Umur kakek 94 tahun saat dia meninggal. Umur yang sudah sangat tua untuk ukuran manusia saat ini. Jika manusia dijatah berumur 63 tahun –sesuai umur ketika Rasulullah SAW wafat- maka kakek sudah mendapat bonus 31 tahun.
Tiga bulan sebelum Kakek jatuh sakit, beliau masih aktif berjualan kayu. Menjaga kios kayunya, membeli kayu dari pemasok di Ciawi, dan menjual kepada orang-orang yang mungkin sedang membangun rumah.
Sakit yang hanya 3 bulan menjelang wafatnya, menunjukkan betapa sehat Kakek selama ini. Jarang aku mendapati Kakek jatuh sakit berat selama ini, paling hanya sakit flu, atau pusing atau sesak nafas, yang aku kira hanya faktor usia.
Cucu Kakek ada 20 orang. Sembilan dari anak pertamanya, sembilan dari anak ketiganya, dan dua dari anak keduanya. Yang dua dari anak keduanya adalah aku. Aku terhitung bukan cucu kesayangannya, hanya sepertinya Kakek selalu mengingat aku, sekali lagi bukan karena cucu kesayangan, tapi karena aku lah satu-satunya cucu yang jarang muncul di rumahnya.
Sepupu ku menyampaikan pesan agar aku datang ke kampung, sebentar saja. Di saat sebelum Kakek sakit, hampir setiap hari Kakek bertanya pada para sepupu di kampung,
“Dindin mana?”
Sebenarnya berkali-kali Bapak, Ibu, dan semua kerabat menghubungiku untuk menjenguk Kakek. Namun memang aku tidak menganggap serius ajakan itu. Aku pikir saat itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang sakit, apalagi tidak ada tanda-tanda Kakek akan pergi.
Dua minggu sebelum Kakek sakit, tiba-tiba hatiku tergerak, terpanggil untuk pulang kampung sekedar melihat Kakek. Ketika bertemu, aku melihat Kakek begitu berbeda, meski terlihat sehat, namun Kakek mulai ringkih, nafasnya mulai tersengal, jalannya mulai terseok, dan bicaranya mulai tidak jelas. Kenapa Kakek? Apakah ini tanda-tanda Kakek akan pergi?
Kutepis kekhawatiran itu. Kuajak Kakek jalan-jalan, hanya berdua, kubawa dia ke salah satu Mall d Bogor. Lamban kami berjalan, kutuntun Kakek, kugandeng tangannya, dan kudengarkan seluruh pembicaraannya meski seringkali aku tidak mengerti apa yang Kakek katakan. Kubebaskan Kakek membeli apapun yang diinginkannya, bahkan jika pun waktu itu Kakek mengambil barang termahal, sepertinya aku akan sanggup membelinya. Tapi, sukurlah, Kakek mengambil barang-barang yang harganya cukup rasional untuk kantong ku.
Itulah kali terakhir aku jalan dengan Kakek. Karena dua minggu kemudian, kondisi Kakek memburuk, Kakek hanya bisa terbaring, tidak mau makan, tidak mau minum. Tapi yang aku syukuri adalah, lidahnya tak pernah berhenti berzikir.
Sejak sakit, aku intens mengunjungi Kakek, setidaknya seminggu sekali. Kubawakan segala makanan kesukaannya, kubawakan makanan yang tiba-tiba dia inginkan. Sepupuku sering menelpon, menyampaikan permintaan Kakek. Misalnya, tiba-tiba saja Kakek minta buah duku, padahal saat itu sama sekali bukan musim duku.
Terkadang ketika tidur, kupandangi Kakek. Aku teringat peristiwa beberapa waktu yang lalu. Aku ingat, kami bertiga –Aku, Bapak, dan Kakek- tiga pria seketurunan, berdiri di pinggir lahan kebun pala milik Kakek. Semasa aku kecil, kebun pala itu menjadi markas bermain aku dan para sepupuku. Kakek dan Bapak berniat membuat rumah kontrakan di kebun pala itu. Penghasilan dari pala sudah sangat tidak memadai, sementara bisnis kos-kosan menjadi sangat menggiurkan. Aku tidak setuju dengan rencana itu, tapi apa daya, ibarat sebuah kerajaan, ucapan Kakek ibarat fatwa seorang raja, dan aku hanya seorang pangeran kecil yang dianggap belum bisa berpikir jernih.
Dan saat ini, kebun pala itu menjadi kebun kos-kosan. Lebih menguntungkan memang, tapi kerugian besar bagi alam.
Tiga hari menjelang wafatnya Kakek.
Siang itu aku datang ke rumah Kakek. Sebenarnya masih jam kerja, namun karena aku sedang berdinas ke Sukabumi, jadi sebentar aku mampir. Seperti biasa, aku bawakan beberapa botol minuman isotonic bermerk Pocari Sweat tempat dimana aku bekerja.
Bicara Kakek semakin tak jelas. Sedikit aku mengerti,
“Aki mah sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa!”
“Satu-satunya yang bisa masuk ke Aki cuma ini!” sambil menunjuk minuman isotonic merk Pocari Sweat.
Maaf ini bukan iklan, jikapun aku tidak bekerja di perusahaan ini, aku akan tetap menyebut merk ini, karena kenyataannya memang sejak lama Kakek suka minuman itu.
Dua hari kemudian, kakek meninggal dalam usia 94 tahun. Lelah pasti beliau berkiprah di dunia. Sudah saatnya beliau menjalani kehidupan lain di dunia sana. Semoga kehidupan itu lebih baik untuk nya
Satu hal yang aku banggakan adalah, lidah Kakek tetap dibasahi Pocari Sweat dan zikir hingga akhir hayatnya.
Jakarta, 10 Februari 09
Senin, 16 Februari 2009
"Olimpiade Bahasa Inggris? Emang Ada?"
Tahun 1991, di kelas 2 SMA.
Saat itu sedang marak-maraknya penyelenggaraan olimpiade. Bukan olimpiade olahraga seperti yang sebelumnya kita kenal. Tapi Olimpiade Fisika dan Olimpiade Matematika yang diselenggarakan untuk menjaring jenius-jenius dari setiap kelas untuk diorbitkan menjadi fisikawan dan matematikawan handal se-Indonesia bahkan se-dunia.
Biasanya, jenius-jenius terpilih dari tiap kelas akan diberikan pelajaran tambahan di luar jam pelajaran regular. Mereka mengadu argumen, mengasah otak, menjajal soal, dan melakukan eksperimen.
Biasanya, kelas yang digunakan untuk belajar adalah kelas di koridor sekolah. Suatu koridor yang akan dilalui siapapun yang berlalu lalang di sekolah. Siapa pun yang melintasi koridor akan melihat mereka dibekali ilmu-ilmu Fisika dan Matematika
Dari luar kelas, aku melihat mereka belajar.
Terbersit rasa iri,
“Kenapa aku tidak sepintar mereka?”
Sudahlah, lupakan saja, ada yang lebih penting yang akan aku sampaikan.
Adalah S, sahabatku sejak SMP. Di SMA kami sekelas di kelas 2 dan 3. S adalah aktivis sekolah. Berbagai organisasi diikuti, S juga adalah salah satu petinggi OSIS di SMA kami. Semua kenal S, orangnya periang, mudah bergaul, dan “masuk” dengan kelompok mana pun di sekolah.
Namun ada satu hal yang mengganjal tentang diri S, yaitu “gagap” dalam pelajaran bahasa Inggris. Keringat dingin bercucuran ketika diminta maju ke depan untuk berbicara dalam bahasa Inggris bahkan untuk sekedar mengatakan, “My name is S”
Suatu hari, S tidak masuk kelas bahasa Inggris, bukan karena sakit, tapi memang karena tidak mau masuk. Padahal bertepatan hari itu ada kuis dadakan yang harus diikuti dan mempengaruhi nilai akhir.
Berarti S harus ikut kuis susulan! Sendiri! Tanpa bantuan teman!
Singkat cerita, hari kuis susulan dimulai. S tidak belajar, hanya berbekal soal dan jawaban kuis kemarin. Bersamaan dengan S, ada 4 orang teman yang juga ikut kuis susulan. Keempat orang teman itu memang benar-benar tidak ikut kuis karena sakit, bukan karena menghindar. Karena ke empat orang ini adalah para jenius bahasa Inggris di sekolah. Sementara S? Tidak bisa disebut jenius bahasa Inggris, memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris saja, keringat dingin.
Kuis susulan dilakukan di sebuah kelas yang berada di koridor sekolah, persis kelas yang sama dengan tempat para peserta olimpiade fisika dan matematika belajar. Peserta kuis susulan tersebut otomatis terlihat oleh siapa pun yang lewat. Benar-benar mirip saat para peserta olimpiade fisika dan matematika sedang belajar.
“Ada olimpiade apa lagi, nih?” Setengah berbisik, teman-teman kelas lain yang tidak mengerti, mulai bertanya-tanya.
Namun dengan bangga, menunjukkan canda sombongnya, dari dalam kelas, S berbisik keras, “Olimpiade Bahasa Inggris!”
“Olimpiade Bahasa Inggris? Emang ada?”
“Ada kali!”
“Apa sih yang ga bisa di-olimpiade-in?”
“Lagi musim olimpiade , ya?”
Sahut menyahut pembicaraan beredar di sekolah mengenai keberadaan olimpiade bahasa Inggris hari itu.
