun –meski tidak dikoordinasi dulu- sudah paham bahwa ini saatnya “hide and seek game”. Terus berestafet sampai ke orang terakhir yang berkewajiban menyembunyikan ke suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban “penghilangan” tidak orang tertentu saja, bisa siapa saja, bisa jadi orang yang jadi penginisiator “penghilangan”, suatu saat akan jadi korban. Makanya ketika di kelas ketika kita konsentrasi memperhatikan didikan dari guru, kita pun harus tetap berkonsentrasi dengan barang-barang yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, barang yang dihilangkan akan tergantung dari kebiasaan orang itu, misal si S, yang sering melepas sepatu di kelas dan duduk bersila di kursi kelas, maka dia akan paling sering kehilangan sepatu. Atau si C yang selalu bawa motor ke sekolah dan menaruh kunci motornya sembarangan di meja, maka hampir pasti kunci motor itu lah korban berikutnya, Atau T, yang selalu mengenakan jaket trendi baik panas maupun dingin, dan menggantungkannya di sandaran kursi, pasti menjadi salah satu korban “penghilangan” juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari yang panas, di saat kelas 2 dan masuk siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Az –seorang pemuda mungil berkulit legam nan jenius- selalu punya kebiasaan menggantungkan tas nya di sandaran kursi. Tas itu relatif unik, karena hanya berupa tas berbahan kain terpal, dibawa dengan cara disangkutkan ke bahu menyilang dari bahu kiri ke pinggang kanan. Kalau dari jauh, mirip ibu-ibu yang akan pergi kondangan dan mengenakan selendang. Tas itu hanya berisi secukupnya, tidak ada buku berlebihan, tidak ada tempat pensil lengkap, tidak ada alat tulis lain, cukup buku yang digunakan hanya untuk hari itu dan satu buah pulpen. Cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian dengan pembawaan yang sederhana, Az menjadi siswa yang luar biasa cerdas, salah satu jenius Fisika, dan menjadi tempat bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Az menjadi korban “penghilangan” tas tersebut. Entah siapa yang punya ide jahil. Aku sudah menjadi pihak ke sekian yang menerima tas si Az. Spontan aku ikut terlibat, ikut celingak celinguk untuk mencari orang yang diestafetkan. Kuestafetkan ke rekan sebelah, terus berjalan, sampai akhirnya orang yang terakhir pun bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau dikemanain lagi, nih!” berbisik orang terakhir pemegang tas itu bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami di barisan belakang kasak kusuk tak karuan. Mau disembunyikan dimana, lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya seorang teman –C- punya ide brillian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini..sini..” bisik C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditaruhnya tas itu di kolong meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok kolong meja!” semua pandangan protes kepada C,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan yang gampang ketemu!” spontan semua melotot kea rah C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ide itu benar-benar brilian, C mengambil tas teman yang lain, milik An. Tas An berukuran besar, berupa tas ransel gendong di punggung layaknya sang pendaki gunung. Sangat cocok dengan profil An yang berbadan tinggi besar, gemuk, dan berpembawaan tenang cenderung pendiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sepengetahuan An, C mengambil tasnya dan memasukkan tas Az ke tas ransel An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jenius! Brilian! Kreatif!” cekikikan kami di belakang. Benar-benar ide fantastis yang belum ada sebelumnya. Menyembunyikan tas Az ke dalam tas An, tanpa sedikitpun diketahui oleh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berlalu seperti biasa seolah tanpa ada peristiwa apapun. Yang jelas Az panik mendapati tasnya sudah raib. An pun ikut tertawa melihat kepanikan Az, namun tertawa biasa tanpa sadar bahwa tas Az ada didalam tasnya. Bahkan di tengah kepasrahan, Az mulai malas mencari tasnya. Uniknya mereka bertiga, Az, An, dan C, pulang bersama satu angkot karena jurusan pulang mereka yang berdekatan. Jadi orang yang kehilangan tas, yang menghilangkan tas dan yang tak sadar menyimpan tas Az, berjalan bersama beriringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya memang terjadi kericuhan, An kaget mendapati tasnya ada tas Az, Az marah ke An karena mengira tas itu disembunyikan An, sementara C, cukup mesem-mesem tanpa rasa bersalah. Bisa dibayangkan, Az yang kecil berseteru mulut dengan An yang tinggi, gemuk dan besar. Layaknya Asterix sedang memarahi Obelix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar unik, benar-benar bercanda yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 28 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-5015282093590811487?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/5015282093590811487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/serius-amat-bercandanya-bagian-1-dari-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5015282093590811487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/5015282093590811487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/03/serius-amat-bercandanya-bagian-1-dari-2.html' title='Serius Amat Bercandanya (bagian 1 dari 2 tulisan)'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-3593168346078203420</id><published>2009-02-28T00:48:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T02:32:33.418-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>In Memoriam Sony Gunawan (1974 – 1999)</title><content type='html'>(Dipersembahkan untuk rekan di SMPN 1 &amp;amp; SMAN 1 Bogor&lt;br /&gt;Dan Jurusan Hubungan Internasional Univ, Padjadjaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, saya Sony…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kalimat ketika aku pertama berkenalan dengan Sony Gunawan alias Sogun di kelas 1D SMPN 1 Bogor. Kami duduk sebangku, merasa senasib karena sama-sama berasal dari SD di luar Bogor. Sebagian besar teman di kelas sudah mengenal satu sama lain karena berasal dari SD yang sama di sekitar Bogor. Waktu itu aku dari Semarang sementara Sogun dari Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sogun merupakan kependekan dari Sony Gunawan. Kenapa? Karena di kelas 1D setidaknya ada 2 lagi nama Sony, yaitu Sony (saja) dan M. Sonny. Sehingga untuk membedakan mereka bertiga, kami memanggil Sony untuk Sony (saja), Sogun untuk Sony Gunawan, dan untuk M. Sonny kami akrab memanggilnya : Pa***! (untuk alasan privacy saya tidak tuliskan di sini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemanan kami berdua berlanjut sampai ke SMA Negeri 1 Bogor, dan semakin dekat ketika kami sama-sama mengambil Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran Bandung. Tidak hanya itu, kami pun tinggal satu atap di tempat kos yang sama dengan hanya perbedaan tembok saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus! Dan kami pun berpisah. Kami lulus hampir bersamaan. Kata-kata perpisahan Sogun ketika aku meninggalkan Bandung adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Din, kita jadi diplomat sama-sama, ya, atau setidaknya kita cari tempat kerja yang sama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ok, gua tunggu!” Optimis aku menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun niat itu tidak berjalan mulus. Krisis Ekonomi 1998! Dan semua buyar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Luar Negeri menutup penerimaan diplomat baru, bahkan memanggil pulang sebagian diplomatnya demi efisiensi. Parahnya lagi, pekerjaan pun sulit aku dapat sehingga aku memutuskan untuk kembali bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sogun? Terdengar kabar bahwa Sogun sakit dan harus dioperasi untuk menghilangkan kanker yang menggerogoti tubuh bagian leher menuju rahangnya. Kabarnya lagi kanker itu sudah mencapai stadium 4. Sama sekali aku tidak pernah membayangkan kanker stadium 4 menyerang Sogun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca operasi, aku menjenguk Sogun. Aku mendapati Sogun dalam kondisi yang sangat kurus. Bekas luka operasi di sekitar rahang kanan menimbulkan luka besar menganga, sehingga ada semacam daging tumbuh yang membesar dan memanjang di sekitar rahang. Jika dilihat sekilas, seolah Sogun sedang menjepit bola sebesar 2 kepalan tangan antara rahang dan bahu kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengejutkan lagi ketika aku mendapati cara makan Sogun. Tahu, tempe, dan beberapa jenis sayuran dalam kondisi direbus, disatukan dalam blender dan dibuat seperti juice. Diminum dengan cara disedot menggunakan sedotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila! Aku tahu persis bagaimana ”dahsyat” nya Sogun makan. Tapi saat itu satu gelas juice tahu, tempe dan sayur pun tidak habis setengahnya disedot. Bagaimana mungkin menyedot juice, kalau lidah untuk bicara pun sepertinya sudah tidak mampu lagi digerakkan? Bicara pun lebih dominan menggunakan isyarat yang banyak aku tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai cara dilakukan, cara medis, cara alternatif, apapun! Dan akhirnya memang harus berujung di rumah sakit. Tak berapa lama, Sogun kembali masuk rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dekat antara tempat aku kuliah dengan RSPAD Gatot Subroto tempat Sogun dirawat, memudahkan ku untuk setiap hari berkunjung ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gun, gua balik dulu, ya. Besok ga kesini, mungkin baru lusa, gua mau ke Bogor, udah lama ga pulang. Lu baek-baek, lusa gua ke sini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggukan Sogun melepas kepulangan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 jam kemudian, saat baru satu langkah aku keluar dari angkot menuju rumah di Bogor, HP ku berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Do!” jawabku atas telepon Edo sahabatku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Din, lu sekarang juga mesti ke sini, mesti ke rumah sakit!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Engga, Do, gua lagi di Bogor. Lusa baru ke rumah sakit!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Engga, harus sekarang! Sogun koma!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah! Koma!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari, sebentar pamit dengan Ibu, dan kabur kembali ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah sakit aku melihat Sogun hanya terpejam, selang oksigen masih terpasang di mulut. Nafasnya naik turun seiring dengan detak jantung yang terpampang di monitor. Menurut keluarga, Sogun sudah hidup dari mesin, jika mesin ini dicabut, berarti selesai sudah. Bacaan Yasin sudah berkumandang di ruangan. Beberapa teman terlihat komat kamit membaca doa masing-masing. Aku hanya diam, berat rasanya aku baca Yasin, karena –menurutku- baca Yasin berarti aku mengakui bahwa Sogun telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kepasrahan, keluarga memutuskan semua alat dicabut. Dalam hitungan detik, tepat jam 24.00, detak jantung di layar monitor terlihat perlahan berhenti, nafas mulai menghilang, seiring dengan suara syahadat yang dibisikkan di telinga dan takbir yang semakin lantang diteriakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa Innailaihi Rajiuun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sogun tiada! Tepat jam 24.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup aku menerima ini. Aku hanya duduk terjajar di tembok selasar rumah sakit. Menelungkupkan kepala di antara kedua lutut. Aku sama sekali tidak bisa berkata apa. Lidah ku kelu, bahkan hati ku pun tak mampu, selain berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gun, Gun, lu bilang kita mau sama-sama jadi diplomat! Lu bilang kita mau nyari tempat kerja yang sama! Kenapa jadinya lu sekarang pergi duluan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja yang sanggup aku katakan saat itu, tak ada yang lain, bahkan untuk sekedar sebait doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sogun, saat ini 10 tahun terbaring di alam kubur sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Insyaallah surga bagi mu, Gun! Insyaallah 2 tahun penderitaan mu melawan kanker, meluruhkan dosa-dosa mu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku pasti menyusul, entah kapan? Dan aku pun ingin surga seperti ingin mu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 2 Januari 2009 - In Memoriam Sony Gunawan (1974 – 1999)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-3593168346078203420?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/3593168346078203420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/in-memoriam-sony-gunawan-1974-1999.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3593168346078203420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/3593168346078203420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/in-memoriam-sony-gunawan-1974-1999.html' title='In Memoriam Sony Gunawan (1974 – 1999)'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-6814539167822671383</id><published>2009-02-26T09:23:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T02:26:22.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Anak-Anak Memang Selalu Jujur</title><content type='html'>Beberapa catatan mengenai kejujuran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 1&lt;br /&gt;Suatu saat di Botani Square Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pap, aku mau popcorn!” Idan –anak laki-laki ku- merengek minta dibelikan popcorn di lantai Lower Ground di Botani Square. Biasanya memang Idan dibelikan popcorn bermerk Act II yang langsung diolah di microwave dan dalam 3 menit sudah bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti saja belinya, kalau kita mau pulang!” janjiku pada Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan manggut, lanjutlah kami berdua berkeliling mal. Sampai masa bosan berkeliling, kami masuk ke Pasar Swalayan Giant untuk membeli beberapa titipan istriku. Di Giant kami melihat satu standing booth yang menjual popcorn yang dikemas kotak kertas dan plastik. Kemasannya menarik dan Idan pun tergiur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pap, beli popcorn itu saja!” Idan mulai meminta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan yang itu, popcorn yang itu ga enak! Enakan yang di bawah! Yang ini gulanya beracun!” kilahku pada Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popcorn itu memang kurang enak dibanding yang dijual di bawah, yang biasa kami beli. Idan pun setuju, dan kami meninggalkan standing booth tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeliling kami ke pelosok Giant, membeli berbagai keperluan, dan tibalah kami kembali ke standing booth penjual popcorn tadi. Spontan, tanpa diduga, Idan berteriak dengan lantang tepat di depan SPG penjual popcorn,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pap, jangan popcorn ini ya! Popcorn ini ga enak! Enakan yang dibawah! Yang ini gulanya beracun” lantang Idan berteriak, membahana ke seantero lorong standing booth penjual popcorn itu, terdengar sampai ke telinga siapapun di situ termasuk si penjual popcorn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak si penjual popcorn terlihat cemberut, parahnya lagi beberapa ibu yang berencana beli popcorn mengembalikan popcorn itu dan pergi menjauh. Ada yang tetap membawa popcornnya namun menyimpannya sembarangan di rak yang lain. Teriakan Idan benar-benar menjatuhkan mental si penjual, dan membuat aku salah tingkah. Segera aku menjauh, menggiring Idan ke tempat yang lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak memang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 2&lt;br /&gt;Suatu saat di TK Akbar kelas TK B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa setiap Sabtu, jadwalku mengantar jemput Idan. Biasanya bersama istri, namun saat itu kami berbagi tugas, aku menjemput Idan, istriku menjemput Kekey –anak keduaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bengong menunggu di depan pintu masuk kelas, Ibu Kepala Sekolah menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabar, Pa?” sapa Ibu Kepala Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Bu.” jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben sendirian?” Ibu Kepala Sekolah berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, bagi tugas sama ibunya.” jawab ku basa-basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama Idan muncul,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paaappppp!” teriaknya heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah ini Idan!” ujar Ibu Kepala Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idan mana kacamata Oakley nya, katanya baru dibeliin kacamata Oakley sama Pipap?” ujar Ibu Kepala Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Kacamata Oakley? Tahu darimana Ibu Kepala Sekolah mengenai kacamata Oakley?