Kamis, 26 Maret 2009

Kami Bangga Meski Hanya Juara Dua

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat bernama Ario, memposting foto-foto ketika kami mengikuti kegiatan Lomba Ketangkasan Baris Berbaris tahun 1990 di Balaikota Bogor. Melihat foto itu, ingatan ku menerawang ke 19 tahun yang lalu, dimana aku begitu aktif dalam kegiatan itu. Bahkan sempat menjadi ketua organisasi baris berbaris tersebut yang bernama PANDAWA 16.

PANDAWA 16 adalah sebuah organisasi yang berkegiatan dalam bidang kewiraan dan baris berbaris. Tujuannya selain melatih disiplin tentunya juga meraih prestasi. Biasanya ukuran prestasi ditentukan oleh keberhasilan di Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (selanjutnya disingkat LKBB) dan seberapa banyak personilnya yang maju ke level kotamadya, provinsi, bahkan nasional sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Awal aku masuk PANDAWA 16, langsung disibukkan dengan latihan untuk LKBB tersebut. Beberapa rekan tergabung dalam pasukan LKBB ini yaitu Ario selaku komandan, aku, Dony, Dika, Radit, Zaki, Yosi, Era, Wieta, Wita, Fitri, Susi, Ratri, Nora (Ochang), Indri, Eri dan dibantu oleh beberapa kakak kelas yaitu Ican dan Susi.

Latihan intensif dilakukan terus menerus. Para instruktur seperti Kardinal, Agung, Ike, Tuti, juga terkadang hadir para senior seperti Kang Andy Julius. Latihan benar-benar berat dan menyita waktu. Selama sekitar 2 bulan latihan dilakukan. Kesulitan muncul ketika jadwal sekolah anggota pasukan berbeda, ada sebagian masuk pagi sebagian lagi masuk siang. Akhirnya disiasati dengan mengambil 2 jam terakhir kelas pagi dan 2 jam awal kelas siang. Namun seminggu terakhir, latihan semakin intensif menjadi dari pagi sampai sore dengan sama sekali meninggalkan pelajaran.

Hari H pertandingan.

Seluruh SMA se-Bogor berkumpul di Balaikota. Semua sekolah telah siap dengan ketegapan, kedisiplinan dan formasi masing-masing. SMAN 3 dan SMAN 4 menjadi tim yang sangat diunggulkan dalam LKBB tahun ini. Sementara SMAN 1 sama sekali tidak diunggulkan karena memang organisasinya saja baru terbentuk 2 tahun.

Aku tidak ingat, kami mendapat giliran nomor berapa. Yang jelas kami baru tampil setelah makan siang. Sebenarnya tidak masalah bagi kami, namun yang menjadi sedikit runyam adalah kondisi hujan yang mengguyur kota Bogor membuat lapangan beralas keramik tempat pertandingan menjadi licin. Hujan baru mengguyur di siang hari, sehingga beruntunglah para peserta yang tampil pagi karena lapangan masih belum licin terguyur hujan.

“Hayo, siap…siap, habis ini giliran kita!” berteriak Kardinal menginstruksikan agar kami bersiap. Kami akan tampil setelah peserta yang sekarang sedang tampil ini. Bersiap kami membentuk barisan, semua pakaian dirapikan, dari ujung kaki ke ujung rambut, semua seragam, termasuk sepatu dan kaus kaki.

“Peserta berikutnya, SMA Negeri 1 Bogor!” MC mengumumkan akan tampilnya kami. Langsung disambut sorak sorai penonton yang adalah para pendukung kami. Kami terharu karena puluhan siswa SMAN 1 telah hadir mendukung kami.
“Siaaaaappppp…Graakkkk!” berteriak Ario mengomandani pasukan
“Langkah tegap, majuuuu..jalan!”

Kami maju dengan tegap ke tengah lapangan. Tampang kami terlihat tegang, tanpa senyum, dan pandangan tajam. Bukan karena kami gugup, namun memang diharuskan seperti itu. Rasanya tidak mungkin baris berbaris dilakukan dengan cengengesan.

Formasi demi formasi berjalan lancar, ditimpali dengan tepuk riuh penonton ketika gerakan indah kami pertunjukkan. Hingga satu waktu tibalah pada formasi terakhir. Formasi ini mengharuskan pasukan bubar terlebih dahulu, menyebar ke seluruh penjuru lapangan. Bubar ke seluruh penjuru ini dilakukan sambil berlari, untuk kemudian dipanggil kembali untuk membentuk formasi terakhir. Bisa dibayangkan betapa was-was nya kami karena harus berlari dengan menggunakan sepatu relative licin di atas lapangan keramik yang baru saja diguyur hujan.

Benar saja, ketika kami bubar sambil berlari, di ujung sebelah kanan, terdengar bunyi orang terjatuh. Tidak terlalu keras. Namun cukup mengagetkan karena dibarengi dengan jerit penonton yang melihat jatuhnya salah satu anggota pasukan karena terpeleset. Ternyata salah satu anggota pasukan yang jatuh itu adalah Wita. Sejenak aku melirikkan mata ke sudut kanan, aku melihat Wita sedang berusaha berdiri dan kembali ke formasi semula.
“Hmm, syukurlah tidak terjadi apa-apa!” batinku.
Namun tak urung teriakan penonton membuat kami grogi, membuat sedikit goyah mental kami.
“Sudah…sudah... kembali fokus…ga ada apa-apa..ga ada apa-apa…!” dari pinggir area Kang Andy Julius membisikkan kata-kata kepada beberapa orang diantara kami. Selanjutnya kami tampil seperti biasa, memang jadi agak canggung karena khawatir kami kembali terjatuh seperti halnya Wita.

15 menit kami tampil, serasa sangat singkat. Akhirnya penampilan kami berakhir. Memang bukan penampilan kami terbaik, namun menjadi tonggak sejarah keikutsertaan kami di LKBB. Kami tidak yakin dengan prestasi yang akan kami ukir. Untuk sekedar tampil bagus saja kami sudah cukup bangga.

Tibalah saat pengumuman.

“Pemenang ketiga….SMAN 2 Bogor!” MC berteriak ditimpali jerit histeris penonton.
Wah, SMAN 2 juara 3, berarti semakin tipis peluang kami. Karena waktu itu kami hanya berharap berada di juara 3. Apalagi dengan beberapa formasi yang kami sendiri tidak yakin akan keindahannya dan ditambah dengan terjatuhnya Wita.

“Pemenang kedua…SMAN 1 Bogor!” gemuruh penonton menyambut kemenangan kami sebagai juara 2. Aku melongo,
“Juara 2? Kok bisa?” batinku bertanya.

Pengumuman juara 1 tidak lagi kami hiraukan, karena kami yakin pastinya SMAN 4 yang saat itu sedang merajai dunia baris berbaris se-Bogor. Kami berpelukan, bersalaman, saling mengucap selamat. Kami bangga meski hanya juara 2. Prestasi itu merupakan prestasi pertama PANDAWA16. Kami sebagai angkatan 2 sejak terbentuknya PANDAWA 16, berbangga hati, karena meski baru 2 tahun berdiri, namun kami mampu memberikan sesuatu untuk sekolah.

Satu hal yang perlu menjadi catatan disini adalah Ario, sang komandan, sempat berkaul, apabila SMAN 1 mampu meraih 3 besar, maka dia akan mengepel lantai halaman balaikota. Nah, kaul itu sampai sekarang belum terlaksana. Kita tunggu saja, kapan Ario akan mengepel lantai halaman balaikota.

Setelah itu, aku dengar PANDAWA 16 banyak juga memberikan prestasi membanggakan, pernah juga juara 1 LKBB, mengirimkan siswa sebagai Paskibraka ke tingkat Jawa Barat, bahkan pernah mengirimkan siswa ke tingkat nasional selaku pembawa bendera pusaka saat pengibaran bendera di istana negara.

Saat ini aku yakin PANDAWA 16 masih ada. Masih dilanjutkan oleh adik-adik kelas yang peduli akan kelangsungan organisasi ini. Terakhir aku mengunjungi acara yang diadakan PANDAWA 16 sekitar 14 tahun yang lalu saat aku masih kuliah. Itupun dibarengi misi pribadi untuk pendekatan ke salah satu adik kelas yang saat ini menjadi istriku. Kebetulan istriku ini pernah mewakili SMAN 1 Bogor sebagai Paskibraka ke tingkat Jawa Barat. Ternyata jodohku pun berasal dari PANDAWA 16.

Bogor – 21 Maret 09 – Kupersembahkan untuk para sahabat seperjuangan di PANDAWA 16 seluruh angkatan.

Minggu, 22 Maret 2009

Di Mesjid Itu Aku Bersujud

Pantai Uleulhue. Pantai yang indah, dengan biru laut yang memanjakan mata.

Siapa pun tidak menyangka bahwa laut seindah ini mampu menunjukkan amuk luar biasa, menyapu semua yang dilewatinya, dan merenggut ratusan ribu nyawa rakyat Aceh.

Luka tsunami memang masih kental bersemayam di hati rakyat Aceh. Pantai Uleulheu ini membuktikan hal itu

Puing-puing rumah di pinggir pantai yang berjarak sekitar 200meter dari pantai, masih terlihat berserakan. Rumah-rumah yang hanya kerangka beton masih jelas terlihat.dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.

Tepatnya bukan dibiarkan begitu saja, tapi memang sudah tidak ada yang mengakui sebagai pemilik, mengingat seluruh keluarga pemilik rumah itu mungkin saja sudah hapus tersapu gelombang tsunami. Yang konon katanya berkecapatan setara pesawat Boeing 737 saat terbang di ketinggian 30ribu kaki!

Kehidupan rakyat di tepi pantai Uleulheu memang tidak pernah sama lagi. Tidak pernah bisa lagi mengembalikan kehidupan sebelum tsunami ke masa kini. Semua pasti berubah. Hanya tinggal kita tunggu saja bagaimana sikap rakyat Aceh -dan kita- menghadapi perubahan itu

Adalah satu mesjid bernama Baiturrahim –bukan Baiturrahman yang menjadi mesjid besar kebanggaan rakyat Aceh- terletak tepat di bibir pantai Uleulhue. Jarak dari garis pantai hanya sekitar 10 sampai 20 meter. Mesjid inilah yang menjadi bangunan pertama yang menghadap pantai.

Namun mesjid ini menjadi istimewa tatkala menjadi satu-satunya bangunan yang selamat dari sapuan tsunami.

Luar biasa!

Mengingat posisi mesjid ini yang tepat di pinggir pantai, dan melihat seluruh rumah di belakang dan sisi kiri kanan mesjid porak poranda rata dengan tanah, rasanya mustahil mendapati mesjid ini masih utuh kokoh berdiri tidak kurang suatu apa.

Banyak mitos atau setidaknya omongan dari mulut ke mulut yang beredar mengenai peristiwa tsunami yang menghantam mesjid ini.

Jika kita membayangkan air laut terbelah dan menyelamatkan Nabi Musa dan umatnya dari kejaran Firaun, maka itulah yang terjadi dengan mesjid itu. Gelombang tsunami tiba-tiba terbelah ketika melewati mesjid itu. Air seolah-olah hanya merembes di halaman mesjid tanpa sedikit pun menghancurkan bangunan mesjid.

Mitos, kabar burung, atau apapun itu, beredar luas di kalangan rakyat Aceh. Namun apapun yang sebenarnya terjadi, adalah suatu kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak hancur diterjang tsunami.

Dan saat ini.

Aku shalat di mesjid itu. Aku bayangkan berada di mesjid itu ketika tsunami, aku bayangkan betapa takutnya aku, betapa kecil aku di hadapan amukan alam, panik dan tak mampu berkata bahkan untuk sebait zikir. Aku perhatikan setiap sudut mesjid, semua utuh, meski memang ada bekas renovasi, sebuah renovasi kecil yang sama sekali tidak mengganggu keaslian bangunan.

Di sudut luar mesjid, ada sumur berukuran diameter sekitar 2 meter, yang mengalirkan air tawar dengan kedalaman kurang lebih 2-3 meter (aku perlu konfirmasi lagi mengenai kebenaran data ini). Namun yang mengagumkan adalah bagaimana mungkin ada air tawar di lahan pasir yang hanya berjarak 5 meter dari garis pantai? Dari mana air itu berasal? Lagi-lagi aku harus menggali lebih dalam mengenai kelanjutan informasi ini.

Yang jelas berbagai keajaiban sudah terjadi di mesjid ini. Keajaiban yang hanya bisa terjawab oleh kesadaran akan adanya Dzat yang lebih tinggi, Maha Sempurna, Maha
Penjaga Alam, Maha Penggenggam Segala Sesuatu.

Menyadari itu, tunduk segenap hatiku, luruh segenap kalbuku, dan mengalir telaga air mata ku. Tak sanggup aku menghadapiMu kelak, tak mampu aku mempertanggunjawabkan perbuatanku saat nanti, gentar aku membayangkan jika saat itu tiba untukku.

Ampuni aku, ya Allah, aku hanyalah selemah-lemahnya iman…


Banda Aceh, Januari 09

Selasa, 17 Maret 2009

Persahabatan Erat Bagai Kembar Siam Dempet Kepala

Pertemuan aku dan Harry (atas izin yang bersangkutan, nama asli dicantumkan) berawal ketika masa perkenalan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen PPM di kawasan Menteng. Kami duduk berdekatan, tanpa disengaja.

“Harry” ujarnya
“Dindin” ucapku

Jabat tangan erat, dan itulah awal persahabatan. Sebenarnya, hampir seluruh kelas merupakan teman dekat. Namun jika diperhatikan, memang terbentuk kelompok-kelompok kecil yang memang sengaja dibentuk sebagai bagian dari tugas kuliah. Aku dan Harry memang selalu berada dalam satu kelompok bersama-sama dengan Fajar, Andi, Didi, Mas Don, dan terkadang Moses ikut bergabung.

Namun memang ada keistimewaan jika melihat aku dan Harry. Orang bilang kami berdua mirip baik secara fisik maupun secara kelakuan. Ada perbedaan mendasar, yaitu ada tahi lalat cukup menyolok di pipi kanan Harry, mirip tahi lalat Rano Karno, hanya saja Rano Karno di dagu. Kabarnya tahi lalat itu bisa berpindah-pindah sesuai keinginan Harry. Sementara itu soal kegantengan memang harus diakui bahwa lebih ganteng…Harry.

Kami memang sama-sama berasal dari Sunda, cara bicara kami yang “nyunda” pun dikatakan mirip. Secara kebetulan memang kemana-mana kami selalu bersama. Satu kelompok belajar, ke kantin, ke perpustakaan, duduk bersebelahan, shalat bersama, yang tidak hanya ke toilet bersama dan pulang ke rumah yang berbeda.