“Tapi, masak S yang jadi peserta olimpiade, ga mungkin, ah!”
Edaran gossip mulai diragukan kebenarannya. Keraguan itu bukan karena olimpiade bahasa Inggris nya. Olimpiade itu mungkin saja benar-benar diadakan. Tapi keraguan itu disebabkan oleh keikutsertaan S dalam kelas itu.
“Kalau S ikut olimpiade bahasa Inggris, berarti tadi malam ada kucing dimandiin!”
“Dan nanti malam akan ada hujan badai!”
Begitulah kira-kira perwakilan kata-kata keraguan di benak teman-teman dari kelas lain.
Memang bukan olimpiade bahasa Inggris yang diikuti S. Hanya sekedar kuis susulan yang kebetulan bergabung dengan para jenius bahasa Inggris dari kelas lain.
Sejak saat itu, S tetap dikenal sebagai peserta olimpiade bahasa Inggris. Istilah itu menjadi idiom tetap yang melekat pada diri S sampai jauh waktu berjalan. Canda sombong itu tetap melekat,
“Gini-gini, gw pernah menjadi peserta olimpiade bahasa Inggris!”
Atau
“Sini…sini, gua terjemahin! Masak mantan peserta olimpiade bahasa Inggris ga bisa terjemahin!”
Atau
“Tenang…tenang…kalau debatnya harus pake bahasa Inggris, biar gua yang maju!”
Begitulah kira-kira pernyataan canda sombong yang keluar dari mulut S. Semuanya memang kental nuansa sombong, namun tetap dalam koridor canda. Kami tertawa, kami terhibur, dan kami enjoy dengan kehadiran S.
Jauh terus kami bahagia akan kehadiran S, jauh sampai saat kami bersama dalam satu kos di Jatinangor, jauh sampai saat kami berada dalam satu fakultas di Universitas Padjadjaran.
Dan sekarang, saat ini.
S menjadi salah satu petinggi di sebuah perusahaan retail asing terkemuka di Indonesia. Tentunya komunikasi bahasa Inggris menjadi keharusan ketika harus bertemu dengan para atasan perusahaan tersebut yang dominan bule.
Sudah canggihkah bahasa Inggris S saat ini?
Entahlah! Aku harus mengkonfirmasi ulang mengenai hal ini. Kapan-kapan aku akan menemuinya dan aku kabari melalui tulisan-tulisan ku selanjutnya.
Gorontalo, 30 Januari 09
Saat itu sedang marak-maraknya penyelenggaraan olimpiade. Bukan olimpiade olahraga seperti yang sebelumnya kita kenal. Tapi Olimpiade Fisika dan Olimpiade Matematika yang diselenggarakan untuk menjaring jenius-jenius dari setiap kelas untuk diorbitkan menjadi fisikawan dan matematikawan handal se-Indonesia bahkan se-dunia.
Biasanya, jenius-jenius terpilih dari tiap kelas akan diberikan pelajaran tambahan di luar jam pelajaran regular. Mereka mengadu argumen, mengasah otak, menjajal soal, dan melakukan eksperimen.
Biasanya, kelas yang digunakan untuk belajar adalah kelas di koridor sekolah. Suatu koridor yang akan dilalui siapapun yang berlalu lalang di sekolah. Siapa pun yang melintasi koridor akan melihat mereka dibekali ilmu-ilmu Fisika dan Matematika
Dari luar kelas, aku melihat mereka belajar.
Terbersit rasa iri,
“Kenapa aku tidak sepintar mereka?”
Sudahlah, lupakan saja, ada yang lebih penting yang akan aku sampaikan.
Adalah S, sahabatku sejak SMP. Di SMA kami sekelas di kelas 2 dan 3. S adalah aktivis sekolah. Berbagai organisasi diikuti, S juga adalah salah satu petinggi OSIS di SMA kami. Semua kenal S, orangnya periang, mudah bergaul, dan “masuk” dengan kelompok mana pun di sekolah.
Namun ada satu hal yang mengganjal tentang diri S, yaitu “gagap” dalam pelajaran bahasa Inggris. Keringat dingin bercucuran ketika diminta maju ke depan untuk berbicara dalam bahasa Inggris bahkan untuk sekedar mengatakan, “My name is S”
Suatu hari, S tidak masuk kelas bahasa Inggris, bukan karena sakit, tapi memang karena tidak mau masuk. Padahal bertepatan hari itu ada kuis dadakan yang harus diikuti dan mempengaruhi nilai akhir.
Berarti S harus ikut kuis susulan! Sendiri! Tanpa bantuan teman!
Singkat cerita, hari kuis susulan dimulai. S tidak belajar, hanya berbekal soal dan jawaban kuis kemarin. Bersamaan dengan S, ada 4 orang teman yang juga ikut kuis susulan. Keempat orang teman itu memang benar-benar tidak ikut kuis karena sakit, bukan karena menghindar. Karena ke empat orang ini adalah para jenius bahasa Inggris di sekolah. Sementara S? Tidak bisa disebut jenius bahasa Inggris, memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris saja, keringat dingin.
Kuis susulan dilakukan di sebuah kelas yang berada di koridor sekolah, persis kelas yang sama dengan tempat para peserta olimpiade fisika dan matematika belajar. Peserta kuis susulan tersebut otomatis terlihat oleh siapa pun yang lewat. Benar-benar mirip saat para peserta olimpiade fisika dan matematika sedang belajar.
“Ada olimpiade apa lagi, nih?” Setengah berbisik, teman-teman kelas lain yang tidak mengerti, mulai bertanya-tanya.
Namun dengan bangga, menunjukkan canda sombongnya, dari dalam kelas, S berbisik keras, “Olimpiade Bahasa Inggris!”
“Olimpiade Bahasa Inggris? Emang ada?”
“Ada kali!”
“Apa sih yang ga bisa di-olimpiade-in?”
“Lagi musim olimpiade , ya?”
Sahut menyahut pembicaraan beredar di sekolah mengenai keberadaan olimpiade bahasa Inggris hari itu.
“Tapi, masak S yang jadi peserta olimpiade, ga mungkin, ah!”
Edaran gossip mulai diragukan kebenarannya. Keraguan itu bukan karena olimpiade bahasa Inggris nya. Olimpiade itu mungkin saja benar-benar diadakan. Tapi keraguan itu disebabkan oleh keikutsertaan S dalam kelas itu.
“Kalau S ikut olimpiade bahasa Inggris, berarti tadi malam ada kucing dimandiin!”
“Dan nanti malam akan ada hujan badai!”
Begitulah kira-kira perwakilan kata-kata keraguan di benak teman-teman dari kelas lain.
Memang bukan olimpiade bahasa Inggris yang diikuti S. Hanya sekedar kuis susulan yang kebetulan bergabung dengan para jenius bahasa Inggris dari kelas lain.
Sejak saat itu, S tetap dikenal sebagai peserta olimpiade bahasa Inggris. Istilah itu menjadi idiom tetap yang melekat pada diri S sampai jauh waktu berjalan. Canda sombong itu tetap melekat,
“Gini-gini, gw pernah menjadi peserta olimpiade bahasa Inggris!”
Atau
“Sini…sini, gua terjemahin! Masak mantan peserta olimpiade bahasa Inggris ga bisa terjemahin!”
Atau
“Tenang…tenang…kalau debatnya harus pake bahasa Inggris, biar gua yang maju!”
Begitulah kira-kira pernyataan canda sombong yang keluar dari mulut S. Semuanya memang kental nuansa sombong, namun tetap dalam koridor canda. Kami tertawa, kami terhibur, dan kami enjoy dengan kehadiran S.
Jauh terus kami bahagia akan kehadiran S, jauh sampai saat kami bersama dalam satu kos di Jatinangor, jauh sampai saat kami berada dalam satu fakultas di Universitas Padjadjaran.
Dan sekarang, saat ini.
S menjadi salah satu petinggi di sebuah perusahaan retail asing terkemuka di Indonesia. Tentunya komunikasi bahasa Inggris menjadi keharusan ketika harus bertemu dengan para atasan perusahaan tersebut yang dominan bule.
Sudah canggihkah bahasa Inggris S saat ini?
Entahlah! Aku harus mengkonfirmasi ulang mengenai hal ini. Kapan-kapan aku akan menemuinya dan aku kabari melalui tulisan-tulisan ku selanjutnya.
Gorontalo, 30 Januari 09
Label:
Begitu Saja Bandelku...
Anak Kelas Fisika Yang Ga Suka Fisika
Sejak SMP, sejak ada pemisahan bidang Ilmu Pengetahuan Alam, menjadi Fisika, Kimia, dan Biologi, tidak satupun ketiga sub bidang Ilmu Pengetahuan Alam itu yang aku suka. Belum apa-apa aku merasa sama sekali tidak mengerti apa yang diterangkan guru di kelas.
Di kelas Biologi, alih-alih memahami apa yang diterangkan, aku malah berpikir dan ngomel dalam hati,
”Siapa sih yang iseng kasih nama tumbuhan-tumbuhan ini dengan nama aneh?”
”Kenapa sih kita mesti menghafal istilah-istilah itu, toh nanti pun kita bisa lihat buku kalau kita lupa?”
Di kelas Kimia, sama saja,
”Siapa yang iseng memberi nama bahan-bahan itu dengan Fe, Cu, Li?”