&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya aku memang membeli kacamata Oakley di dekat stadion Sempaja Samarinda. Pada saat itu aku sedang bertugas di PON Kaltim, cuaca panas, sehingga sangat penting jika aku menggunakan kacamata hitam. Kacamata Oakley itu palsu, aku membelinya pun hanya seharga 15ribu rupiah. Bandingkan dengan Oakley asli yang bisa 1 jutaan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang berkata kepada Idan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idan ini kacamata Oakley buat Idan, harganya 15ribu!” ujar ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kata-kata itu benar-benar melekat di otaknya dan disampaikan ke seluruh antero sekolah, sampai Ibu Kepala Sekolah pun tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Idan kemarin cerita, katanya Pipapnya baru beli kacamata Oakley yang harganya 15ribuan!” begitu Ibu Kepala Sekolah berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh! Kalau kacamata Oakley nya sih ga masalah, tapi kenapa diungkapkan juga harga 15ribuannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak memang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 3&lt;br /&gt;Sejak kecil, sejak usia 1 tahun, Idan telah didoktrin dan dicekoki minuman tertentu tempat di mana aku bekerja. Wajar rasanya jika aku sebagai orang tua, mendoktrin anaknya agar hanya mengkonsumsi produk tempat aku bekerja. Bukannya Idan tidak mau dengan minuman lain, tapi aku selalu –dengan jahatnya- mengatakan bahwa minuman lain itu bahaya, ga boleh diminum. Suatu black campaign dari seorang bapak terhadap anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktrin itu memang cukup berhasil, dimana Idan hanya mau mengkonsumsi minuman tempat aku bekerja saja, dengan dalih yang lain bahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di ADA Swalayan Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan aku ajak jalan-jalan. Tidak ada yang dibeli, hanya window shopping di lorong ADA Swalayan Bogor. Mengambil hanya seperlunya, karena memang tidak ada yang diniatkan untuk dibeli. Idan mengambil beberapa makanan ringan, namun diam-diam aku mengembalikannya ke rak semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah kami ke lorong minuman kemasan, diantaranya terpajang minuman tempat aku bekerja. Idan mengambil beberapa botol dan disimpan di keranjang. Kali ini tidak aku kembalikan ke rak, karena aku rela jika Idan mengkonsumsi minuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pap, minuman-minuman yang ini BERBAHAYA, ya!” sontak Idan berteriak sambil menunjuk sederetan minuman kemasan mulai dari yang berbahan teh maupun karbonasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan keras, yang aku yakin seluruh orang di lorong minuman mendengar teriakan itu. Beberapa SPG yang sedang merapikan produk-produk minuman yang dituduh Idan berbahaya tadi, mendelik, cemberut ke arahku, wajahnya menunjukkan protes keras. Beberapa pembeli yang sedang melihat-lihat mendadak ikut menatapku dan mengambil salah satu minuman yang telah masuk keranjangnya dan memeriksa kandungan yang ada dalam kemasan minuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya para pengunjung yang mendengar teriakan Idan, mulai termakan kata-kata Idan, dan mulai tidak percaya terhadap minuman yang mereka beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh! Idan! Tanpa banyak bicara aku bawa Idan keluar, membayar dengan cepat dan kabur secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm…lagi-lagi, anak-anak memang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palangkaraya, 24 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-6814539167822671383?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/6814539167822671383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/anak-anak-memang-selalu-jujur.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6814539167822671383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6814539167822671383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/anak-anak-memang-selalu-jujur.html' title='Anak-Anak Memang Selalu Jujur'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8381248420863582930</id><published>2009-02-25T08:20:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T02:21:17.006-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Cinta : Ketika Cinta Bercerita'/><title type='text'>“Lho, Kok Lu Ada Disini?”</title><content type='html'>Namanya F, laki-laki muda, cukup mudah bergaul dengan sesama. Selisih setahun dengan ku di SMA. Aku tidak mengenal baik F, hanya sekedar tahu ada orang bernama F, anak SMA angkatan lulus 94.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus 1993, aku kerap bolak balik ke sekolah. Ada undangan memang, dari adik-adik kelasku dalam kelompok Paskibraka. Selain itu kedatanganku juga dalam rangka misi khusus yaitu : cari jodoh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah N, gadis manis kelahiran Majalengka, merantau ke Bogor untuk melanjutkan sekolah. Gadis ini benar-benar menarik perhatian ku. Sejak pertama bertemu, aku merasa klop, merasa nge-blend, merasa ”masuk” dengan seluruh obrolannya. Aku tipe laki-laki yang tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Namun terhadap N, aku langsung punya feeling lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan lancar, dibantu pihak ketiga –D, teman karib N- seluruh informasi tergali dengan baik. Nomor telepon, alamat rumah, dan info terpenting : belum punya pacar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal info itu, aku melangkah tegap, percaya diri, dan penuh keyakinan untuk mendekati N. Aku yakin, gadis semanis ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja oleh para laki-laki muda yang mencoba mendekati. Langkah strategik ku waktu itu adalah : segera dekati dan miliki dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantap aku melangkah ke rumah N –di daerah Utara Bogor- untuk pertama kali mengunjungi gadis ini. Tidak ada bunga, tidak ada coklat, tidak ada kado kecil yang aku bawa. Hanya sebersit keberanian untuk menemuinya di rumahnya, dengan konsekuensi bertemu Bapaknya atau Kakaknya atau siapa pun yang mungkin overacting mencoba melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuketuk pintu rumah, lama aku tunggu, tak ada satupun orang keluar membukakan pintu, 1 menit, 2 menit, 5 menit, aku terpaku di depan pintu. Menunduk! Cemas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku menengadahkan kepala, aku melihat tombol bel menempel di pinggir sisi kanan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sial! Ternyata ada bel!” meracau aku dalam hati memaki kebodohan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tekan bel dan terdengar bunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ting Tong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul suara, ”Assalamualaikum!” hasil rekaman digital dari bunyi bel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama terdengar kunci pintu diputar. Ini dia keluar orangnya. Bersiap aku sejenak, sedikit membetulkan baju dan menyisir rambut dengan tangan, kulakukan dengan cepat dan sekilas, kuyakin yang muncul adalah N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar seorang laki-laki muda yang selama ini aku kenal sebagai adik kelas ku, F!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan aku menukas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lho, kok lu disini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nada cemburu dalam kalimat itu. Ada nada prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan-jangan ini cowoknya N!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan ku mendadak tidak karuan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sial! Katanya ga punya pacar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atau mungkin F lagi pendekatan juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, kok, F bercelana pendek? Mana mungkin bertamu dengan celana pendek”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatap curiga dan kesal keluar dari aura ku. Sekilas pikiran ku campur aduk, ternyata ada yang mendahuluiku, ternyata ada yang menyusul di tikungan, atau ternyata ada yang mencuri start duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa tahu mereka hanya berteman, siapa tahu F adalah teman dari kakak N, atau pacar dari kakak N!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro kontra muncul berkelebatan di otak ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua terjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya iya, gua kan tinggal disini, ini rumah gua!” F menjawab pendek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tunggu...tunggu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rumah Lu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lu mau ketemu N? N itu sepupu gua, tinggal disini juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh gitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpancar kelegaan di wajahku, hilang ketegangan di urat leher ku, terhempas beban mendekam di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodoh memang tidak kemana. Dan sampai saat ini N tetap setia selama hampir 7 tahun mendampingiku, menjadi istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8381248420863582930?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8381248420863582930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/lho-kok-lu-ada-disini.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8381248420863582930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8381248420863582930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/lho-kok-lu-ada-disini.html' title='“Lho, Kok Lu Ada Disini?”'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8445421432416780509</id><published>2009-02-24T06:15:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T02:09:59.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>“Hiduplah! Meski Engkau Ingin Mati!”</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, di saat yang hampir bersamaan, datang dua email dari dua rekan berbeda. Keduanya mengeluhkan hal yang sama, tapi dengan latar belakang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email teman pertama, pagi sekitar jam 10an :”Duh! Gua asli bosen! Bosen dengan kerjaan sekarang! Kayaknya kerjaannya cuma segitu aja. Kemampuan gua ga berkembang! Frustrasi gua”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email teman kedua, malam sekitar jam 10an juga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Din, gua jobless nih! Udah lama nganggur! Gua butuh uang buat anak-anak gua! Kalau gini terus, bisa frustrasi gua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teman itu mengeluhkan hal yang sama.  Keduanya frustrasi. Keduanya berada pada ambang batas kebosanan. Meskipun keduanya berada pada latar belakang yang berbeda. Yang satu frustrasi karena pekerjaannya membosankan, yang lain frustrasi karena tidak punya pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus aku jawab atas keluhan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung teringat salah satu episode talkshow di sebuah TV swasta ternama.  Aku sempat menyaksikan acara itu, tidak sampai selesai, namun aku beruntung karena mendapat sebuah pernyataan berharga dari sang bintang tamu, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan aku balas email mereka dengan kalimat itu. Tidak banyak penjelasan aku berikan, aku hanya meminta untuk dibaca dan dipahami dengan interpretasi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan ku menerawang pada diriku sendiri. Mungkin kah aku mengalami hal seperti yang dialami mereka? Apa yang aku lakukan jika menjadi mereka? Akankah aku bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terawang itu mendadak sontak buyar manakala aku menyadari bahwa akupun berhak dan bisa mengambil hikmah dari kalimat itu. Mengulang ku coba memahami lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang! Lihat aku!” begitu sisi hati ku berbicara. Bekerja seolah tak berbatas waktu. Seperti mesin yang hanya overhaul 6 bulan sekali. Bekerja 3 shift tanpa henti. Ya itulah aku jika aku boleh menganalogikan.  Bekerja Senin – Jumat, diluar kota, jauh dari keluarga, keliling area, menggunakan transportasi udara, dan penuh resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu malam, sepulang aku dari sebuah kota, jam 23.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat istri dan anak-anak sudah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat anak pertama ku. Sudah besar dia sekarang. Lebih besar dari usianya. Aku teringat ketika dia bayi, aku berjanji mengajarinya naik sepesa roda dua. Aku ingin dia bisa mengendarai sepeda roda dua atas didikan ku. Namun apa yang terjadi, dia sekarang sudah bisa mengendarai sepeda roda dua tanpa aku mengetahuinya. Dia belajar sendiri. Tanpa bantuan siapa pun, hanya baby sitter nya yang mengawasinya dari jauh. Sesal aku dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat anak kedua ku. Cantik sekali. Mirip ibunya. Aku yakin kelak dia dewasa, banyak pria yang datang ke rumah untuk mendekatinya. Dan aku berjanji akan menjaganya agar dia tidak sakit hati seperti halnya sakit hatinya perempuan karena ulahku. Ketika anak kedua ku lahir, aku pun berjanji, kelak aku ingin mengajarinya membaca doa, setidaknya membaca doa untuk ibu dan bapak. Sebuah doa sederhana yang bermakna dalam untuk keselamatan aku dan istriku kelak di akhirat nanti. Namun apa yang terjadi, anak keduaku sudah dengan fasih membaca doa itu. Tanpa aku yang berada di sampingnya. Lagi-lagi sesal aku dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat istriku. Di dalam pejamnya kurasakan lelah. Setiap hari selama seminggu –kecuali Sabtu Minggu- istriku seakan single parent, yang membesarkan anak sendirian, memberikan nafkah dengan bekerja, dan mendidik segala sesuatu yang diperlukan anak. Pernyataan cinta via sms rasanya belum cukup untuk mengobati kelelahan itu. Aku berjanji dalam hati tidak akan pernah aku menyakiti hatinya lagi, tidak akan pernah ada khianat yang akan aku lakukan, dan tidak akan pernah hatiku sanggup untuk berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ketiga kilau mutiara ku itu , membuatku luluh, membuatku ingin berhenti berjalan, ingin rasanya mematikan mesin ini, shut down, dan kemudian menggantinya dengan romantisme dan sense of art untuk mereka. Mesin ini perlu overhaul atau mungkin sudah tidak ingin lagi beroperasi. Sudah terlalu banyak kehilanganku akan saat-saat bersama mereka. Saat-saat yang tak mungkin kembali dan hanya aku dapatkan dari sekedar cerita bukan pengalaman pribadi. Aku tidak tahu bagaimana sensasi mengajari anakku mengendarai sepeda roda dua, aku tidak tahu bagaimana nikmatnya mendengar anakku lancar membaca doa, dan aku juga tidak tahu bagaimana indahnya lelah ketika sibuk bermain bersama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku harus berhenti? Renungan ku kembali ke kalimat tadi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa saja berhenti dan mati, namun apakah itu jalan terbaik? Rasanya aku tidak perlu mati, mesin ini tak perlu shut down, harus tetap beroperasi. Karena dengan berjalannya mesin ini, maka akan memberikan kehidupan bagi sekitar. Aku tetap harus hidup, tetap melangkah, tetap berkiprah, dan tetap maju. Aku melakukan itu bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk orang sekitar. Untuk istriku, untuk anak-anakku dan untuk siapa pun yang bisa mengambil makna dari kiprahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8445421432416780509?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8445421432416780509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/hiduplah-meski-engkau-ingin-mati.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8445421432416780509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8445421432416780509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/hiduplah-meski-engkau-ingin-mati.html' title='“Hiduplah! Meski Engkau Ingin Mati!”'