”Mas, cariin saya kerjaan, dong!” seorang adik sepupu yang baru saja lulus S1 dari sebuah universitas di Bandung suatu saat menelepon saya.
”Boleh! Kamu kirim CV kamu aja!” jawab saya, ”ada banyak lowongan di perusahaan saya, divisi sales lagi banyak butuh karyawan, tuh!” lanjut saya lagi.
”Hah! Sales! Jadi Salesman, dong! Ga mau, ah!” ujarnya lagi di ujung telepon sana.
Usai pembicaraan, saya termenung. Membayangkan mengapa begitu terperanjatnya sepupu saya itu ketika ditawari untuk bekerja jadi salesman. Seakan salesman itu pekerjaan kelas rendah, pekerjaan bagi orang yang ga ada kerjaan, bahkan dihindari karena dianggap mengganggu ketenangan orang. Memang diakui, profesi salesman bukan menjadi profesi yang dicita-citakan oleh seseorang. Belum pernah saya menemukan seorang anak yang menjawab “Mau Jadi Salesman” ketika ditanya cita-citanya. Kebanyakan anak-anak, menjawab jadi dokter, insinyur, atau profesi lain yang jauh mentereng.
Saya pun mencoba introspeksi diri. Lamunan saya terlempar ke tahun 2000 dimana karena kesulitan memperoleh pekerjaan, saya akhirnya menerima pekerjaan sebagai salesman. Ada keterpaksaan dalam keputusan itu. Ada sesuatu keengganan menjalankannya. Bahkan dari awal sudah ada niat untuk pindah kerja dan mencari profesi yang lebih mentereng. Namun seiring berjalannya waktu, saya seakan terbius, jatuh cinta, dan enggan berpisah dari profesi ini.
Apa yang menyebabkan saya menekuni profesi salesman? Ada beberapa faktor yang saya yakini merubah pola pikir saya. Pertama, profesi salesman merupakan ujung tombak perusahaan, divisi sales lah satu-satunya divisi yang menghasilkan uang bagi perusahaan. Sebagus apapun produk, sehebat apapun strategi marketing, seunik apapun iklan, akan sia-sia jika tidak ada divisi sales yang mendistribusikan produk tersebut ke berbagai saluran distribusi. Bisa dibayangkan betapa vitalnya divisi sales dan tim yang terlibat didalamnya, tanpa adanya mereka, bisa dikatakan perusahaan itu lumpuh. Divisi ini ibarat kaki-kaki perusahaan yang bisa membuat perusahaan berlari. Kedua, profesi salesman ternyata mempunyai masa depan yang cerah bagi yang tekun menjalaninya. Banyak contoh para pimpinan perusahaan, presdir, CEO mengawali karirnya dari salesman, banyak contoh pengusaha papan atas juga berawal dari seorang salesman. Hal ini bisa dimengerti karena profesi salesman memungkinkan seseorang menguasai lapangan, mengerti permintaan pasar, dan terlatih oleh tempaan mental yang kuat di pasar. Ketiga, profesi salesman ternyata menjanjikan income yang lebih besar dibandingkan divisi lain dengan level yang sama. Income salesman berasal dari tidak hanya gaji pokok bulanan, namun juga dari insentif yang didapat dari hasil penjualan. Keempat, tidak hanya income bisa didapat lebih banyak, namun juga pengalaman, pengetahuan, relasi dan jaringan sosial, dan info lain yang akan bermanfaat bagi pengembangan diri kita. Semua itu akan sangat bermanfaat kelak dalam penentuan karir, baik karir profesional di sebuah perusahaan maupun karir jika kita ingin berwirausaha.
Itulah sedikit alasan yang membuat saya bertahan di profesi ini hingga saat ini. Saya meyakini bahwa keputusan saya untuk tetap terjun di dunia sales tidak salah, saya meyakini bahwa apa yang terjadi selama saya di divisi sales akan sangat bermanfaat bagi saya kelak. Buat saya, profesi salesman bukan lagi profesi kepepet, bukan lagi profesi obralan karena mudah diterima di perusahaan, bukan lagi profesi yang tidak membanggakan, tapi justru bisa menjadi salah satu anak tangga menuju kesuksesan.