”Siapa yang kurang kerjaan memisahkan unsur-unsur sehingga muncul simbol H, O, dan C yang kalau disambung-sambung menjadi rantai yang membingungkan?”
Di kelas Fisika, agak mendingan, tapi setali tiga uang,
”Kenapa sih, iseng amat hitung-hitung gerakan bandul?”
”Kenapa, sih, urusan air tumpah dari bak mandi aja langsung heboh dan bilang : Eureka?”
Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terus menggelayuti dan meracuni fikiran ku. Makin menjauhkan aku dari ilmu-ilmu itu.
Anehnya, meski begitu aku tetap memilih Jurusan Fisika sebagai kelas ku di kelas 2 dan 3. Entahlah, meski aku tidak nyaman, namun aku memaksakan diri untuk masuk kelas Fisika. Iming-iming masa depan cerah, UMPTN bisa kemana aja, dan gengsi, membuat aku memutuskan memilih Fisika sebagai kelas ku.
Hingga suatu saat di awal kelas 2,
”Minggu depan kita ulangan untuk Bab 2 dan 3.” Pak N, guru Fisika kami, berteriak lantang.
Pak N memang aku rasakan berbeda dengan guru Fisika lainnya, baru kali ini aku mengerti akan Fisika setelah diajari oleh Pak N. Baru kali ini logika-logika dasar Fisika aku pahami. Ya, baru kali ini! Setelah sekian tahun!
Semangat membara menjelang ulangan. Kepercayaan diriku akan pelajaran Fisika mencapai tingkat tertinggi. Suatu puncak pencapaian sempurna bagi orang ”gagap” Fisika seperti aku.
Saking semangatnya, setiap hari aku bawa buku pelajaran Fisika, ketika ada waktu luang aku belajar Fisika, waktu istirahat dan menjelang mulai pelajaran aku belajar Fisika. Sampai-sampai ada satu teman yang panik melihat aku belajar Fisika, karena mengira ulangan Fisika nya hari ini.
Hari H ulangan Fisika, aku merasa sangat siap, sangat PD, dan yakin akan hasil terbaik yang akan aku dapat. Duduk pun nomor dua dari depan –biasanya waktu ulangan aku menyingkir ke belakang.
Soal demi soal aku kerjakan dengan penuh percaya diri. Ada soal pilihan ganda dan juga essay. Semua aku kerjakan tanpa lirik kiri kanan mengharap bantuan teman. Seluruh soal pernah aku coba semua, hanya berbeda angka nya saja.
Kepercayaan diri tertinggi. Lagi-lagi itu istilah yang sangat tepat menggambarkan diriku saat itu.
Seminggu kemudian.
Saatnya pengumuman!
Pak N dengan penuh senyum melangkah masuk kelas, aku pun demikian, ibarat hari itu adalah hari gajian, maka aku yakin akan mendapat upah tertinggi saat itu.
Satu per satu anak-anak dipanggil untuk menerima kertas ulangan.
Ada yang bergumam, ”Yes!”
Ada yang mengepalkan tangan seraya berkata, ”Mantap!”
Ada juga yang tertunduk lesu tanpa ekspresi.
”Kok aku belum dipanggil?” gumamku
Aku lihat sekeliling, nilai temanku bervariatif, ada yang 7,2 atau 6,5 atau ada juga yang 10. Nilai 10 ini memang mutlak milik beberapa jenius kelas yang tanpa belajar pun mereka sudah sangat memahami Fisika. Satu-satunya pelajaran yang mereka sulit berprestasi hanya olahraga!
”Dindin Suzaridian!”
Namaku dipanggil.
Mantap aku melangkah, setengah deg-degan, namun yakin akan mendapatkan nilai yang tidak mengecewakan.
Kertas ulangan aku ambil.
Mataku terbelalak!
Tertera nilai 2,8!
Setengah tidak percaya aku pandangi Pak N.
Pa N mengingatkan,
”Belajar lagi, Din! Nilai mu terendah di kelas!”
”Gila! Belajar lagi?”
”Tidak cukupkah aku seminggu ini belajar?”
”Inikah hasil kerja keras ku seminggu ini? Terendah di kelas?”
Kertas itu aku lipat dan aku taruh di saku baju. Tidak aku remas-remas dan aku buang. Aku tidak seekspresif itu. Beberapa teman ku bertanya, namun tidak satu pun aku dengar dengan jelas pertanyaan mereka. Atau mungkin aku sudah tidak peduli.
Lemas aku melangkah pulang.
Seandainya Fisika itu sesosok gadis, aku mungkin berkata,
”Inikah balas jasa engkau kepada ku setelah aku memelihara cinta ku untuk mu?”
Sejak itu, semangat ku pudar. Cinta ku untuk Fisika luntur. Habis sudah terkikis kekecewaan mendalam.
Sejak itu, aku tak mau lagi memelihara cinta untuk Fisika, cukup sekedar kenal dan bebas dari ulangan. Biarpun Fisika semakin cantik dan menarik untuk dipacari, tapi maaf, aku telah patah hati.
Aku sudah punya pacar baru.
Ilmu Sejarah!
Ya, Ilmu Sejarah!
Dia menghargai ku tinggi sekali meski aku tidak mencintainya.
Dia memberikan apresiasi tertinggi, meski aku tidak bekerja keras mengejarnya.
Dan akhirnya, inilah aku, tetap membenci Kimia, tetap menjauhi Biologi, dan tetap skeptis dengan Fisika, meski aku sadar bahwa selama ini aku memanfaatkan nya setiap hari.
Di kelas Biologi, alih-alih memahami apa yang diterangkan, aku malah berpikir dan ngomel dalam hati,
”Siapa sih yang iseng kasih nama tumbuhan-tumbuhan ini dengan nama aneh?”
”Kenapa sih kita mesti menghafal istilah-istilah itu, toh nanti pun kita bisa lihat buku kalau kita lupa?”
Di kelas Kimia, sama saja,
”Siapa yang iseng memberi nama bahan-bahan itu dengan Fe, Cu, Li?”
”Siapa yang kurang kerjaan memisahkan unsur-unsur sehingga muncul simbol H, O, dan C yang kalau disambung-sambung menjadi rantai yang membingungkan?”
Di kelas Fisika, agak mendingan, tapi setali tiga uang,
”Kenapa sih, iseng amat hitung-hitung gerakan bandul?”
”Kenapa, sih, urusan air tumpah dari bak mandi aja langsung heboh dan bilang : Eureka?”
Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terus menggelayuti dan meracuni fikiran ku. Makin menjauhkan aku dari ilmu-ilmu itu.
Anehnya, meski begitu aku tetap memilih Jurusan Fisika sebagai kelas ku di kelas 2 dan 3. Entahlah, meski aku tidak nyaman, namun aku memaksakan diri untuk masuk kelas Fisika. Iming-iming masa depan cerah, UMPTN bisa kemana aja, dan gengsi, membuat aku memutuskan memilih Fisika sebagai kelas ku.
Hingga suatu saat di awal kelas 2,
”Minggu depan kita ulangan untuk Bab 2 dan 3.” Pak N, guru Fisika kami, berteriak lantang.
Pak N memang aku rasakan berbeda dengan guru Fisika lainnya, baru kali ini aku mengerti akan Fisika setelah diajari oleh Pak N. Baru kali ini logika-logika dasar Fisika aku pahami. Ya, baru kali ini! Setelah sekian tahun!
Semangat membara menjelang ulangan. Kepercayaan diriku akan pelajaran Fisika mencapai tingkat tertinggi. Suatu puncak pencapaian sempurna bagi orang ”gagap” Fisika seperti aku.
Saking semangatnya, setiap hari aku bawa buku pelajaran Fisika, ketika ada waktu luang aku belajar Fisika, waktu istirahat dan menjelang mulai pelajaran aku belajar Fisika. Sampai-sampai ada satu teman yang panik melihat aku belajar Fisika, karena mengira ulangan Fisika nya hari ini.
Hari H ulangan Fisika, aku merasa sangat siap, sangat PD, dan yakin akan hasil terbaik yang akan aku dapat. Duduk pun nomor dua dari depan –biasanya waktu ulangan aku menyingkir ke belakang.
Soal demi soal aku kerjakan dengan penuh percaya diri. Ada soal pilihan ganda dan juga essay. Semua aku kerjakan tanpa lirik kiri kanan mengharap bantuan teman. Seluruh soal pernah aku coba semua, hanya berbeda angka nya saja.
Kepercayaan diri tertinggi. Lagi-lagi itu istilah yang sangat tepat menggambarkan diriku saat itu.
Seminggu kemudian.
Saatnya pengumuman!
Pak N dengan penuh senyum melangkah masuk kelas, aku pun demikian, ibarat hari itu adalah hari gajian, maka aku yakin akan mendapat upah tertinggi saat itu.
Satu per satu anak-anak dipanggil untuk menerima kertas ulangan.
Ada yang bergumam, ”Yes!”
Ada yang mengepalkan tangan seraya berkata, ”Mantap!”
Ada juga yang tertunduk lesu tanpa ekspresi.
”Kok aku belum dipanggil?” gumamku
Aku lihat sekeliling, nilai temanku bervariatif, ada yang 7,2 atau 6,5 atau ada juga yang 10. Nilai 10 ini memang mutlak milik beberapa jenius kelas yang tanpa belajar pun mereka sudah sangat memahami Fisika. Satu-satunya pelajaran yang mereka sulit berprestasi hanya olahraga!