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8313648232300845639</id><published>2009-02-23T07:27:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T02:03:20.657-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Toleransi Longgar Sebuah Hati</title><content type='html'>Manado, kota seribu gereja. Kiri kanan dengan jarak yang hampir berdekatan, aku melihat gereja, mulai dari yang permanent dan mewah hingga gereja yang hanya bertembok kayu dan sederhana. Tidak hanya Manado, namun sepertinya sebagian besar Sulawesi Utara, karena ketika berjalan ke arah Kabupaten Minahasa baik Selatan, Barat, Timur, dan Utara, juga ke arah Tomohon dan Tondano, ribuan gereja bertebaran di wilayah itu. Tidak heran karena umat Kristiani baik Katolik, Kristen, Protestan, dan Advent mendominasi jumlah penduduk di Provinsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang aku lihat, poster caleg yang bertebaran di berbagai pelosok Sulawesi Utara, menampilkan nama-nama yang unik. Wewengkang, Karamoy, Rotinsulu, Manoppo, dan banyak lagi nama-nama unik khas Sulawesi Utara. Kabarnya nama-nama itu akan berbeda-beda tergantung dari nama khas daerah, seperti nama khas Tomohon, Tondano atau Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu ternyata ketika aku baca di sebuah harian nasional yang membahas mengenai Sulawesi Utara, provinsi itu terbagi menjadi tiga kultur besar yaitu kultur Minahasa, kultur Bolaang Mongondow, dan kultur Sangihe &amp;amp; Talaud. Ketiga kultur tersebut membentuk karakter Sulawesi Utara yang penuh toleransi, mengakui keberagaman, meski didominasi suatu agama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja bahasan mengenai kedaerahan Sulawesi Utara. Bukan itu yang aku mau bahas. Tidak mengenai agama, tidak mengenai keragaman kultur, dan tidak mengenai foto-foto caleg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Jumat di Tomohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi kami –aku, si Bos, pemilik distributor, dan supervisor ku- meluncur menuju Tomohon. Berjarak waktu sekitar 1 jam dari Manado. Sesampainya di Tomohon, kami berkeliling pasar, seperti biasa mengunjungi toko-toko, menanyai pemilik toko, melihat produk kompetitor, dan sedikit membeli makanan-makanan khas Tomohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, tak terasa waktu shalat Jumat tiba. Shalat Jumat dimana, ya? Di Tomohon sepenglihatan ku tidak ada satupun mesjid berdiri. Pukul 11.30 biasanya aku sudah bersiap-siap, nongkrong di mesjid, walaupun bukan berzikir –mungkin malah tidur- tapi aku sudah bersiap melakukan shalat Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resah aku memikirkan saat itu, shalat Jumat dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik berlalu, dan memang tidak ada tempat untuk shalat Jumat. Tapi sudut hatiku mencoba menoleransi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kan suasananya lain, di sini tidak ada mesjid, dan aku jauh ratusan kilometer dari tempat domisiliku, jadi nanti saja di Jama’ dengan Ashar!” suara hati toleransi itu muncul begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil memang aku jadi tidak shalat Jumat hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya, saat di pesawat, saat merenung, saat menyendiri di Seat 15A Garuda, sambil memandang segerombolan awan, aku berpikir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa aku tidak shalat Jumat hari ini? Ok lah, aku tidak shalat Jumat karena tidak ada mesjid di sekitar situ, karena jarak ratusan kilometer dari tempat domisili, karena bisa saja di Jama’ Takhir dengan Ashar. Tapi kenapa hatiku berkata lain? Kenapa ada yang tidak sreg dihatiku saat itu?” kecamuk pertanyaan di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku berpendapat, boleh saja shalat di Jama’ dengan kondisi yang memang diperlukan, misal waktu Ashar di pesawat sehingga tidak memungkinkan untuk shalat secara normal. Jikapun waktu itu aku berada jauh ratusan kilometer dari tempat domisili, jika ketemu mesjid, ketemu ruang untuk shalat sebaiknya shalat, tidak perlu di Jama’. Dan aku resah luar biasa ketika aku tidak menemukan ruang atau mesjid untuk shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenapa rasa resah itu hilang ketika tadi tidak ada ruang untuk shalat Jumat? Kenapa aku seperti tenang-tenang saja ketika tidak ada satupun mesjid yang bisa aku tempati untuk shalat Jumat? Tidak ada lagi rasa resah yang dulu saat aku begitu bela-belain cari tempat shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan ku ini? Kemana rasa resah itu? Kemana rasa kosong di hati ketika terlewat waktu shalat? Kenapa aku sekarang tenang-tenang saja ketika kehilangan shalat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengakui lemahnya hati ini, aku mengakui lemahnya iman ini. Aku sudah terlalu longgar menoleransi hati. Aku ingin kembali merasakan resah ketika kehilangan shalat, aku ingin kembali merasakan sedih luar biasa ketika waktu shalat terlewat. Semua kembali pada diriku, pada hati ini. Bukan pada siapa-siapa, bukan pada ketiadaan mesjid di suatu daerah, bukan pada ketiadaan waktu untuk shalat, bukan pada kesibukan luar biasa yang menyingkirkan waktu shalat. Tapi ada pada diriku, ada pada hatiku, dan ada pada niatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampuni kelemahan iman ini, aku ingin tobat, meski seringkali salah itu aku ulangi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 23 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8313648232300845639?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8313648232300845639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/toleransi-longgar-sebuah-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8313648232300845639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8313648232300845639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/toleransi-longgar-sebuah-hati.html' title='Toleransi Longgar Sebuah Hati'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-7326754177179019145</id><published>2009-02-21T10:02:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T01:49:48.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Beda Tipis Antara Halal dan Haram di Negeri Seberang</title><content type='html'>Aku baru saja pindah dari kantor ku yang lama ke kantor yang sekarang ini. Sebenarnya jenis pekerjaannya sama, hanya produk yang berbeda. Tentu saja kulturnya pun berbeda. Dulu aku bekerja di perusahaan nasional, sekarang di perusahaan multinasional berlatar belakang Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk 16 Agustus 04, sebagai orang baru, tentunya menghadapi budaya baru, budaya perusahaan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum 3 bulan aku bekerja, tepatnya Oktober 2004, saat nikmat-nikmatnya menjalankan puasa Ramadhan, bos Jepang ku memerintahkan aku menemaninya ke Jepang. Dan kita akan menjamu 3 tamu dari Indonesia yang juga adalah klien ku yang selalu terkait pekerjaan dengan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Jepang? Belum pernah aku menginjakkan kaki di sana, jangankan Jepang, keluar negeri saja aku belum pernah, bahkan passport pun tidak punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, berangkatlah aku ke Jepang, sebuah negeri sempurna jika dilihat dari sisi duniawi, namun jika dari sisi mentalitas religius, belum tentu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos ku benar-benar peduli dengan para tamu termasuk juga peduli pada ku –meski aku bukan tamu- yang sangat concern pada makanan halal ataupun haram. Agak sulit mendapatkan makanan yang murni halal di sana. Apalagi jika dikaitkan dengan makanan halal versi Muslim berdasarkan syariah yang murni dan konsekuen. Dimana halal tersebut tidak hanya makanan mengandung babi atau tidak, tapi lebih dalam lagi, seperti media memasak yang bebas babi, atau ketika menyembelih pun harus sesuai syariah. Dari ketentuan dasar itu saja, aku ragu makanan halal beredar luas di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok lah, tidak mengandung babi, tapi sendok sayurnya mungkin pernah dipakai untuk menyendok babi, atau ketika menyembelih ayam, dilakukan asal potong dan tanpa baca bismillah. Sulit aku rasa jika kita ingin mencari makanan halal di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, tatkala melepas lelah setelah berkeliling Tokyo, aku, si Bos, dan tiga orang tamu melepas lelah di sebuah kedai makan. Konon kabarnya, kedai itu menyediakan berbagai makanan khas Osaka, sekitar 2 jam perjalanan dari Tokyo. Osaka ini adalah juga kabarnya kampung halaman si Bos. Salah satu makanan khas Osaka yang dihidangkan itu adalah Okonomiyaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasak Okonomiyaki, menggunakan wajan datar yang unik, wajan datar itu berada di tengah meja tempat kami singgahi. Satu ruangan kedai itu terdiri dari 10 meja, dengan kursi yang terdiri dari 6 kursi di setiap mejanya. Wajan datar tadi berada tepat di tengah meja, sehingga kita menyaksikan langsung proses memasak itu. Okonomiyaki yang dibuat disesuaikan dengan jumlah orang yang duduk, sehingga setiap 1 orang akan mendapat jatah 1 Okonomiyaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memasak Okonomiyaki, mirip dengan memasak martabak. Adonan terigu ditebar melingkar di wajan datar, ditunggu hingga setengah matang, kemudian ditaburi topping yang terdiri dari daging, taburan bawang, dan daun-daunan yang aku tidak kenal. Topping itu begitu penuh, sehingga melebihi ketebalan adonan terigu yang mendasari Okonomiyaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos ku –dalam bahasa Jepang- bebicara ke pramusaji kedai itu, kira-kira artinya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buatkan 6 Okonomiyaki, yang 5 topping babi, yang 1 topping ayam” ujar si Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu topping ayam pastinya diperuntukkan bagi ku yang satu-satunya Muslim di meja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bos, dikau begitu perhatian padaku!” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semudah itu mendapatkan makanan halal di Jepang, itu yang mesti aku waspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, memasak Okonomiyaki tadi tepat dilakukan di depanku. Pertama, satu gelas besar isi adonan terigu, disebar menjadi enam lingkaran berdiameter 15 cm di atas wajan datar berlapis minyak yang panas. Gelas besar tadi diisi oleh daging yang telah dipotong kotak-kotak, diaduk dengan sejenis minyak, dan ditaburkan merata di 5 adonan dasar Okonomiyaki tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho kok cuma 5? Seakan mengerti dengan keherananku, si Bos berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang lima ini babi, nanti yang ayam menyusul” ujar si Bos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah daging babi tadi ditabur, disusul potongan daging ayam dimasukkan ke gelas besar yang sama, diaduk dengan sendok yang sama dan menggunakan minyak yang sama. Setelah diaduk beberapa saat, langsung ditabur ke satu adonan Okonomiyaki yang konon adalah jatahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap sudah 6 Okonomiyaki matang terhidang di atas meja, 5 topping daging babi, 1 topping daging ayam. Menggunakan gelas adonan yang sama, sendok yang sama, wajan datar yang sama, dan dijejerkan berdekatan satu sama lain. Bisakah dikatakan halal? Syariah Islam di belahan bumi manapun akan mengatakan tidak halal. Namun apa yang bisa aku perbuat. Tidak aku makan? Konsekuensinya aku akan membuat tersinggung si Bos dan tentunya jadi lapar. Aku makan? Jelas haram. Berarti ada unsur haram yang aku masukkan ke perut ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan banyak pertimbangan, dengan sikap menjaga perasaan si Bos, dan tentunya dengan segala kelemahan iman, aku lahap memakan Okonomiyaki topping ayam jatahku. Lahap sekali, seolah tidak ada beban haram didalamnya. Dalam otakku hanya satu, aku tahu ini haram, ini salah, namun kalau aku tidak menikmatinya, aku rugi dua kali. Rugi karena makan makanan haram dan rugi karena tidak bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampuni aku, ya Allah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 22 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-7326754177179019145?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/7326754177179019145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/beda-tipis-antara-halal-dan-haram-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7326754177179019145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7326754177179019145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/beda-tipis-antara-halal-dan-haram-di.html' title='Beda Tipis Antara Halal dan Haram di Negeri Seberang'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-7789952016679786020</id><published>2009-02-21T08:55:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:44:46.817-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Murid “Sok Iyee…” vs Guru “Sok Galak”</title><content type='html'>Ini kisah tentang sahabat ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya F, pemuda berperawakan sedang, tidak terlalu kurus, berpembawaan selalu ceria seolah tidak pernah ada masalah dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan unik F ini adalah selalu berbicara dengan logat Betawi, padahal setitik pun tidak ada darah Betawi dalam dirinya. Bahkan tempat tinggalnya -tidak jauh dari ku- yaitu di sekitar pinggiran Bogor yang sehari-hari berbicara dengan Bahasa Sunda yang cenderung kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logat Betawi yang sangat sering dia gunakan adalah “Iyee…” dengan gaya seperti Mandra atau Si Doel di sinetron. Apapun atau siapa pun yang mengajukan pertaan konfirmatif atau biasa disebut “yes no question” yang diajukan, akan dijawabnya enteng dengan “Iyee…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami –dan juga beberapa guru- sudah terbiasa dengan gaya seperti itu. Kami menikmati gaya itu. Kami merasa terhibur dengan gaya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, datang guru baru di kelas kami. Namanya Pa B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap, beri salam!” Lantang ketua kelas kami, D, memimpin aba-aba salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Slamat siang, Pa!” Serempak pula kami memberikan salam kepada Pa B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Slamat siang!” Lantang pula Pa B menjawab, tidak hanya lantang, tapi tegas, lugas, dan menggelegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami cukup kaget mendengarnya, bahkan salah satu teman perempuan, setengah terlonjak dari duduknya mendengar gelegar suara Pa B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kelas ini saya mau buat aturan main!” gelegar suara itu muncul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan main? Sibuk dalam hati kami bertanya. Kelas benar-benar hening, tak ada cekikikan, tak ada bisik-bisik, tak ada gerutuan, bahkan untuk bernafas pun kalau bisa ditahan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berondongan aturan main diluncurkan Pa B terhadap kami. Sebenarnya aturan main yang biasa saja, standar, tidak ada yang istimewa. Misalnya, apabila guru sedang berbicara, tidak ada murid yang berbicara sendiri-sendiri, atau tidak ada yang nyontek ketika ulangan, atau harus aktif ketika sessi diskusi, atau tidak terlambat masuk kelas, dsb, dsb, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar! Itu memang sudah kewajiban murid, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas masih hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berondongan selanjutnya lebih banyak menceritakan asal muasal Pa B. Ternyata Pa B sebelumnya mengajar di salah satu kota di Provinsi Riau di Pulau Sumatera. Cerita berlanjut, lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi beliau. Misal, bagaimana beliau menghadapi murid sekolah yang mengacungkan golok ketika nilai ulangannya jelek, atau bagaimana beliau menghadapi keroyokan orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas, dsb, dsb, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita tersebut cenderung menunjukkan keangkeran sekolah tempat beliau mengajar dulu dan menunjukkan heroisme beliau dalam menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening kami mendengar. Terpukau? Rasanya tidak juga. Bahkan aku berfikir, untuk apa beliau menceritakan hal itu kepada kami? Untuk menggertak? Rasanya tidak mempan, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, semua jelas ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua harus ikuti aturan main yang kita sepakati tadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti?” Sebuah pertanyaan konfirmatif diajukan oleh Pa B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serempak seluruh murid menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setengah detik setelah kata-kata “Mengerti” diluncurkan, muncullah jawaban yang sangat familiar di telinga kami, jawaban yang selama ini kami anggap lucu, jawaban selalu dijawab oleh orang yang sama, yaitu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyeee….!” Temanku F menjawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari jalur jawaban teman sekelas, pindah dari keharusan jawaban yang diinginkan Pa B, dan lantang menyaingi kerasnya keserempakan jawaban sekelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekikikan sekelas menahan tawa, saling berbisik, saling pandang, dan saling bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam!” bentak Pa B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa itu yang jawab!