Dan yang pasti, justru akan muncul kalimat, "Jadi salesman? Mau!"
Denpasar, 30 Desember 2009
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Desember 2009
Jumat, 24 April 2009
Keramahan Datang Dari Ketulusan Hati
Pekerjaanku yang menuntut untuk selalu keluar kota, membuat frekuensi naik pesawat menjadi relatif tinggi. Hampir semua maskapai skala nasional pernah aku tumpangi, membuat aku bisa membandingkan pelayanan setiap maskapai. Selain faktor keselamatan, masalah keramahan para kru pesawat menjadi daya tarik tersendiri.
Suatu pagi, saat menaiki pesawat dari Maskapai A dari Jakarta menuju Jogjakarta.
Aku menaiki pesawat dari Maskapai A, aku selalu mendapati keramahan dari para pramugari, pramugara, serta para kru dari maskapai ini. Aku perhatikan mereka adalah para kru senior baik dari sisi pengalaman maupun dari sisi usia. Jika melihat para pramugarinya, mereka terlihat sangat menarik dengan senyum mengembang tatkala menyambut penumpang. Mereka tidak lagi muda, namun tetap terlihat menarik dengan pakaian seragam yang cukup elegan yang mereka kenakan.
Ketika memasuki pesawat, selalu ada sapaan,
“Selamat pagi, Pa, selamat datang.” ramah menyapa seluruh penumpang satu per satu tentunya tidak lepas dengan senyum mengembang yang tulus dari hati.
Ketika menuju kursi duduk pun, sudah siap para pramugari lain yang menyambut dengan perkataan,
“Nomor berapa kursinya, Pa?” tetap dengan keramahannya.
“Oh nomor itu masih di belakang, Pa, silakan, nanti dibantu oleh rekan saya di sana.” Keramahan berlanjut hingga kita duduk.
Belum lagi kesigapan para pramugari itu membantu penumpang menempatkan barang bawaannya di luggage bin di atas kursi penumpang. Jika luggage bin di atasnya sudah penuh, mereka pun sigap mencarikan tempat lain sebagai alternatif menyimpan barang. Kenyamanan pun menjadi nilai tambah bagi maskapai ini bagi para penumpang. Memang agak mahal dibanding maskapai lain, namun faktor keselamatan dan kenyamanan, ternyata tetap menjadi pilihan.
Di hari yang lain, saat menaiki pesawat dari Maskapai B dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Pagi-pagi sekali –jam 5 subuh- aku sudah berada di bandara untuk menuju suatu kota. Kali ini aku menaiki pesawat Maskapai B untuk menuju kota tersebut. Tak ada pilihan lain, hanya maskapai itu yang melayani jalur tersebut..
Jam 5.45 pagi, penumpang sudah dipanggil untuk boarding, alhamdulillah tepat waktu. Namun ternyata ketepatan waktu boarding itu bukan awal yang baik. Saat memasuki pesawat, aku mendapati 2 orang pramugari berdiri di dalam pesawat dekat pintu masuk. Pramugari satu sedang sibuk membenahi rambutnya sambil matanya melihat sebuah catatan –mungkin manifest penumpang- di meja kecil di depannya, pramugari satu lagi berdiri mematung di dekat pintu, dengan maksud menyambut penumpang, namun dengan wajah kaku, cemberut, dan tanpa senyum. Alih-alih mengucapkan selamat pagi, para pramugari itu malah sibuk sendiri atau berdiri mematung tanpa ekspresi. Di dalam pesawat setidaknya ada 2 lagi pramugari, namun setali tiga uang, mereka pun nyaris tanpa senyum.
Peristiwa berikutnya makin mengenaskan, aku melihat seorang bapak yang kerepotan membawa 2 tas, yang satu koper yang satu kresek besar, kesulitan mencari luggage bin yang kosong. Dan yang membuat kaget adalah ketika salah satu pramugari menyuruh bapak itu untuk ke belakang untuk mencari luggage bin kosong, dengan cara yang ketus dan setengah membentak,
“Bapak bawa aja barang-barangnya ke belakang sana, masih ada yang kosong!” ketus dia berkata, tanpa ada upaya mengantar si bapak.