”Dindin Suzaridian!”
Namaku dipanggil.
Mantap aku melangkah, setengah deg-degan, namun yakin akan mendapatkan nilai yang tidak mengecewakan.
Kertas ulangan aku ambil.
Mataku terbelalak!
Tertera nilai 2,8!
Setengah tidak percaya aku pandangi Pak N.
Pa N mengingatkan,
”Belajar lagi, Din! Nilai mu terendah di kelas!”
”Gila! Belajar lagi?”
”Tidak cukupkah aku seminggu ini belajar?”
”Inikah hasil kerja keras ku seminggu ini? Terendah di kelas?”
Kertas itu aku lipat dan aku taruh di saku baju. Tidak aku remas-remas dan aku buang. Aku tidak seekspresif itu. Beberapa teman ku bertanya, namun tidak satu pun aku dengar dengan jelas pertanyaan mereka. Atau mungkin aku sudah tidak peduli.
Lemas aku melangkah pulang.
Seandainya Fisika itu sesosok gadis, aku mungkin berkata,
”Inikah balas jasa engkau kepada ku setelah aku memelihara cinta ku untuk mu?”
Sejak itu, semangat ku pudar. Cinta ku untuk Fisika luntur. Habis sudah terkikis kekecewaan mendalam.
Sejak itu, aku tak mau lagi memelihara cinta untuk Fisika, cukup sekedar kenal dan bebas dari ulangan. Biarpun Fisika semakin cantik dan menarik untuk dipacari, tapi maaf, aku telah patah hati.
Aku sudah punya pacar baru.
Ilmu Sejarah!
Ya, Ilmu Sejarah!
Dia menghargai ku tinggi sekali meski aku tidak mencintainya.
Dia memberikan apresiasi tertinggi, meski aku tidak bekerja keras mengejarnya.
Dan akhirnya, inilah aku, tetap membenci Kimia, tetap menjauhi Biologi, dan tetap skeptis dengan Fisika, meski aku sadar bahwa selama ini aku memanfaatkan nya setiap hari.
Label:
Begitu Saja Bandelku...
“Dindin yang mana, ya? Ada dua tuh!”
Ada dua Dindin di Jurusan Hubungan Internasional Angkatan 93 Universitas Padjadjaran. Yang pertama aku, Dindin Suzaridian, yang kedua Dindin Adiwardana Natasukarya. Banyak kesamaan antara kami berdua. Diantaranya, kami berasal dari kota yang sama –Bogor- dan SMA yang sama, SMAN 1 Bogor.
Meski tidak berada dalam satu kos yang sama, kedua Dindin ini berada dalam “gank” yang sama (kalau boleh meminjam kata-kata “gank”), sama-sama berada di kawasan Jatinangor, dan sering main sepakbola dalam satu tim.
Suatu hari, saat dosen tidak hadir, saat-saat nongkrong di koridor kampus, datang menghampiri kami seorang mahasiswi dari jurusan lain.
Celingak celinguk.
Dan menyapa lah dia,
“Hei, hallo!”
“Hallo juga” hampir serempak, aku, Sogun, Edo, Sohen, Dindin AN dan teman-teman lain balas menyapa.
“Gua lagi mau nyari Dindin, ada ga ya?”
“Ada titipan dari saudaranya di Bogor.” Mahasiswi itu mulai bicara.
“Dindin mana?” timpal Sogun
Aku dan Dindin AN sama-sama terdiam. Sengaja tidak bereaksi ketika orang yang dicari adalah Dindin.
“Dindin, yang anak HI 93?” timpal si mahasiswi.
“Dindin yang HI 93, ada dua!” Sohen ikut nimbrung.
“Dindin HI 93 yang anak Bogor!” mahasiswi itu lagi.
“Iya, Dindin HI 93 yang anak Bogor ada dua!” Sogun ikut-ikutan.
“Dindin HI 93, anak Bogor, dari SMA N 1 Bogor!” mulai frustasi mahasiswi itu.
“Iya, Dindin HI 93, anak Bogor dari SMAN 1 Bogor, ada dua!” Edo mulai jahil.
“Ih, ini serius, ada titipan, jangan bercanda!” emosi mulai mendera sang mahasiswi.
“Lho siapa yang bercanda? Emang ada dua!” Sogun bertindak sebagai kompor.
Berlalu lah sang mahasiswi itu. Kesal! Dongkol! Aku dan Dindin tetap tidak bereaksi. Ikut cekikikan. Ikut menikmati adegan itu.
Beberapa hari kemudian, si mahasiswi itu datang menghampiri ku. Wuih, mungkin dia marah, mungkin dia ingin melampiaskan kemarahannya pada ku. Atau mungkin dia sudah tahu yang mana Dindin yang dia maksud.
Benar saja,
“Rese, lu! Yang gua maksud Dindin waktu itu tuh, elu!” marah mahasiswi itu.
“Nih, ada titipan dari Bogor, dari Tante N, buat lu!”
“Yakin yang dimaksud, Dindin gua?” Aku pun jadi ragu, jangan-jangan bukan Dindin aku. Tapi demi mendengar nama Tante N, aku langsung yakin, itu aku. Karena Tante N adalah sepupu dari Ibu ku.
“Iya bener! Masak lu ga kenal Tante N?”
“Kok lu tau Dindin yang dimaksud itu gua?”
“Tahu lah, tadi malem gua telepon Tante N, mastiin nama panjang lu siapa!”
“Ok, deh, thanks ya! Dan sorry atas kejadian waktu itu!”
“Iya nih! Padahal lu waktu itu ada, kan? Rese….!” Melengos mahasiswi itu meninggalkan ku.
“Eh sekali lagi, thanks ya!”
“Iya..iya!” sambil bergegas dan tanpa melihat mahasiswi itu menjawab.
Peristiwa itu menjadi tonggak awal pembedaan penyebutan nama bagi kami berdua. Aku dipanggil Dindin S (mesti lengkap dengan S nya) sementara Dindin yang satu lagi dipanggil Dindin AN (mesti lengkap juga dengan AN nya).
Sampai saat ini pun ketika kami sudah sama-sama menikah, dan sama-sama tinggal di Bogor, tetap ada kemiripan, yaitu anak laki-laki pertama kami bersekolah dan sekelas di TK yang sama. Demikian pula anak perempuan kami, sekolah dan sekelas di playgroup yang sama.
Bahkan anak pertama ku sering saling bercanda dengan anak pertama Dindin AN, ”Hei, kamu anaknya Bapak Dindin, ya!” serempak mereka berteriak satu sama lain.
Istri ku dan istri nya Dindin AN pun berasal dari daerah yang sama, yaitu Majalengka. Untung saja, nama istri kami tidak sama, walaupun ternyata mirip dan hanya membolak balikkan huruf nya saja, istriku bernama Nia, sementara istri Dindin AN namanya Ina.
Mirip, kan?
Lhoksemawe, 21 Januari 2009.
Meski tidak berada dalam satu kos yang sama, kedua Dindin ini berada dalam “gank” yang sama (kalau boleh meminjam kata-kata “gank”), sama-sama berada di kawasan Jatinangor, dan sering main sepakbola dalam satu tim.
Suatu hari, saat dosen tidak hadir, saat-saat nongkrong di koridor kampus, datang menghampiri kami seorang mahasiswi dari jurusan lain.
Celingak celinguk.
Dan menyapa lah dia,
“Hei, hallo!”
“Hallo juga” hampir serempak, aku, Sogun, Edo, Sohen, Dindin AN dan teman-teman lain balas menyapa.
“Gua lagi mau nyari Dindin, ada ga ya?”
“Ada titipan dari saudaranya di Bogor.” Mahasiswi itu mulai bicara.
“Dindin mana?” timpal Sogun
Aku dan Dindin AN sama-sama terdiam. Sengaja tidak bereaksi ketika orang yang dicari adalah Dindin.
“Dindin, yang anak HI 93?” timpal si mahasiswi.
“Dindin yang HI 93, ada dua!” Sohen ikut nimbrung.
“Dindin HI 93 yang anak Bogor!” mahasiswi itu lagi.
“Iya, Dindin HI 93 yang anak Bogor ada dua!” Sogun ikut-ikutan.
“Dindin HI 93, anak Bogor, dari SMA N 1 Bogor!” mulai frustasi mahasiswi itu.
“Iya, Dindin HI 93, anak Bogor dari SMAN 1 Bogor, ada dua!” Edo mulai jahil.
“Ih, ini serius, ada titipan, jangan bercanda!” emosi mulai mendera sang mahasiswi.
“Lho siapa yang bercanda? Emang ada dua!” Sogun bertindak sebagai kompor.
Berlalu lah sang mahasiswi itu. Kesal! Dongkol! Aku dan Dindin tetap tidak bereaksi. Ikut cekikikan. Ikut menikmati adegan itu.
Beberapa hari kemudian, si mahasiswi itu datang menghampiri ku. Wuih, mungkin dia marah, mungkin dia ingin melampiaskan kemarahannya pada ku. Atau mungkin dia sudah tahu yang mana Dindin yang dia maksud.
Benar saja,
“Rese, lu! Yang gua maksud Dindin waktu itu tuh, elu!” marah mahasiswi itu.