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, Pa” F menunjukkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa B mendekati F yang duduk di bagian belakang di sayap kiri kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu menjawab seperti itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F terdiam. Menunduk. Bukan tidak mau menjawab, tapi memang tidak tahu harus menjawab apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu, jawaban seperti itu adalah jawaban tidak sopan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawaban kampungan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak pantas dilontarkan seorang yang mengaku berpendidikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berondongan pernyataan keluar dari mulut Pa B. F hanya tertunduk, tak berani memandang. Sudut hatinya mungkin menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta kamu tidak mengulangi lagi jawaban seperti itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan F menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jawaban yang menggoncangkan kelas, yang mengagetkan seluruh isi kelas, yang membuat seisi kelas tak kan pernah melupakan hari itu adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyyeeeee…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh kelas berdentam, derai tawa mengalir bak air bah, tak tertahankan, tak ada cekikikan, tak ada bisik-bisik. Semua lepas, tertawa, tergelak, tak peduli dengan keangkeran Pa B, tak peduli dengan aturan main Pa B!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas aku melihat Pa B, dia pun ternyata tertawa, setidaknya tersisa sungging senyum di bibirnya. Aku yakin Pa B pun terhibur pada saat itu, terhibur dengan tingkah laku F, terlepas beban angker dari pundaknya, bebas, tak bersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Pa B menjadi guru favorit kami, menjadi guru terdekat kami, bahkan lebih dekat dari wali kelas kami. Saat study tour, alih-alih tidur di kamar para guru, Pa B justru menginap di cottage kami. Berkumpul, tertawa bebas, seperti layaknya seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini Pa B masih menjadi guru di SMU di sekolah kami. Aku yakin beliau makin berpengalaman menghadapi murid-murid seperti kami, makin mengerti mengatasi murid-murid seperti kami, dan makin dihargai oleh para muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku F? Percaya atau tidak, dia sekarang berprofesi sebagai guru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Guru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hukum karma itu memang ada, maka inilah mungkin karma yang menimpa F. Tapi aku yakin, F mampu menghadapi murid-muridnya yang “sok iyee..”, sok slengekan, cuek, lucu dan bandel. Aku yakin itu, karena toh F pun seperti itu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses Pa B, engkau berjasa besar mencetak manusia-manusia unggul dari SMA kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses F, engkau pun berkesempatan menjadi pencetak manusia-manusia unggul dari sekolah mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gorontalo, 27 Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-7789952016679786020?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/7789952016679786020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/murid-sok-iyee-vs-guru-sok-galak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7789952016679786020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7789952016679786020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/murid-sok-iyee-vs-guru-sok-galak.html' title='Murid “Sok Iyee…” vs Guru “Sok Galak”'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-8089520813924177438</id><published>2009-02-21T08:50:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:49:12.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Tragedi 3 : Dikhitan!</title><content type='html'>Seperti diceritakan di Tragedi 2 : Idul Adha Kelabu, Kejepit Retsleting!, aku mengalami trauma mendalam terhadap jarum suntik. Sampai saat ini. Jika ada pilihan lain, sebaiknya tidak ada satu jarum pun yang harus menusuk anggota tubuh ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia 9 tahun, saatnya dikhitan! Sudah terlalu “tua” untuk ukuran anak di kampung ku. Di kampung ku, usia 4-6, anak-anak sudah dikhitan. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak. Jelas harus dikhitan karena itu kewajiban bagi laki-laki Muslim di manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara dikhitan di kampungku masih menggunakan cara-cara tradisional. Tak ada dokter tak ada bius. Semua menggunakan “bacaan” khusus sehingga si anak tidak sama sekali merasakan sakit dan lekas pulih dalam waktu singkat. Pemotongan dilakukan cukup dengan pisau setajam mungkin berukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa. Satu-satunya alat medis adalah cairan penisilin yang akan dioleskan ke luka khitan selama masa luka itu belum kering. Masalah steril, tidak pernah jadi masalah. Bertahun –mungkin berabad- cara itu digunakan, namun belum pernah ada kejadian adanya infeksi atau efek negative apapun. Setidaknya sepanjang yang aku tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu sebelum dikhitan, perasaanku campur aduk. Takut dan senang campur aduk. Trauma kejepit retsleting masih menghantuiku. Apalagi godaan para sepupu yang sudah lebih dulu dikhitan.Semua membuat ku takut, galau, dan terpikir untuk ditunda saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak mungkin ditunda. Acara khitanan sudah disetting rapi oleh Bapak. Sudah siap dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat hari H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari aku sudah mandi, sudah didandani, sarung lengkap dengan baju koko. Pakai sarung tanpa celana, sehingga ketika dkhitan, “pemotongan” akan relative lebih mudah. Seluruh badan ku terasa lemas. Rasa takut itu makin menjadi. Kehadiran seluruh kerabat kampung membuatku semakin gentar. Suara zikir sebelum mulai dikhitan membuatku semakin merinding.Aku hanya duduk terdiam, tanpa ekspresi dan –katanya- terlihat pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, Din, kita ke ruang depan” Ibu memecah lamunanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak. Pasrah digiring Ibu ke ruang depan. Di ruangan itu aku melihat puluhan orang bersorban putih duduk bersila. Berzikir dan membaca shalawat nabi. Gumam zikir dan shalawat itu bagiku terdengar seolah genderang perang yang bergemuruh di sebuah ajang peperangan. Bergemuruh saling bersahutan dengan cepatnya degup jantung pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat di tengah ruangan beberapa eksemplar surat yasin tergeletak, beberapa piring berisikan kue dan rokok. Aku juga melihat di paling tengah, ada sebuah piring yang terlihat berbeda dari piring yang lain. Sekilas piring itu seperti kosong, namun jika diperhatikan sebenarnya ada sebuah suntikan –atau seperti suntikan- tersimpan di atas piring tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Suntikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegang aku dibuatnya! Apa yang akan dilakukan dengan suntikan itu? Sambil duduk bersila, pandangan ku tak lepas dari suntikan itu. Aku berharap pandangan ku salah. Ingatan ku melayang ke beberapa bulan sebelumnya, dimana aku “disiksa” oleh 4 pria perawat kekar, disuntik beberapa kali oleh dokter yang kejam, dan menyisakan trauma sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi itu aku harus berurusan dengan suntikan? Apa kaitannya dengan dikhitan? Selama ini tak ada info apapun mengenai proses suntik dalam khitan ini. Bayangan ku melayang, apakah aku akan disuntik di alat vital ku, di perut ku, atau dimana? Apa pun itu pasti akan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang aku pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tanpa diduga siapapun, aku berdiri, dan secepat kilat berlari kencang ke arah kebun pala milik kakek. Aku lari sekencang mungkin. Yang ada di pikiran ku saat itu adalah lari, lari, lari! Menghindar dari jarum suntik, tak mau lagi berurusan dengan jarum suntik, tak peduli meski aku batal dikhitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus aku berlari, hingga sampai di kebun pala kakek. Aku melihat ke belakang, orang-orang bersorban putih itu mengejar ku. Namun ketika kembali melihat ke depan, orang-orang bersorban putih yang lain juga mengejar ku. Aku terkepung di kebun itu. Berlari kesana kemari, menghindar dari hadangan orang. Mirip pemain American Football yang menghindari hadangan pemain lawan. Atau mungkin lebih mirip seekor ayam yang sedang dikejar dan akan dipotong oleh sekelompok orang lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus aku berlari, menghindar, berkelit, sampai akhirnya ada tangan keras dan kasar yang menangkap ku dari belakang, membopongku dengan keras, sehingga tangan dan kaki ku tak sempat lagi meronta. Tak tahu lagi apa yang terjadi, selain karena kondisi ku setengah tak sadar –mungkin karena lelah berlari- juga karena ada tangan besar lain yang menutupi pandanganku. Gelap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tangan itu sudah membuka, mata ku bebas memandang, aku mendapati selangkangan ku berdarah, ujung kemaluanku mengalir darah. Ternyata “pemotongan” khitan itu sudah terjadi. Tanpa ada rasa, tanpa ada sakit sedikit pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan dipotongnya?” itu berkecamuk di kepala ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangis –bukan karena sakit, tapi karena shock- aku dibopong kembali ke ruang tengah, ditidurkan, diberi minum. Berhamburan lah orang-orang menghampiriku. Mungkn pikiran mereka pun campur aduk, sedih, miris, dan pasti tertawa terbahak. Lucu melihat kekonyolan ku di kebun pala tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang bertanya, semua orang ingin tahu, semua orang penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Dindin lari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan aku baru tahu, bahwa suntikan di atas piring itu tidaklah benar-benar suntikan. Tidak ada jarumnya, hanya batang suntikan yang berisi air penisilin yang akan disemprotkan sesaat setelah khitan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang yang namanya trauma itu begitu dahsyat. Begitu sempurna mengecilkan hati, menggetarkan rasa. Bahkan sampai saat ini pun, masih menyisa. Maka dari itu, sampai saat ini, aku takut disuntik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 14 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-8089520813924177438?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/8089520813924177438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-3-dikhitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8089520813924177438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/8089520813924177438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-3-dikhitan.html' title='Tragedi 3 : Dikhitan!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-6343894977357185159</id><published>2009-02-21T08:47:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:52:25.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Tragedi 2 : Idul Adha Kelabu, Kejepit Retsleting!</title><content type='html'>Umur 8 tahun aku belum disunat. Sudah cukup terlalu tua untuk ukuran anak-anak kampung ku. Makanya kalau berenang di kali, aku agak malu, soalnya hanya aku yang belum disunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Idul Adha, tahun 1983, di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Id, menikmati ketupat, sudah, itu saja kegiatan keluarga saat Idul Adha di Palembang, tak ada keluarga lain yang dikunjungi, hanya kami berlima di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat disuapi ketupat, aku kebelet pipis. Tapi alih-alih ke toilet, aku malah ke kebun depan dan pipis di pinggir pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka retrsleting celana, dan cuurrr pipislah aku. Pada saat itu aku tidak menggunakan celana dalam. Sehingga langsung bisa cuurrr sesaat setelah buka celana. Selesai pipis, celana aku tarik kembali, retsleting aku tutup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kok retsletingnya agak seret. Aku paksakan tarik, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aww…..!” aku menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan ada yang sakit, perih. Kenapa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata p**** ku kejepit retsleting!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak aku berteriak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Whoaaaaa…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika seisi rumah heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin kejepit retsleting!” gempar seisi rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak segera bertindak. Diguntingnya celana ku. Sehingga hanya menyisakan kepala retsleting yang menggantung di p**** ku. Layaknya anting-anting yang menggantung di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhasil mencabut, aku dibawa ke rumah sakit. Masuk UGD. Aku berontak, karena takut, karena panic di UGD rumah sakit. Saking berontaknya, aku tidak mau dibaringkan di ranjang, aku ingin lari. Tapi empat orang perawat pria berbadan besar memegangiku. Kedua tanganku ditarik keatas, disatukan dan dipegang oleh satu perawat pria. Kakiku bernasib sama, disatukan dan dipegang erat oleh satu perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku bernasib lebih tragis. Sepasang tangan besar menekan kepalaku dengan bertumpu pada kening. Sehingga kepala ku sama sekali bisa bergerak. Siksaan belum selesai, perut dan dadaku ditekan keras oleh satu orang perawat pria lain. Sesak dan tersengal aku berusaha nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu berontak nya kah aku, sehingga 4 algojo itu bersamaan mengekangku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tak kalah mengerikan. Aku lihat seorang dokter sedang memainkan jarum suntik. Menguji nya dengan cara menjentikkan jarinya ke alat suntik yang dipegangnya. Akan diapakan aku? Aku paling takut disuntik! Dan kenapa pula aku harus disuntik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jusss, rasa sakit di perut bagian bawah ku. Aku disuntik di perut, tidak tahu berapa kali aku disuntik, karena yang kurasa hanyalah cengkeraman para perawat berbadan kekar, dan tusukan berkali-kali disekitar perut dan pangkal paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut, panik, sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku tak bisa lagi merasakan bagian perut ke bawah. Mungkin karena akibat suntikan. Mungkin itu semacam suntik bius lokal di daerah perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, cengkeraman para perawat berbadan besar itu mengendur, dilepasnya tangan, kaki, tindihan di dada dan kepala. Ada apa ini? Ternyata semua sudah usai. Kepala retsleting itu sudah tidak lagi menjepit. Sudah lepas. Lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plong rasanya aku terbebas dari siksaan tadi. Namun rasa sakit itu masih ada. Sakit secara fisik akibat tindihan, cengkeraman, dan suntikan. Dan juga sakit secara mental, bahkan parahnya lagi meninggalkan trauma mendalam sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini aku takut disuntik, jika ada cara lain, lebih baik cara lain saja. Jika ada kegiatan donor darah, aku menghindar, bukan karena sombong, tapi karena takut jarum yang menusuk dan menghisap darah ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman,menawariku suntik vitamin C, katanya bagus untuk kulit, aku mau saja kulit ku jadi bagus, tapi tidak dengan cara disuntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar hari kelabu yang membawa trauma seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 7 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-6343894977357185159?