Sebenarnya secara fisik, tidak ada yang salah dengan para pramugari itu. Mereka cantik, muda, dan berpenampilan menarik. Setiap laki-laki pasti tidak akan bosan melihat penampilan mereka. Hanya saja, kecantikan, usia muda, dan penampilan menarik itu menjadi tidak ada artinya ketika mereka tidak bisa menunjukan keramahan setidaknya melalui senyum yang tulus dan sikap yang hangat bagi penumpang.
Jika dibandingkan, Maskapai A dengan Maskapai B, memang orang lebih akan memilih Maskapai A. Kecuali masalah harga tiket yang mahal –harga tiket Maskapai A bisa 2 atau 3 kali lipat Maskapai B- maka penumpang lebih baik memilih Maskapai A. Sebenarnya bagi Maskapai B, tidak akan sulit menjaring penumpang. Justru seharusnya para kru udara bisa menjadi nilai tambah bagi mereka, asalkan mereka menambahkan satu hal yaitu keramahan yang datang dari ketulusan hati.
Menurutku, keramahan dari ketulusan hati, tidak memerlukan biaya besar bagi perusahaan. Dengan harga lebih murah yang ditetapkan Maskapai B saja sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan keramahan. Tidak perlu biaya khusus. Tidak perlu menaikkan harga. Karena senyum keramahan yang tulus dari hati merupakan investasi sangat murah bagi Maskapai B sebagai cara untuk menjaring penumpang.
Bogor, 19 April 09
Suatu pagi, saat menaiki pesawat dari Maskapai A dari Jakarta menuju Jogjakarta.
Aku menaiki pesawat dari Maskapai A, aku selalu mendapati keramahan dari para pramugari, pramugara, serta para kru dari maskapai ini. Aku perhatikan mereka adalah para kru senior baik dari sisi pengalaman maupun dari sisi usia. Jika melihat para pramugarinya, mereka terlihat sangat menarik dengan senyum mengembang tatkala menyambut penumpang. Mereka tidak lagi muda, namun tetap terlihat menarik dengan pakaian seragam yang cukup elegan yang mereka kenakan.
Ketika memasuki pesawat, selalu ada sapaan,
“Selamat pagi, Pa, selamat datang.” ramah menyapa seluruh penumpang satu per satu tentunya tidak lepas dengan senyum mengembang yang tulus dari hati.
Ketika menuju kursi duduk pun, sudah siap para pramugari lain yang menyambut dengan perkataan,
“Nomor berapa kursinya, Pa?” tetap dengan keramahannya.
“Oh nomor itu masih di belakang, Pa, silakan, nanti dibantu oleh rekan saya di sana.” Keramahan berlanjut hingga kita duduk.
Belum lagi kesigapan para pramugari itu membantu penumpang menempatkan barang bawaannya di luggage bin di atas kursi penumpang. Jika luggage bin di atasnya sudah penuh, mereka pun sigap mencarikan tempat lain sebagai alternatif menyimpan barang. Kenyamanan pun menjadi nilai tambah bagi maskapai ini bagi para penumpang. Memang agak mahal dibanding maskapai lain, namun faktor keselamatan dan kenyamanan, ternyata tetap menjadi pilihan.
Di hari yang lain, saat menaiki pesawat dari Maskapai B dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Pagi-pagi sekali –jam 5 subuh- aku sudah berada di bandara untuk menuju suatu kota. Kali ini aku menaiki pesawat Maskapai B untuk menuju kota tersebut. Tak ada pilihan lain, hanya maskapai itu yang melayani jalur tersebut..
Jam 5.45 pagi, penumpang sudah dipanggil untuk boarding, alhamdulillah tepat waktu. Namun ternyata ketepatan waktu boarding itu bukan awal yang baik. Saat memasuki pesawat, aku mendapati 2 orang pramugari berdiri di dalam pesawat dekat pintu masuk. Pramugari satu sedang sibuk membenahi rambutnya sambil matanya melihat sebuah catatan –mungkin manifest penumpang- di meja kecil di depannya, pramugari satu lagi berdiri mematung di dekat pintu, dengan maksud menyambut penumpang, namun dengan wajah kaku, cemberut, dan tanpa senyum. Alih-alih mengucapkan selamat pagi, para pramugari itu malah sibuk sendiri atau berdiri mematung tanpa ekspresi. Di dalam pesawat setidaknya ada 2 lagi pramugari, namun setali tiga uang, mereka pun nyaris tanpa senyum.