Seringkali sampai larut malam bahkan dinihari, ketika kami mengerjakan tugas kelompok, kami pun selalu bersama.

Suatu sore, pasca seharian kuliah, pasca pengetatan dasi yang mencekik dan pasca kerapian pura-pura di dalam kelas.

Seperti biasa kami –sebagian anggota kelas- nongkrong di ujung lapangan parkir kampus. Di situ berjajar penjual ketoprak, mie ayam, somay, gorengan dan berbagai makanan sektor informal lainnya. Di tempat itu menjadi ajang ngobrol, curhat, tertawa bebas, dan tentunya isi perut setelah seharian kuliah. Dasi dilonggarkan, bahkan dicopot, baju dilepas keluar, tanpa beban. Soal tugas besok? Pikirkan nanti!

Aku memilih memesan ketoprak, makanan khas Betawi, campuran toge, bihun, tahu, lontong yang diguyur bumbu kacang. Tanpa bermaksud untuk sama, ternyata Harry pun memesan ketoprak.

“Bang, ketoprak nya satu!” pesanku

“Dua, Bang!” tambah Harry

“Tapi ga pake bawang goreng!” ujarnya.

Menunggu kami di bangku panjang khas penjual ketoprak, di bangku itu kami hanya berdua, teman-teman yang lain bertebaran di sekitar. Ngobrol ngalor ngidul menghilangkan kepenatan kuliah seharian penuh dan menikmati udara pengap sore hari d Jakarta.

“Ini ketopraknya” ujar si Abang Penjual Ketoprak.

“Oh ya!” serempak kami menerima ketoprak itu

“Lho, kok, gua pake bawang goreng!”protes Harry

“Oh, maaf, maaf, saya lupa, saya ganti, ya!” ramah si Abang Penjual Ketoprak

“Udah..udah , bawangnya buat gua!” ujar ku

“Ok deh, ga apa-apa, Bang, Makasih, ya” ujar Harry ke si Abang Penjual Ketoprak

Dimulailah transfer bawang goreng dari piring ketoprak Harry ke piring ku. Cara transfer nya adalah meletakkan dua piring kami di bangku panjang saling bersebelahan, aku ambil satu per satu bawang goreng di piring ketoprak Harry, dan kepala kami saling menunduk memperhatikan proses transfer bawang goreng tadi.

Tiba-tiba,

“Ya ampuuunnnn, kalian ini benar-benar seperti anak kembar! Makan aja sepiring berdua!” salah satu teman ternyata memperhatikan tingkah laku kami.

“Iya, dari jauh keliatan bener-bener anak kembar. Kembar siam dempet kepala!” teman kami yang lain ikut berkomentar.

Ternyata tanpa sadar tingkah laku kami memang diperhatikan. Kami memang menjadi tertawa sendiri, proses transfer bawang goreng itu memang menjadi unik, menjadi tonggak bersejarah kami dimana kami disebut kembar siam dempet kepala. Karena dari jauh kami terlihat seperti sedang makan sepiring berdua, yang saling menunduk dan menempel kepalanya, benar-benar mirip sepasang anak kembar siam dempet kepala.

Saat ini, kami berdua memang jarang bertemu, namun komunikasi via telepon, email atau facebook tetap intens dilakukan. Biasanya kami memang bertemu, setidaknya setahun sekali. Pertemuan kami, tidak hanya sebagai seorang sahabat, tapi juga pertemuan dua keluarga besar dari kami masing-masing. Alhamdulillah, meski kembar siam dempet kepala itu sudah dipisahkan, namun kekeluargaan tetap berlanjut hingga sekarang.

Bogor, 7 Maret 09 – Untuk Seorang Sahabat, Harry Septarama
suzaridian.blogspot.com

Selasa, 10 Maret 2009

Hukuman Bagi Atlet Pingpong Dadakan di Kelas

Kelas 2 Phy3 SMAN1 Bogor, sedang marak-maraknya permainan pingpong. Permainan pingpong itu dilakukan di dalam kelas, tidak menggunakan meja, net, atau bet pingpong biasa, tapi permainan pingpong dadakan yang dirancang khusus di kelas. Meja pingpong dirancang dari dua buah meja kelas yang dibariskan merata, net nya diambil dari penggaris kayu di kelas yang diletakkan melintang di tengah meja, sementara bet nya adalah bet alami yang melekat di tubuh yaitu telapak tangan. Satu-satunya unsur pingpong asli hanyalah bola pingpong yang telah disiapkan oleh beberapa teman maniak olahraga ini.

Adalah Ican (atas izin orang yang bersangkutan, nama jelas dituliskan disini) yang menjadi maniak olahraga ini. Di setiap kesempatan, Ican selalu memainkannya. Saat istirahat, saat pelajaran kosong, bahkan jika perlu saat pelajaran berlangsung bola pingpong pun dimainkannya. Jika tidak ada teman yang diajak bermain pingpong, Ican pun menyusun meja menghadap dan merapat tembok, dan tetap bermain pingpong melawan tembok, istilah yang digunakannya adalah,

“Gua lagi maen shadow pingpong!” ujarnya

Suatu hari, saat pelajaran Kimia di laboratorium Mantarena.

Lazimnya pelajaran di laboratorium baik Kimia maupun Biologi, kami menggunakan ruang laboratorium di Mantarena, tempat SMAN 2 belajar. Tempat itu cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 2 km. Jika pun naik angkot, sangat tidak layak, karena akan ditempuh dengan jalan yang macet dan lamban.

Kami biasa berjalan berbondong-bondong menuju lab, bersama, tertawa.

Sesampai di lab, ruangan masih sangat kosong, tidak ada siapapun di sana, hanya ada kami sekitar 6 orang yang lebih dulu tiba. Segera kami ambil tempat, tentunya paling belakang, dan langsung mengenakan jas lab. Jas lab tentunya anda tahu, sejenis jas panjang terusan sampai ke betis, berwarna putih, dengan dua kantung di kiri dan kanan jas. Meski jas itu berkancing, tapi tidak pernah kami mengancingkan jas tersebut, kami biarkan saja jas itu terbuka melambai ditiup angin.

Cukup lama kami menunggu, bosan. Pak Y, guru kimia, pun belum tiba. Bukan karena terlambat, tapi memang karena kami datang terlalu pagi. Demi membunuh kebosanan, Ican mulai beraksi. Bermodal bola pingpong dikantungnya, dia segera menarik satu meja lab paling depan ke tengah kelas. Meja lab itu memang berbeda dengan meja biasa di kelas, meja lab itu memanjang 2 kali lipat meja kelas biasa, sehingga setiap meja bisa dihuni oleh 4 siswa sekaligus.

Ican menarik meja itu ke tengah. Tanpa aba-aba dan perintah, beberapa rekan ikut membantu menggeser. Semua paham.

“It’s pingpong time!” tersenyum semua yang hadir.

Setting meja pingpong telah siap, penggaris panjang telah berubah fungsi menjadi net. Ican mencari lawan.

“Siapa yang mau lawan gua!” tantang Ican.

“Yup, sini lawan gua!” salah seorang teman menerima tantangan Ican.

Bermainlah mereka berdua. Seru. Diselingi teriakan jika salah satu berhasil mematikan langkah lawannya. Kami menyaksikan pertandingan itu dari tempat kami duduk. Beberapa siswa mulai berdatangan, mengambil tempat duduk masing-masing. Teman-teman putri yang biasa duduk paling depan terpaksa menunda duduknya, karena meja terdepan telah disulap menjadi arena pingpong.

Tak sadar, waktu belajar semakin dekat, pertandingan pingpong semakin seru, kelas semakin ramai. Hingga tanpa disadari Ican –yang memang membelakangi pintu kelas- Pak Y masuk. Sontak semua siswa kembali duduk, demikian juga lawan pingpong Ican.

“Hei, kok udahan! Ayo main lagi!” alih-alih berhenti bermain dan duduk, Ican malah berteriak menantang lawan.

“Ada apa ini!” menggelegar suara Pak Y, marah.

Sontak Ican kaget dan sepintas terlihat wajahnya memucat. Kelas terdiam. Perlahan Ican mundur dan menggeser meja lab dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Ini laboratorium, bukan arena pingpong!” bentak Pak Y.

Pak Y adalah guru yang ramah dan baik hati, sangat jarang kami melihatnya marah. Malah mungkin baru kali ini kami melihat beliau marah. Ican tertunduk lesu, bulir keringat menetes di dahinya. Sekilas Ican melirik ke arah kami, minta bantuan mungkin. Kami terdiam, tak bisa membantu, dalam hati kami berkata,

“Sori Can, lu tanggung sendiri aja, ya, jangan bawa-bawa kita!”

Prinsip kami adalah, ketika teman senang kami ikut senang, namun ketika teman sedih, kami pun ikut…senang!

“Maju sini!” bentak Pak Y

Perlahan Ican maju ke tengah kelas.

“Kamu scout jump 20 kali, menghadap tembok! Cepat!” perintah Pak Y.

Scout jump adalah semacam bentuk olahraga dengan cara dua tangan dikaitkan di belakang kepala, kemudian meloncat jongkok berdiri. Scout jump sebenarnya dilakukan dalam konteks olahraga, namun ini pastinya konteks dihukum.

Dimulailah hukuman scout jump itu. Meloncat-loncat dengan tangan dikaitkan di belakang kepala dan menghadap tembok. Kami cekikikan di belakang. Bukan karena hukuman bagi Ican, tapi karena Ican mengenakan jas lab ketika scout jump. Meloncat naik turun, melambai-lambaikan jas labnya. Dari belakang, jika melihat Ican scout jump, mirip sekali jika kita melihat Batman sedang dihukum scout jump. Melambai-lambai sayapnya…


Balikpapan 5 Maret 09 – dipersembahkan untuk seorang sahabat, Ican.

Rabu, 04 Maret 2009

Lagu Sendu Dikala Bahagia

bebeSemasa SMP, aku cukup aktif di organisasi. Salah satu organisasi yang aku ikuti adalah Vocal Group atau Paduan Suara atau apa pun namanya itu.

Latihan rutin kami lakukan, baik ada event maupun tidak. Target utama adalah masuk TVRI –saat itu merupakan TV Station satu-satunya di Indonesia- di acara khusus vocal group sekolah. Target itu memang tidak pernah tercapai, meski sudah mendaftar berulangkali.

Berbagai lagu kami coba, lagu Chrisye, Vina Panduwinata, atau lagu-lagu wajib perjuangan. Lagu yang tidak pernah kami coba hanya lagu-lagu Betharia Sonata, Ratih Purwasih, atau Endang S Taurina. Kata guru vocal kami,

“Penghayatan lagu jenis itu sangat sulit untuk dilakukan!”

Dari semua lagu yang kami latih, ada satu lagu yang sangat kami kuasai. Jika kami membawakan lagu itu, maka anggukan puas terpancar dari guru vocal kami. Lagu itu adalah salah satu lagu Chrisye berjudul “Kisah Cintaku” yang saat ini dinyanyikan kembali dengan gaya pop oleh Peterpan.

Lagu melankolis itu justru menjadi penyemangat kami berlatih. Ketika mulai latihan, lagu itulah yang pertama kami nyanyikan, untuk sekedar menyemangati latihan kami, dan meyakinkan kami bahwa kami bisa bernyanyi bagus.

Latihan, latihan, dan latihan.

Tidak ada tanda-tanda akan ada panggilan dari TVRI, atau suatu festival, atau sekedar event yang bisa kami jadikan ajang untuk menjajal panggung. Meski seragam vocal group sudah kami siapkan, namun belum sekali pun seragam itu digunakan, kecuali hanya untuk dicoba, untuk mengukur sempit atau tidaknya baju.

Hingga suatu hari,

“Hei, salah satu guru kita, akan menikahkan putrinya minggu depan. Gimana kalau kita mengisi acara pernikahan itu?” Bersemangat guru vocal kami mengajak.

“Kita minta waktunya untuk satu lagu saja! Gimana?” Guru vocal kami makin bersemangat.

Tanpa pikir panjang, kami serempak menjawab,

“OK!”

Daripada latihan terus, ga ada pengalaman manggung, maka dengan semangat kami menerima tawaran itu. Tidak ada bayaran –sama sekali tidak terpikir bayaran oleh kami- yang penting bisa manggung!

Satu lagu kesempatan yang diberikan kepada kami. Tidak mungkin rasanya kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Tidak mungkin kami membawakan lagu Maju Tak Gentar di pesta pernikahan, kan? Nanti dikira menyindir sang pengantin.

Lantas lagu apa? Tidak lain tidak bukan, lagu yang paling kami kuasai, lagu yang paling PD jika kami bawakan, yaitu : Kisah Cintaku dari Chrisye.

Di kala hari H acara pernikahan. Kami siap pagi-pagi sekali. Undangan jam 11 siang, pengantin datang jam 11.10, namun kami sudah hadir di gedung jam 8 pagi. Lengkap dengan seragam dan sisiran rambut rapi bagi para anggota vocal group putra dan make up sederhana bagi para anggota vocal group putri.

Detik demi detik, menunggu. Jadwal kami tampil sebenarnya jam 12.00 siang, namun 4 jam menunggu dari jam 8 serasa 4 hari bagi kami. Tak sabar! Tapi apalah artinya 4 jam jika dibandingkan dengan penantian manggung kami selama ini.

Jam 12.10, MC mengumumkan penampilan kami. Ya! Ini saatnya!

Berbaris rapi menuju panggung di sisi kiri gedung bersebelahan dengan panggung sang mempelai. Hormat serempak kami lakukan, disusul dengan tepuk tangan dari para tamu undangan. Kedua mempelai pun ikut memperhatikan penampilan kami, karena pada saat yang bersamaan belum lagi ada tamu yang menyelamati mereka.

Keyboard dibunyikan, intro dimulai, masuklah kalimat-kalimat lagu dari kami,

“Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri, tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi
Tinggalkan diriku”

Pada bait ini, perasaanku mulai tak enak. Mengapa para tamu undangan banyak yang cekikikan, tersenyum simpul, dan berbicara satu sama lain?

Bait reffrein,

“Mengapa terjadi, kepada diriku
Aku tak percaya, kau telah tiada
Haruskah ku pergi, tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa dengan mu”

Sesaat setelah reffrein ini selesai, dan masuk interlude lagu dari keyboard, aku baru menyadari,

“Hei, ini kan lagu kematian! Ini kan lagu tentang seseorang yang ditinggal mati kekasihnya!”

“Gawat! Salah lagu, nih! Mendingan Maju Tak Gentar, mungkin ya?”