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/6343894977357185159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-2-idul-adha-kelabu-kejepit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6343894977357185159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/6343894977357185159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-2-idul-adha-kelabu-kejepit.html' title='Tragedi 2 : Idul Adha Kelabu, Kejepit Retsleting!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-1151989854598992756</id><published>2009-02-21T08:43:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:56:00.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Tragedi 1 : Tembaga Sebesar Setengah Kuku Kelingking, Tertelan!</title><content type='html'>Usia 7 tahun, usia penuh keingintahuan. Segala macam dicoba, dieksperimen, berulang-ulang. Usia itu aku berada di Palembang, mengikuti orang tua dalam penempatan dinasnya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tempat kami tinggal, sekaligus juga gudang tempat penyimpanan barang berupa retsleting dan komponen-komponennya yang akan dijual di pasar. Bapak bertugas sebagai tenaga penjualan untuk barang-barang tersebut di Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setengah rumah setengah gudang, maka di sekitar rumah kami bertebaran barang-barang jualan Bapak, tercecer, terserak sembarangan, termasuk benda-benda kecil komponen retsleting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering iseng ikut bermain di gudang, ikut mengumpulkan limbah retsleting, sebenarnya tujuannya untuk dibersihkan dan dibuang, namun kenyataannya malah tambah ngacak-ngacak. Sering pula benda limbah itu aku bawa dan aku buat mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu benda yang aku jadikan mainan adalah topstop, suatu istilah di dunia pe-retsleting-an, yaitu berupa tembaga berbentuk U yang besarnya tergantung dari besar retsleting, biasanya sebesar setengah kuku kelingking orang dewasa. Fungsinya adalah untuk menghentikan kepala retrsleting agar tidak bablas ketika kita membuka atau menutup retsleting. Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dibayangkan, kalaupun tidak, ya sudah, toh bukan itu inti masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, habis bermain, iseng aku memainkan topstop tadi. Topstop yang aku pegang berukuran sedang, tidak besar, tapi bukan yang terkecil. Aku memainkannya dalam posisi tiduran, mungkin memang akan tertidur, sambil dua jari ku memainkan topstop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ada di pikiran ku, topstop itu aku gunakan untuk menggaruk hidung bagian bawah. Mungkin karena berbentuk U, jadi ujung-ujung U itu aku gunakan untuk menggaruk. Tindakan sembrono!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, ketika menggaruk, topstop itu terlepas dari tangan ku, dan terasa masuk ke hidung! Gawat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak aku terduduk! Mata melotot, topstop itu terasa masuk di tenggorokan ku, tersangkut! Aku coba batuk, tapi malah memperburuk keadaan. Topstop itu semakin masuk dan terasa mengalir di tenggorokan, terus terasa seolah aku sedang menelan sesuatu, menelan obat, atau permen, atau apa pun itu. Rasa menelan itu berakhir dan sepertinya benda tadi sudah bersemayam di perut ku, di pencernaan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku shock! Tidak menangis, tapi bingung harus berbuat apa. Aku tetap diam, tetap melotot. Ibu ku melihat raut muka itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Din?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Kali ini aku berpikir, mau jujur atau tidak? Jujur? Tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau jujur, pasti aku dimarahi, kalau tidak jujur, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada ku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru diam ku, membuat Ibu makin penasaran bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa!” Keras Ibu bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm, ketelen ini….” Ragu aku menjawab sambil menunjukkan sisa topstop lain yang tadi aku mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah!” Panik Ibu berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapaaaaakkkkkk! Dindin nelen besi…..!!!!” Makin panik Ibu teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik Ibu, sampai-sampai beliau bilang aku menelan besi. Ini kan bukan besi, ini topstop bahannya tembaga. Lain, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah segerombolan orang dari gudang, tidak hanya Bapak, tapi orang-orang yang bekerja di gudang ikut penasaran akan apa yang terjadi. Tanpa tanya, Bapak memukul-mukul punggung ku, mungkin maksudnya supaya “besi” tadi masih tersangkut di tenggorokan dan keluar lewat mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas aku rasakan benda itu masuk mengalir ke tenggorokan, sampai ke perut, persis rasanya kalau menelan permen bulat-bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tidak ada tindakan medis bagi ku, meski aku was-was, tapi melihat kedua orang tuaku santai saja, jadi ya ikut santai. Mungkin sampai saat ini benda itu masih bersarang di perut ku, mungkin juga sudah tidak. Tapi setidaknya sampai saat ini tidak ada keluhan apapun pada diriku. Semoga tidak ada keluhan juga untuk masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 1 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-1151989854598992756?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/1151989854598992756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-1-tembaga-sebesar-setengah-kuku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1151989854598992756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1151989854598992756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/tragedi-1-tembaga-sebesar-setengah-kuku.html' title='Tragedi 1 : Tembaga Sebesar Setengah Kuku Kelingking, Tertelan!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-2199460448062979414</id><published>2009-02-19T03:02:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T18:30:05.808-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi Diri'/><title type='text'>Apa Bedanya Aku Dengan Dia?</title><content type='html'>Suatu saat di Kendari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu aku hendak menunggu boarding pesawat di sebuah lounge bandara. Aku masuk lounge, menunjukkan boarding pass dan tanpa basa-basi dari si penjaga lounge, aku langsung duduk di salah satu sudut sofa. Si penjaga lounge itu benar-benar acuh, tak peduli akan kehadiranku. Sendirian aku membuat teh panas tanpa gula, sendirian aku mencari gelas untuk air putih, dan sendirian aku sibuk mencari colokan untuk listrik laptop ku. Si penjaga lounge? Tetap acuh….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, masuklah 4 orang bule ke lounge itu, mereka berpakaian casual, tidak tampak sebagai seorang pekerja kerah putih seperti yang ditemui di Jakarta. Mereka lebih terlihat seperti sekelompok turis yang hendak kembali ke negaranya seusai menikmati liburan di Kendari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan dan membuat jengkel adalah, ketika para bule itu masuk, si penjaga lounge sontak menyambut, memberikan senyum termanis, dan mempersilakan duduk di sofa terbaik di lounge itu. Tidak hanya itu, bahkan mengantarkan hingga semua bule itu duduk, menawarkan sesuatu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Would you like tea or coffee?” ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan langsung menyediakan asbak serta merapikan meja dimana sofa mereka duduki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut lain aku hanya memandangi mereka. Memandangi si penjaga lounge, dan miris berkata dalam hati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya orang bule itu dengan aku?” bisikku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke dalam lounge yang sama, aku menaiki pesawat yang sama, kelas tiketnya pun aku lihat sama-sama ekonomi, lantas, kenapa aku mendapat perlakuan berbeda? Si penjaga lounge itu seperti menganggap aku ini hanya bikin penuh lounge dan tidak memberikan keuntungan apapun untuknya. Inikah yang dinamakan keramahtamahan orang Indonesia? Sebuah keramahtamahan salah kaprah yang diterapkan secara naïf oleh seseorang yang mengaku bekerja di bidang customer service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, di Uluwatu, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, jika aku terjun ke lapangan, aku melakukan market survey, suatu prosedur standar di dunia sales yang dilakukan siapapun jika terjun ke lapangan. Apa yang biasanya aku lakukan? Aku datangi toko-toko, melihat keberadaan produk yang aku jual, membandingkannya dengan kompetitor, melihat kecenderungan konsumen, berbicara dengan pemilik toko, dan tentu saja “cuci mata”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu di Uluwatu, aku melakukan hal yang sama. Bedanya adalah, saat itu atasan ku ikut bersama ku didampingi juga dengan rekan dari distributor. Setelah puas melakukan market survey di Uluwatu, kami bersama menuju sekumpulan karang yang memecah ombak di ujung Uluwatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan hari libur, namun keramaian Uluwatu tetap luar biasa, tentunya didominasi para turis asing baik dari Asia maupun Eropa &amp;amp; Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu sudut Uluwatu, aku melihat sepasang orang bule sedang berfoto. Sepertinya mereka suami istri –setidaknya itu anggapan baik sangka ku- yang sedang berbulan madu di Bali. Mereka saling foto, terkadang sang pria memfoto si wanita, demikian juga sebaliknya. Hingga satu saat, sepertinya mereka ingin berfoto berdua. Tak kurang akal, mereka meletakkan kamera digital mereka di atas sebuah tong sampah, memanfaatkan teknologi automatic photograph, mereka sibuk meletakkan kamera digital nya di atas tong sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha mereka kelihatannya tidak mudah. Permukaan tong sampah tidak rata, sehingga berkali-kali kamera digital itu hampir jatuh. Dan berkali-kali pula mereka gagal berfoto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan atasanku melihat peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kita bantuin, yuk!” ajak atasanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, Pa” jawab ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak kami dan salah satu rekan distributor menghampiri sepasang bule itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let me take the picture for you!” atasanku mulai menawarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang bule itu terlihat kebingungan. Terdiam. Saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa mereka terlihat ragu?” pikir ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“How much?” si bule pria bertanya kepada kami sambil menjentikan telunjuk dan ibu jari sebagai simbol uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ternyata mereka berpikir kita akan meminta uang atas jasanya mengambil foto atas mereka. Benar-benar miris aku atas peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu hinakah bangsa ini sehingga ketika kita akan tulus menolong, dianggap ada pamrih di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar sebuah paradoks!&lt;br /&gt;Ada seorang anak bangsa yang ramah berlebihan terhadap orang asing dengan berkedok customer service, sehingga rela mendiskriminasi bangsa sendiri pada saat melayani di sebuah lounge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang bule yang menghina anak bangsa yang hendak tulus menolong dengan tuduhan ada pamrih uang di balik ketulusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar sebuah paradoks!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 18 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-2199460448062979414?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/2199460448062979414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/apa-bedanya-aku-dengan-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2199460448062979414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2199460448062979414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/apa-bedanya-aku-dengan-dia.html' title='Apa Bedanya Aku Dengan Dia?'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-2917638721496747547</id><published>2009-02-17T08:14:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:48:59.672-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen'/><title type='text'>Ironi Pramusaji di Sebuah Rumah Makan</title><content type='html'>Di sebuah rumah makan di Gorontalo, suatu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah kami berkeliling, bertugas, berpresentasi di sekolah-sekolah sehingga kami memutuskan untuk berlabuh di sebuah rumah makan dengan spesialisasi ayam goreng mentega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memilih tempat duduk kami bertiga didatangi oleh seorang pelayan rumah makan tersebut. Menu kami baca, memilih, mau makan apa siang ini. Sang pelayan berdiri sambil memegang pulpen dan kertas pesanan, menunggu kami selesai memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya paket ayam goreng super dengan ayam goreng besar?” aku membuka pertanyaan untuk sang pelayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm, sebentar ya, Pa” berlalu sang pelayan meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok kita malah ditinggal?”salah satu rekanku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sang pelayan tadi pergi meninggalkan kami untuk menanyakan pertanyaan kami kepada rekan nya yang lain di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama dia datang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau yang paket super lebih besar dari paket besar, Pa.” jelas sang pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu. Kalau ini tahu nya satu porsi ada berapa, ya?” aku bertanya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm, sebentar ya, Pa” lagi-lagi sang pelayan meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini gimana, sih?” rekanku mulai emosi, mungkin juga karena dia lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama datang lah sang pelayan tadi ditemani oleh seorang pelayan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa, tahunya satu porsi isinya 6 potong.” Teman sang pelayan tadi mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau gitu, saya pesan paket super plus satu porsi tahu” pesan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau paket ikan ini, ada yang super juga?” rekan ku juga mulai ingin memesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm sebentar, ya Pa” Keduanya tampak kebingungan. Sesaat mereka memanggil salah satu rekan mereka yang lain. Jadinya ada tiga pelayan melayani pemesanan kami. Pelayan ketiga menghampiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanya pelayan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini paket ikannya ada yang super juga, nggak?” rekan ku menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, saya ga tahu, Pa, saya kan bagian juice dan minuman, bukan bagian makanan!” tukas pelayan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik pitam kami mendengar jawaban itu. Emosi, geregetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan urusan saya, kamu itu bagian apa! Yang jelas kita mau tanya sebelum pesan, supaya jelas!” tak tertahankan emosi ku meledak. Campur aduk, antara cuaca panas, pelayan yang menyebalkan, dan tentunya lapar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama datang orang keempat, tampaknya dia pimpinan rumah makan. Semua beres dengan adanya dia, semua jelas, dan pesanan kami datang sesuai permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan pulang dari Gorontalo, di pesawat, aku membayangkan kejadian di rumah makan itu. Aku membayangkan kejadian itu menimpa suatu perusahaan, atau menimpa perusahaan tempat kita bekerja. Aku membayangkan aku seorang staff back office, misalnya aku ini staff dari divisi keuangan, dan ada yang bertanya padaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa, sebenarnya apa target market produk tempat Bapak bekerja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang keuangan, bukan orang marketing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan betapa kecewanya orang yang bertanya, sama kecewanya aku terhadap para pelayan rumah makan tadi. Atau kita balik, seandainya aku orang marketing dan ada yang bertanya kepada ku mengenai produksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa, sebetulnya berapa botol per menit, mesin produksi nya bisa menghasilkan produk Bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang marketing, bukan orang produksi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, pasti orang itu akan kecewa dengan jawaban kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masakan tempat aku makan tadi cukup enak, namun rasa kecewa tetap membekas di hati. Jika aku kembali ke kota itu, belum tentu aku akan mampir ke rumah makan yang sama, pasti rasa kecewa akan teringat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski produk kita bagus, unggul, dan bermanfaat tinggi, rasanya akan sia-sia jika konsumen kecewa akibat jawaban-jawaban tidak bertanggung jawab seperti tadi. Dan jika konsumen sudah kecewa, fatal akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya itulah yang dinamakan marketing oriented. Orientasi yang menempatkan seluruh karyawan dari berbagai bidang sebagai marketer. Tidak hanya bisa menjual, tapi juga mampu menjelaskan seluruh aspek perusahaan jika ada yang bertanya. Orang keuangan bisa menjawab aspek marketing, sebaliknya orang marketing bisa menjawab aspek keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 1 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-2917638721496747547?