“Nih, ada titipan dari Bogor, dari Tante N, buat lu!”
“Yakin yang dimaksud, Dindin gua?” Aku pun jadi ragu, jangan-jangan bukan Dindin aku. Tapi demi mendengar nama Tante N, aku langsung yakin, itu aku. Karena Tante N adalah sepupu dari Ibu ku.
“Iya bener! Masak lu ga kenal Tante N?”
“Kok lu tau Dindin yang dimaksud itu gua?”
“Tahu lah, tadi malem gua telepon Tante N, mastiin nama panjang lu siapa!”
“Ok, deh, thanks ya! Dan sorry atas kejadian waktu itu!”
“Iya nih! Padahal lu waktu itu ada, kan? Rese….!” Melengos mahasiswi itu meninggalkan ku.
“Eh sekali lagi, thanks ya!”
“Iya..iya!” sambil bergegas dan tanpa melihat mahasiswi itu menjawab.
Peristiwa itu menjadi tonggak awal pembedaan penyebutan nama bagi kami berdua. Aku dipanggil Dindin S (mesti lengkap dengan S nya) sementara Dindin yang satu lagi dipanggil Dindin AN (mesti lengkap juga dengan AN nya).
Sampai saat ini pun ketika kami sudah sama-sama menikah, dan sama-sama tinggal di Bogor, tetap ada kemiripan, yaitu anak laki-laki pertama kami bersekolah dan sekelas di TK yang sama. Demikian pula anak perempuan kami, sekolah dan sekelas di playgroup yang sama.
Bahkan anak pertama ku sering saling bercanda dengan anak pertama Dindin AN, ”Hei, kamu anaknya Bapak Dindin, ya!” serempak mereka berteriak satu sama lain.
Istri ku dan istri nya Dindin AN pun berasal dari daerah yang sama, yaitu Majalengka. Untung saja, nama istri kami tidak sama, walaupun ternyata mirip dan hanya membolak balikkan huruf nya saja, istriku bernama Nia, sementara istri Dindin AN namanya Ina.
Mirip, kan?
Lhoksemawe, 21 Januari 2009.
Label:
Begitu Saja Bandelku...
Kamis, 12 Februari 2009
Ulang Tahun - Sebuah Renungan dari Tahun ke Tahun
Ini bisa saja terjadi pada siapapun, laki-laki maupun perempuan. Tidak hanya aku. Tapi untuk sekedar berbagi, ini kisah dari tahun ke tahun.
Ulang tahun usia 1
Pada usia ini, pesta ulang tahun dilakukan atas inisiatif orang tua. Tidak mungkin anak umur 1 tahun minta ulang tahunnya di pestakan. Pada usia ini jalanpun masih tertatih-tatih. Jauh-jauh hari sudah belajar cara meniup lilin. Fuh..fuh..fuh.. biasanya lilinnya sulit mati, kalaupun lilinnya mati, lebih disebabkan karena muncratan ludah yang menimpa api di lilin.
Ulang tahun usia 2
Hampir sama dengan ulang tahun usia 2, namun dengan cara jalan yang tidak lagi tertatih-tatih. Sayangnya pada saat akan tiup lilin, justru tertidur dan terpaksa para tamu pesta yang didominasi orang dewasa menunggu, dan makan siang terlebih dahulu. Acara tiup lilin baru akan dilakukan setelah bangun kurang lebih 2 jam kemudian.
Ulang tahun usia 3
Mulai mengerti apa artinya pesta ulang tahun. Diadakan pesta di rumah, biasanya –setelah tiup lilin- lebih fokus membongkar kado pemberian dan memainkannya jika ada kado mainan yang menarik perhatiannya. Ucapan selamat para tamu? Biasanya tidak lagi dihiraukannya
Ulang tahun usia 4 - 5
Masalah tiup lilin sudah tidak lagi menjadi masalah. Tidak perlu air ludah muncrat untuk mematikannya. Sudah pula fasih menyanyikan lagu ulang tahun. Para tamu pun sudah didominasi anak-anak seusianya. Di masa kini, bagi orang tua yang mampu, akan mengadakan acara ulang tahun anaknya di sebuah restoran siap saji
Ulang tahun usia 6 – 12
Pada usia Sekolah Dasar ini, acara ulang tahun tidak lagi di sekolah. Belum pernah aku menemukan acara ulang tahun yang diadakan di kelas SD. Kalaupun ada, itupun spontanitas yang datangnya dari sang guru. Cukup menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama dan mengucapkan selamat. Di rumah? Biasanya tetap ada undangan pesta, dengan para tamu teman-teman sekolah. Undangan nya tertulis
“Datang ya ke pesta ku!”
Ulang tahun usia 13
Usia ABG, masa SMP, ulang tahun biasanya dilakukan dengan mentraktir teman-teman sekolah. Tidak semua teman, tapi hanya teman dekat saja. Si anak berpikir bahwa daripada uangnya buat pesta lebih baik buat beli sesuatu yang jadi hobinya misal beli kaset. Di usia ini mulai menyukai seorang perempuan, naksir, ngeceng. Dan akan sangat surprise sekali ketika si gadis yang disukai mengirimkan kartu ucapan kecil yang bertuliskan,
”Selamat ulang tahun, ya”
Ulang tahun usia 14
Inilah ulang tahun yang untuk pertama kalinya mendapat kado dari pacar. Bisa saja kan usia 14 sudah punya pacar? Kado itu mungil berpita warna merah muda. Isinya mungkin tidak seberapa, namun yang berarti adalah kata pengantar kado itu,
“Selamat ulang tahun, ya, semoga kamu makin sayang sama aku”
Ulang tahun usia 15
Di usia ini pacarnya sudah berbeda. Karena satu dan lain hal, pacar pertama tadi putus dan berganti ke pacar yang lain. Mirip dengan ulang tahun usia 14 tadi, kado dari pacar menjadi hal terpenting di usia ini. Oh ya, selain itu, diadakan acara makan-makan bersama teman-teman dekat. Sementara ada pertemuan khusus dengan sang pacar di suatu tempat dengan ritual menyerahkan kado mungil –yang tetap berpita. Tak penting apa isi kado, yang penting adalah kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 16
Masa SMA seperti ini, ulang tahun diritualkan dengan mentraktir teman-teman. Makin banyak teman, makin banyak pula uang yang dikeluarkan. Namun ada lagi ritual konyol yang seolah menjadi tradisi, yaitu diguyur dengan campuran berbagai minuman, plus air cucian penjual mie ayam, plus telor busuk. Sadis! Persiapan jangka panjang sudah dilakukan teman-teman, dan dirahasiakan sampai hari H. Biasanya akan terjadi balas dendam, karena hal yang sama akan dilakukan pada siapapun yang ulang tahun. Di tahun ini, tetap pacar yang sama memberikan kado khusus, tetap bukan kado mewah, tetap dengan kata-kata pengantar,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 17
Katanya ini masa spesial. Beberapa teman lain yang ulang tahun, khusus mengundang teman lain untuk ke rumah, ada pesta khusus, ruangan disetting seperti diskotik, mulai ada acara dance, dan potong kue dengan potongan pertama diserahkan kepada yang tersayang. Aku? Alhamdulillah tidak melakukan itu. Ritualnya sama dengan usia 16, hanya saja melibatkan teman yang lebih banyak. Dan tetap dengan pacar yang sama, dan tetap dengan kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 18
Mirip usia 17, namun tidak lagi ada traktir berlebihan. Kembali ke teman-teman dekat dan yang pasti tetap dengan pacar yang sama dengan kado istimewa, namun ditambah kata-kata,
“Kalau nanti kamu kuliah, masih kah kamu sayang sama aku?”
Ulang tahun usia 19
Masa kuliah di Bandung, teman-teman baru, ritual utama : traktir teman dekat. Ulang tahun pertama jauh dari pacar, di hari ulang tahun ucapan selamat hanya dilakukan via telepon. Dengan ucapan,
“Selamat ulang tahun, ya. Aku kangen!”
Kado dari sang pacar baru diserahkan beberapa minggu kemudian. Di tahun ini pula mulai ada beberapa secret admirer, yang tiba-tiba memberikan kado khusus di hari itu. Ucapannya sederhana, tak ada yang berlebihan, hanya,
“Selamat ulang tahun, ya”
Ibu datang di hari ulang tahun itu, dan aku pun berkata,
“Mama, minta uang tambahan dong, buat traktir teman?”