Konsentrasi ku buyar. Bait berikutnya ku lakukan hampir tanpa suara, meski teman-teman yang lain tetap bersemangat. Aku memperhatikan sekitar, masih banyak yang cekikikan, saling bisik, dan mengulum senyum. Sang mempelai pun begitu, mereka terlihat tersenyum melihat kami, sambil melayani tamu undangan yang memberi selamat.

Guru vocal kami acuh saja, tetap memberi aba-aba dengan semangat, seolah tidak menyadari sikap para tamu undangan. Atau mungkin memang tidak tahu, karena dia membelakangi tamu undangan saat memimpin kami bernyanyi.

Selesai manggung, kami turun kembali ke belakang. Semua lega, semua gembira karena akhirnya berhasil memberikan penampilan terbaik. Aku juga lega, bukan karena berhasil memberikan penampilan terbaik, tapi karena berakhir juga lagu itu kami nyanyikan Aku ingin cepat-cepat mengakhiri lagu ini, karena buatku, lagu ini benar-benar tidak cocok untuk sebuah acara pernikahan.

Benar-benar sebuah lagu sendu dikala bahagia.

Jangan-jangan sang mempelai mengira kita mendoakan mereka untuk berpisah!



Makassar, 6 Januari 09.

Selasa, 03 Maret 2009

Serius Amat Bercandanya (Bagian 2 dari 2 tulisan)

, Kejahilan berupa “penghilangan” barang memang mewabah di setiap kelas. Semua kelas mengalami peristiwa ini. Bahkan “penghilangan” barang terjadi antar kelas, barang di kelas yang satu bisa disembunyikan di kelas yang lain. Bahkan “penghilangan” bisa lebih kreatif karena menyangkut barang-barang lintas kelas yang ditempatkan di tempat parkir seperti motor.

Cerita ini merupakan cerita C, pelaku dan saksi mata langsung kejadian ini, disampaikan secara lisan, dan aku mencoba menuliskannya. Begini ceritanya.

Adalah E, teman kelas sebelah, kelas Phy 4. Jam 12 siang, E tiba di sekolah mengendarai motor barunya. Ya motor baru jenis bebek –lupa aku tipenya- masih kinclong dan berplat nomor masih gress.

“Woi baru nih!” hampir serempak segelintir anak-anak Phy3 yang sedang nongkrong di koridor kelas menyambut kedatangan E.

“Ah, punya bokap gua!” senyum simpul penuh kebanggaan terpancar dari wajah E.

Tertawa semua orang, namun tak disangka oleh siapa pun bahwa akan ada ide gila yang menyebabkan peristiwa terheboh di sore harinya.

Sekitar jam 15.00, kelas Phy3 tak ada guru pengajar, sehingga spontan –meski ketua kelas memutuskan dengan takut-takut- kelas dibubarkan. Kondisi hujan lebat di luar, membuat semua orang mati gaya.

“Percuma nih, hujan, ga bisa ngapa-ngapain!” begitu kira-kira di pikiran kami.

Namun kondisi itu menjadi satu ide brilian yang jahat.

“Eh, kita umpetin motor si E yuk!” C yang pencetus ide brilian sekaligus jahat itu.

Semua saling pandang. Ide “penghilangan” motor bukan ide sembarangan, agak sulit direalisasikan sekaligus menantang. Namun semua sepakat untuk merealisasikannya. Dimulailah aksi itu, motor E digeser perlahan-lahan. Namun benar-benar tak mudah. Tidak mudah menggeser motor yang diparkir dalam keadaan terkunci, salut untuk para pencuri motor yang dengan mudah menghilangkan motor orang!

“Kita gotong aja ini motor!” C memberi ide

“Yuk!” semua sepakat akan ide itu, sehingga terlihatlah 5 pemuda putih abu-abu menggotong motor E secara perlahan dan memasukkannya ke kelas Phy3 yang sudah kosong. Kelas ditutup dengan sempurna, sehingga selain ke 5 orang ini, tak ada yang tahu motor itu dibawa kemana. Suasana di sekolah pun sepi, karena kelas-kelas belum bubar, hanya 5 gelintir pemuda itu saja. Anak-anak Phy3 yang lain sudah bubar entah kemana.

“Teeeetttttt….!” Bunyi bel sekolah membahana tepat jam 5 sore. Bunyi yang sangat tidak nyaman untuk didengar sekaligus membahagiakan. Kelima pemuda tadi masih setia menunggu di koridor kelas, tidak lain hanya untuk menyaksikan reaksi E ketika menyadari hilangnya motor baru itu.

E keluar kelas Phy4, tanpa ada rasa curiga, tetap tertawa dan dengan gagah menuju tempat parker motor, dan,

“Lho motor gua mana!” kaget terpancar dari wajah E

Kaget para siswa yang sedang lewat, panik, heboh, kasak-kusuk. Kelima pemuda ini masih nongkrong dan melihat dari jauh, pura-pura bersikap biasa. Beberapa saat kehebohan berlangsung, kelima pemuda ini menghampiri.

“Ada apa, E!” C mulai bersandiwara dengan wajah lempengnya.

“Coba cari ke depan!”

“Tadi dikunci ga?”

Berbagai pertanyaan “ga penting” dilontarkan kelima pemuda ini. Tak lama muncul Pa Bahrum, yang menerima laporan dari salah satu siswa mengenai hilangnya motor E.

Deg! Berdegup jantung C melihat kedatangan Pa Bahrum,

“Kok jadi ada Pa Bahrum?” begitu kira-kira kekhawatiran hati C.

“Gawat, nih!” keempat pemuda lain pun ikut tercekat.

Banyak murid dikerahkan Pa Bahrum mencari motor E, dicari ke depan Musholla, ke koridor pinggir, ke Gang Selot, ke parkiran mobil. Tak satupun berhasil menemukan. Jelas tidak akan ketemu, karena tidak ada satupun menyangka motor itu ada di dalam kelas! E sudah tidak karuan, mukanya merah padam, dan dilanjutkan dengan tangis yang pecah dan meledak. Jelas E khawatir, karena motor baru bapak nya “dihilangkan” olehnya.

Ditengah kekhawatiran kelima pemuda ini, memang ada 1 orang yang mencoba menetralisir dengan memberikan petunjuk keberadaan motor. Mungkin keberadaan Pa Bahrum membuat orang ini cukup gentar.

“Gua rasa ada yang jail, E, coba lu cari di kelas, siapa tahu diumpetin di sana.” sok bijak pemuda ini bertutur.

E pun tersadar. Dia benar-benar baru “ngeh” jika diantara seluruh kelas, ada satu ruang kelas yang tertutup rapat yaitu Phy3. Berlari E menghampiri kelas Phy3, dibuka pintunya dan,

“Hah, ini motor gua! Siapa yang taruh sini!”teriak E memecah kekhawatiran orang. Semua lega, semua cekikikan. Tawa muncul membahana, bukan hanya karena motor itu ditemukan, tapi tawa karena kelucuan-kelucuan dalam proses “penghilangan” itu. Banyak yang kagum karena kenekatan itu, banyak yang marah karena bikin susah, banyak dan banyak juga yang maklum karena merasa itu hal biasa, toh sering juga “penghilangan” terjadi.

“Siapa yang taruh motor ini disini!” galak Pa Bahrum bertanya.

Dengan takut, C menjawab ragu,

“Saya, Pa.”

“Kamu ikut saya ke kantor, siapa lagi!” Pa Bahrum tahu persis tidak mungkin motor sebesar itu digeser sendirian masuk kelas.

“Saya, Pa” serempak keempat pemuda lain tunjuk tangan.

Digiringlah kelima pemuda itu ke kantor guru, diceramahi, dinasihati, dan tentunya dibentak. Kelima pemuda itu memang minta maaf pada E, namun sampai beberapa hari berikutnya E memang mengalami trauma. Agak waspada jika membawa motor.

Sementara kelima pemuda ini, tetap jahil, tetap konyol, dan tetap mencari mangsa “penghilangan” lain yang tentunya bobotnya lebih ringan. Bisa dikatakan proses “penghilangan” motor sampai sekarang menjadi semacam masterpiece mereka, layaknya David Copperfield yang berhasil menghilangkan Tugu Monas.

Bogor, 1 Maret 09

Minggu, 01 Maret 2009

Serius Amat Bercandanya (bagian 1 dari 2 tulisan)

Bercanda masa SMA sudah biasa. Disinilah gudang konyol, gudang canda, dan gudang iseng tempat tawa meledak, gelak tercipta, tangis terharu, juga marah membuncah. Semua sudah biasa dilakukan. Berbagai ide jahil berkecamuk di otak para pemuda berseragam putih abu-abu ini.

Salah satu kebiasaan jahil di kelas saat itu adalah beberapa orang sepakat menyembunyikan barang milik teman yang lain. Bisa tas, sepatu, buku, apapun. Tempat disembunyikan pun tidak hanya di lingkungan kelas, bisa saja dsembunyikan ke kelas sebelah, ke kantin, ke semak-semak di lorong pinggir kelas, kemana saja, selama itu tersembunyi dan tak mudah ditemukan. Cara menyembunyikan sangat sederhana, biasanya ada satu orang pemicu, dia yang memiliki ide menyembunyikan, akan mengambil secara diam-diam barang salah satu teman, kemudian menggesernya perlahan ke teman sebelah, teman sebelah pun –meski tidak dikoordinasi dulu- sudah paham bahwa ini saatnya “hide and seek game”. Terus berestafet sampai ke orang terakhir yang berkewajiban menyembunyikan ke suatu tempat.

Korban “penghilangan” tidak orang tertentu saja, bisa siapa saja, bisa jadi orang yang jadi penginisiator “penghilangan”, suatu saat akan jadi korban. Makanya ketika di kelas ketika kita konsentrasi memperhatikan didikan dari guru, kita pun harus tetap berkonsentrasi dengan barang-barang yang kita miliki.

Terkadang, barang yang dihilangkan akan tergantung dari kebiasaan orang itu, misal si S, yang sering melepas sepatu di kelas dan duduk bersila di kursi kelas, maka dia akan paling sering kehilangan sepatu. Atau si C yang selalu bawa motor ke sekolah dan menaruh kunci motornya sembarangan di meja, maka hampir pasti kunci motor itu lah korban berikutnya, Atau T, yang selalu mengenakan jaket trendi baik panas maupun dingin, dan menggantungkannya di sandaran kursi, pasti menjadi salah satu korban “penghilangan” juga.

Suatu hari yang panas, di saat kelas 2 dan masuk siang.

Az –seorang pemuda mungil berkulit legam nan jenius- selalu punya kebiasaan menggantungkan tas nya di sandaran kursi. Tas itu relatif unik, karena hanya berupa tas berbahan kain terpal, dibawa dengan cara disangkutkan ke bahu menyilang dari bahu kiri ke pinggang kanan. Kalau dari jauh, mirip ibu-ibu yang akan pergi kondangan dan mengenakan selendang. Tas itu hanya berisi secukupnya, tidak ada buku berlebihan, tidak ada tempat pensil lengkap, tidak ada alat tulis lain, cukup buku yang digunakan hanya untuk hari itu dan satu buah pulpen. Cukup.

Meskipun demikian dengan pembawaan yang sederhana, Az menjadi siswa yang luar biasa cerdas, salah satu jenius Fisika, dan menjadi tempat bertanya.

Hari itu, Az menjadi korban “penghilangan” tas tersebut. Entah siapa yang punya ide jahil. Aku sudah menjadi pihak ke sekian yang menerima tas si Az. Spontan aku ikut terlibat, ikut celingak celinguk untuk mencari orang yang diestafetkan. Kuestafetkan ke rekan sebelah, terus berjalan, sampai akhirnya orang yang terakhir pun bingung.

“Mau dikemanain lagi, nih!” berbisik orang terakhir pemegang tas itu bingung.

Kami di barisan belakang kasak kusuk tak karuan. Mau disembunyikan dimana, lagi?

Akhirnya seorang teman –C- punya ide brillian

“Sini..sini..” bisik C.

Ditaruhnya tas itu di kolong meja.

“Lho, kok kolong meja!” semua pandangan protes kepada C,

“Jangan yang gampang ketemu!” spontan semua melotot kea rah C

Namun ide itu benar-benar brilian, C mengambil tas teman yang lain, milik An. Tas An berukuran besar, berupa tas ransel gendong di punggung layaknya sang pendaki gunung. Sangat cocok dengan profil An yang berbadan tinggi besar, gemuk, dan berpembawaan tenang cenderung pendiam.

Tanpa sepengetahuan An, C mengambil tasnya dan memasukkan tas Az ke tas ransel An.

“Jenius! Brilian! Kreatif!” cekikikan kami di belakang. Benar-benar ide fantastis yang belum ada sebelumnya. Menyembunyikan tas Az ke dalam tas An, tanpa sedikitpun diketahui oleh keduanya.

Pelajaran berlalu seperti biasa seolah tanpa ada peristiwa apapun. Yang jelas Az panik mendapati tasnya sudah raib. An pun ikut tertawa melihat kepanikan Az, namun tertawa biasa tanpa sadar bahwa tas Az ada didalam tasnya. Bahkan di tengah kepasrahan, Az mulai malas mencari tasnya. Uniknya mereka bertiga, Az, An, dan C, pulang bersama satu angkot karena jurusan pulang mereka yang berdekatan. Jadi orang yang kehilangan tas, yang menghilangkan tas dan yang tak sadar menyimpan tas Az, berjalan bersama beriringan.

Keesokannya memang terjadi kericuhan, An kaget mendapati tasnya ada tas Az, Az marah ke An karena mengira tas itu disembunyikan An, sementara C, cukup mesem-mesem tanpa rasa bersalah. Bisa dibayangkan, Az yang kecil berseteru mulut dengan An yang tinggi, gemuk dan besar. Layaknya Asterix sedang memarahi Obelix.

Benar-benar unik, benar-benar bercanda yang serius.


Bogor, 28 Februari 09

Sabtu, 28 Februari 2009

In Memoriam Sony Gunawan (1974 – 1999)

(Dipersembahkan untuk rekan di SMPN 1 & SMAN 1 Bogor
Dan Jurusan Hubungan Internasional Univ, Padjadjaran)

“Hai, saya Sony…”

Itu kalimat ketika aku pertama berkenalan dengan Sony Gunawan alias Sogun di kelas 1D SMPN 1 Bogor. Kami duduk sebangku, merasa senasib karena sama-sama berasal dari SD di luar Bogor. Sebagian besar teman di kelas sudah mengenal satu sama lain karena berasal dari SD yang sama di sekitar Bogor. Waktu itu aku dari Semarang sementara Sogun dari Padang.