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/2917638721496747547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/ironi-pramusaji-di-sebuah-rumah-makan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2917638721496747547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/2917638721496747547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/ironi-pramusaji-di-sebuah-rumah-makan.html' title='Ironi Pramusaji di Sebuah Rumah Makan'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-9176509987739734665</id><published>2009-02-16T18:05:00.000-08:00</published><updated>2009-06-07T23:32:33.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Saar Terakhir Kakek</title><content type='html'>Umur kakek 94 tahun saat dia meninggal. Umur yang sudah sangat tua untuk ukuran manusia saat ini. Jika manusia dijatah berumur 63 tahun –sesuai umur ketika Rasulullah SAW wafat- maka kakek sudah mendapat bonus 31 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan sebelum Kakek jatuh sakit, beliau masih aktif berjualan kayu. Menjaga kios kayunya, membeli kayu dari pemasok di Ciawi, dan menjual kepada orang-orang yang mungkin sedang membangun rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit yang hanya 3 bulan menjelang wafatnya, menunjukkan betapa sehat Kakek selama ini. Jarang aku mendapati Kakek jatuh sakit berat selama ini, paling hanya sakit flu, atau pusing atau sesak nafas, yang aku kira hanya faktor usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucu Kakek ada 20 orang. Sembilan dari anak pertamanya, sembilan dari anak ketiganya, dan dua dari anak keduanya. Yang dua dari anak keduanya adalah aku. Aku terhitung bukan cucu kesayangannya, hanya sepertinya Kakek selalu mengingat aku, sekali lagi bukan karena cucu kesayangan, tapi karena aku lah satu-satunya cucu yang jarang muncul di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepupu ku menyampaikan pesan agar aku datang ke kampung, sebentar saja. Di saat sebelum Kakek sakit, hampir setiap hari Kakek bertanya pada para sepupu di kampung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya berkali-kali Bapak, Ibu, dan semua kerabat menghubungiku untuk menjenguk Kakek. Namun memang aku tidak menganggap serius ajakan itu. Aku pikir saat itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang sakit, apalagi tidak ada tanda-tanda Kakek akan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu sebelum Kakek sakit, tiba-tiba hatiku tergerak, terpanggil untuk pulang kampung sekedar melihat Kakek. Ketika bertemu, aku melihat Kakek begitu berbeda, meski terlihat sehat, namun Kakek mulai ringkih, nafasnya mulai tersengal, jalannya mulai terseok, dan bicaranya mulai tidak jelas. Kenapa Kakek? Apakah ini tanda-tanda Kakek akan pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutepis kekhawatiran itu. Kuajak Kakek jalan-jalan, hanya berdua, kubawa dia ke salah satu Mall d Bogor. Lamban kami berjalan, kutuntun Kakek, kugandeng tangannya, dan kudengarkan seluruh pembicaraannya meski seringkali aku tidak mengerti apa yang Kakek katakan. Kubebaskan Kakek membeli apapun yang diinginkannya, bahkan jika pun waktu itu Kakek mengambil barang termahal, sepertinya aku akan sanggup membelinya. Tapi, sukurlah, Kakek mengambil barang-barang yang harganya cukup rasional untuk kantong ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kali terakhir aku jalan dengan Kakek. Karena dua minggu kemudian, kondisi Kakek memburuk, Kakek hanya bisa terbaring, tidak mau makan, tidak mau minum. Tapi yang aku syukuri adalah, lidahnya tak pernah berhenti berzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sakit, aku intens mengunjungi Kakek, setidaknya seminggu sekali. Kubawakan segala makanan kesukaannya, kubawakan makanan yang tiba-tiba dia inginkan. Sepupuku sering menelpon, menyampaikan permintaan Kakek. Misalnya, tiba-tiba saja Kakek minta buah duku, padahal saat itu sama sekali bukan musim duku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ketika tidur, kupandangi Kakek. Aku teringat peristiwa beberapa waktu yang lalu. Aku ingat, kami bertiga –Aku, Bapak, dan Kakek- tiga pria seketurunan, berdiri di pinggir lahan kebun pala milik Kakek. Semasa aku kecil, kebun pala itu menjadi markas bermain aku dan para sepupuku. Kakek dan Bapak berniat membuat rumah kontrakan di kebun pala itu. Penghasilan dari pala sudah sangat tidak memadai, sementara bisnis kos-kosan menjadi sangat menggiurkan. Aku tidak setuju dengan rencana itu, tapi apa daya, ibarat sebuah kerajaan, ucapan Kakek ibarat fatwa seorang raja, dan aku hanya seorang pangeran kecil yang dianggap belum bisa berpikir jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ini, kebun pala itu menjadi kebun kos-kosan. Lebih menguntungkan memang, tapi kerugian besar bagi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari menjelang wafatnya Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku datang ke rumah Kakek. Sebenarnya masih jam kerja, namun karena aku sedang berdinas ke Sukabumi, jadi sebentar aku mampir. Seperti biasa, aku bawakan beberapa botol minuman isotonic bermerk Pocari Sweat tempat dimana aku bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara Kakek semakin tak jelas. Sedikit aku mengerti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aki mah sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu-satunya yang bisa masuk ke Aki cuma ini!” sambil menunjuk minuman isotonic merk Pocari Sweat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf ini bukan iklan, jikapun aku tidak bekerja di perusahaan ini, aku akan tetap menyebut merk ini, karena kenyataannya memang sejak lama Kakek suka minuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, kakek meninggal dalam usia 94 tahun. Lelah pasti beliau berkiprah di dunia. Sudah saatnya beliau menjalani kehidupan lain di dunia sana. Semoga kehidupan itu lebih baik untuk nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang aku banggakan adalah, lidah Kakek tetap dibasahi Pocari Sweat dan zikir hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Februari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-9176509987739734665?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/9176509987739734665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/saar-terakhir-kakek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/9176509987739734665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/9176509987739734665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/saar-terakhir-kakek.html' title='Saar Terakhir Kakek'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-9126936914087505765</id><published>2009-02-16T18:01:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T22:59:01.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>"Olimpiade Bahasa Inggris? Emang Ada?"</title><content type='html'>Tahun 1991, di kelas 2 SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu sedang marak-maraknya penyelenggaraan olimpiade. Bukan olimpiade olahraga seperti yang sebelumnya kita kenal. Tapi Olimpiade Fisika dan Olimpiade Matematika yang diselenggarakan untuk menjaring jenius-jenius dari setiap kelas untuk diorbitkan menjadi fisikawan dan matematikawan handal se-Indonesia bahkan se-dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, jenius-jenius terpilih dari tiap kelas akan diberikan pelajaran tambahan di luar jam pelajaran regular. Mereka mengadu argumen, mengasah otak, menjajal soal, dan melakukan eksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, kelas yang digunakan untuk belajar adalah kelas di koridor sekolah. Suatu koridor yang akan dilalui siapapun yang berlalu lalang di sekolah. Siapa pun yang melintasi koridor akan melihat mereka dibekali ilmu-ilmu Fisika dan Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar kelas, aku melihat mereka belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbersit rasa iri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa aku tidak sepintar mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, lupakan saja, ada yang lebih penting yang akan aku sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah S, sahabatku sejak SMP. Di SMA kami sekelas di kelas 2 dan 3. S adalah aktivis sekolah. Berbagai organisasi diikuti, S juga adalah salah satu petinggi OSIS di SMA kami. Semua kenal S, orangnya periang, mudah bergaul, dan “masuk” dengan kelompok mana pun di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang mengganjal tentang diri S, yaitu “gagap” dalam pelajaran bahasa Inggris. Keringat dingin bercucuran ketika diminta maju ke depan untuk berbicara dalam bahasa Inggris bahkan untuk sekedar mengatakan, “My name is S”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, S tidak masuk kelas bahasa Inggris, bukan karena sakit, tapi memang karena tidak mau masuk. Padahal bertepatan hari itu ada kuis dadakan yang harus diikuti dan mempengaruhi nilai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti S harus ikut kuis susulan! Sendiri! Tanpa bantuan teman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, hari kuis susulan dimulai. S tidak belajar, hanya berbekal soal dan jawaban kuis kemarin. Bersamaan dengan S, ada 4 orang teman yang juga ikut kuis susulan. Keempat orang teman itu memang benar-benar tidak ikut kuis karena sakit, bukan karena menghindar. Karena ke empat orang ini adalah para jenius bahasa Inggris di sekolah. Sementara S? Tidak bisa disebut jenius bahasa Inggris, memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris saja, keringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuis susulan dilakukan di sebuah kelas yang berada di koridor sekolah, persis kelas yang sama dengan tempat para peserta olimpiade fisika dan matematika belajar. Peserta kuis susulan tersebut otomatis terlihat oleh siapa pun yang lewat. Benar-benar mirip saat para peserta olimpiade fisika dan matematika sedang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada olimpiade apa lagi, nih?” Setengah berbisik, teman-teman kelas lain yang tidak mengerti, mulai bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan bangga, menunjukkan canda sombongnya, dari dalam kelas, S berbisik keras, “Olimpiade Bahasa Inggris!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Olimpiade Bahasa Inggris? Emang ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih yang ga bisa di-olimpiade-in?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi musim olimpiade , ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahut menyahut pembicaraan beredar di sekolah mengenai keberadaan olimpiade bahasa Inggris hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, masak S yang jadi peserta olimpiade, ga mungkin, ah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edaran gossip mulai diragukan kebenarannya. Keraguan itu bukan karena olimpiade bahasa Inggris nya. Olimpiade itu mungkin saja benar-benar diadakan. Tapi keraguan itu disebabkan oleh keikutsertaan S dalam kelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau S ikut olimpiade bahasa Inggris, berarti tadi malam ada kucing dimandiin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan nanti malam akan ada hujan badai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira perwakilan kata-kata keraguan di benak teman-teman dari kelas lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan olimpiade bahasa Inggris yang diikuti S. Hanya sekedar kuis susulan yang kebetulan bergabung dengan para jenius bahasa Inggris dari kelas lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, S tetap dikenal sebagai peserta olimpiade bahasa Inggris. Istilah itu menjadi idiom tetap yang melekat pada diri S sampai jauh waktu berjalan. Canda sombong itu tetap melekat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini-gini, gw pernah menjadi peserta olimpiade bahasa Inggris!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini…sini, gua terjemahin! Masak mantan peserta olimpiade bahasa Inggris ga bisa terjemahin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang…tenang…kalau debatnya harus pake bahasa Inggris, biar gua yang maju!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira pernyataan canda sombong yang keluar dari mulut S. Semuanya memang kental nuansa sombong, namun tetap dalam koridor canda. Kami tertawa, kami terhibur, dan kami enjoy dengan kehadiran S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh terus kami bahagia akan kehadiran S, jauh sampai saat kami bersama dalam satu kos di Jatinangor, jauh sampai saat kami berada dalam satu fakultas di Universitas Padjadjaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S menjadi salah satu petinggi di sebuah perusahaan retail asing terkemuka di Indonesia. Tentunya komunikasi bahasa Inggris menjadi keharusan ketika harus bertemu dengan para atasan perusahaan tersebut yang dominan bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah canggihkah bahasa Inggris S saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Aku harus mengkonfirmasi ulang mengenai hal ini. Kapan-kapan aku akan menemuinya dan aku kabari melalui tulisan-tulisan ku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gorontalo, 30 Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-9126936914087505765?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/9126936914087505765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/olimpiade-bahasa-inggris-emang-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/9126936914087505765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/9126936914087505765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/olimpiade-bahasa-inggris-emang-ada.html' title='&quot;Olimpiade Bahasa Inggris? Emang Ada?&quot;'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-1809636064704905687</id><published>2009-02-16T17:58:00.001-08:00</published><updated>2009-06-08T23:03:20.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Anak Kelas Fisika Yang Ga Suka Fisika</title><content type='html'>Sejak SMP, sejak ada pemisahan bidang Ilmu Pengetahuan Alam, menjadi Fisika, Kimia, dan Biologi, tidak satupun ketiga sub bidang Ilmu Pengetahuan Alam itu yang aku suka. Belum apa-apa aku merasa sama sekali tidak mengerti apa yang diterangkan guru di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas Biologi, alih-alih memahami apa yang diterangkan, aku malah berpikir dan ngomel dalam hati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa sih yang iseng kasih nama tumbuhan-tumbuhan ini dengan nama aneh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa sih kita mesti menghafal istilah-istilah itu, toh nanti pun kita bisa lihat buku kalau kita lupa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas Kimia, sama saja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang iseng memberi nama bahan-bahan itu dengan Fe, Cu, Li?