Ulang tahun usia 20
Ritual standar, makan-makan dengan teman dekat. Sang pacar telah pergi, tak tahan karena jauh ditinggal. Pacar baru menjelang dan kadopun datang. Kado nya pun tetap sederhana, tak ada yang mewah, namun dengan tulisan,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 21
Teman-teman semakin sedikit yang menyadari hari ulang tahun itu. Kalau bukan kita yang traktir makan, mereka tidak tahu kalau kita ulang tahun. Pacar di usia 20 tidak bertahan lama. Kembali datang pacar baru. Kali ini pacaran yang lebih serius, mungkin pengalaman kegagalan sebelumnya. Kado pun datang dari sang pacar. Tetap dengan kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 22 – 24
Hampir mirip, tetap dengan teman-teman kuliah, di Universitas maupun di Magister, kita yang traktir barulah mereka tahu kita ulang tahun. Pacar tetap sama, karena mulai serius menjalin hubungan ke taraf yang lebih tinggi. Tetap dengan ungkapan,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 25 - 27
Ulang tahun pertama di saat kerja. Tidak ada traktir mentraktir. Ucapan selamat hanya datang dari Ibu, dan –tentunya pacar. Sementara di kantor, cukup bagi-bagi 2 kotak kue tart, yang dipotong-potong dan cukup untuk 48 orang. Kado dari pacar? Tetap ada. Dan tetap,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun 28
Ulang tahun pertama setelah menikah. Ucapan selamat pertama datang dari istri (yang pacaran sejak usia 22 tadi), di saat bangun tidur di pagi hari, dilengkapi dengan kecupan mesra di pipi dan –tentunya- bibir. Kadot etap ada. Namun ucapan sayang langsung diucapkan lisan,
“I love you”
Dan tetap juga bagi-bagi kue untuk teman-teman di kantor
Ulang tahun 29-33
Di usia ini hampir sama kejadiannya. Tetap istri yang pertama kali mengucapkan selamat, tetap dengan kecupan di pipi dan bibir, dan tentunya ditambah dengan ciuman dari kedua mutiara kecil yang berlari memeluk saat pulang kantor. Ucapan dari Ibu dilakukan lewat telepon, dan terkadang mengirimkan kue tart hasil buatan sendiri. Beberapa teman dekat mengirimkan selamat melalu SMS. Kado biasanya datang dari istri. Itupun sudah mulai jarang. Kado pun diberikan sesuai permintaan. Ketika jalan-jalan di mal, terkadang tercetus lah kata-kata,
“Kamu mau kado apa, nanti aku belikan” tanya sang istri
Tetap dengan pernyataan indah,
“I love you”
Ulang tahun usia 34
Secara ritual dan pelaksanaan, sebenarnya tetap sama dengan usia 29-33. Tetap istri yang pertama kali mengucap selamat, tetap dengan kecupan, pelukan, dan “i love you” nya. Tetap Ibu yang menelepon melalui HP. Tetap SMS dari teman. Namun yang membedakan adalah tanggal ulang tahun relatif terpublikasi, karena sudah tercantum di facebook, milis, atau media maya lain, dan jauh-jauh hari sudah diingatkan di sudut media tersebut. Sejak jauh-jauh hari pula beberapa teman kuliah mengkoordinasi kumpul-kumpul dengan dalih reuni.
“But anyway, thank you my friends!”
Ulang tahun usia 35, 36, dst, dst, dst?
Entahlah! Belum bisa diceritakan disini, karena belum pernah. Hanya bisa berdoa, semoga usia-usia ke depan, tetap akan mengalami masa ulang tahun hingga Allah SWT mengizinkan. Tetap bersyukur akan usia yang diberikan. Tetap berdoa semoga diberikan usia yang bermanfaat. Tetap istighfar karena yang pasti jatah usia kita akan berkurang.
Bogor, 13 Februari 2009 – Di Saat Usia 34…
Ulang tahun usia 1
Pada usia ini, pesta ulang tahun dilakukan atas inisiatif orang tua. Tidak mungkin anak umur 1 tahun minta ulang tahunnya di pestakan. Pada usia ini jalanpun masih tertatih-tatih. Jauh-jauh hari sudah belajar cara meniup lilin. Fuh..fuh..fuh.. biasanya lilinnya sulit mati, kalaupun lilinnya mati, lebih disebabkan karena muncratan ludah yang menimpa api di lilin.
Ulang tahun usia 2
Hampir sama dengan ulang tahun usia 2, namun dengan cara jalan yang tidak lagi tertatih-tatih. Sayangnya pada saat akan tiup lilin, justru tertidur dan terpaksa para tamu pesta yang didominasi orang dewasa menunggu, dan makan siang terlebih dahulu. Acara tiup lilin baru akan dilakukan setelah bangun kurang lebih 2 jam kemudian.
Ulang tahun usia 3
Mulai mengerti apa artinya pesta ulang tahun. Diadakan pesta di rumah, biasanya –setelah tiup lilin- lebih fokus membongkar kado pemberian dan memainkannya jika ada kado mainan yang menarik perhatiannya. Ucapan selamat para tamu? Biasanya tidak lagi dihiraukannya
Ulang tahun usia 4 - 5
Masalah tiup lilin sudah tidak lagi menjadi masalah. Tidak perlu air ludah muncrat untuk mematikannya. Sudah pula fasih menyanyikan lagu ulang tahun. Para tamu pun sudah didominasi anak-anak seusianya. Di masa kini, bagi orang tua yang mampu, akan mengadakan acara ulang tahun anaknya di sebuah restoran siap saji
Ulang tahun usia 6 – 12
Pada usia Sekolah Dasar ini, acara ulang tahun tidak lagi di sekolah. Belum pernah aku menemukan acara ulang tahun yang diadakan di kelas SD. Kalaupun ada, itupun spontanitas yang datangnya dari sang guru. Cukup menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama dan mengucapkan selamat. Di rumah? Biasanya tetap ada undangan pesta, dengan para tamu teman-teman sekolah. Undangan nya tertulis
“Datang ya ke pesta ku!”
Ulang tahun usia 13
Usia ABG, masa SMP, ulang tahun biasanya dilakukan dengan mentraktir teman-teman sekolah. Tidak semua teman, tapi hanya teman dekat saja. Si anak berpikir bahwa daripada uangnya buat pesta lebih baik buat beli sesuatu yang jadi hobinya misal beli kaset. Di usia ini mulai menyukai seorang perempuan, naksir, ngeceng. Dan akan sangat surprise sekali ketika si gadis yang disukai mengirimkan kartu ucapan kecil yang bertuliskan,
”Selamat ulang tahun, ya”
Ulang tahun usia 14
Inilah ulang tahun yang untuk pertama kalinya mendapat kado dari pacar. Bisa saja kan usia 14 sudah punya pacar? Kado itu mungil berpita warna merah muda. Isinya mungkin tidak seberapa, namun yang berarti adalah kata pengantar kado itu,
“Selamat ulang tahun, ya, semoga kamu makin sayang sama aku”
Ulang tahun usia 15
Di usia ini pacarnya sudah berbeda. Karena satu dan lain hal, pacar pertama tadi putus dan berganti ke pacar yang lain. Mirip dengan ulang tahun usia 14 tadi, kado dari pacar menjadi hal terpenting di usia ini. Oh ya, selain itu, diadakan acara makan-makan bersama teman-teman dekat. Sementara ada pertemuan khusus dengan sang pacar di suatu tempat dengan ritual menyerahkan kado mungil –yang tetap berpita. Tak penting apa isi kado, yang penting adalah kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 16
Masa SMA seperti ini, ulang tahun diritualkan dengan mentraktir teman-teman. Makin banyak teman, makin banyak pula uang yang dikeluarkan. Namun ada lagi ritual konyol yang seolah menjadi tradisi, yaitu diguyur dengan campuran berbagai minuman, plus air cucian penjual mie ayam, plus telor busuk. Sadis! Persiapan jangka panjang sudah dilakukan teman-teman, dan dirahasiakan sampai hari H. Biasanya akan terjadi balas dendam, karena hal yang sama akan dilakukan pada siapapun yang ulang tahun. Di tahun ini, tetap pacar yang sama memberikan kado khusus, tetap bukan kado mewah, tetap dengan kata-kata pengantar,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 17
Katanya ini masa spesial. Beberapa teman lain yang ulang tahun, khusus mengundang teman lain untuk ke rumah, ada pesta khusus, ruangan disetting seperti diskotik, mulai ada acara dance, dan potong kue dengan potongan pertama diserahkan kepada yang tersayang. Aku? Alhamdulillah tidak melakukan itu. Ritualnya sama dengan usia 16, hanya saja melibatkan teman yang lebih banyak. Dan tetap dengan pacar yang sama, dan tetap dengan kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 18
Mirip usia 17, namun tidak lagi ada traktir berlebihan. Kembali ke teman-teman dekat dan yang pasti tetap dengan pacar yang sama dengan kado istimewa, namun ditambah kata-kata,
“Kalau nanti kamu kuliah, masih kah kamu sayang sama aku?”
Ulang tahun usia 19
Masa kuliah di Bandung, teman-teman baru, ritual utama : traktir teman dekat. Ulang tahun pertama jauh dari pacar, di hari ulang tahun ucapan selamat hanya dilakukan via telepon. Dengan ucapan,
“Selamat ulang tahun, ya. Aku kangen!”
Kado dari sang pacar baru diserahkan beberapa minggu kemudian. Di tahun ini pula mulai ada beberapa secret admirer, yang tiba-tiba memberikan kado khusus di hari itu. Ucapannya sederhana, tak ada yang berlebihan, hanya,
“Selamat ulang tahun, ya”
Ibu datang di hari ulang tahun itu, dan aku pun berkata,
“Mama, minta uang tambahan dong, buat traktir teman?”