Nama Sogun merupakan kependekan dari Sony Gunawan. Kenapa? Karena di kelas 1D setidaknya ada 2 lagi nama Sony, yaitu Sony (saja) dan M. Sonny. Sehingga untuk membedakan mereka bertiga, kami memanggil Sony untuk Sony (saja), Sogun untuk Sony Gunawan, dan untuk M. Sonny kami akrab memanggilnya : Pa***! (untuk alasan privacy saya tidak tuliskan di sini)

Pertemanan kami berdua berlanjut sampai ke SMA Negeri 1 Bogor, dan semakin dekat ketika kami sama-sama mengambil Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran Bandung. Tidak hanya itu, kami pun tinggal satu atap di tempat kos yang sama dengan hanya perbedaan tembok saja.

Lulus! Dan kami pun berpisah. Kami lulus hampir bersamaan. Kata-kata perpisahan Sogun ketika aku meninggalkan Bandung adalah,

”Din, kita jadi diplomat sama-sama, ya, atau setidaknya kita cari tempat kerja yang sama!”

”Ok, gua tunggu!” Optimis aku menjawab.

Namun niat itu tidak berjalan mulus. Krisis Ekonomi 1998! Dan semua buyar!

Departemen Luar Negeri menutup penerimaan diplomat baru, bahkan memanggil pulang sebagian diplomatnya demi efisiensi. Parahnya lagi, pekerjaan pun sulit aku dapat sehingga aku memutuskan untuk kembali bersekolah.

Sogun? Terdengar kabar bahwa Sogun sakit dan harus dioperasi untuk menghilangkan kanker yang menggerogoti tubuh bagian leher menuju rahangnya. Kabarnya lagi kanker itu sudah mencapai stadium 4. Sama sekali aku tidak pernah membayangkan kanker stadium 4 menyerang Sogun.

Pasca operasi, aku menjenguk Sogun. Aku mendapati Sogun dalam kondisi yang sangat kurus. Bekas luka operasi di sekitar rahang kanan menimbulkan luka besar menganga, sehingga ada semacam daging tumbuh yang membesar dan memanjang di sekitar rahang. Jika dilihat sekilas, seolah Sogun sedang menjepit bola sebesar 2 kepalan tangan antara rahang dan bahu kanannya.

Lebih mengejutkan lagi ketika aku mendapati cara makan Sogun. Tahu, tempe, dan beberapa jenis sayuran dalam kondisi direbus, disatukan dalam blender dan dibuat seperti juice. Diminum dengan cara disedot menggunakan sedotan.

Gila! Aku tahu persis bagaimana ”dahsyat” nya Sogun makan. Tapi saat itu satu gelas juice tahu, tempe dan sayur pun tidak habis setengahnya disedot. Bagaimana mungkin menyedot juice, kalau lidah untuk bicara pun sepertinya sudah tidak mampu lagi digerakkan? Bicara pun lebih dominan menggunakan isyarat yang banyak aku tidak mengerti.

Berbagai cara dilakukan, cara medis, cara alternatif, apapun! Dan akhirnya memang harus berujung di rumah sakit. Tak berapa lama, Sogun kembali masuk rumah sakit.

Jarak dekat antara tempat aku kuliah dengan RSPAD Gatot Subroto tempat Sogun dirawat, memudahkan ku untuk setiap hari berkunjung ke rumah sakit.

Hingga suatu hari di rumah sakit.

”Gun, gua balik dulu, ya. Besok ga kesini, mungkin baru lusa, gua mau ke Bogor, udah lama ga pulang. Lu baek-baek, lusa gua ke sini”

Anggukan Sogun melepas kepulangan ku.

3 jam kemudian, saat baru satu langkah aku keluar dari angkot menuju rumah di Bogor, HP ku berdering.

”Ya, Do!” jawabku atas telepon Edo sahabatku yang lain.

”Din, lu sekarang juga mesti ke sini, mesti ke rumah sakit!”

”Engga, Do, gua lagi di Bogor. Lusa baru ke rumah sakit!”

”Engga, harus sekarang! Sogun koma!”

Astaghfirullah! Koma!

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari, sebentar pamit dengan Ibu, dan kabur kembali ke Jakarta.

Setiba di rumah sakit aku melihat Sogun hanya terpejam, selang oksigen masih terpasang di mulut. Nafasnya naik turun seiring dengan detak jantung yang terpampang di monitor. Menurut keluarga, Sogun sudah hidup dari mesin, jika mesin ini dicabut, berarti selesai sudah. Bacaan Yasin sudah berkumandang di ruangan. Beberapa teman terlihat komat kamit membaca doa masing-masing. Aku hanya diam, berat rasanya aku baca Yasin, karena –menurutku- baca Yasin berarti aku mengakui bahwa Sogun telah tiada.

Di tengah kepasrahan, keluarga memutuskan semua alat dicabut. Dalam hitungan detik, tepat jam 24.00, detak jantung di layar monitor terlihat perlahan berhenti, nafas mulai menghilang, seiring dengan suara syahadat yang dibisikkan di telinga dan takbir yang semakin lantang diteriakkan.

Innalillahi wa Innailaihi Rajiuun.

Sogun tiada! Tepat jam 24.00.

Tak sanggup aku menerima ini. Aku hanya duduk terjajar di tembok selasar rumah sakit. Menelungkupkan kepala di antara kedua lutut. Aku sama sekali tidak bisa berkata apa. Lidah ku kelu, bahkan hati ku pun tak mampu, selain berkata,

”Gun, Gun, lu bilang kita mau sama-sama jadi diplomat! Lu bilang kita mau nyari tempat kerja yang sama! Kenapa jadinya lu sekarang pergi duluan?”

Itu saja yang sanggup aku katakan saat itu, tak ada yang lain, bahkan untuk sekedar sebait doa.

Sogun, saat ini 10 tahun terbaring di alam kubur sana.

”Insyaallah surga bagi mu, Gun! Insyaallah 2 tahun penderitaan mu melawan kanker, meluruhkan dosa-dosa mu!”

”Aku pasti menyusul, entah kapan? Dan aku pun ingin surga seperti ingin mu!”

”Amin!”


Bogor, 2 Januari 2009 - In Memoriam Sony Gunawan (1974 – 1999)

Kamis, 26 Februari 2009

Anak-Anak Memang Selalu Jujur

Beberapa catatan mengenai kejujuran ini.

Catatan 1
Suatu saat di Botani Square Bogor.

“Pap, aku mau popcorn!” Idan –anak laki-laki ku- merengek minta dibelikan popcorn di lantai Lower Ground di Botani Square. Biasanya memang Idan dibelikan popcorn bermerk Act II yang langsung diolah di microwave dan dalam 3 menit sudah bisa dinikmati.

“Nanti saja belinya, kalau kita mau pulang!” janjiku pada Idan.

Idan manggut, lanjutlah kami berdua berkeliling mal. Sampai masa bosan berkeliling, kami masuk ke Pasar Swalayan Giant untuk membeli beberapa titipan istriku. Di Giant kami melihat satu standing booth yang menjual popcorn yang dikemas kotak kertas dan plastik. Kemasannya menarik dan Idan pun tergiur,

“Pap, beli popcorn itu saja!” Idan mulai meminta

“Jangan yang itu, popcorn yang itu ga enak! Enakan yang di bawah! Yang ini gulanya beracun!” kilahku pada Idan.

Popcorn itu memang kurang enak dibanding yang dijual di bawah, yang biasa kami beli. Idan pun setuju, dan kami meninggalkan standing booth tadi.

Berkeliling kami ke pelosok Giant, membeli berbagai keperluan, dan tibalah kami kembali ke standing booth penjual popcorn tadi. Spontan, tanpa diduga, Idan berteriak dengan lantang tepat di depan SPG penjual popcorn,

“Pap, jangan popcorn ini ya! Popcorn ini ga enak! Enakan yang dibawah! Yang ini gulanya beracun” lantang Idan berteriak, membahana ke seantero lorong standing booth penjual popcorn itu, terdengar sampai ke telinga siapapun di situ termasuk si penjual popcorn.

Mbak si penjual popcorn terlihat cemberut, parahnya lagi beberapa ibu yang berencana beli popcorn mengembalikan popcorn itu dan pergi menjauh. Ada yang tetap membawa popcornnya namun menyimpannya sembarangan di rak yang lain. Teriakan Idan benar-benar menjatuhkan mental si penjual, dan membuat aku salah tingkah. Segera aku menjauh, menggiring Idan ke tempat yang lebih aman.

Anak-anak memang jujur.

Catatan 2
Suatu saat di TK Akbar kelas TK B

Seperti biasa setiap Sabtu, jadwalku mengantar jemput Idan. Biasanya bersama istri, namun saat itu kami berbagi tugas, aku menjemput Idan, istriku menjemput Kekey –anak keduaku.

Saat bengong menunggu di depan pintu masuk kelas, Ibu Kepala Sekolah menghampiri.

“Apa kabar, Pa?” sapa Ibu Kepala Sekolah

“Baik Bu.” jawabku

“Tumben sendirian?” Ibu Kepala Sekolah berkata

“Iya, bagi tugas sama ibunya.” jawab ku basa-basi

Tidak lama Idan muncul,

“Paaappppp!” teriaknya heboh.

“Nah ini Idan!” ujar Ibu Kepala Sekolah.

“Idan mana kacamata Oakley nya, katanya baru dibeliin kacamata Oakley sama Pipap?” ujar Ibu Kepala Sekolah.

Hah! Kacamata Oakley? Tahu darimana Ibu Kepala Sekolah mengenai kacamata Oakley?
Beberapa hari sebelumnya aku memang membeli kacamata Oakley di dekat stadion Sempaja Samarinda. Pada saat itu aku sedang bertugas di PON Kaltim, cuaca panas, sehingga sangat penting jika aku menggunakan kacamata hitam. Kacamata Oakley itu palsu, aku membelinya pun hanya seharga 15ribu rupiah. Bandingkan dengan Oakley asli yang bisa 1 jutaan lebih.

Aku memang berkata kepada Idan,

“Idan ini kacamata Oakley buat Idan, harganya 15ribu!” ujar ku

Mungkin kata-kata itu benar-benar melekat di otaknya dan disampaikan ke seluruh antero sekolah, sampai Ibu Kepala Sekolah pun tahu.

“Iya, Idan kemarin cerita, katanya Pipapnya baru beli kacamata Oakley yang harganya 15ribuan!” begitu Ibu Kepala Sekolah berkata.

Aduh! Kalau kacamata Oakley nya sih ga masalah, tapi kenapa diungkapkan juga harga 15ribuannya?

Anak-anak memang jujur.


Catatan 3
Sejak kecil, sejak usia 1 tahun, Idan telah didoktrin dan dicekoki minuman tertentu tempat di mana aku bekerja. Wajar rasanya jika aku sebagai orang tua, mendoktrin anaknya agar hanya mengkonsumsi produk tempat aku bekerja. Bukannya Idan tidak mau dengan minuman lain, tapi aku selalu –dengan jahatnya- mengatakan bahwa minuman lain itu bahaya, ga boleh diminum. Suatu black campaign dari seorang bapak terhadap anaknya.

Doktrin itu memang cukup berhasil, dimana Idan hanya mau mengkonsumsi minuman tempat aku bekerja saja, dengan dalih yang lain bahaya

Suatu hari di ADA Swalayan Bogor.

Idan aku ajak jalan-jalan. Tidak ada yang dibeli, hanya window shopping di lorong ADA Swalayan Bogor. Mengambil hanya seperlunya, karena memang tidak ada yang diniatkan untuk dibeli. Idan mengambil beberapa makanan ringan, namun diam-diam aku mengembalikannya ke rak semula.

Sampailah kami ke lorong minuman kemasan, diantaranya terpajang minuman tempat aku bekerja. Idan mengambil beberapa botol dan disimpan di keranjang. Kali ini tidak aku kembalikan ke rak, karena aku rela jika Idan mengkonsumsi minuman itu.

“Pap, minuman-minuman yang ini BERBAHAYA, ya!” sontak Idan berteriak sambil menunjuk sederetan minuman kemasan mulai dari yang berbahan teh maupun karbonasi.

Teriakan keras, yang aku yakin seluruh orang di lorong minuman mendengar teriakan itu. Beberapa SPG yang sedang merapikan produk-produk minuman yang dituduh Idan berbahaya tadi, mendelik, cemberut ke arahku, wajahnya menunjukkan protes keras. Beberapa pembeli yang sedang melihat-lihat mendadak ikut menatapku dan mengambil salah satu minuman yang telah masuk keranjangnya dan memeriksa kandungan yang ada dalam kemasan minuman itu.

Sepertinya para pengunjung yang mendengar teriakan Idan, mulai termakan kata-kata Idan, dan mulai tidak percaya terhadap minuman yang mereka beli.

Aduh! Idan! Tanpa banyak bicara aku bawa Idan keluar, membayar dengan cepat dan kabur secepatnya.

Hmm…lagi-lagi, anak-anak memang jujur.


Palangkaraya, 24 Februari 09

Rabu, 25 Februari 2009

“Lho, Kok Lu Ada Disini?”

Namanya F, laki-laki muda, cukup mudah bergaul dengan sesama. Selisih setahun dengan ku di SMA. Aku tidak mengenal baik F, hanya sekedar tahu ada orang bernama F, anak SMA angkatan lulus 94.

Setelah lulus 1993, aku kerap bolak balik ke sekolah. Ada undangan memang, dari adik-adik kelasku dalam kelompok Paskibraka. Selain itu kedatanganku juga dalam rangka misi khusus yaitu : cari jodoh!

Adalah N, gadis manis kelahiran Majalengka, merantau ke Bogor untuk melanjutkan sekolah. Gadis ini benar-benar menarik perhatian ku. Sejak pertama bertemu, aku merasa klop, merasa nge-blend, merasa ”masuk” dengan seluruh obrolannya. Aku tipe laki-laki yang tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Namun terhadap N, aku langsung punya feeling lain.

Pendekatan lancar, dibantu pihak ketiga –D, teman karib N- seluruh informasi tergali dengan baik. Nomor telepon, alamat rumah, dan info terpenting : belum punya pacar!

Berbekal info itu, aku melangkah tegap, percaya diri, dan penuh keyakinan untuk mendekati N. Aku yakin, gadis semanis ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja oleh para laki-laki muda yang mencoba mendekati. Langkah strategik ku waktu itu adalah : segera dekati dan miliki dia!

Mantap aku melangkah ke rumah N –di daerah Utara Bogor- untuk pertama kali mengunjungi gadis ini. Tidak ada bunga, tidak ada coklat, tidak ada kado kecil yang aku bawa. Hanya sebersit keberanian untuk menemuinya di rumahnya, dengan konsekuensi bertemu Bapaknya atau Kakaknya atau siapa pun yang mungkin overacting mencoba melindunginya.