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang kurang kerjaan memisahkan unsur-unsur sehingga muncul simbol H, O, dan C yang kalau disambung-sambung menjadi rantai yang membingungkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas Fisika, agak mendingan, tapi setali tiga uang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa sih, iseng amat hitung-hitung gerakan bandul?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa, sih, urusan air tumpah dari bak mandi aja langsung heboh dan bilang : Eureka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terus menggelayuti dan meracuni fikiran ku. Makin menjauhkan aku dari ilmu-ilmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski begitu aku tetap memilih Jurusan Fisika sebagai kelas ku di kelas 2 dan 3. Entahlah, meski aku tidak nyaman, namun aku memaksakan diri untuk masuk kelas Fisika. Iming-iming masa depan cerah, UMPTN bisa kemana aja, dan gengsi, membuat aku memutuskan memilih Fisika sebagai kelas ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu saat di awal kelas 2,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Minggu depan kita ulangan untuk Bab 2 dan 3.” Pak N, guru Fisika kami, berteriak lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak N memang aku rasakan berbeda dengan guru Fisika lainnya, baru kali ini aku mengerti akan Fisika setelah diajari oleh Pak N. Baru kali ini logika-logika dasar Fisika aku pahami. Ya, baru kali ini! Setelah sekian tahun!&lt;br /&gt;Semangat membara menjelang ulangan. Kepercayaan diriku akan pelajaran Fisika mencapai tingkat tertinggi. Suatu puncak pencapaian sempurna bagi orang ”gagap” Fisika seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking semangatnya, setiap hari aku bawa buku pelajaran Fisika, ketika ada waktu luang aku belajar Fisika, waktu istirahat dan menjelang mulai pelajaran aku belajar Fisika. Sampai-sampai ada satu teman yang panik melihat aku belajar Fisika, karena mengira ulangan Fisika nya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari H ulangan Fisika, aku merasa sangat siap, sangat PD, dan yakin akan hasil terbaik yang akan aku dapat. Duduk pun nomor dua dari depan –biasanya waktu ulangan aku menyingkir ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal demi soal aku kerjakan dengan penuh percaya diri. Ada soal pilihan ganda dan juga essay. Semua aku kerjakan tanpa lirik kiri kanan mengharap bantuan teman. Seluruh soal pernah aku coba semua, hanya berbeda angka nya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan diri tertinggi. Lagi-lagi itu istilah yang sangat tepat menggambarkan diriku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya pengumuman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak N dengan penuh senyum melangkah masuk kelas, aku pun demikian, ibarat hari itu adalah hari gajian, maka aku yakin akan mendapat upah tertinggi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu anak-anak dipanggil untuk menerima kertas ulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bergumam, ”Yes!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengepalkan tangan seraya berkata, ”Mantap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang tertunduk lesu tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kok aku belum dipanggil?” gumamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat sekeliling, nilai temanku bervariatif, ada yang 7,2 atau 6,5 atau ada juga yang 10. Nilai 10 ini memang mutlak milik beberapa jenius kelas yang tanpa belajar pun mereka sudah sangat memahami Fisika. Satu-satunya pelajaran yang mereka sulit berprestasi hanya olahraga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dindin Suzaridian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantap aku melangkah, setengah deg-degan, namun yakin akan mendapatkan nilai yang tidak mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas ulangan aku ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terbelalak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertera nilai 2,8!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tidak percaya aku pandangi Pak N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa N mengingatkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belajar lagi, Din! Nilai mu terendah di kelas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gila! Belajar lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak cukupkah aku seminggu ini belajar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inikah hasil kerja keras ku seminggu ini? Terendah di kelas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas itu aku lipat dan aku taruh di saku baju. Tidak aku remas-remas dan aku buang. Aku tidak seekspresif itu. Beberapa teman ku bertanya, namun tidak satu pun aku dengar dengan jelas pertanyaan mereka. Atau mungkin aku sudah tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemas aku melangkah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Fisika itu sesosok gadis, aku mungkin berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inikah balas jasa engkau kepada ku setelah aku memelihara cinta ku untuk mu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, semangat ku pudar. Cinta ku untuk Fisika luntur. Habis sudah terkikis kekecewaan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, aku tak mau lagi memelihara cinta untuk Fisika, cukup sekedar kenal dan bebas dari ulangan. Biarpun Fisika semakin cantik dan menarik untuk dipacari, tapi maaf, aku telah patah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah punya pacar baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Sejarah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Ilmu Sejarah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghargai ku tinggi sekali meski aku tidak mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberikan apresiasi tertinggi, meski aku tidak bekerja keras mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, inilah aku, tetap membenci Kimia, tetap menjauhi Biologi, dan tetap skeptis dengan Fisika, meski aku sadar bahwa selama ini aku memanfaatkan nya setiap hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-1809636064704905687?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/1809636064704905687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/anak-kelas-fisika-yang-ga-suka-fisika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1809636064704905687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/1809636064704905687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/anak-kelas-fisika-yang-ga-suka-fisika.html' title='Anak Kelas Fisika Yang Ga Suka Fisika'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-301451426797573426</id><published>2009-02-16T17:55:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T23:05:37.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>“Dindin yang mana, ya? Ada dua tuh!”</title><content type='html'>Ada dua Dindin di Jurusan Hubungan Internasional Angkatan 93 Universitas Padjadjaran. Yang pertama aku, Dindin Suzaridian, yang kedua Dindin Adiwardana Natasukarya. Banyak kesamaan antara kami berdua. Diantaranya, kami berasal dari kota yang sama –Bogor- dan SMA yang sama, SMAN 1 Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak berada dalam satu kos yang sama, kedua Dindin ini berada dalam “gank” yang sama (kalau boleh meminjam kata-kata “gank”), sama-sama berada di kawasan Jatinangor, dan sering main sepakbola dalam satu tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saat dosen tidak hadir, saat-saat nongkrong di koridor kampus, datang menghampiri kami seorang mahasiswi dari jurusan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celingak celinguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menyapa lah dia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, hallo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo juga” hampir serempak, aku, Sogun, Edo, Sohen, Dindin AN dan teman-teman lain balas menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gua lagi mau nyari Dindin, ada ga ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada titipan dari saudaranya di Bogor.” Mahasiswi itu mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin mana?” timpal Sogun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Dindin AN sama-sama terdiam. Sengaja tidak bereaksi ketika orang yang dicari adalah Dindin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin, yang anak HI 93?” timpal si mahasiswi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin yang HI 93, ada dua!” Sohen ikut nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin HI 93 yang anak Bogor!” mahasiswi itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Dindin HI 93 yang anak Bogor ada dua!” Sogun ikut-ikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindin HI 93, anak Bogor, dari SMA N 1 Bogor!” mulai frustasi mahasiswi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Dindin HI 93, anak Bogor dari SMAN 1 Bogor, ada dua!” Edo mulai jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, ini serius, ada titipan, jangan bercanda!” emosi mulai mendera sang mahasiswi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho siapa yang bercanda? Emang ada dua!” Sogun bertindak sebagai kompor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlalu lah sang mahasiswi itu. Kesal! Dongkol! Aku dan Dindin tetap tidak bereaksi. Ikut cekikikan. Ikut menikmati adegan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, si mahasiswi itu datang menghampiri ku. Wuih, mungkin dia marah, mungkin dia ingin melampiaskan kemarahannya pada ku. Atau mungkin dia sudah tahu yang mana Dindin yang dia maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rese, lu! Yang gua maksud Dindin waktu itu tuh, elu!” marah mahasiswi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih, ada titipan dari Bogor, dari Tante N, buat lu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakin yang dimaksud, Dindin gua?” Aku pun jadi ragu, jangan-jangan bukan Dindin aku. Tapi demi mendengar nama Tante N, aku langsung yakin, itu aku. Karena Tante N adalah sepupu dari Ibu ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya bener! Masak lu ga kenal Tante N?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok lu tau Dindin yang dimaksud itu gua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu lah, tadi malem gua telepon Tante N, mastiin nama panjang lu siapa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, deh, thanks ya! Dan sorry atas kejadian waktu itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nih! Padahal lu waktu itu ada, kan? Rese….!” Melengos mahasiswi itu meninggalkan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh sekali lagi, thanks ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..iya!” sambil bergegas dan tanpa melihat mahasiswi itu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu menjadi tonggak awal pembedaan penyebutan nama bagi kami berdua. Aku dipanggil Dindin S (mesti lengkap dengan S nya) sementara Dindin yang satu lagi dipanggil Dindin AN (mesti lengkap juga dengan AN nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini pun ketika kami sudah sama-sama menikah, dan sama-sama tinggal di Bogor, tetap ada kemiripan, yaitu anak laki-laki pertama kami bersekolah dan sekelas di TK yang sama. Demikian pula anak perempuan kami, sekolah dan sekelas di playgroup yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan anak pertama ku sering saling bercanda dengan anak pertama Dindin AN, ”Hei, kamu anaknya Bapak Dindin, ya!” serempak mereka berteriak satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri ku dan istri nya Dindin AN pun berasal dari daerah yang sama, yaitu Majalengka. Untung saja, nama istri kami tidak sama, walaupun ternyata mirip dan hanya membolak balikkan huruf nya saja, istriku bernama Nia, sementara istri Dindin AN namanya Ina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lhoksemawe, 21 Januari 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-301451426797573426?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/301451426797573426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/dindin-yang-mana-ya-ada-dua-tuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/301451426797573426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/301451426797573426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/dindin-yang-mana-ya-ada-dua-tuh.html' title='“Dindin yang mana, ya? Ada dua tuh!”'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-7896657450598875146</id><published>2009-02-12T08:52:00.000-08:00</published><updated>2009-06-07T23:18:13.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebuah Renungan Hati'/><title type='text'>Ulang Tahun - Sebuah Renungan dari Tahun ke Tahun</title><content type='html'>Ini bisa saja terjadi pada siapapun, laki-laki maupun perempuan. Tidak hanya aku. Tapi untuk sekedar berbagi, ini kisah dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 1&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada usia ini, pesta ulang tahun dilakukan atas inisiatif orang tua. Tidak mungkin anak umur 1 tahun minta ulang tahunnya di pestakan. Pada usia ini jalanpun masih tertatih-tatih. Jauh-jauh hari sudah belajar cara meniup lilin. Fuh..fuh..fuh.. biasanya lilinnya sulit mati, kalaupun lilinnya mati, lebih disebabkan karena muncratan ludah yang menimpa api di lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 2&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hampir sama dengan ulang tahun usia 2, namun dengan cara jalan yang tidak lagi tertatih-tatih. Sayangnya pada saat akan tiup lilin, justru tertidur dan terpaksa para tamu pesta yang didominasi orang dewasa menunggu, dan makan siang terlebih dahulu. Acara tiup lilin baru akan dilakukan setelah bangun kurang lebih 2 jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 3&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mulai mengerti apa artinya pesta ulang tahun. Diadakan pesta di rumah, biasanya –setelah tiup lilin- lebih fokus membongkar kado pemberian dan memainkannya jika ada kado mainan yang menarik perhatiannya. Ucapan selamat para tamu? Biasanya tidak lagi dihiraukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 4 - 5&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masalah tiup lilin sudah tidak lagi menjadi masalah. Tidak perlu air ludah muncrat untuk mematikannya. Sudah pula fasih menyanyikan lagu ulang tahun. Para tamu pun sudah didominasi anak-anak seusianya. Di masa kini, bagi orang tua yang mampu, akan mengadakan acara ulang tahun anaknya di sebuah restoran siap saji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 6 – 12&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada usia Sekolah Dasar ini, acara ulang tahun tidak lagi di sekolah. Belum pernah aku menemukan acara ulang tahun yang diadakan di kelas SD. Kalaupun ada, itupun spontanitas yang datangnya dari sang guru. Cukup menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama dan mengucapkan selamat. Di rumah? Biasanya tetap ada undangan pesta, dengan para tamu teman-teman sekolah. Undangan nya tertulis&lt;br /&gt;“Datang ya ke pesta ku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 13&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Usia ABG, masa SMP, ulang tahun biasanya dilakukan dengan mentraktir teman-teman sekolah. Tidak semua teman, tapi hanya teman dekat saja. Si anak berpikir bahwa daripada uangnya buat pesta lebih baik buat beli sesuatu yang jadi hobinya misal beli kaset. Di usia ini mulai menyukai seorang perempuan, naksir, ngeceng. Dan akan sangat surprise sekali ketika si gadis yang disukai mengirimkan kartu ucapan kecil yang bertuliskan,&lt;br /&gt;”Selamat ulang tahun, ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 14&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Inilah ulang tahun yang untuk pertama kalinya mendapat kado dari pacar. Bisa saja kan usia 14 sudah punya pacar? Kado itu mungil berpita warna merah muda. Isinya mungkin tidak seberapa, namun yang berarti adalah kata pengantar kado itu,&lt;br /&gt;“Selamat ulang