Ulang tahun usia 20
Ritual standar, makan-makan dengan teman dekat. Sang pacar telah pergi, tak tahan karena jauh ditinggal. Pacar baru menjelang dan kadopun datang. Kado nya pun tetap sederhana, tak ada yang mewah, namun dengan tulisan,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 21
Teman-teman semakin sedikit yang menyadari hari ulang tahun itu. Kalau bukan kita yang traktir makan, mereka tidak tahu kalau kita ulang tahun. Pacar di usia 20 tidak bertahan lama. Kembali datang pacar baru. Kali ini pacaran yang lebih serius, mungkin pengalaman kegagalan sebelumnya. Kado pun datang dari sang pacar. Tetap dengan kata-kata,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 22 – 24
Hampir mirip, tetap dengan teman-teman kuliah, di Universitas maupun di Magister, kita yang traktir barulah mereka tahu kita ulang tahun. Pacar tetap sama, karena mulai serius menjalin hubungan ke taraf yang lebih tinggi. Tetap dengan ungkapan,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun usia 25 - 27
Ulang tahun pertama di saat kerja. Tidak ada traktir mentraktir. Ucapan selamat hanya datang dari Ibu, dan –tentunya pacar. Sementara di kantor, cukup bagi-bagi 2 kotak kue tart, yang dipotong-potong dan cukup untuk 48 orang. Kado dari pacar? Tetap ada. Dan tetap,
“Aku sayang kamu”
Ulang tahun 28
Ulang tahun pertama setelah menikah. Ucapan selamat pertama datang dari istri (yang pacaran sejak usia 22 tadi), di saat bangun tidur di pagi hari, dilengkapi dengan kecupan mesra di pipi dan –tentunya- bibir. Kadot etap ada. Namun ucapan sayang langsung diucapkan lisan,
“I love you”
Dan tetap juga bagi-bagi kue untuk teman-teman di kantor
Ulang tahun 29-33
Di usia ini hampir sama kejadiannya. Tetap istri yang pertama kali mengucapkan selamat, tetap dengan kecupan di pipi dan bibir, dan tentunya ditambah dengan ciuman dari kedua mutiara kecil yang berlari memeluk saat pulang kantor. Ucapan dari Ibu dilakukan lewat telepon, dan terkadang mengirimkan kue tart hasil buatan sendiri. Beberapa teman dekat mengirimkan selamat melalu SMS. Kado biasanya datang dari istri. Itupun sudah mulai jarang. Kado pun diberikan sesuai permintaan. Ketika jalan-jalan di mal, terkadang tercetus lah kata-kata,
“Kamu mau kado apa, nanti aku belikan” tanya sang istri
Tetap dengan pernyataan indah,
“I love you”
Ulang tahun usia 34
Secara ritual dan pelaksanaan, sebenarnya tetap sama dengan usia 29-33. Tetap istri yang pertama kali mengucap selamat, tetap dengan kecupan, pelukan, dan “i love you” nya. Tetap Ibu yang menelepon melalui HP. Tetap SMS dari teman. Namun yang membedakan adalah tanggal ulang tahun relatif terpublikasi, karena sudah tercantum di facebook, milis, atau media maya lain, dan jauh-jauh hari sudah diingatkan di sudut media tersebut. Sejak jauh-jauh hari pula beberapa teman kuliah mengkoordinasi kumpul-kumpul dengan dalih reuni.
“But anyway, thank you my friends!”
Ulang tahun usia 35, 36, dst, dst, dst?
Entahlah! Belum bisa diceritakan disini, karena belum pernah. Hanya bisa berdoa, semoga usia-usia ke depan, tetap akan mengalami masa ulang tahun hingga Allah SWT mengizinkan. Tetap bersyukur akan usia yang diberikan. Tetap berdoa semoga diberikan usia yang bermanfaat. Tetap istighfar karena yang pasti jatah usia kita akan berkurang.
Bogor, 13 Februari 2009 – Di Saat Usia 34…
Label:
Sebuah Renungan Hati
Woooiiii! Awaaaassss Ada ***!!! Minggiiiiiiirrrrr!!!
BegituMaafkan atas judul yang mungkin tidak senonoh di atas. Maafkan atas penggunaan tiga bintang sebagai alat sensor penulisan. Tapi masalahnya, tidak ada kata-kata lain untuk menggantikan kata-kata tersebut. Sekali lagi : maaf!
Aku keturunan anak kampung di sebuah desa di pinggiran Bogor. Nama desa itu Desa Katulampa, suatu desa yang membuat was-was orang Jakarta, karena di situ terdapat sebuah bendungan yang menjadi indikator banjir di Jakarta. Jika kedalaman di Bendungan Katulampa mulai mengkhawatirkan, maka akan khawatir juga seluruh penduduk Jakarta.
Meski aku berdarah orang Katulampa, namun jarang sekali aku tinggal di desa itu. Sesekali jika liburan, aku bermain dan bermalam di sana.
Pada saat usia 9-11 tahun, merupakan masa-masa bermain mengasyikan bagi ku, bersama para sepupu, keluar masuk hutan desa, mandi di kali, bermain lumpur di sawah, bermain bola di lapangan lumpur, memanjat pohon, dan semua kenakalan anak kampung.
Di antara semua kenakalan itu, ada satu yang paling menyenangkan, yang paling ditunggu-tunggu, dan yang paling sering kami lakukan yaitu :mandi di kali.
Sungai atau kali itu bernama Citonggoh. Jika diartikan secara harfiah adalah air yang berada di atas atau di Utara (Ci = air, tonggoh = atas/utara). Citonggoh pada dasarnya adalah sebuah anak sungai Ciliwung, yang sebelum mengalir ke Jakarta, terpecah menjadi beberapa bagian dan salah satu alirannya mengalir ke desa kami.
Citonggoh menjadi semacam sumber air bagi desa kami. Bukan untuk minum, namun untuk mandi, cuci dan juga kakus. Ketiga kegiatan itu sekaligus bisa dilakukan di sungai yang sama. Jika di satu sisi ada yang mandi, maka bisa jadi di sisi lain ada yang mencuci, atau bahkan di sisi lainnya ada yang –maaf- sedang buang air besar.
Kebiasaan itu sudah menjadi turun temurun di desa kami. Air Citonggoh sebenarnya sudah tidak bisa dikatakan jernih. Airnya sudah coklat. Tidak ada sampah, namun tetap tidak layak minum.
Bagian air yang mengaliri desa kami merupakan aliran air yang cukup deras, kedalamannya hanya kurang dari 1,5 meter dengan lebar sungai sekitar 5 meter. Namun bagian aliran ini merupakan tempat yang paling strategis untuk berenang. Tidak terlalu banyak batu, tapi juga tidak terlalu dalam.
Kebiasaan di desa kami adalah setiap akan shalat, terutama Zuhur dan Ashar, pasti harus mandi. Sehingga pada waktu shalat tersebut, sungai Citonggoh cenderung ramai. Jadi ada istilah di kalangan penduduk desa, yaitu mandi lohor (zuhur) dan mandi ashar.
Suatu hari pada saat mandi lohor (zuhur).
Setelah puas bermain di hutan dari pagi, terdengar suara azan zuhur dari kejauhan. Bergegas kami –aku dan 4 orang sepupuku- berlari menuju Citonggoh. Bukan untuk berwudhu untuk kemudian shalat Zuhur, tapi hanya untuk sekedar memenuhi tradisi mandi lohor (zuhur). Masalah apakah kita akan shalat ke mesjid, itu soal nanti, tergantung dari ada atau tidaknya Pa Haji. Kalau Pa Haji ada, pasti kami akan dikejar-kejar sambil bawa rotan untuk disuruh shalat, kalau Pa Haji tidak ada, ya lanjut terus main di hutan.
Tak sabar kami berlari. Masih 10 meter dari sungai, kami sudah melucuti pakaian kami. Melucuti semua, telanjang bulat. Dan setiba di pinggir sungai, langsung meloncat dan byurr…
Makin tinggi loncatan, makin keras kami terhempas ke sungai. Bisa jadi akibat loncatan kami tenggelam di satu sudut sungai dan baru muncul beberapa detik kemudian di sudut lainnya. Tidak peduli kami dengan kebersihan air. Yang kami lakukan cuma sekedar untuk bersenang-senang.
Beberapa saat kami asyik berenang, salah satu sepupu ku berada di kawasan sungai tertinggi, maksudnya adalah dia ingin meloncat dari tempat tertinggi tersebut. Namun justru karena dia berada di tempat tertinggi itu lah, makanya dia bisa melihat ada apa saja kegiatan di sungai bagian atas.
Dan tiba-tiba dia berteriak, “
“Wooooiiiii, awaaaaasssss, ada ***! Mingggiiiiiiiiir!”
Sontak kami berempat yang berada di bawah, segera berenang ke tepi, dan segera naik.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian, saat kami menunggu di pinggir sungai –dalam keadaan telanjang bulat tentu saja- mengalirlah segerombolan –maaf- kotoran manusia di depan kami. Kami berempat hanya nyengir menyaksikan pemandangan itu. Sama sekali tidak merasa jijik, biasa saja, karena itu pemandangan sehari-hari kami saat berenang di Citonggoh.
Setelah segerombolan –maaf, sekali lagi maaf- kotoran manusia tadi lewat dan dirasa sudah cukup jauh dari pandangan, maka serempak kami kembali meloncat ke sungai, kembali berenang bebas, seolah tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.
Padahal jika ditimbang-timbang, betapa joroknya sungai Citonggoh. Jijik. Karena air yang sama digunakan untuk mandi –juga sikat gigi-, mencuci, dan sebagai kakus. Jika ditimbang-timbang lagi, bisa saja aku terkena penyakit kulit, bisa saja aku terkena penyakit perut, karena pada saat meloncat, terkadang ada seteguk dua teguk air Citonggoh terminum oleh ku.