Kuketuk pintu rumah, lama aku tunggu, tak ada satupun orang keluar membukakan pintu, 1 menit, 2 menit, 5 menit, aku terpaku di depan pintu. Menunduk! Cemas!

Seketika aku menengadahkan kepala, aku melihat tombol bel menempel di pinggir sisi kanan pintu.

”Sial! Ternyata ada bel!” meracau aku dalam hati memaki kebodohan ku.

Ku tekan bel dan terdengar bunyi,

”Ting Tong!”

Disusul suara, ”Assalamualaikum!” hasil rekaman digital dari bunyi bel.

Tak lama terdengar kunci pintu diputar. Ini dia keluar orangnya. Bersiap aku sejenak, sedikit membetulkan baju dan menyisir rambut dengan tangan, kulakukan dengan cepat dan sekilas, kuyakin yang muncul adalah N.

Pintu terbuka dan...

Keluar seorang laki-laki muda yang selama ini aku kenal sebagai adik kelas ku, F!

Spontan aku menukas,

”Lho, kok lu disini?”

Ada nada cemburu dalam kalimat itu. Ada nada prasangka.

”Jangan-jangan ini cowoknya N!”

Perasaan ku mendadak tidak karuan,

”Sial! Katanya ga punya pacar!”

”Atau mungkin F lagi pendekatan juga?”

”Tapi, kok, F bercelana pendek? Mana mungkin bertamu dengan celana pendek”

Tatap curiga dan kesal keluar dari aura ku. Sekilas pikiran ku campur aduk, ternyata ada yang mendahuluiku, ternyata ada yang menyusul di tikungan, atau ternyata ada yang mencuri start duluan.

Tapi tunggu dulu!

”Siapa tahu mereka hanya berteman, siapa tahu F adalah teman dari kakak N, atau pacar dari kakak N!”

Pro kontra muncul berkelebatan di otak ku.

Akhirnya semua terjawab,

”Ya iya, gua kan tinggal disini, ini rumah gua!” F menjawab pendek

Eh, tunggu...tunggu....

”Rumah Lu?”

”Lu mau ketemu N? N itu sepupu gua, tinggal disini juga!”

”Oh gitu!”

Terpancar kelegaan di wajahku, hilang ketegangan di urat leher ku, terhempas beban mendekam di hatiku.

Ternyata....

Jodoh memang tidak kemana. Dan sampai saat ini N tetap setia selama hampir 7 tahun mendampingiku, menjadi istriku.



Jakarta, 14 Januari 09

Selasa, 24 Februari 2009

“Hiduplah! Meski Engkau Ingin Mati!”

Beberapa waktu yang lalu, di saat yang hampir bersamaan, datang dua email dari dua rekan berbeda. Keduanya mengeluhkan hal yang sama, tapi dengan latar belakang berbeda.

Email teman pertama, pagi sekitar jam 10an :”Duh! Gua asli bosen! Bosen dengan kerjaan sekarang! Kayaknya kerjaannya cuma segitu aja. Kemampuan gua ga berkembang! Frustrasi gua”

Email teman kedua, malam sekitar jam 10an juga :

“Din, gua jobless nih! Udah lama nganggur! Gua butuh uang buat anak-anak gua! Kalau gini terus, bisa frustrasi gua!”

Kedua teman itu mengeluhkan hal yang sama. Keduanya frustrasi. Keduanya berada pada ambang batas kebosanan. Meskipun keduanya berada pada latar belakang yang berbeda. Yang satu frustrasi karena pekerjaannya membosankan, yang lain frustrasi karena tidak punya pekerjaan.

Apa yang harus aku jawab atas keluhan mereka?

Aku langsung teringat salah satu episode talkshow di sebuah TV swasta ternama. Aku sempat menyaksikan acara itu, tidak sampai selesai, namun aku beruntung karena mendapat sebuah pernyataan berharga dari sang bintang tamu, yaitu :

“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”

Spontan aku balas email mereka dengan kalimat itu. Tidak banyak penjelasan aku berikan, aku hanya meminta untuk dibaca dan dipahami dengan interpretasi masing-masing.

Renungan ku menerawang pada diriku sendiri. Mungkin kah aku mengalami hal seperti yang dialami mereka? Apa yang aku lakukan jika menjadi mereka? Akankah aku bertahan?

Terawang itu mendadak sontak buyar manakala aku menyadari bahwa akupun berhak dan bisa mengambil hikmah dari kalimat itu. Mengulang ku coba memahami lagi,

“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”

“Sekarang! Lihat aku!” begitu sisi hati ku berbicara. Bekerja seolah tak berbatas waktu. Seperti mesin yang hanya overhaul 6 bulan sekali. Bekerja 3 shift tanpa henti. Ya itulah aku jika aku boleh menganalogikan. Bekerja Senin – Jumat, diluar kota, jauh dari keluarga, keliling area, menggunakan transportasi udara, dan penuh resiko.

Di suatu malam, sepulang aku dari sebuah kota, jam 23.30.

Aku lihat istri dan anak-anak sudah tidur.

Aku lihat anak pertama ku. Sudah besar dia sekarang. Lebih besar dari usianya. Aku teringat ketika dia bayi, aku berjanji mengajarinya naik sepesa roda dua. Aku ingin dia bisa mengendarai sepeda roda dua atas didikan ku. Namun apa yang terjadi, dia sekarang sudah bisa mengendarai sepeda roda dua tanpa aku mengetahuinya. Dia belajar sendiri. Tanpa bantuan siapa pun, hanya baby sitter nya yang mengawasinya dari jauh. Sesal aku dibuatnya.

Aku lihat anak kedua ku. Cantik sekali. Mirip ibunya. Aku yakin kelak dia dewasa, banyak pria yang datang ke rumah untuk mendekatinya. Dan aku berjanji akan menjaganya agar dia tidak sakit hati seperti halnya sakit hatinya perempuan karena ulahku. Ketika anak kedua ku lahir, aku pun berjanji, kelak aku ingin mengajarinya membaca doa, setidaknya membaca doa untuk ibu dan bapak. Sebuah doa sederhana yang bermakna dalam untuk keselamatan aku dan istriku kelak di akhirat nanti. Namun apa yang terjadi, anak keduaku sudah dengan fasih membaca doa itu. Tanpa aku yang berada di sampingnya. Lagi-lagi sesal aku dibuatnya.

Aku lihat istriku. Di dalam pejamnya kurasakan lelah. Setiap hari selama seminggu –kecuali Sabtu Minggu- istriku seakan single parent, yang membesarkan anak sendirian, memberikan nafkah dengan bekerja, dan mendidik segala sesuatu yang diperlukan anak. Pernyataan cinta via sms rasanya belum cukup untuk mengobati kelelahan itu. Aku berjanji dalam hati tidak akan pernah aku menyakiti hatinya lagi, tidak akan pernah ada khianat yang akan aku lakukan, dan tidak akan pernah hatiku sanggup untuk berpaling.

Melihat ketiga kilau mutiara ku itu , membuatku luluh, membuatku ingin berhenti berjalan, ingin rasanya mematikan mesin ini, shut down, dan kemudian menggantinya dengan romantisme dan sense of art untuk mereka. Mesin ini perlu overhaul atau mungkin sudah tidak ingin lagi beroperasi. Sudah terlalu banyak kehilanganku akan saat-saat bersama mereka. Saat-saat yang tak mungkin kembali dan hanya aku dapatkan dari sekedar cerita bukan pengalaman pribadi. Aku tidak tahu bagaimana sensasi mengajari anakku mengendarai sepeda roda dua, aku tidak tahu bagaimana nikmatnya mendengar anakku lancar membaca doa, dan aku juga tidak tahu bagaimana indahnya lelah ketika sibuk bermain bersama anak-anak.

Apakah aku harus berhenti? Renungan ku kembali ke kalimat tadi,

“Hiduplah! Meski engkau ingin mati! Namun jika kau tak ingin, setidaknya hiduplah untuk orang disekitar mu!”

Aku bisa saja berhenti dan mati, namun apakah itu jalan terbaik? Rasanya aku tidak perlu mati, mesin ini tak perlu shut down, harus tetap beroperasi. Karena dengan berjalannya mesin ini, maka akan memberikan kehidupan bagi sekitar. Aku tetap harus hidup, tetap melangkah, tetap berkiprah, dan tetap maju. Aku melakukan itu bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk orang sekitar. Untuk istriku, untuk anak-anakku dan untuk siapa pun yang bisa mengambil makna dari kiprahku.

Banda Aceh, Januari 09

Senin, 23 Februari 2009

Toleransi Longgar Sebuah Hati

Manado, kota seribu gereja. Kiri kanan dengan jarak yang hampir berdekatan, aku melihat gereja, mulai dari yang permanent dan mewah hingga gereja yang hanya bertembok kayu dan sederhana. Tidak hanya Manado, namun sepertinya sebagian besar Sulawesi Utara, karena ketika berjalan ke arah Kabupaten Minahasa baik Selatan, Barat, Timur, dan Utara, juga ke arah Tomohon dan Tondano, ribuan gereja bertebaran di wilayah itu. Tidak heran karena umat Kristiani baik Katolik, Kristen, Protestan, dan Advent mendominasi jumlah penduduk di Provinsi itu.

Hal lain yang aku lihat, poster caleg yang bertebaran di berbagai pelosok Sulawesi Utara, menampilkan nama-nama yang unik. Wewengkang, Karamoy, Rotinsulu, Manoppo, dan banyak lagi nama-nama unik khas Sulawesi Utara. Kabarnya nama-nama itu akan berbeda-beda tergantung dari nama khas daerah, seperti nama khas Tomohon, Tondano atau Minahasa.

Di samping itu ternyata ketika aku baca di sebuah harian nasional yang membahas mengenai Sulawesi Utara, provinsi itu terbagi menjadi tiga kultur besar yaitu kultur Minahasa, kultur Bolaang Mongondow, dan kultur Sangihe & Talaud. Ketiga kultur tersebut membentuk karakter Sulawesi Utara yang penuh toleransi, mengakui keberagaman, meski didominasi suatu agama tertentu.

Begitu saja bahasan mengenai kedaerahan Sulawesi Utara. Bukan itu yang aku mau bahas. Tidak mengenai agama, tidak mengenai keragaman kultur, dan tidak mengenai foto-foto caleg.

Suatu hari Jumat di Tomohon.

Pagi-pagi kami –aku, si Bos, pemilik distributor, dan supervisor ku- meluncur menuju Tomohon. Berjarak waktu sekitar 1 jam dari Manado. Sesampainya di Tomohon, kami berkeliling pasar, seperti biasa mengunjungi toko-toko, menanyai pemilik toko, melihat produk kompetitor, dan sedikit membeli makanan-makanan khas Tomohon.

Waktu berlalu, tak terasa waktu shalat Jumat tiba. Shalat Jumat dimana, ya? Di Tomohon sepenglihatan ku tidak ada satupun mesjid berdiri. Pukul 11.30 biasanya aku sudah bersiap-siap, nongkrong di mesjid, walaupun bukan berzikir –mungkin malah tidur- tapi aku sudah bersiap melakukan shalat Jumat.

Resah aku memikirkan saat itu, shalat Jumat dimana?

Detik berlalu, dan memang tidak ada tempat untuk shalat Jumat. Tapi sudut hatiku mencoba menoleransi,

“Ah, kan suasananya lain, di sini tidak ada mesjid, dan aku jauh ratusan kilometer dari tempat domisiliku, jadi nanti saja di Jama’ dengan Ashar!” suara hati toleransi itu muncul begitu saja.

Alhasil memang aku jadi tidak shalat Jumat hari itu.

Sorenya, saat di pesawat, saat merenung, saat menyendiri di Seat 15A Garuda, sambil memandang segerombolan awan, aku berpikir,

“Kenapa aku tidak shalat Jumat hari ini? Ok lah, aku tidak shalat Jumat karena tidak ada mesjid di sekitar situ, karena jarak ratusan kilometer dari tempat domisili, karena bisa saja di Jama’ Takhir dengan Ashar. Tapi kenapa hatiku berkata lain? Kenapa ada yang tidak sreg dihatiku saat itu?” kecamuk pertanyaan di hati.

Dulu aku berpendapat, boleh saja shalat di Jama’ dengan kondisi yang memang diperlukan, misal waktu Ashar di pesawat sehingga tidak memungkinkan untuk shalat secara normal. Jikapun waktu itu aku berada jauh ratusan kilometer dari tempat domisili, jika ketemu mesjid, ketemu ruang untuk shalat sebaiknya shalat, tidak perlu di Jama’. Dan aku resah luar biasa ketika aku tidak menemukan ruang atau mesjid untuk shalat.

Namun kenapa rasa resah itu hilang ketika tadi tidak ada ruang untuk shalat Jumat? Kenapa aku seperti tenang-tenang saja ketika tidak ada satupun mesjid yang bisa aku tempati untuk shalat Jumat? Tidak ada lagi rasa resah yang dulu saat aku begitu bela-belain cari tempat shalat.

Ada apa dengan ku ini? Kemana rasa resah itu? Kemana rasa kosong di hati ketika terlewat waktu shalat? Kenapa aku sekarang tenang-tenang saja ketika kehilangan shalat?

Aku mengakui lemahnya hati ini, aku mengakui lemahnya iman ini. Aku sudah terlalu longgar menoleransi hati. Aku ingin kembali merasakan resah ketika kehilangan shalat, aku ingin kembali merasakan sedih luar biasa ketika waktu shalat terlewat. Semua kembali pada diriku, pada hati ini. Bukan pada siapa-siapa, bukan pada ketiadaan mesjid di suatu daerah, bukan pada ketiadaan waktu untuk shalat, bukan pada kesibukan luar biasa yang menyingkirkan waktu shalat. Tapi ada pada diriku, ada pada hatiku, dan ada pada niatku.

Ya Allah, ampuni kelemahan iman ini, aku ingin tobat, meski seringkali salah itu aku ulangi….


Bogor, 23 Februari 2009

Sabtu, 21 Februari 2009

Beda Tipis Antara Halal dan Haram di Negeri Seberang

Aku baru saja pindah dari kantor ku yang lama ke kantor yang sekarang ini. Sebenarnya jenis pekerjaannya sama, hanya produk yang berbeda. Tentu saja kulturnya pun berbeda. Dulu aku bekerja di perusahaan nasional, sekarang di perusahaan multinasional berlatar belakang Jepang.

Aku masuk 16 Agustus 04, sebagai orang baru, tentunya menghadapi budaya baru, budaya perusahaan Jepang.