Peristiwa berikutnya makin mengenaskan, aku melihat seorang bapak yang kerepotan membawa 2 tas, yang satu koper yang satu kresek besar, kesulitan mencari luggage bin yang kosong. Dan yang membuat kaget adalah ketika salah satu pramugari menyuruh bapak itu untuk ke belakang untuk mencari luggage bin kosong, dengan cara yang ketus dan setengah membentak,
“Bapak bawa aja barang-barangnya ke belakang sana, masih ada yang kosong!” ketus dia berkata, tanpa ada upaya mengantar si bapak.
Sebenarnya secara fisik, tidak ada yang salah dengan para pramugari itu. Mereka cantik, muda, dan berpenampilan menarik. Setiap laki-laki pasti tidak akan bosan melihat penampilan mereka. Hanya saja, kecantikan, usia muda, dan penampilan menarik itu menjadi tidak ada artinya ketika mereka tidak bisa menunjukan keramahan setidaknya melalui senyum yang tulus dan sikap yang hangat bagi penumpang.
Jika dibandingkan, Maskapai A dengan Maskapai B, memang orang lebih akan memilih Maskapai A. Kecuali masalah harga tiket yang mahal –harga tiket Maskapai A bisa 2 atau 3 kali lipat Maskapai B- maka penumpang lebih baik memilih Maskapai A. Sebenarnya bagi Maskapai B, tidak akan sulit menjaring penumpang. Justru seharusnya para kru udara bisa menjadi nilai tambah bagi mereka, asalkan mereka menambahkan satu hal yaitu keramahan yang datang dari ketulusan hati.
Menurutku, keramahan dari ketulusan hati, tidak memerlukan biaya besar bagi perusahaan. Dengan harga lebih murah yang ditetapkan Maskapai B saja sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan keramahan. Tidak perlu biaya khusus. Tidak perlu menaikkan harga. Karena senyum keramahan yang tulus dari hati merupakan investasi sangat murah bagi Maskapai B sebagai cara untuk menjaring penumpang.
Bogor, 19 April 09
Label:
Manajemen
Selasa, 17 Februari 2009
Ironi Pramusaji di Sebuah Rumah Makan
Di sebuah rumah makan di Gorontalo, suatu siang.
Lelah kami berkeliling, bertugas, berpresentasi di sekolah-sekolah sehingga kami memutuskan untuk berlabuh di sebuah rumah makan dengan spesialisasi ayam goreng mentega.
Setelah memilih tempat duduk kami bertiga didatangi oleh seorang pelayan rumah makan tersebut. Menu kami baca, memilih, mau makan apa siang ini. Sang pelayan berdiri sambil memegang pulpen dan kertas pesanan, menunggu kami selesai memutuskan.
“Apa bedanya paket ayam goreng super dengan ayam goreng besar?” aku membuka pertanyaan untuk sang pelayan
“Mmm, sebentar ya, Pa” berlalu sang pelayan meninggalkan kami.
“Lho, kok kita malah ditinggal?”salah satu rekanku heran.
Ternyata sang pelayan tadi pergi meninggalkan kami untuk menanyakan pertanyaan kami kepada rekan nya yang lain di belakang.
Tak lama dia datang,
“Kalau yang paket super lebih besar dari paket besar, Pa.” jelas sang pelayan.
“Oh gitu. Kalau ini tahu nya satu porsi ada berapa, ya?” aku bertanya lagi
“Mmm, sebentar ya, Pa” lagi-lagi sang pelayan meninggalkan kami.
“Ini gimana, sih?” rekanku mulai emosi, mungkin juga karena dia lapar.
Tak lama datang lah sang pelayan tadi ditemani oleh seorang pelayan lain.