Tapi ternyata semua baik-baik saja. Tidak sekalipun aku sakit karena Citonggoh. Satu-satunya sakit ku adalah ketika tumitku belah dua karena menginjak beling di dasar Citonggoh. Sampai kini cacat karena beling itu masih ada, seolah-olah tumitku jadi punya lesung pipit.
Citonggoh saat ini, 23 tahun kemudian.
Sudah tidak ada lagi yang mandi di Citonggoh, ada 2 kemungkinan, pertama, masyarakat desa sudah sadar kesehatan dan mandi dari PAM atau air sumur, kedua, Citonggoh memang sudah tidak layak lagi disebut sungai.
Aku lihat Citonggoh sudah menyusut drastis, lebarnya hanya tinggal 1 meter, kedalaman tak lebih dari 80cm. Memang tidak pantas disebut sungai, lebih pantas jika disebut selokan.
Pembangunan pemukiman yang pesat, turut andil dalam mempersempit ruang gerak air Citonggoh. Tidak hanya itu, hutan, kebun, dan sawah tempat kami bermain dulu pun, sekarang sudah menjadi tempat hunian. Hutan, kebun dan sawah itu sekarang ditanami beton, dipupuki semen, dan dihiasi genteng. Tidak lagi nyaman untuk sekedar menghirup udara segar dari hutan.
Kondisi itu merupakan representasi dari kondisi alam Indonesia pada umumnya. Desa kami seperti menjadi miniatur Indonesia dimana sungai, hutan, kebun, dan sawah tergerus oleh kepentingan manusia.
Kasihan anak2 ku kelak, tidak sempat merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon. Bahkan katanya, kalau anak kita ingin merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon, ada wahana yang dibangun untuk itu, dan itu harus bayar!
Gorontalo, 29 Januari 09
Aku keturunan anak kampung di sebuah desa di pinggiran Bogor. Nama desa itu Desa Katulampa, suatu desa yang membuat was-was orang Jakarta, karena di situ terdapat sebuah bendungan yang menjadi indikator banjir di Jakarta. Jika kedalaman di Bendungan Katulampa mulai mengkhawatirkan, maka akan khawatir juga seluruh penduduk Jakarta.
Meski aku berdarah orang Katulampa, namun jarang sekali aku tinggal di desa itu. Sesekali jika liburan, aku bermain dan bermalam di sana.
Pada saat usia 9-11 tahun, merupakan masa-masa bermain mengasyikan bagi ku, bersama para sepupu, keluar masuk hutan desa, mandi di kali, bermain lumpur di sawah, bermain bola di lapangan lumpur, memanjat pohon, dan semua kenakalan anak kampung.
Di antara semua kenakalan itu, ada satu yang paling menyenangkan, yang paling ditunggu-tunggu, dan yang paling sering kami lakukan yaitu :mandi di kali.
Sungai atau kali itu bernama Citonggoh. Jika diartikan secara harfiah adalah air yang berada di atas atau di Utara (Ci = air, tonggoh = atas/utara). Citonggoh pada dasarnya adalah sebuah anak sungai Ciliwung, yang sebelum mengalir ke Jakarta, terpecah menjadi beberapa bagian dan salah satu alirannya mengalir ke desa kami.
Citonggoh menjadi semacam sumber air bagi desa kami. Bukan untuk minum, namun untuk mandi, cuci dan juga kakus. Ketiga kegiatan itu sekaligus bisa dilakukan di sungai yang sama. Jika di satu sisi ada yang mandi, maka bisa jadi di sisi lain ada yang mencuci, atau bahkan di sisi lainnya ada yang –maaf- sedang buang air besar.
Kebiasaan itu sudah menjadi turun temurun di desa kami. Air Citonggoh sebenarnya sudah tidak bisa dikatakan jernih. Airnya sudah coklat. Tidak ada sampah, namun tetap tidak layak minum.
Bagian air yang mengaliri desa kami merupakan aliran air yang cukup deras, kedalamannya hanya kurang dari 1,5 meter dengan lebar sungai sekitar 5 meter. Namun bagian aliran ini merupakan tempat yang paling strategis untuk berenang. Tidak terlalu banyak batu, tapi juga tidak terlalu dalam.
Kebiasaan di desa kami adalah setiap akan shalat, terutama Zuhur dan Ashar, pasti harus mandi. Sehingga pada waktu shalat tersebut, sungai Citonggoh cenderung ramai. Jadi ada istilah di kalangan penduduk desa, yaitu mandi lohor (zuhur) dan mandi ashar.
Suatu hari pada saat mandi lohor (zuhur).
Setelah puas bermain di hutan dari pagi, terdengar suara azan zuhur dari kejauhan. Bergegas kami –aku dan 4 orang sepupuku- berlari menuju Citonggoh. Bukan untuk berwudhu untuk kemudian shalat Zuhur, tapi hanya untuk sekedar memenuhi tradisi mandi lohor (zuhur). Masalah apakah kita akan shalat ke mesjid, itu soal nanti, tergantung dari ada atau tidaknya Pa Haji. Kalau Pa Haji ada, pasti kami akan dikejar-kejar sambil bawa rotan untuk disuruh shalat, kalau Pa Haji tidak ada, ya lanjut terus main di hutan.
Tak sabar kami berlari. Masih 10 meter dari sungai, kami sudah melucuti pakaian kami. Melucuti semua, telanjang bulat. Dan setiba di pinggir sungai, langsung meloncat dan byurr…
Makin tinggi loncatan, makin keras kami terhempas ke sungai. Bisa jadi akibat loncatan kami tenggelam di satu sudut sungai dan baru muncul beberapa detik kemudian di sudut lainnya. Tidak peduli kami dengan kebersihan air. Yang kami lakukan cuma sekedar untuk bersenang-senang.
Beberapa saat kami asyik berenang, salah satu sepupu ku berada di kawasan sungai tertinggi, maksudnya adalah dia ingin meloncat dari tempat tertinggi tersebut. Namun justru karena dia berada di tempat tertinggi itu lah, makanya dia bisa melihat ada apa saja kegiatan di sungai bagian atas.
Dan tiba-tiba dia berteriak, “
“Wooooiiiii, awaaaaasssss, ada ***! Mingggiiiiiiiiir!”
Sontak kami berempat yang berada di bawah, segera berenang ke tepi, dan segera naik.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian, saat kami menunggu di pinggir sungai –dalam keadaan telanjang bulat tentu saja- mengalirlah segerombolan –maaf- kotoran manusia di depan kami. Kami berempat hanya nyengir menyaksikan pemandangan itu. Sama sekali tidak merasa jijik, biasa saja, karena itu pemandangan sehari-hari kami saat berenang di Citonggoh.
Setelah segerombolan –maaf, sekali lagi maaf- kotoran manusia tadi lewat dan dirasa sudah cukup jauh dari pandangan, maka serempak kami kembali meloncat ke sungai, kembali berenang bebas, seolah tidak ada kejadian apa pun sebelumnya.
Padahal jika ditimbang-timbang, betapa joroknya sungai Citonggoh. Jijik. Karena air yang sama digunakan untuk mandi –juga sikat gigi-, mencuci, dan sebagai kakus. Jika ditimbang-timbang lagi, bisa saja aku terkena penyakit kulit, bisa saja aku terkena penyakit perut, karena pada saat meloncat, terkadang ada seteguk dua teguk air Citonggoh terminum oleh ku.
Tapi ternyata semua baik-baik saja. Tidak sekalipun aku sakit karena Citonggoh. Satu-satunya sakit ku adalah ketika tumitku belah dua karena menginjak beling di dasar Citonggoh. Sampai kini cacat karena beling itu masih ada, seolah-olah tumitku jadi punya lesung pipit.
Citonggoh saat ini, 23 tahun kemudian.
Sudah tidak ada lagi yang mandi di Citonggoh, ada 2 kemungkinan, pertama, masyarakat desa sudah sadar kesehatan dan mandi dari PAM atau air sumur, kedua, Citonggoh memang sudah tidak layak lagi disebut sungai.
Aku lihat Citonggoh sudah menyusut drastis, lebarnya hanya tinggal 1 meter, kedalaman tak lebih dari 80cm. Memang tidak pantas disebut sungai, lebih pantas jika disebut selokan.
Pembangunan pemukiman yang pesat, turut andil dalam mempersempit ruang gerak air Citonggoh. Tidak hanya itu, hutan, kebun, dan sawah tempat kami bermain dulu pun, sekarang sudah menjadi tempat hunian. Hutan, kebun dan sawah itu sekarang ditanami beton, dipupuki semen, dan dihiasi genteng. Tidak lagi nyaman untuk sekedar menghirup udara segar dari hutan.
Kondisi itu merupakan representasi dari kondisi alam Indonesia pada umumnya. Desa kami seperti menjadi miniatur Indonesia dimana sungai, hutan, kebun, dan sawah tergerus oleh kepentingan manusia.
Kasihan anak2 ku kelak, tidak sempat merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon. Bahkan katanya, kalau anak kita ingin merasakan mandi di sungai, main di hutan, berlari di lumpur, berkubang di sawah, dan memanjat pohon, ada wahana yang dibangun untuk itu, dan itu harus bayar!
Gorontalo, 29 Januari 09
Label:
Begitu Saja Bandelku...
Langganan:
Postingan (Atom)