Belum 3 bulan aku bekerja, tepatnya Oktober 2004, saat nikmat-nikmatnya menjalankan puasa Ramadhan, bos Jepang ku memerintahkan aku menemaninya ke Jepang. Dan kita akan menjamu 3 tamu dari Indonesia yang juga adalah klien ku yang selalu terkait pekerjaan dengan ku.

Ke Jepang? Belum pernah aku menginjakkan kaki di sana, jangankan Jepang, keluar negeri saja aku belum pernah, bahkan passport pun tidak punya.

Singkat cerita, berangkatlah aku ke Jepang, sebuah negeri sempurna jika dilihat dari sisi duniawi, namun jika dari sisi mentalitas religius, belum tentu!

Bos ku benar-benar peduli dengan para tamu termasuk juga peduli pada ku –meski aku bukan tamu- yang sangat concern pada makanan halal ataupun haram. Agak sulit mendapatkan makanan yang murni halal di sana. Apalagi jika dikaitkan dengan makanan halal versi Muslim berdasarkan syariah yang murni dan konsekuen. Dimana halal tersebut tidak hanya makanan mengandung babi atau tidak, tapi lebih dalam lagi, seperti media memasak yang bebas babi, atau ketika menyembelih pun harus sesuai syariah. Dari ketentuan dasar itu saja, aku ragu makanan halal beredar luas di Jepang.

Ok lah, tidak mengandung babi, tapi sendok sayurnya mungkin pernah dipakai untuk menyendok babi, atau ketika menyembelih ayam, dilakukan asal potong dan tanpa baca bismillah. Sulit aku rasa jika kita ingin mencari makanan halal di Jepang.

Suatu waktu, tatkala melepas lelah setelah berkeliling Tokyo, aku, si Bos, dan tiga orang tamu melepas lelah di sebuah kedai makan. Konon kabarnya, kedai itu menyediakan berbagai makanan khas Osaka, sekitar 2 jam perjalanan dari Tokyo. Osaka ini adalah juga kabarnya kampung halaman si Bos. Salah satu makanan khas Osaka yang dihidangkan itu adalah Okonomiyaki.

Memasak Okonomiyaki, menggunakan wajan datar yang unik, wajan datar itu berada di tengah meja tempat kami singgahi. Satu ruangan kedai itu terdiri dari 10 meja, dengan kursi yang terdiri dari 6 kursi di setiap mejanya. Wajan datar tadi berada tepat di tengah meja, sehingga kita menyaksikan langsung proses memasak itu. Okonomiyaki yang dibuat disesuaikan dengan jumlah orang yang duduk, sehingga setiap 1 orang akan mendapat jatah 1 Okonomiyaki.

Cara memasak Okonomiyaki, mirip dengan memasak martabak. Adonan terigu ditebar melingkar di wajan datar, ditunggu hingga setengah matang, kemudian ditaburi topping yang terdiri dari daging, taburan bawang, dan daun-daunan yang aku tidak kenal. Topping itu begitu penuh, sehingga melebihi ketebalan adonan terigu yang mendasari Okonomiyaki.

Bos ku –dalam bahasa Jepang- bebicara ke pramusaji kedai itu, kira-kira artinya adalah,

“Buatkan 6 Okonomiyaki, yang 5 topping babi, yang 1 topping ayam” ujar si Bos.

Satu topping ayam pastinya diperuntukkan bagi ku yang satu-satunya Muslim di meja itu.

“Terima kasih, Bos, dikau begitu perhatian padaku!” batinku.

Tapi…

Tidak semudah itu mendapatkan makanan halal di Jepang, itu yang mesti aku waspadai.

Benar saja, memasak Okonomiyaki tadi tepat dilakukan di depanku. Pertama, satu gelas besar isi adonan terigu, disebar menjadi enam lingkaran berdiameter 15 cm di atas wajan datar berlapis minyak yang panas. Gelas besar tadi diisi oleh daging yang telah dipotong kotak-kotak, diaduk dengan sejenis minyak, dan ditaburkan merata di 5 adonan dasar Okonomiyaki tadi.

Lho kok cuma 5? Seakan mengerti dengan keherananku, si Bos berkata,

“Yang lima ini babi, nanti yang ayam menyusul” ujar si Bos

Tak lama setelah daging babi tadi ditabur, disusul potongan daging ayam dimasukkan ke gelas besar yang sama, diaduk dengan sendok yang sama dan menggunakan minyak yang sama. Setelah diaduk beberapa saat, langsung ditabur ke satu adonan Okonomiyaki yang konon adalah jatahku.

Lengkap sudah 6 Okonomiyaki matang terhidang di atas meja, 5 topping daging babi, 1 topping daging ayam. Menggunakan gelas adonan yang sama, sendok yang sama, wajan datar yang sama, dan dijejerkan berdekatan satu sama lain. Bisakah dikatakan halal? Syariah Islam di belahan bumi manapun akan mengatakan tidak halal. Namun apa yang bisa aku perbuat. Tidak aku makan? Konsekuensinya aku akan membuat tersinggung si Bos dan tentunya jadi lapar. Aku makan? Jelas haram. Berarti ada unsur haram yang aku masukkan ke perut ku.

Akhirnya, dengan banyak pertimbangan, dengan sikap menjaga perasaan si Bos, dan tentunya dengan segala kelemahan iman, aku lahap memakan Okonomiyaki topping ayam jatahku. Lahap sekali, seolah tidak ada beban haram didalamnya. Dalam otakku hanya satu, aku tahu ini haram, ini salah, namun kalau aku tidak menikmatinya, aku rugi dua kali. Rugi karena makan makanan haram dan rugi karena tidak bisa menikmatinya.

Ampuni aku, ya Allah….


Bogor, 22 Februari 09

Murid “Sok Iyee…” vs Guru “Sok Galak”

Ini kisah tentang sahabat ku

Namanya F, pemuda berperawakan sedang, tidak terlalu kurus, berpembawaan selalu ceria seolah tidak pernah ada masalah dalam hidupnya.

Kebiasaan unik F ini adalah selalu berbicara dengan logat Betawi, padahal setitik pun tidak ada darah Betawi dalam dirinya. Bahkan tempat tinggalnya -tidak jauh dari ku- yaitu di sekitar pinggiran Bogor yang sehari-hari berbicara dengan Bahasa Sunda yang cenderung kasar.

Logat Betawi yang sangat sering dia gunakan adalah “Iyee…” dengan gaya seperti Mandra atau Si Doel di sinetron. Apapun atau siapa pun yang mengajukan pertaan konfirmatif atau biasa disebut “yes no question” yang diajukan, akan dijawabnya enteng dengan “Iyee…”

Kami –dan juga beberapa guru- sudah terbiasa dengan gaya seperti itu. Kami menikmati gaya itu. Kami merasa terhibur dengan gaya seperti itu.

Suatu hari, datang guru baru di kelas kami. Namanya Pa B

“Siap, beri salam!” Lantang ketua kelas kami, D, memimpin aba-aba salam.

“Slamat siang, Pa!” Serempak pula kami memberikan salam kepada Pa B

“Slamat siang!” Lantang pula Pa B menjawab, tidak hanya lantang, tapi tegas, lugas, dan menggelegar.

Kami cukup kaget mendengarnya, bahkan salah satu teman perempuan, setengah terlonjak dari duduknya mendengar gelegar suara Pa B.

“Di kelas ini saya mau buat aturan main!” gelegar suara itu muncul lagi.

Aturan main? Sibuk dalam hati kami bertanya. Kelas benar-benar hening, tak ada cekikikan, tak ada bisik-bisik, tak ada gerutuan, bahkan untuk bernafas pun kalau bisa ditahan dulu.

Berondongan aturan main diluncurkan Pa B terhadap kami. Sebenarnya aturan main yang biasa saja, standar, tidak ada yang istimewa. Misalnya, apabila guru sedang berbicara, tidak ada murid yang berbicara sendiri-sendiri, atau tidak ada yang nyontek ketika ulangan, atau harus aktif ketika sessi diskusi, atau tidak terlambat masuk kelas, dsb, dsb, dsb.

Standar! Itu memang sudah kewajiban murid, bukan?

Kelas masih hening.

Berondongan selanjutnya lebih banyak menceritakan asal muasal Pa B. Ternyata Pa B sebelumnya mengajar di salah satu kota di Provinsi Riau di Pulau Sumatera. Cerita berlanjut, lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi beliau. Misal, bagaimana beliau menghadapi murid sekolah yang mengacungkan golok ketika nilai ulangannya jelek, atau bagaimana beliau menghadapi keroyokan orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas, dsb, dsb, dsb.

Cerita-cerita tersebut cenderung menunjukkan keangkeran sekolah tempat beliau mengajar dulu dan menunjukkan heroisme beliau dalam menghadapinya.

Hening kami mendengar. Terpukau? Rasanya tidak juga. Bahkan aku berfikir, untuk apa beliau menceritakan hal itu kepada kami? Untuk menggertak? Rasanya tidak mempan, ya.

“Jadi, semua jelas ya?”

“Semua harus ikuti aturan main yang kita sepakati tadi!”

“Mengerti?” Sebuah pertanyaan konfirmatif diajukan oleh Pa B.

Serempak seluruh murid menjawab,

“Mengerti!”

Namun, setengah detik setelah kata-kata “Mengerti” diluncurkan, muncullah jawaban yang sangat familiar di telinga kami, jawaban yang selama ini kami anggap lucu, jawaban selalu dijawab oleh orang yang sama, yaitu,

“Iyeee….!” Temanku F menjawab!

Keluar dari jalur jawaban teman sekelas, pindah dari keharusan jawaban yang diinginkan Pa B, dan lantang menyaingi kerasnya keserempakan jawaban sekelas!

Cekikikan sekelas menahan tawa, saling berbisik, saling pandang, dan saling bingung.

“Diam!” bentak Pa B

Hening….

“Siapa itu yang jawab!”

“Saya, Pa” F menunjukkan tangan.

Pa B mendekati F yang duduk di bagian belakang di sayap kiri kelas.

“Kenapa kamu menjawab seperti itu!”

F terdiam. Menunduk. Bukan tidak mau menjawab, tapi memang tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu tahu, jawaban seperti itu adalah jawaban tidak sopan!”

“Jawaban kampungan!”

“Tidak pantas dilontarkan seorang yang mengaku berpendidikan!”

Berondongan pernyataan keluar dari mulut Pa B. F hanya tertunduk, tak berani memandang. Sudut hatinya mungkin menyesal.

“Saya minta kamu tidak mengulangi lagi jawaban seperti itu!”

“Mengerti!”

Dan F menjawab.

Sebuah jawaban yang menggoncangkan kelas, yang mengagetkan seluruh isi kelas, yang membuat seisi kelas tak kan pernah melupakan hari itu adalah,

“Iyyeeeee…!”

Gemuruh kelas berdentam, derai tawa mengalir bak air bah, tak tertahankan, tak ada cekikikan, tak ada bisik-bisik. Semua lepas, tertawa, tergelak, tak peduli dengan keangkeran Pa B, tak peduli dengan aturan main Pa B!

Sekilas aku melihat Pa B, dia pun ternyata tertawa, setidaknya tersisa sungging senyum di bibirnya. Aku yakin Pa B pun terhibur pada saat itu, terhibur dengan tingkah laku F, terlepas beban angker dari pundaknya, bebas, tak bersisa.

Sejak saat itu, Pa B menjadi guru favorit kami, menjadi guru terdekat kami, bahkan lebih dekat dari wali kelas kami. Saat study tour, alih-alih tidur di kamar para guru, Pa B justru menginap di cottage kami. Berkumpul, tertawa bebas, seperti layaknya seorang teman.

Sampai saat ini Pa B masih menjadi guru di SMU di sekolah kami. Aku yakin beliau makin berpengalaman menghadapi murid-murid seperti kami, makin mengerti mengatasi murid-murid seperti kami, dan makin dihargai oleh para muridnya.

Sahabatku F? Percaya atau tidak, dia sekarang berprofesi sebagai guru!

Ya! Guru!

Jika hukum karma itu memang ada, maka inilah mungkin karma yang menimpa F. Tapi aku yakin, F mampu menghadapi murid-muridnya yang “sok iyee..”, sok slengekan, cuek, lucu dan bandel. Aku yakin itu, karena toh F pun seperti itu dulu.

Sukses Pa B, engkau berjasa besar mencetak manusia-manusia unggul dari SMA kami.

Sukses F, engkau pun berkesempatan menjadi pencetak manusia-manusia unggul dari sekolah mu.


Gorontalo, 27 Januari 09

Tragedi 3 : Dikhitan!

Seperti diceritakan di Tragedi 2 : Idul Adha Kelabu, Kejepit Retsleting!, aku mengalami trauma mendalam terhadap jarum suntik. Sampai saat ini. Jika ada pilihan lain, sebaiknya tidak ada satu jarum pun yang harus menusuk anggota tubuh ku.

Usia 9 tahun, saatnya dikhitan! Sudah terlalu “tua” untuk ukuran anak di kampung ku. Di kampung ku, usia 4-6, anak-anak sudah dikhitan. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak. Jelas harus dikhitan karena itu kewajiban bagi laki-laki Muslim di manapun.

Cara dikhitan di kampungku masih menggunakan cara-cara tradisional. Tak ada dokter tak ada bius. Semua menggunakan “bacaan” khusus sehingga si anak tidak sama sekali merasakan sakit dan lekas pulih dalam waktu singkat. Pemotongan dilakukan cukup dengan pisau setajam mungkin berukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa. Satu-satunya alat medis adalah cairan penisilin yang akan dioleskan ke luka khitan selama masa luka itu belum kering. Masalah steril, tidak pernah jadi masalah. Bertahun –mungkin berabad- cara itu digunakan, namun belum pernah ada kejadian adanya infeksi atau efek negative apapun. Setidaknya sepanjang yang aku tahu.

Beberapa minggu sebelum dikhitan, perasaanku campur aduk. Takut dan senang campur aduk. Trauma kejepit retsleting masih menghantuiku. Apalagi godaan para sepupu yang sudah lebih dulu dikhitan.Semua membuat ku takut, galau, dan terpikir untuk ditunda saja.

Tapi tak mungkin ditunda. Acara khitanan sudah disetting rapi oleh Bapak. Sudah siap dijalankan.

Di saat hari H.

Pagi hari aku sudah mandi, sudah didandani, sarung lengkap dengan baju koko. Pakai sarung tanpa celana, sehingga ketika dkhitan, “pemotongan” akan relative lebih mudah. Seluruh badan ku terasa lemas. Rasa takut itu makin menjadi. Kehadiran seluruh kerabat kampung membuatku semakin gentar. Suara zikir sebelum mulai dikhitan membuatku semakin merinding.Aku hanya duduk terdiam, tanpa ekspresi dan –katanya- terlihat pucat.