“Pa, tahunya satu porsi isinya 6 potong.” Teman sang pelayan tadi mencoba menjelaskan.
“Kalau gitu, saya pesan paket super plus satu porsi tahu” pesan ku.
“Kalau paket ikan ini, ada yang super juga?” rekan ku juga mulai ingin memesan.
“Mmm sebentar, ya Pa” Keduanya tampak kebingungan. Sesaat mereka memanggil salah satu rekan mereka yang lain. Jadinya ada tiga pelayan melayani pemesanan kami. Pelayan ketiga menghampiri,
“Ada apa?” tanya pelayan ketiga.
“Ini paket ikannya ada yang super juga, nggak?” rekan ku menjelaskan.
“Wah, saya ga tahu, Pa, saya kan bagian juice dan minuman, bukan bagian makanan!” tukas pelayan ketiga.
Naik pitam kami mendengar jawaban itu. Emosi, geregetan.
“Bukan urusan saya, kamu itu bagian apa! Yang jelas kita mau tanya sebelum pesan, supaya jelas!” tak tertahankan emosi ku meledak. Campur aduk, antara cuaca panas, pelayan yang menyebalkan, dan tentunya lapar!
Tak lama datang orang keempat, tampaknya dia pimpinan rumah makan. Semua beres dengan adanya dia, semua jelas, dan pesanan kami datang sesuai permintaan.
Di perjalanan pulang dari Gorontalo, di pesawat, aku membayangkan kejadian di rumah makan itu. Aku membayangkan kejadian itu menimpa suatu perusahaan, atau menimpa perusahaan tempat kita bekerja. Aku membayangkan aku seorang staff back office, misalnya aku ini staff dari divisi keuangan, dan ada yang bertanya padaku,
“Pa, sebenarnya apa target market produk tempat Bapak bekerja?”
“Oh, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang keuangan, bukan orang marketing!”
Aku membayangkan betapa kecewanya orang yang bertanya, sama kecewanya aku terhadap para pelayan rumah makan tadi. Atau kita balik, seandainya aku orang marketing dan ada yang bertanya kepada ku mengenai produksi,
“Pa, sebetulnya berapa botol per menit, mesin produksi nya bisa menghasilkan produk Bapak?”
“Wah, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang marketing, bukan orang produksi!”
Lagi-lagi, pasti orang itu akan kecewa dengan jawaban kita.
Meski masakan tempat aku makan tadi cukup enak, namun rasa kecewa tetap membekas di hati. Jika aku kembali ke kota itu, belum tentu aku akan mampir ke rumah makan yang sama, pasti rasa kecewa akan teringat kembali.
Meski produk kita bagus, unggul, dan bermanfaat tinggi, rasanya akan sia-sia jika konsumen kecewa akibat jawaban-jawaban tidak bertanggung jawab seperti tadi. Dan jika konsumen sudah kecewa, fatal akibatnya.
Pastinya itulah yang dinamakan marketing oriented. Orientasi yang menempatkan seluruh karyawan dari berbagai bidang sebagai marketer. Tidak hanya bisa menjual, tapi juga mampu menjelaskan seluruh aspek perusahaan jika ada yang bertanya. Orang keuangan bisa menjawab aspek marketing, sebaliknya orang marketing bisa menjawab aspek keuangan.
Semoga bisa bermanfaat.
Bogor, 1 Februari 09
Lelah kami berkeliling, bertugas, berpresentasi di sekolah-sekolah sehingga kami memutuskan untuk berlabuh di sebuah rumah makan dengan spesialisasi ayam goreng mentega.
Setelah memilih tempat duduk kami bertiga didatangi oleh seorang pelayan rumah makan tersebut. Menu kami baca, memilih, mau makan apa siang ini. Sang pelayan berdiri sambil memegang pulpen dan kertas pesanan, menunggu kami selesai memutuskan.
“Apa bedanya paket ayam goreng super dengan ayam goreng besar?” aku membuka pertanyaan untuk sang pelayan
“Mmm, sebentar ya, Pa” berlalu sang pelayan meninggalkan kami.
“Lho, kok kita malah ditinggal?”salah satu rekanku heran.