tahun, ya, semoga kamu makin sayang sama aku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 15&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di usia ini pacarnya sudah berbeda. Karena satu dan lain hal, pacar pertama tadi putus dan berganti ke pacar yang lain. Mirip dengan ulang tahun usia 14 tadi, kado dari pacar menjadi hal terpenting di usia ini. Oh ya, selain itu, diadakan acara makan-makan bersama teman-teman dekat. Sementara ada pertemuan khusus dengan sang pacar di suatu tempat dengan ritual menyerahkan kado mungil –yang tetap berpita. Tak penting apa isi kado, yang penting adalah kata-kata,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 16&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masa SMA seperti ini, ulang tahun diritualkan dengan mentraktir teman-teman. Makin banyak teman, makin banyak pula uang yang dikeluarkan. Namun ada lagi ritual konyol yang seolah menjadi tradisi, yaitu diguyur dengan campuran berbagai minuman, plus air cucian penjual mie ayam, plus telor busuk. Sadis! Persiapan jangka panjang sudah dilakukan teman-teman, dan dirahasiakan sampai hari H. Biasanya akan terjadi balas dendam, karena hal yang sama akan dilakukan pada siapapun yang ulang tahun. Di tahun ini, tetap pacar yang sama memberikan kado khusus, tetap bukan kado mewah, tetap dengan kata-kata pengantar,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 17&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Katanya ini masa spesial. Beberapa teman lain yang ulang tahun, khusus mengundang teman lain untuk ke rumah, ada pesta khusus, ruangan disetting seperti diskotik, mulai ada acara dance, dan potong kue dengan potongan pertama diserahkan kepada yang tersayang. Aku? Alhamdulillah tidak melakukan itu. Ritualnya sama dengan usia 16, hanya saja melibatkan teman yang lebih banyak. Dan tetap dengan pacar yang sama, dan tetap dengan kata-kata,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 18&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mirip usia 17, namun tidak lagi ada traktir berlebihan. Kembali ke teman-teman dekat dan yang pasti tetap dengan pacar yang sama dengan kado istimewa, namun ditambah kata-kata,&lt;br /&gt;“Kalau nanti kamu kuliah, masih kah kamu sayang sama aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 19&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masa kuliah di Bandung, teman-teman baru, ritual utama : traktir teman dekat. Ulang tahun pertama jauh dari pacar, di hari ulang tahun ucapan selamat hanya dilakukan via telepon. Dengan ucapan,&lt;br /&gt;“Selamat ulang tahun, ya. Aku kangen!”&lt;br /&gt;Kado dari sang pacar baru diserahkan beberapa minggu kemudian. Di tahun ini pula mulai ada beberapa secret admirer, yang tiba-tiba memberikan kado khusus di hari itu. Ucapannya sederhana, tak ada yang berlebihan, hanya,&lt;br /&gt;“Selamat ulang tahun, ya”&lt;br /&gt;Ibu datang di hari ulang tahun itu, dan aku pun berkata,&lt;br /&gt;“Mama, minta uang tambahan dong, buat traktir teman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 20&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ritual standar, makan-makan dengan teman dekat. Sang pacar telah pergi, tak tahan karena jauh ditinggal. Pacar baru menjelang dan kadopun datang. Kado nya pun tetap sederhana, tak ada yang mewah, namun dengan tulisan,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 21&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Teman-teman semakin sedikit yang menyadari hari ulang tahun itu. Kalau bukan kita yang traktir makan, mereka tidak tahu kalau kita ulang tahun. Pacar di usia 20 tidak bertahan lama. Kembali datang pacar baru. Kali ini pacaran yang lebih serius, mungkin pengalaman kegagalan sebelumnya. Kado pun datang dari sang pacar. Tetap dengan kata-kata,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 22 – 24&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hampir mirip, tetap dengan teman-teman kuliah, di Universitas maupun di Magister, kita yang traktir barulah mereka tahu kita ulang tahun. Pacar tetap sama, karena mulai serius menjalin hubungan ke taraf yang lebih tinggi. Tetap dengan ungkapan,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 25 - 27&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ulang tahun pertama di saat kerja. Tidak ada traktir mentraktir. Ucapan selamat hanya datang dari Ibu, dan –tentunya pacar. Sementara di kantor, cukup bagi-bagi 2 kotak kue tart, yang dipotong-potong dan cukup untuk 48 orang. Kado dari pacar? Tetap ada. Dan tetap,&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun 28&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ulang tahun pertama setelah menikah. Ucapan selamat pertama datang dari istri (yang pacaran sejak usia 22 tadi), di saat bangun tidur di pagi hari, dilengkapi dengan kecupan mesra di pipi dan –tentunya- bibir. Kadot etap ada. Namun ucapan sayang langsung diucapkan lisan,&lt;br /&gt;“I love you”&lt;br /&gt;Dan tetap juga bagi-bagi kue untuk teman-teman di kantor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun 29-33&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di usia ini hampir sama kejadiannya. Tetap istri yang pertama kali mengucapkan selamat, tetap dengan kecupan di pipi dan bibir, dan tentunya ditambah dengan ciuman dari kedua mutiara kecil yang berlari memeluk saat pulang kantor. Ucapan dari Ibu dilakukan lewat telepon, dan terkadang mengirimkan kue tart hasil buatan sendiri. Beberapa teman dekat mengirimkan selamat melalu SMS. Kado biasanya datang dari istri. Itupun sudah mulai jarang. Kado pun diberikan sesuai permintaan. Ketika jalan-jalan di mal, terkadang tercetus lah kata-kata,&lt;br /&gt;“Kamu mau kado apa, nanti aku belikan” tanya sang istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap dengan pernyataan indah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I love you”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulang tahun usia 34&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara ritual dan pelaksanaan, sebenarnya tetap sama dengan usia 29-33. Tetap istri yang pertama kali mengucap selamat, tetap dengan kecupan, pelukan, dan “i love you” nya. Tetap Ibu yang menelepon melalui HP. Tetap SMS dari teman. Namun yang membedakan adalah tanggal ulang tahun relatif terpublikasi, karena sudah tercantum di facebook, milis, atau media maya lain, dan jauh-jauh hari sudah diingatkan di sudut media tersebut. Sejak jauh-jauh hari pula beberapa teman kuliah mengkoordinasi kumpul-kumpul dengan dalih reuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But anyway, thank you my friends!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulang tahun usia 35, 36, dst, dst, dst?&lt;br /&gt;Entahlah! Belum bisa diceritakan disini, karena belum pernah. Hanya bisa berdoa, semoga usia-usia ke depan, tetap akan mengalami masa ulang tahun hingga Allah SWT mengizinkan. Tetap bersyukur akan usia yang diberikan. Tetap berdoa semoga diberikan usia yang bermanfaat. Tetap istighfar karena yang pasti jatah usia kita akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 13 Februari 2009 – Di Saat Usia 34…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-7896657450598875146?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/7896657450598875146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/ulang-tahun-sebuah-renungan-dari-tahun.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7896657450598875146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/7896657450598875146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/ulang-tahun-sebuah-renungan-dari-tahun.html' title='Ulang Tahun - Sebuah Renungan dari Tahun ke Tahun'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695206120340165259.post-618680318152881791</id><published>2009-02-12T00:28:00.000-08:00</published><updated>2009-06-08T23:08:17.534-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Begitu Saja Bandelku...'/><title type='text'>Woooiiii! Awaaaassss Ada ***!!! Minggiiiiiiirrrrr!!!</title><content type='html'>BegituMaafkan atas judul yang mungkin tidak senonoh di atas. Maafkan atas penggunaan tiga bintang sebagai alat sensor penulisan. Tapi masalahnya, tidak ada kata-kata lain untuk menggantikan kata-kata tersebut. Sekali lagi : maaf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keturunan anak kampung di sebuah desa di pinggiran Bogor. Nama desa itu Desa Katulampa, suatu desa yang membuat was-was orang Jakarta, karena di situ terdapat sebuah bendungan yang menjadi indikator banjir di Jakarta. Jika kedalaman di Bendungan Katulampa mulai mengkhawatirkan, maka akan khawatir juga seluruh penduduk Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aku berdarah orang Katulampa, namun jarang sekali aku tinggal di desa itu. Sesekali jika liburan, aku bermain dan bermalam di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat usia 9-11 tahun, merupakan masa-masa bermain mengasyikan bagi ku, bersama para sepupu, keluar masuk hutan desa, mandi di kali, bermain lumpur di sawah, bermain bola di lapangan lumpur, memanjat pohon, dan semua kenakalan anak kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua kenakalan itu, ada satu yang paling menyenangkan, yang paling ditunggu-tunggu, dan yang paling sering kami lakukan yaitu :mandi di kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai atau kali itu bernama Citonggoh. Jika diartikan secara harfiah adalah air yang berada di atas atau di Utara (Ci = air, tonggoh = atas/utara). Citonggoh pada dasarnya adalah sebuah anak sungai Ciliwung, yang sebelum mengalir ke Jakarta, terpecah menjadi beberapa bagian dan salah satu alirannya mengalir ke desa kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citonggoh menjadi semacam sumber air bagi desa kami. Bukan untuk minum, namun untuk mandi, cuci dan juga kakus. Ketiga kegiatan itu sekaligus bisa dilakukan di sungai yang sama. Jika di satu sisi ada yang mandi, maka bisa jadi di sisi lain ada yang mencuci, atau bahkan di sisi lainnya ada yang –maaf- sedang buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan itu sudah menjadi turun temurun di desa kami. Air Citonggoh sebenarnya sudah tidak bisa dikatakan jernih. Airnya sudah coklat. Tidak ada sampah, namun tetap tidak layak minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian air yang mengaliri desa kami merupakan aliran air yang cukup deras, kedalamannya hanya kurang dari 1,5 meter dengan lebar sungai sekitar 5 meter. Namun bagian aliran ini merupakan tempat yang paling strategis untuk berenang. Tidak terlalu banyak batu, tapi juga tidak terlalu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan di desa kami adalah setiap akan shalat, terutama Zuhur dan Ashar, pasti harus mandi. Sehingga pada waktu shalat tersebut, sungai Citonggoh cenderung ramai. Jadi ada istilah di kalangan penduduk desa, yaitu mandi lohor (zuhur) dan mandi ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari pada saat mandi lohor (zuhur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas bermain di hutan dari pagi, terdengar suara azan zuhur dari kejauhan. Bergegas kami –aku dan 4 orang sepupuku- berlari menuju Citonggoh. Bukan untuk berwudhu untuk kemudian shalat Zuhur, tapi hanya untuk sekedar memenuhi tradisi mandi lohor (zuhur). Masalah apakah kita akan shalat ke mesjid, itu soal nanti, tergantung dari ada atau tidaknya Pa Haji. Kalau Pa Haji ada, pasti kami akan dikejar-kejar sambil bawa rotan untuk disuruh shalat, kalau Pa Haji tidak ada, ya lanjut terus main di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sabar kami berlari. Masih 10 meter dari sungai, kami sudah melucuti pakaian kami. Melucuti semua, telanjang bulat. Dan setiba di pinggir sungai, langsung meloncat dan byurr…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin tinggi loncatan, makin keras kami terhempas ke sungai. Bisa jadi akibat loncatan kami tenggelam di satu sudut sungai dan baru muncul beberapa detik kemudian di sudut lainnya. Tidak peduli kami dengan kebersihan air. Yang kami lakukan cuma sekedar untuk bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kami asyik berenang, salah satu sepupu ku berada di kawasan sungai tertinggi, maksudnya adalah dia ingin meloncat dari tempat tertinggi tersebut. Namun justru karena dia berada di tempat tertinggi itu lah, makanya dia bisa melihat ada apa saja kegiatan di sungai bagian atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba dia berteriak, “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wooooiiiii, awaaaaasssss, ada ***! Mingggiiiiiiiiir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak kami berempat yang berada di bawah, segera berenang ke tepi, dan segera naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, tidak berapa lama kemudian, saat kami menunggu di pinggir sungai –dalam keadaan telanjang bulat tentu saja- mengalirlah segerombolan –maaf- kotoran manusia di depan kami. Kami berempat hanya nyengir menyaksikan pemandangan itu. Sama sekali tidak merasa jijik, biasa saja, karena itu pemandangan sehari-hari kami saat berenang di Citonggoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah segerombolan –maaf, sekali lagi maaf- kotoran manusia tadi lewat dan dirasa sudah cukup jauh dari pandangan, maka serempak kami kembali meloncat ke sungai, kembali berenang bebas, seolah tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika ditimbang-timbang, betapa joroknya sungai Citonggoh. Jijik. Karena air yang sama digunakan untuk mandi –juga sikat gigi-, mencuci, dan sebagai kakus. Jika ditimbang-timbang lagi, bisa saja aku terkena penyakit kulit, bisa saja aku terkena penyakit perut, karena pada saat meloncat, terkadang ada seteguk dua teguk air Citonggoh terminum oleh ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata semua baik-baik saja. Tidak sekalipun aku sakit karena Citonggoh. Satu-satunya sakit ku adalah ketika tumitku belah dua karena menginjak beling di dasar Citonggoh. Sampai kini cacat karena beling itu masih ada, seolah-olah tumitku jadi punya lesung pipit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citonggoh saat ini, 23 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak ada lagi yang mandi di Citonggoh, ada 2 kemungkinan, pertama, masyarakat desa sudah sadar kesehatan dan mandi dari PAM atau air sumur, kedua, Citonggoh memang sudah tidak layak lagi disebut sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat Citonggoh sudah menyusut drastis, lebarnya hanya tinggal 1 meter, kedalaman tak lebih dari 80cm. Memang tidak pantas disebut sungai, lebih pantas jika disebut selokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan pemukiman yang pesat, turut andil dalam mempersempit ruang gerak air Citonggoh. Tidak hanya itu, hutan, kebun, dan sawah tempat kami bermain dulu pun, sekarang sudah menjadi tempat hunian. Hutan, kebun dan sawah itu sekarang ditanami beton, dipupuki semen, dan dihiasi genteng. Tidak lagi nyaman untuk sekedar menghirup udara segar dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu merupakan representasi dari kondisi alam Indonesia pada umumnya. Desa kami seperti menjadi miniatur Indonesia dimana sungai, hutan, kebun, dan sawah tergerus oleh kepentingan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan anak2 ku kelak, tidak sempat merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon. Bahkan katanya, kalau anak kita ingin merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon, ada wahana yang dibangun untuk itu, dan itu harus bayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gorontalo, 29 Januari 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695206120340165259-618680318152881791?l=suzaridian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suzaridian.blogspot.com/feeds/618680318152881791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/woooiiii-awaaaassss-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/618680318152881791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695206120340165259/posts/default/618680318152881791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suzaridian.blogspot.com/2009/02/woooiiii-awaaaassss-ada.html' title='Woooiiii! Awaaaassss Ada ***!!! Minggiiiiiiirrrrr!!!'/><author><name>Dindin Suzaridian : Sebuah Karya Sebuah Cerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09567174836499394881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_h3UFFTElpOk/SZiyHbFfZ6I/AAAAAAAAAAM/wvNIrt8yfcM/S220/dindin.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