“Ayo, Din, kita ke ruang depan” Ibu memecah lamunanku

Aku terhenyak. Pasrah digiring Ibu ke ruang depan. Di ruangan itu aku melihat puluhan orang bersorban putih duduk bersila. Berzikir dan membaca shalawat nabi. Gumam zikir dan shalawat itu bagiku terdengar seolah genderang perang yang bergemuruh di sebuah ajang peperangan. Bergemuruh saling bersahutan dengan cepatnya degup jantung pada diriku.

Aku melihat di tengah ruangan beberapa eksemplar surat yasin tergeletak, beberapa piring berisikan kue dan rokok. Aku juga melihat di paling tengah, ada sebuah piring yang terlihat berbeda dari piring yang lain. Sekilas piring itu seperti kosong, namun jika diperhatikan sebenarnya ada sebuah suntikan –atau seperti suntikan- tersimpan di atas piring tersebut.

Hah! Suntikan!

Tegang aku dibuatnya! Apa yang akan dilakukan dengan suntikan itu? Sambil duduk bersila, pandangan ku tak lepas dari suntikan itu. Aku berharap pandangan ku salah. Ingatan ku melayang ke beberapa bulan sebelumnya, dimana aku “disiksa” oleh 4 pria perawat kekar, disuntik beberapa kali oleh dokter yang kejam, dan menyisakan trauma sampai saat ini.

Dan pagi itu aku harus berurusan dengan suntikan? Apa kaitannya dengan dikhitan? Selama ini tak ada info apapun mengenai proses suntik dalam khitan ini. Bayangan ku melayang, apakah aku akan disuntik di alat vital ku, di perut ku, atau dimana? Apa pun itu pasti akan sakit.

Entah apa yang aku pikirkan.

Tiba-tiba tanpa diduga siapapun, aku berdiri, dan secepat kilat berlari kencang ke arah kebun pala milik kakek. Aku lari sekencang mungkin. Yang ada di pikiran ku saat itu adalah lari, lari, lari! Menghindar dari jarum suntik, tak mau lagi berurusan dengan jarum suntik, tak peduli meski aku batal dikhitan.

Terus aku berlari, hingga sampai di kebun pala kakek. Aku melihat ke belakang, orang-orang bersorban putih itu mengejar ku. Namun ketika kembali melihat ke depan, orang-orang bersorban putih yang lain juga mengejar ku. Aku terkepung di kebun itu. Berlari kesana kemari, menghindar dari hadangan orang. Mirip pemain American Football yang menghindari hadangan pemain lawan. Atau mungkin lebih mirip seekor ayam yang sedang dikejar dan akan dipotong oleh sekelompok orang lapar.

Terus aku berlari, menghindar, berkelit, sampai akhirnya ada tangan keras dan kasar yang menangkap ku dari belakang, membopongku dengan keras, sehingga tangan dan kaki ku tak sempat lagi meronta. Tak tahu lagi apa yang terjadi, selain karena kondisi ku setengah tak sadar –mungkin karena lelah berlari- juga karena ada tangan besar lain yang menutupi pandanganku. Gelap!

Ketika tangan itu sudah membuka, mata ku bebas memandang, aku mendapati selangkangan ku berdarah, ujung kemaluanku mengalir darah. Ternyata “pemotongan” khitan itu sudah terjadi. Tanpa ada rasa, tanpa ada sakit sedikit pun!

“Kapan dipotongnya?” itu berkecamuk di kepala ku.

Dengan tangis –bukan karena sakit, tapi karena shock- aku dibopong kembali ke ruang tengah, ditidurkan, diberi minum. Berhamburan lah orang-orang menghampiriku. Mungkn pikiran mereka pun campur aduk, sedih, miris, dan pasti tertawa terbahak. Lucu melihat kekonyolan ku di kebun pala tadi.

Semua orang bertanya, semua orang ingin tahu, semua orang penasaran.

“Kenapa Dindin lari?”

Belakangan aku baru tahu, bahwa suntikan di atas piring itu tidaklah benar-benar suntikan. Tidak ada jarumnya, hanya batang suntikan yang berisi air penisilin yang akan disemprotkan sesaat setelah khitan dilakukan.

Memang yang namanya trauma itu begitu dahsyat. Begitu sempurna mengecilkan hati, menggetarkan rasa. Bahkan sampai saat ini pun, masih menyisa. Maka dari itu, sampai saat ini, aku takut disuntik!

Bogor, 14 Februari 09

Tragedi 2 : Idul Adha Kelabu, Kejepit Retsleting!

Umur 8 tahun aku belum disunat. Sudah cukup terlalu tua untuk ukuran anak-anak kampung ku. Makanya kalau berenang di kali, aku agak malu, soalnya hanya aku yang belum disunat.

Saat itu Idul Adha, tahun 1983, di Palembang.

Shalat Id, menikmati ketupat, sudah, itu saja kegiatan keluarga saat Idul Adha di Palembang, tak ada keluarga lain yang dikunjungi, hanya kami berlima di rumah.

Saat disuapi ketupat, aku kebelet pipis. Tapi alih-alih ke toilet, aku malah ke kebun depan dan pipis di pinggir pohon.

Kubuka retrsleting celana, dan cuurrr pipislah aku. Pada saat itu aku tidak menggunakan celana dalam. Sehingga langsung bisa cuurrr sesaat setelah buka celana. Selesai pipis, celana aku tarik kembali, retsleting aku tutup kembali.

Tapi kok retsletingnya agak seret. Aku paksakan tarik, dan

“Aww…..!” aku menjerit kesakitan.

Aku merasakan ada yang sakit, perih. Kenapa ini?

Ternyata p**** ku kejepit retsleting!

Sontak aku berteriak!

“Whoaaaaa…!”

Seketika seisi rumah heboh.

“Dindin kejepit retsleting!” gempar seisi rumah

Bapak segera bertindak. Diguntingnya celana ku. Sehingga hanya menyisakan kepala retsleting yang menggantung di p**** ku. Layaknya anting-anting yang menggantung di telinga.

Tidak berhasil mencabut, aku dibawa ke rumah sakit. Masuk UGD. Aku berontak, karena takut, karena panic di UGD rumah sakit. Saking berontaknya, aku tidak mau dibaringkan di ranjang, aku ingin lari. Tapi empat orang perawat pria berbadan besar memegangiku. Kedua tanganku ditarik keatas, disatukan dan dipegang oleh satu perawat pria. Kakiku bernasib sama, disatukan dan dipegang erat oleh satu perawat.

Kepalaku bernasib lebih tragis. Sepasang tangan besar menekan kepalaku dengan bertumpu pada kening. Sehingga kepala ku sama sekali bisa bergerak. Siksaan belum selesai, perut dan dadaku ditekan keras oleh satu orang perawat pria lain. Sesak dan tersengal aku berusaha nafas.

Sebegitu berontak nya kah aku, sehingga 4 algojo itu bersamaan mengekangku?

Selanjutnya tak kalah mengerikan. Aku lihat seorang dokter sedang memainkan jarum suntik. Menguji nya dengan cara menjentikkan jarinya ke alat suntik yang dipegangnya. Akan diapakan aku? Aku paling takut disuntik! Dan kenapa pula aku harus disuntik?

Dan jusss, rasa sakit di perut bagian bawah ku. Aku disuntik di perut, tidak tahu berapa kali aku disuntik, karena yang kurasa hanyalah cengkeraman para perawat berbadan kekar, dan tusukan berkali-kali disekitar perut dan pangkal paha.

Takut, panik, sakit.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku tak bisa lagi merasakan bagian perut ke bawah. Mungkin karena akibat suntikan. Mungkin itu semacam suntik bius lokal di daerah perut.

Beberapa saat kemudian, cengkeraman para perawat berbadan besar itu mengendur, dilepasnya tangan, kaki, tindihan di dada dan kepala. Ada apa ini? Ternyata semua sudah usai. Kepala retsleting itu sudah tidak lagi menjepit. Sudah lepas. Lega.

Plong rasanya aku terbebas dari siksaan tadi. Namun rasa sakit itu masih ada. Sakit secara fisik akibat tindihan, cengkeraman, dan suntikan. Dan juga sakit secara mental, bahkan parahnya lagi meninggalkan trauma mendalam sampai saat ini.

Sampai saat ini aku takut disuntik, jika ada cara lain, lebih baik cara lain saja. Jika ada kegiatan donor darah, aku menghindar, bukan karena sombong, tapi karena takut jarum yang menusuk dan menghisap darah ku.

Seorang teman,menawariku suntik vitamin C, katanya bagus untuk kulit, aku mau saja kulit ku jadi bagus, tapi tidak dengan cara disuntik.

Benar-benar hari kelabu yang membawa trauma seumur hidup.

Bogor, 7 Februari 09

Tragedi 1 : Tembaga Sebesar Setengah Kuku Kelingking, Tertelan!

Usia 7 tahun, usia penuh keingintahuan. Segala macam dicoba, dieksperimen, berulang-ulang. Usia itu aku berada di Palembang, mengikuti orang tua dalam penempatan dinasnya di sana.

Rumah tempat kami tinggal, sekaligus juga gudang tempat penyimpanan barang berupa retsleting dan komponen-komponennya yang akan dijual di pasar. Bapak bertugas sebagai tenaga penjualan untuk barang-barang tersebut di Sumatera Selatan.

Karena setengah rumah setengah gudang, maka di sekitar rumah kami bertebaran barang-barang jualan Bapak, tercecer, terserak sembarangan, termasuk benda-benda kecil komponen retsleting.

Aku sering iseng ikut bermain di gudang, ikut mengumpulkan limbah retsleting, sebenarnya tujuannya untuk dibersihkan dan dibuang, namun kenyataannya malah tambah ngacak-ngacak. Sering pula benda limbah itu aku bawa dan aku buat mainan.

Salah satu benda yang aku jadikan mainan adalah topstop, suatu istilah di dunia pe-retsleting-an, yaitu berupa tembaga berbentuk U yang besarnya tergantung dari besar retsleting, biasanya sebesar setengah kuku kelingking orang dewasa. Fungsinya adalah untuk menghentikan kepala retrsleting agar tidak bablas ketika kita membuka atau menutup retsleting. Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dibayangkan, kalaupun tidak, ya sudah, toh bukan itu inti masalahnya.

Suatu hari, habis bermain, iseng aku memainkan topstop tadi. Topstop yang aku pegang berukuran sedang, tidak besar, tapi bukan yang terkecil. Aku memainkannya dalam posisi tiduran, mungkin memang akan tertidur, sambil dua jari ku memainkan topstop.

Entah apa yang ada di pikiran ku, topstop itu aku gunakan untuk menggaruk hidung bagian bawah. Mungkin karena berbentuk U, jadi ujung-ujung U itu aku gunakan untuk menggaruk. Tindakan sembrono!

Benar saja, ketika menggaruk, topstop itu terlepas dari tangan ku, dan terasa masuk ke hidung! Gawat!

Sontak aku terduduk! Mata melotot, topstop itu terasa masuk di tenggorokan ku, tersangkut! Aku coba batuk, tapi malah memperburuk keadaan. Topstop itu semakin masuk dan terasa mengalir di tenggorokan, terus terasa seolah aku sedang menelan sesuatu, menelan obat, atau permen, atau apa pun itu. Rasa menelan itu berakhir dan sepertinya benda tadi sudah bersemayam di perut ku, di pencernaan ku.

Aku shock! Tidak menangis, tapi bingung harus berbuat apa. Aku tetap diam, tetap melotot. Ibu ku melihat raut muka itu,

“Ada apa, Din?”

Aku diam. Kali ini aku berpikir, mau jujur atau tidak? Jujur? Tidak?

Kalau jujur, pasti aku dimarahi, kalau tidak jujur, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada ku?

Tapi justru diam ku, membuat Ibu makin penasaran bertanya,

“Ada apa!” Keras Ibu bertanya.

“Mmm, ketelen ini….” Ragu aku menjawab sambil menunjukkan sisa topstop lain yang tadi aku mainkan.

“Hah!” Panik Ibu berteriak.

“Bapaaaaakkkkkk! Dindin nelen besi…..!!!!” Makin panik Ibu teriak.

Panik Ibu, sampai-sampai beliau bilang aku menelan besi. Ini kan bukan besi, ini topstop bahannya tembaga. Lain, kan?

Datanglah segerombolan orang dari gudang, tidak hanya Bapak, tapi orang-orang yang bekerja di gudang ikut penasaran akan apa yang terjadi. Tanpa tanya, Bapak memukul-mukul punggung ku, mungkin maksudnya supaya “besi” tadi masih tersangkut di tenggorokan dan keluar lewat mulut.

Tapi itu sia-sia.

Jelas aku rasakan benda itu masuk mengalir ke tenggorokan, sampai ke perut, persis rasanya kalau menelan permen bulat-bulat.

Setelah itu tidak ada tindakan medis bagi ku, meski aku was-was, tapi melihat kedua orang tuaku santai saja, jadi ya ikut santai. Mungkin sampai saat ini benda itu masih bersarang di perut ku, mungkin juga sudah tidak. Tapi setidaknya sampai saat ini tidak ada keluhan apapun pada diriku. Semoga tidak ada keluhan juga untuk masa yang akan datang.

Bogor, 1 Februari 2009

Kamis, 19 Februari 2009

Apa Bedanya Aku Dengan Dia?

Suatu saat di Kendari.

Pada saat itu aku hendak menunggu boarding pesawat di sebuah lounge bandara. Aku masuk lounge, menunjukkan boarding pass dan tanpa basa-basi dari si penjaga lounge, aku langsung duduk di salah satu sudut sofa. Si penjaga lounge itu benar-benar acuh, tak peduli akan kehadiranku. Sendirian aku membuat teh panas tanpa gula, sendirian aku mencari gelas untuk air putih, dan sendirian aku sibuk mencari colokan untuk listrik laptop ku. Si penjaga lounge? Tetap acuh….!

Beberapa saat kemudian, masuklah 4 orang bule ke lounge itu, mereka berpakaian casual, tidak tampak sebagai seorang pekerja kerah putih seperti yang ditemui di Jakarta. Mereka lebih terlihat seperti sekelompok turis yang hendak kembali ke negaranya seusai menikmati liburan di Kendari.

Yang mengejutkan dan membuat jengkel adalah, ketika para bule itu masuk, si penjaga lounge sontak menyambut, memberikan senyum termanis, dan mempersilakan duduk di sofa terbaik di lounge itu. Tidak hanya itu, bahkan mengantarkan hingga semua bule itu duduk, menawarkan sesuatu,

“Would you like tea or coffee?” ujarnya

dan langsung menyediakan asbak serta merapikan meja dimana sofa mereka duduki.