Ternyata sang pelayan tadi pergi meninggalkan kami untuk menanyakan pertanyaan kami kepada rekan nya yang lain di belakang.
Tak lama dia datang,
“Kalau yang paket super lebih besar dari paket besar, Pa.” jelas sang pelayan.
“Oh gitu. Kalau ini tahu nya satu porsi ada berapa, ya?” aku bertanya lagi
“Mmm, sebentar ya, Pa” lagi-lagi sang pelayan meninggalkan kami.
“Ini gimana, sih?” rekanku mulai emosi, mungkin juga karena dia lapar.
Tak lama datang lah sang pelayan tadi ditemani oleh seorang pelayan lain.
“Pa, tahunya satu porsi isinya 6 potong.” Teman sang pelayan tadi mencoba menjelaskan.
“Kalau gitu, saya pesan paket super plus satu porsi tahu” pesan ku.
“Kalau paket ikan ini, ada yang super juga?” rekan ku juga mulai ingin memesan.
“Mmm sebentar, ya Pa” Keduanya tampak kebingungan. Sesaat mereka memanggil salah satu rekan mereka yang lain. Jadinya ada tiga pelayan melayani pemesanan kami. Pelayan ketiga menghampiri,
“Ada apa?” tanya pelayan ketiga.
“Ini paket ikannya ada yang super juga, nggak?” rekan ku menjelaskan.
“Wah, saya ga tahu, Pa, saya kan bagian juice dan minuman, bukan bagian makanan!” tukas pelayan ketiga.
Naik pitam kami mendengar jawaban itu. Emosi, geregetan.
“Bukan urusan saya, kamu itu bagian apa! Yang jelas kita mau tanya sebelum pesan, supaya jelas!” tak tertahankan emosi ku meledak. Campur aduk, antara cuaca panas, pelayan yang menyebalkan, dan tentunya lapar!
Tak lama datang orang keempat, tampaknya dia pimpinan rumah makan. Semua beres dengan adanya dia, semua jelas, dan pesanan kami datang sesuai permintaan.
Di perjalanan pulang dari Gorontalo, di pesawat, aku membayangkan kejadian di rumah makan itu. Aku membayangkan kejadian itu menimpa suatu perusahaan, atau menimpa perusahaan tempat kita bekerja. Aku membayangkan aku seorang staff back office, misalnya aku ini staff dari divisi keuangan, dan ada yang bertanya padaku,
“Pa, sebenarnya apa target market produk tempat Bapak bekerja?”
“Oh, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang keuangan, bukan orang marketing!”
Aku membayangkan betapa kecewanya orang yang bertanya, sama kecewanya aku terhadap para pelayan rumah makan tadi. Atau kita balik, seandainya aku orang marketing dan ada yang bertanya kepada ku mengenai produksi,
“Pa, sebetulnya berapa botol per menit, mesin produksi nya bisa menghasilkan produk Bapak?”
“Wah, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang marketing, bukan orang produksi!”
Lagi-lagi, pasti orang itu akan kecewa dengan jawaban kita.
Meski masakan tempat aku makan tadi cukup enak, namun rasa kecewa tetap membekas di hati. Jika aku kembali ke kota itu, belum tentu aku akan mampir ke rumah makan yang sama, pasti rasa kecewa akan teringat kembali.
Meski produk kita bagus, unggul, dan bermanfaat tinggi, rasanya akan sia-sia jika konsumen kecewa akibat jawaban-jawaban tidak bertanggung jawab seperti tadi. Dan jika konsumen sudah kecewa, fatal akibatnya.
Pastinya itulah yang dinamakan marketing oriented. Orientasi yang menempatkan seluruh karyawan dari berbagai bidang sebagai marketer. Tidak hanya bisa menjual, tapi juga mampu menjelaskan seluruh aspek perusahaan jika ada yang bertanya. Orang keuangan bisa menjawab aspek marketing, sebaliknya orang marketing bisa menjawab aspek keuangan.
Semoga bisa bermanfaat.
Bogor, 1 Februari 09
Label:
Manajemen
Langganan:
Postingan (Atom)