Dari sudut lain aku hanya memandangi mereka. Memandangi si penjaga lounge, dan miris berkata dalam hati,

“Apa bedanya orang bule itu dengan aku?” bisikku dalam hati.

Aku masuk ke dalam lounge yang sama, aku menaiki pesawat yang sama, kelas tiketnya pun aku lihat sama-sama ekonomi, lantas, kenapa aku mendapat perlakuan berbeda? Si penjaga lounge itu seperti menganggap aku ini hanya bikin penuh lounge dan tidak memberikan keuntungan apapun untuknya. Inikah yang dinamakan keramahtamahan orang Indonesia? Sebuah keramahtamahan salah kaprah yang diterapkan secara naïf oleh seseorang yang mengaku bekerja di bidang customer service.

Di kesempatan lain, di Uluwatu, Bali.

Seperti biasa, jika aku terjun ke lapangan, aku melakukan market survey, suatu prosedur standar di dunia sales yang dilakukan siapapun jika terjun ke lapangan. Apa yang biasanya aku lakukan? Aku datangi toko-toko, melihat keberadaan produk yang aku jual, membandingkannya dengan kompetitor, melihat kecenderungan konsumen, berbicara dengan pemilik toko, dan tentu saja “cuci mata”

Saat itu di Uluwatu, aku melakukan hal yang sama. Bedanya adalah, saat itu atasan ku ikut bersama ku didampingi juga dengan rekan dari distributor. Setelah puas melakukan market survey di Uluwatu, kami bersama menuju sekumpulan karang yang memecah ombak di ujung Uluwatu.

Meski bukan hari libur, namun keramaian Uluwatu tetap luar biasa, tentunya didominasi para turis asing baik dari Asia maupun Eropa & Amerika.

Di suatu sudut Uluwatu, aku melihat sepasang orang bule sedang berfoto. Sepertinya mereka suami istri –setidaknya itu anggapan baik sangka ku- yang sedang berbulan madu di Bali. Mereka saling foto, terkadang sang pria memfoto si wanita, demikian juga sebaliknya. Hingga satu saat, sepertinya mereka ingin berfoto berdua. Tak kurang akal, mereka meletakkan kamera digital mereka di atas sebuah tong sampah, memanfaatkan teknologi automatic photograph, mereka sibuk meletakkan kamera digital nya di atas tong sampah.

Usaha mereka kelihatannya tidak mudah. Permukaan tong sampah tidak rata, sehingga berkali-kali kamera digital itu hampir jatuh. Dan berkali-kali pula mereka gagal berfoto bersama.

Aku dan atasanku melihat peristiwa itu.

“Eh, kita bantuin, yuk!” ajak atasanku

“Boleh, Pa” jawab ku

Serentak kami dan salah satu rekan distributor menghampiri sepasang bule itu.

“Let me take the picture for you!” atasanku mulai menawarkan diri.

Sepasang bule itu terlihat kebingungan. Terdiam. Saling pandang.

“Kenapa mereka terlihat ragu?” pikir ku

“How much?” si bule pria bertanya kepada kami sambil menjentikan telunjuk dan ibu jari sebagai simbol uang.

Oh, ternyata mereka berpikir kita akan meminta uang atas jasanya mengambil foto atas mereka. Benar-benar miris aku atas peristiwa itu.

Sebegitu hinakah bangsa ini sehingga ketika kita akan tulus menolong, dianggap ada pamrih di baliknya.

Benar-benar sebuah paradoks!
Ada seorang anak bangsa yang ramah berlebihan terhadap orang asing dengan berkedok customer service, sehingga rela mendiskriminasi bangsa sendiri pada saat melayani di sebuah lounge.

Ada seorang bule yang menghina anak bangsa yang hendak tulus menolong dengan tuduhan ada pamrih uang di balik ketulusan itu.

Benar-benar sebuah paradoks!

Bagaimana menurut Anda?


Makassar, 18 Februari 2009

Selasa, 17 Februari 2009

Ironi Pramusaji di Sebuah Rumah Makan

Di sebuah rumah makan di Gorontalo, suatu siang.

Lelah kami berkeliling, bertugas, berpresentasi di sekolah-sekolah sehingga kami memutuskan untuk berlabuh di sebuah rumah makan dengan spesialisasi ayam goreng mentega.

Setelah memilih tempat duduk kami bertiga didatangi oleh seorang pelayan rumah makan tersebut. Menu kami baca, memilih, mau makan apa siang ini. Sang pelayan berdiri sambil memegang pulpen dan kertas pesanan, menunggu kami selesai memutuskan.

“Apa bedanya paket ayam goreng super dengan ayam goreng besar?” aku membuka pertanyaan untuk sang pelayan

“Mmm, sebentar ya, Pa” berlalu sang pelayan meninggalkan kami.

“Lho, kok kita malah ditinggal?”salah satu rekanku heran.

Ternyata sang pelayan tadi pergi meninggalkan kami untuk menanyakan pertanyaan kami kepada rekan nya yang lain di belakang.

Tak lama dia datang,

“Kalau yang paket super lebih besar dari paket besar, Pa.” jelas sang pelayan.

“Oh gitu. Kalau ini tahu nya satu porsi ada berapa, ya?” aku bertanya lagi

“Mmm, sebentar ya, Pa” lagi-lagi sang pelayan meninggalkan kami.

“Ini gimana, sih?” rekanku mulai emosi, mungkin juga karena dia lapar.

Tak lama datang lah sang pelayan tadi ditemani oleh seorang pelayan lain.

“Pa, tahunya satu porsi isinya 6 potong.” Teman sang pelayan tadi mencoba menjelaskan.

“Kalau gitu, saya pesan paket super plus satu porsi tahu” pesan ku.

“Kalau paket ikan ini, ada yang super juga?” rekan ku juga mulai ingin memesan.

“Mmm sebentar, ya Pa” Keduanya tampak kebingungan. Sesaat mereka memanggil salah satu rekan mereka yang lain. Jadinya ada tiga pelayan melayani pemesanan kami. Pelayan ketiga menghampiri,

“Ada apa?” tanya pelayan ketiga.

“Ini paket ikannya ada yang super juga, nggak?” rekan ku menjelaskan.

“Wah, saya ga tahu, Pa, saya kan bagian juice dan minuman, bukan bagian makanan!” tukas pelayan ketiga.

Naik pitam kami mendengar jawaban itu. Emosi, geregetan.

“Bukan urusan saya, kamu itu bagian apa! Yang jelas kita mau tanya sebelum pesan, supaya jelas!” tak tertahankan emosi ku meledak. Campur aduk, antara cuaca panas, pelayan yang menyebalkan, dan tentunya lapar!

Tak lama datang orang keempat, tampaknya dia pimpinan rumah makan. Semua beres dengan adanya dia, semua jelas, dan pesanan kami datang sesuai permintaan.

Di perjalanan pulang dari Gorontalo, di pesawat, aku membayangkan kejadian di rumah makan itu. Aku membayangkan kejadian itu menimpa suatu perusahaan, atau menimpa perusahaan tempat kita bekerja. Aku membayangkan aku seorang staff back office, misalnya aku ini staff dari divisi keuangan, dan ada yang bertanya padaku,

“Pa, sebenarnya apa target market produk tempat Bapak bekerja?”

“Oh, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang keuangan, bukan orang marketing!”

Aku membayangkan betapa kecewanya orang yang bertanya, sama kecewanya aku terhadap para pelayan rumah makan tadi. Atau kita balik, seandainya aku orang marketing dan ada yang bertanya kepada ku mengenai produksi,

“Pa, sebetulnya berapa botol per menit, mesin produksi nya bisa menghasilkan produk Bapak?”

“Wah, maaf ya, saya tidak tahu, saya kan orang marketing, bukan orang produksi!”

Lagi-lagi, pasti orang itu akan kecewa dengan jawaban kita.

Meski masakan tempat aku makan tadi cukup enak, namun rasa kecewa tetap membekas di hati. Jika aku kembali ke kota itu, belum tentu aku akan mampir ke rumah makan yang sama, pasti rasa kecewa akan teringat kembali.

Meski produk kita bagus, unggul, dan bermanfaat tinggi, rasanya akan sia-sia jika konsumen kecewa akibat jawaban-jawaban tidak bertanggung jawab seperti tadi. Dan jika konsumen sudah kecewa, fatal akibatnya.

Pastinya itulah yang dinamakan marketing oriented. Orientasi yang menempatkan seluruh karyawan dari berbagai bidang sebagai marketer. Tidak hanya bisa menjual, tapi juga mampu menjelaskan seluruh aspek perusahaan jika ada yang bertanya. Orang keuangan bisa menjawab aspek marketing, sebaliknya orang marketing bisa menjawab aspek keuangan.

Semoga bisa bermanfaat.



Bogor, 1 Februari 09

Senin, 16 Februari 2009

Saar Terakhir Kakek

Umur kakek 94 tahun saat dia meninggal. Umur yang sudah sangat tua untuk ukuran manusia saat ini. Jika manusia dijatah berumur 63 tahun –sesuai umur ketika Rasulullah SAW wafat- maka kakek sudah mendapat bonus 31 tahun.

Tiga bulan sebelum Kakek jatuh sakit, beliau masih aktif berjualan kayu. Menjaga kios kayunya, membeli kayu dari pemasok di Ciawi, dan menjual kepada orang-orang yang mungkin sedang membangun rumah.

Sakit yang hanya 3 bulan menjelang wafatnya, menunjukkan betapa sehat Kakek selama ini. Jarang aku mendapati Kakek jatuh sakit berat selama ini, paling hanya sakit flu, atau pusing atau sesak nafas, yang aku kira hanya faktor usia.

Cucu Kakek ada 20 orang. Sembilan dari anak pertamanya, sembilan dari anak ketiganya, dan dua dari anak keduanya. Yang dua dari anak keduanya adalah aku. Aku terhitung bukan cucu kesayangannya, hanya sepertinya Kakek selalu mengingat aku, sekali lagi bukan karena cucu kesayangan, tapi karena aku lah satu-satunya cucu yang jarang muncul di rumahnya.

Sepupu ku menyampaikan pesan agar aku datang ke kampung, sebentar saja. Di saat sebelum Kakek sakit, hampir setiap hari Kakek bertanya pada para sepupu di kampung,

“Dindin mana?”

Sebenarnya berkali-kali Bapak, Ibu, dan semua kerabat menghubungiku untuk menjenguk Kakek. Namun memang aku tidak menganggap serius ajakan itu. Aku pikir saat itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang sakit, apalagi tidak ada tanda-tanda Kakek akan pergi.

Dua minggu sebelum Kakek sakit, tiba-tiba hatiku tergerak, terpanggil untuk pulang kampung sekedar melihat Kakek. Ketika bertemu, aku melihat Kakek begitu berbeda, meski terlihat sehat, namun Kakek mulai ringkih, nafasnya mulai tersengal, jalannya mulai terseok, dan bicaranya mulai tidak jelas. Kenapa Kakek? Apakah ini tanda-tanda Kakek akan pergi?

Kutepis kekhawatiran itu. Kuajak Kakek jalan-jalan, hanya berdua, kubawa dia ke salah satu Mall d Bogor. Lamban kami berjalan, kutuntun Kakek, kugandeng tangannya, dan kudengarkan seluruh pembicaraannya meski seringkali aku tidak mengerti apa yang Kakek katakan. Kubebaskan Kakek membeli apapun yang diinginkannya, bahkan jika pun waktu itu Kakek mengambil barang termahal, sepertinya aku akan sanggup membelinya. Tapi, sukurlah, Kakek mengambil barang-barang yang harganya cukup rasional untuk kantong ku.

Itulah kali terakhir aku jalan dengan Kakek. Karena dua minggu kemudian, kondisi Kakek memburuk, Kakek hanya bisa terbaring, tidak mau makan, tidak mau minum. Tapi yang aku syukuri adalah, lidahnya tak pernah berhenti berzikir.

Sejak sakit, aku intens mengunjungi Kakek, setidaknya seminggu sekali. Kubawakan segala makanan kesukaannya, kubawakan makanan yang tiba-tiba dia inginkan. Sepupuku sering menelpon, menyampaikan permintaan Kakek. Misalnya, tiba-tiba saja Kakek minta buah duku, padahal saat itu sama sekali bukan musim duku.

Terkadang ketika tidur, kupandangi Kakek. Aku teringat peristiwa beberapa waktu yang lalu. Aku ingat, kami bertiga –Aku, Bapak, dan Kakek- tiga pria seketurunan, berdiri di pinggir lahan kebun pala milik Kakek. Semasa aku kecil, kebun pala itu menjadi markas bermain aku dan para sepupuku. Kakek dan Bapak berniat membuat rumah kontrakan di kebun pala itu. Penghasilan dari pala sudah sangat tidak memadai, sementara bisnis kos-kosan menjadi sangat menggiurkan. Aku tidak setuju dengan rencana itu, tapi apa daya, ibarat sebuah kerajaan, ucapan Kakek ibarat fatwa seorang raja, dan aku hanya seorang pangeran kecil yang dianggap belum bisa berpikir jernih.

Dan saat ini, kebun pala itu menjadi kebun kos-kosan. Lebih menguntungkan memang, tapi kerugian besar bagi alam.

Tiga hari menjelang wafatnya Kakek.

Siang itu aku datang ke rumah Kakek. Sebenarnya masih jam kerja, namun karena aku sedang berdinas ke Sukabumi, jadi sebentar aku mampir. Seperti biasa, aku bawakan beberapa botol minuman isotonic bermerk Pocari Sweat tempat dimana aku bekerja.

Bicara Kakek semakin tak jelas. Sedikit aku mengerti,

“Aki mah sudah tidak bisa makan dan minum apa-apa!”

“Satu-satunya yang bisa masuk ke Aki cuma ini!” sambil menunjuk minuman isotonic merk Pocari Sweat.

Maaf ini bukan iklan, jikapun aku tidak bekerja di perusahaan ini, aku akan tetap menyebut merk ini, karena kenyataannya memang sejak lama Kakek suka minuman itu.

Dua hari kemudian, kakek meninggal dalam usia 94 tahun. Lelah pasti beliau berkiprah di dunia. Sudah saatnya beliau menjalani kehidupan lain di dunia sana. Semoga kehidupan itu lebih baik untuk nya

Satu hal yang aku banggakan adalah, lidah Kakek tetap dibasahi Pocari Sweat dan zikir hingga akhir hayatnya.

Jakarta, 10 Februari 09